|
 |
| |
| » REFLEKSI | | Selasa, 15 Juni 2010 | | Jerat Kemewahan dan Ausnya Cita-cita Reformasi (Renungan 12 tahun Reformasi) | | Ditulis Oleh : Administrator | Oleh Afifah Afra
(Ketua Forum Lingkar Pena Jawa Tengah, Mantan Eksponen ‘98)
A.A.J. Warmenhoven, dalam tulisannya yang dipublikasikan di buku “Kenang-Kenangan Pangreh Praja Belanda 1920-1942”, yang disusun oleh S.L. Van der Wall (KITLV, diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan), menyatakan, bahwa alasan orang-orang Eropa berlayar mengarungi samudera, pada awalnya ternyata sangat idealis. Alasan religius dan ilmiah menjadi pendorong utama para pelaut Portugis dan Spanyol bertualang menjelajah negeri-negeri asing, meskipun dengan resiko yang tak ringan. Mereka mengarungi lautan dengan kapal dan peralatan navigasi yang masih sangat sederhana. Tak lain dan tak bukan, adalah dorongan besar untuk mengabdi kepada Tuhan dan raja mereka, sekaligus memuaskan hasrat keilmuan mereka.
Hendrik (ada yang menyebut Henry), salah seorang kerabat Raja Portugis, yang dikenal sebagai Hendrik Pelaut misalnya, diangkat kisahnya oleh Warmenhoven sebagai sosok yang sepanjang hayatnya dipenuhi angan-angan obsesif, meyelamatkan jiwa manusia dengan mengkristenkannya. Pirenne, dalam bukunya Gescheidenis van Europa, yang dikutip oleh Warmenhoven, secara meyakinkan juga menandaskan bahwa hampir tidak ada alasan ekonomi dalam pelayaran yang dilakukan oleh pelaut-pelaut zaman awal-awal penjelajahan. Semuanya berawal dari idealisme, memperjuangkan keyakinan dan ideologi yang mereka anut.
Akan tetapi, pada kenyataannya, masih menurut Pirenne, mereka menemukan negeri yang kaya akan emas dan rempah-rempah. Dan itulah yang ternyata, merubah motivasi mereka. Awalnya, motivasi religius masih ... Selengkapnya
|
|
|
| |
|