Memahami Proses Penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal, Mengapa Ada Perbedaan?


Beberapa menjelang bulan Ramadan kemarin, di beberapa grup WA yang saya ikuti, terjadi perdebatan yang cukup "seru" dan dinamis. Apa lagi jika bukan soal penentuan awal Ramadan. Saya memang memiliki interaksi cukup intens dengan kalangan yang beragam. Ada yang berasal dari Muhammadiyah, NU, Persis, FPI, PKS, dan sebagainya. Masing-masing memiliki pendapatnya yang didasarkan pada pemahaman masing-masing.

Hal yang sama terulang menjelang syawal. Cuma, karena kemungkinan besar 1 Syawal tahun ini jatuh berbarengan, dinamikanya tidak seramai kemarin. Semoga memang benar bahwa 1 Syawal besok jatuh di tanggal Masehi yang sama.

Ibu saya pernah bertanya kepada saya, "Sebenarnya, mengapa bisa terjadi perbedaan?"

Saya bukan ulama, bukan sarjana jurusan syariah. Jadi, penjelasan saya hanya sebatas apa yang saya ketahui, dengan bahasa sederhana. Atau kalau dalam istilah Jawa, "bahasa bodo" atau bahasa orang bodoh.

Ada dua jenis sistem kalender yang dipakai oleh bangsa-bangsa di dunia, yaitu kalender berdasarkan peredaran matahari (syamsiyah) dan berdasarkan peredaran bulan (qomariyah). Kalender Gregorius atau Gregorian, yakni kalender Masehi yang secara resmi dipakai masyarakat internasional saat ini, menggunakan sistem syamsiyah. Sedangkan kalender hijriah yang berasal dari Umat Islam, dan digunakan oleh negara-negara di Timur Tengah, menggunakan sistem qomariyah. 

Bangsa Indonesia sebenarnya juga menggunakan kalender Gregorian. Akan tetapi, setidaknya ada 3 momen di mana Umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menggunakan kalender hijriyah, yaitu:

  • Penentuan 1 Ramadan, yang mengawali puasa Ramadan yang berlangsung sebulan penuh
  • Penentuan 1 Syawal, yang mengakhiri puasa Ramadan
  • Penentuan 1 Zulhijah, untuk penentuan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Zulhijah

Dalam penetapan tanggal-tanggal tersebut, terdapat setidaknya empat pendapat.

1. Metode Rukyatul hilal

Yakni dengan mengamati bulan secara langsung. Bulan tanggal 1 atau bulan sabit, sering juga disebut sebagai hilal. Metode ini didasarkan pada hadist berikut ini:

"Apabila kalian melihat hila (bulan Ramadhan) maka puasalah dan apabila kalian melihat hilal (bulal Syawal) maka berbukalah (lebaran), dan apabila tertutup awan (mendung) maka berpuasalah 30 hari." (HR. Muslim).

Zaman Rasulullah, saat hendak menentukan bulan baru, memang dilakukan rukyatul hilal pada hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 29 bulan sebelumnya. Misalnya untuk menetapkan 1 Ramadan, pengamatan terhadap hilal dilakukan pada sore hari pada tanggal 29 Syawal.

Meskipun begitu, dalam menetapkan tanggal 29, sebenarnya metode ini pun menggunakan hisab (perhitungan) yang dimulai dari tanggal 1 bulan sebelumnya. Di Indonesia, NU, beberapa ormas dan juga pemerintah menggunakan metode ini.

2. Metode Wujudul Hilal (Hisab)

Wujudul hilal lebih sering dikenal sebagai metode hisab. Menurut metode ini, kenampakan hilal tidak harus terlihat oleh mata, namun cukup jika dipenuhinya 3 hal ini:

1) Terjadi konjungsi (ijtimak)

2) Konjungsi tersebut terjadi sebelum matahari tenggelam

3) Pada saat matahari tenggelam, piringan bulan bagian atas sudah berada di atas ufuk, ini menandakan bulan baru telah ada/wujud.

Kondisi tersebut dilakukan dengan memahami pola peredaran bumi, bulan dan matahari. Perhitungan secara astronomis tersebut menurut paham ini didasarkan pada beberapa ayat dalam Al-Quran.

Dalam Al-Qur'an surat Yunus (10) ayat 5, "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."

Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5, "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan."

Mengapa metode hisab dilakukan sedangkan Rasulullah menggunakan metode rukyatul hilal? Menurut Muhammadiyah, salah satu Ormas yang konsisten menggunakan metode hisab, hal ini disebabkan karena zaman Rasulullah, umat Islam belum bisa melakukan hisab.

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari” (HR. Bukhari Muslim).

3. Metode Hilal Global

Hilal global sebenarnya sama dengan kaidah rukyatul hilal, namun geografinya berlangsung secara global. Hizbut Tahrir adalah salah satu kelompok yang konsisten dengan metode ini. Menurut pendapat ini, jika ada tempat di bumi manapun terlihat hilal, maka seluruh dunia harus berpuasa.

4. Imkanur – Rukyat

Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) secara resmi menggunakan metode ini untuk penentuan awal bulan hijriah dalam kalender resmi. Metode ini menggabungkan 2 metode ruyatul hilal dan wujudul hilal/hisab. Menurut metode ini, jika menurut hisab ketinggian bulan di atas ufuk sudah mencapai altitude minimum 2 derajat dan sudut elongasi minimum 3 derajat, maka sudah berganti bulan. Hal ini diambil karena pada kondisi seperti itu, bulan sudah bisa diamati dengan mata telanjang.

Mengapa Ada Perbedaan?

Perbedaan terjadi karena pada kenyataannya, hilal hanya bisa diamati rata-rata jika telah mencapai ketinggian sekitar 3 derajat. Penganut Wujudul Hilal tidak memandang berapa sudutnya, jika bulan sudah di atas ufuk, maka sudah masuk bulan baru. Misalnya, menurut hisab, ketiga pada tanggal 29 ketinggian bulan hanya 1 derajat, maka penganut Wujudul Hilal/Hisab akan tetap berpendapat bahwa bulan sudah berubah, sementara penganut rukyatul hilal, yang tidak bisa mengamati hilal dengan mata telanjang, akan menggenapkan bulan menjadi 30 hari.

Berbagai kalangan sering mencoba mendiskusikan bagaimana agar ada titik temu.  Mencari kesamaan memang baik. Jika saja tercapai, sungguh sangat indah. Akan tetapi, sejak zaman Rasulullah pun dahulu sudah ada perbedaan pendapat. Kalau menurut saya pribadi, sebenarnya yang paling penting adalah kesiapan kita dalam menerima dan menghormati perbedaan. Karena, semua pendapat memiliki dalilnya masing-masing.

Posting Komentar untuk "Memahami Proses Penentuan 1 Ramadan dan 1 Syawal, Mengapa Ada Perbedaan?"