Bertahan atau Mengorbankan Diri? Ketika Istri Memilih “Memahami” Perselingkuhan Suami


Pagi tadi, saya membuka medsos, dan melihat beberapa postingan yang langsung membetot perhatian. Saya tak ingin menunjukkan koordinat postingan tersebut, sebab dilihat dari viralnya postingan tersebut, barangkali Sobat juga sempat melihatnya. Saya hanya ingin membahas kejadian tersebut dari sudut pandang saya, berdasarkan pengetahuan tak seberapa yang saya miliki.

Ada sebuah kondisi yang sekilas terlihat “dewasa”, tapi sebenarnya menyimpan luka yang dalam. Ada seorang istri mengetahui suaminya berselingkuh. Ia cemburu, ia sakit hati, ia menangis dalam diam, tetapi ajaibnya, dia memilih bertahan. Bukan hanya itu, ia bahkan tetap melayani suaminya dengan penuh perhatian, menyiapkan pakaian, memilihkan parfum, mengantar dengan senyum. Padahal ia tahu, di tempat kerja suaminya, ada perempuan lain yang sedang menunggu. Bahkan ketika pacar suami mengirim chat, dia bilang, "Yaaank, tuh chat dari pacar!"

Dia remuk, saat melihat sang suami meraih handphone, senyum-senyum menanggapi chat si pacar. Tetapi, si istri berusaha tegar. Dia mengelap kecemburuan dengan mencoba memahami karakter si suami. Untuk menenangkan dirinya, ia membuat cara pandang baru: “anggap saja suamiku seperti anak laki-laki yang sedang jatuh cinta.”

Sekilas terlihat kuat. Tapi benarkah itu bentuk kekuatan? Hm, ini topik yang berat.

Mari kita bahas, ya Sobat! Pelan-pelan saja, dan sediakan tisu jika ada air mata menitik. Barangkali, ada di antara pembaca yang mengalami peristiwa senada. Karena kasus tersebut memang saya angkat dari berbagai percakapan yang sedang viral di media sosial.

Saat Pikiran Berusaha Menenangkan Luka

Dalam psikologi, kondisi tersebut di atas bisa dijelaskan melalui beberapa teori. Salah satunya cognitive dissonance, yakni ketika kenyataan yang menyakitkan bertabrakan dengan nilai yang kita pegang. Di satu sisi, ia tahu perselingkuhan itu salah. Di sisi lain, ia ingin tetap menjadi istri yang “baik” dan mempertahankan rumah tangga.

Akhirnya, pikiran menciptakan narasi baru agar rasa sakit terasa lebih ringan. Bahkan, dia mencoba membangkitkan sebuah keyakinan, bahwa dengan penerimaan, masalah akan selesai. Saya mendadak teringat dengan kisah para permaisuri raja-raja atau kaisar-kaisar zaman dahulu yang saya baca di novel-novel bergenre sejarah, tentang duka para istri pertama yang harus melihat suaminya bermain-main  dengan perempuan lain yang disebut sebagai selir. Bayangkan dengan kaisar China yang bisa memiliki ribuan selir. Wow!

Entah mungkin karena kemahiran para penulis saat mengungkapkan sisi manusia dari para permaisuri tersebut, saya bisa menangkap getir kisah mereka. Namun, jika akhirnya kegetiran tersebut berbuah penerimaan, tampaknya naif jika kisah yang terjadi berabab-abad silam tersebut menjadi cermin masa kini. Kita hidup di era yang secara sosio-kultural sangat berbeda. Lagipula, para suami kita adalah orang biasa, sama juga dengan para istri.

Menerima kesalahan suami bukan penyelesaian. Ini hanya penundaan luka. Ketika kita tidak mengakui rasa sakit, belum tentu yang tidak diakui itu akan hilang. Rasa sakit itu hanya bersembunyi. Lalu akan membangun sebuah gunung es di alam bawah sadar. Rasa sakit itu menggerogot pelan-pelan. Awalnya ingin ditekan, lama-lama akan menjadi kepundan gunung berapi. Menggelegak, menjadi letusan.

Fenomena ini dikenal sebagai emotional suppression. Ini dampaknya tidak sederhana. Dalam jangka panjang, seseorang bisa mengalami kelelahan emosional, kecemasan berlebih, kehilangan kebahagiaan dan bahkan mati rasa terhadap perasaan sendiri Senyum bisa tetap ada, tapi hati perlahan kosong. Dia bisa berpura-pura ceria, tetapi mata akan menatap hampa.

