Gen Z Bikin Bangkrut Pabrik Bir, Benarkah?



Apakah benar bahwa Gen Z telah membuat pabrik-pabrik bir menjadi bangkrut? Ya, benar. Saat ini industri minuman keras global sedang mengalami guncangan hebat. Mesin-mesin uang yang selama puluhan tahun memperkaya pengusaha lewat konsumsi alkohol kini mulai cemas. Dalam empat tahun terakhir, sektor ini dilaporkan kehilangan lebih dari US$830 miliar. Menariknya, penyebab utamanya bukan krisis ekonomi semata, melainkan perubahan gaya hidup konsumen muda, terutama Generasi Z.

Perusahaan raksasa seperti Heineken memang belum sepenuhnya bangkrut, tetapi sudah merasakan dampaknya. Mereka bahkan harus memangkas sekitar 6.000 pekerjaan global pada 2026 akibat turunnya permintaan. Penjualan birnya tercatat turun 2,4% pada 2025, terutama di pasar Eropa dan Amerika. Tekanan biaya produksi dan pergeseran selera generasi muda menjadi faktor utama.

Gen Z, generasi kelahiran sekitar 1997–2012, atau ada teori lain menyebutkan kelahiran 1995-2009, khususunya yang hidup di lingkungan di mana alkohol dijual bebas, saat ini mulai menjalani tren sober-curious, yakni sikap ingin tahu sekaligus selektif terhadap alkohol. Data menunjukkan mereka minum sekitar 20% lebih sedikit dibanding generasi milenial, dan hanya sekitar 39% yang memilih alkohol sebagai minuman sosial. Angka ini menunjukkan perubahan budaya konsumsi yang cukup drastis. Kesadaran akan kesehatan fisik, stabilitas mental, dan kontrol finansial membuat mereka berpikir dua kali sebelum membeli minuman keras yang mahal dan berisiko bagi tubuh.

Sebagai pengganti, banyak Gen Z beralih ke minuman alternatif seperti kopi, teh herbal, matcha, atau minuman fungsional rendah gula. Sekitar 65% dari mereka memilih minuman yang punya manfaat kesehatan sebagai bagian dari rutinitas harian. Pilihan ini kalau digali lebih lanjut, tampaknya bukan sekadar tren atau FOMO, meskipun awalnya mungkin berasal dari sana. Gen Z telah memiliki refleksi nilai hidup baru. Mereka memahami apa itu wellness, keberlanjutan, dan termasuk juga berhemat, alias efisiensi pengeluaran. 

Soal efisiensi ini menarik. Berbeda dengan generasi saya atau di atas saya yang suka sekali menampakkan brand mahal sebagai ajang validasi, saya melihat fenomena bahwa Gen Z justru sebaliknya. Mereka akan bangga jika berhasil menemukan barang yang berkualitas namun harganya murah. Efisiensi atau berhemat, bukan hal memalukan untuk mayoritas Gen Z.

Media sosial turut mempercepat perubahan ini dengan mempopulerkan gaya hidup sehat, olahraga rutin, serta tantangan “no alcohol challenge” yang viral di berbagai platform. Ini menunjukkan bahwa media sosial juga bisa mengkampanyekan hidup yang lebih sehat dan bermanfaat. Soalnya sampai sekarang masih banyak yang bilang aktif di medsos itu cuma buang-buang waktu dan ikutan FOMO melulu, hehe. Sejumlah orang menganggap bahwa yang terlalu banyak di depan medsos itu kurang kerjaan. Padahal, tren global saat ini menunjukkan bahwa banyak pekerjaan justru membutuhkan media sosial, termasuk juga kegiatan-kegiatan altruisme dan kampanye hal-hal positif.

Miras Oplosan di Negeri Kita

Sayangnya, jika tren global menunjukkan penurunan konsumsi alkohol, situasi yang agak berbeda masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Di negeri kita, persoalan minuman keras cukup meresahkan, karena bukan hanya membahayakan kesehatan dalam jangka panjang, tetapi juga keselamatan jiwa, karena miras dikonsumsi dengan cara yang gila-gilaan. 

Fenomena miras oplosan masih kerap terjadi dan menimbulkan korban jiwa hampir setiap tahun. Minuman ilegal yang dicampur bahan berbahaya seperti metanol atau zat kimia industri dijual murah, terutama di kalangan ekonomi rentan. Kalangan menengah ke atas mungkin sudah mulai well educated dan mencoba hidup sehat.  Namun, di masyarakat menengah ke bawah, masih banyak problematika yang perlu diatasi dengan regulasi, edukasi, dan penegakan hukum.

Di tingkat global, industri bir sendiri sudah turun sekitar 1,2% tahun lalu, sementara bir craft bahkan anjlok hingga 3,9%. Jika pola ini berlanjut, produsen akhirnya dipaksa beradaptasi: menyesuaikan diri atau mati. Mereka sudah mulai dituntut untuk kreatif dengan membuat varian non-alkohol, minuman rendah kalori, atau produk berbasis kesehatan. Jika tidak, risiko penutupan pabrik bukan lagi ancaman kosong.

Pada akhirnya, perubahan perilaku Gen Z memberi pesan kuat kepada kita semua, bahwa generasi baru ini ternyata tidak lagi mudah tergoda oleh citra glamor alkohol. Mereka lebih tertarik pada hidup sehat, sadar diri, dan terencana. Bila tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin masa depan industri minuman keras akan ditentukan bukan oleh produsen akan tetapi oleh pilihan sadar konsumennya.

Posting Komentar untuk "Gen Z Bikin Bangkrut Pabrik Bir, Benarkah?"

banner