Ketika Peran Istri Bergeser Menjadi “Ibu”

Menganggap suami seperti “anak laki-laki yang sedang kasmaran” pun mungkin terasa membantu sesaat. Tapi secara relasi, ini juga berbahaya. Kita harus menyadari, bahwa pernikahan seharusnya adalah hubungan setara. Ketika satu pihak menjadi “orang tua” dan yang lain “anak”, keseimbangan hilang.

Tanpa disadari, istri tidak lagi menjadi pasangan, melainkan penjaga, pengasuh, bahkan penenang bagi perilaku yang salah. Dia akan mencoba membela perilaku keliru, kadang atas nama cinta, padahal barangkali jiwanya telah beku sehingga tidak merasakan cinta.

Perselingkuhan adalah pelanggaran komitmen. Namun ketika tidak ada batas yang jelas, pesan yang muncul justru sebaliknya. Ini masih bisa ditoleransi. Namanya juga lelaki. Lantas, dia akan berenang dalam ketidakpastian yang tanpa batas, tidak ada perubahan. Tanpa konsekuensi, pelanggaran akan terus berulang. Sang suami merasa, istriku aja nerima, kenapa kalian cerewet?

Asertif Bukan Marah, Tapi Menghargai Diri

Di sinilah pentingnya assertiveness. Asertif bukan berarti keras atau emosional. Asertif adalah kemampuan untuk berkata jujur tanpa menyakiti, tapi juga tanpa mengorbankan diri. 

Kita bisa berkata kepada suami seperti ini, Aku tahu apa yang terjadi, dan itu menyakitkan. Aku tidak bisa terus berada dalam kondisi seperti ini. Kita perlu menentukan arah hubungan ini dengan jelas.

Tunjukkan kepada suami tersebut sebuah kalimat sederhana, tapi penuh makna: aku juga berharga. Aku bukan pengasuhmu, aku istrimu.

Banyak orang menganggap bertahan adalah bentuk kesabaran. Padahal, tidak semua yang dipertahankan itu layak. Bertahan yang sehat adalah ketika harga diri tetap utuh, emosi tidak diabaikan
nilai hidup tetap dijaga, dan harga diri tidak terjerumus dalam titik nadir ketidakberdayaan. Jika bertahan justru membuat seseorang terus melukai dirinya sendiri, maka itu bukan kesabaran. Itu pengorbanan yang salah arah.

Menuju Kebahagiaan yang Hakiki

Kebahagiaan sejati tidak lahir dari pura-pura kuat, tetapi lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri. Seorang istri dalam kondisi ini perlu mengakui rasa sakitnya tanpa menutupinya, membangun komunikasi yang jujur dan tegas, menetapkan batas yang jelas dalam hubungan, dan kembali menemukan dirinya di luar peran sebagai istri

Cinta yang sehat tidak meminta seseorang untuk menghapus dirinya sendiri. Memahami pasangan adalah hal baik. Bersabar juga mulia. Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam hubungan apa pun: menghargai diri sendiri. 

Kita tidak boleh kehilangan diri sendiri, bahkan ketika itu diatasnamakan cinta.

Lalu, apa yang harus dilakukan sang istri sebagaimana kasus di atas?

Pertama, menenangkan diri. Ambil napas panjang, rileks. Kedua, carilah waktu yang tepat untuk bicara dengan suami. Ucapkan dengan jujur apa yang dirasakan, harapan untuk suami, dan keberatan dengan perilaku suami. Ketiga, jika suami marah atau mengancamnya, libatkan orang ketiga yang dipercayai kedua belah pihak untuk memediasi. Jika suami ngotot untuk tetap bersama selingkuhannya, istri bisa mulai merencanakan langkah-langkah hukum. Poligami mungkin bisa ditempuh, tetapi poligami yang adil tidak akan dibangun dari perselingkuhan dan sikap amoral. Apalagi jika perselingkuhan suami dengan pacarnya itu sudah melewati batas-batas syariah, seperti perzinaan. Itu adalah pondasi rapuh yang justru membuat pernikahan poligami itu neraka kedua bagi sang istri.

Semoga tulisan sederhana ini menginspirasi.

Posting Komentar untuk "Bertahan atau Mengorbankan Diri? Ketika Istri Memilih “Memahami” Perselingkuhan Suami"

banner