Trump Pening! Perang Iran vs As-Israel Bagian 1


Pada tanggal 28 Februari 2028, Sabtu pagi pukul 06:27 GMT (kalau di Jakarta 13:27 WIB), Koalisi Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer bersama dengan sasaran Iran. Operasi yang disebut sebagai Operation Lion's Roar ini menargetkan pangkalan militer, situs nuklir, dan struktur kepemimpinan Iran, memicu eskalasi konflik besar di Timur Tengah. Dunia pun terkejut dan terpana. Sangat mungkin peta geopolitik Timur Tengah, bahkan dunia berubah setelah terjadinya peristiwa ini.

Sekadar disclaimer, tulisan ini saya buat pada awal Maret 2026, yakni pada hari ketiga meletusnya perang Iran vs koaliasi AS-Israel. Jadi harap dimaklumi jika ada beberapa hal yang mungkin sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini. Saya putuskan untuk memindah tulisan tersebut ke blog saya dengan berbagai penambahan, penajaman dan penguatan.

Karena tulisan ini akan saya buat dalam format lebih panjang, kondisi 3 hari pertama perang tentu sangat relevan untuk dibahas. 

Tulisan ini awalnya saya posting di page Facebook saya, facebook.com/afifahafrapenulis. Respon pembaca sangat luas, komentar-kometarnya pun menarik untuk disimak. Silakan meluncur ke sana jika ingin terlibat langsung dengan diskusi seru mereka.

* * *

Dunia terpana ketika tiba-tiba koalisi AS-Israel menyerang Iran. Mari kita update situasi perang Iran vs AS-Israel, yuk Sobat. Hingga hari ketiga, konflik sedang panas-panasnya. Saya coba rangkum berdasarkan info terkini, straight to the point, tapi tetap real. Ada tiga pembahasan penting dalam tiga hari pertama perang tersebut.

Pertama, negara-negara Teluk (Saudi, UAE, Kuwait, Bahrain, Qatar) yang biasanya jadi sekutu dekat AS, saat ini sedang merasa kena getahnya dengan parah. Iran telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke arah mereka. Untuk menangkisnya, mereka tentu melakukan upaya intercept (mencegat rudal/drone di udara), juga dengan rudal. Sudah ratusan upaya intercept dilakukan, tapi amunisi pertahanan udara mereka, seperti Patriot atau THAAD dengan cepat mulai menipis karena serangan yang nyaris nonstop. 

Mungkin ada yang bertanya, kenapa Iran menyerang negara-negara tersebut? Sebenarnya sasaran Iran bukan mereka, tetapi kepentingan AS yang ada di negara-negara tersebut. Sebagaimana kita tahu, AS memiliki banyak sekali pangkalan militer di negara-negara teluk. Iran yang jengkel karena diserang AS-Israel, menjadikan pangkalan-pangkalan militer ini sebagai saranan untuk serangan balasan.

Negara-negara teluk, karena melihat ada rudal masuk ke langit mereka, otomatis memberikan intercept. Akan tetapi, yang membikin mereka kesal, alih-alih membantu negara-negara teluk, AS ternyata lebih memprioritaskan melindungi Israel. AS secara aktif mengirim jet, bom, dan membantu intercept buat Tel Aviv, sementara negara-negara teluk  merasa ditinggal AS. Asal tahu aja ya, mereka memang sangat bergantung dengan AS saat recharge stok amunisi. Dengan menipisnya amunisi pertahanan, sekarang ini negara-negara teluk seperti mengalami "nightmare" karena pertahanan bisa jebol kalau begini terus. 

Beberapa analis bilang mereka mungkin terpaksa counter rudal-rudal itu tanpa bantuan AS sendiri biar tidak keliatan lemah. Aslinya mereka semua pening tujuh keliling. Beberapa tokoh dari negara-negara tersebut dengan terang-terangan mengekpresikan kekesalannya kepada AS. Yang diserang Iran sebenarnya kan kepentingan AS yang ada di negara tersebut, tetapi AS tidak banyak membantu mereka.

Kedua, di AS sendiri sedang ribut internal. Pentagon melakukan briefing ke Kongres, seperti hendak membela diri, mereka mengaku bahwa tidak ada bukti intelijen yang mereka kantongi, bahwa Iran punya rencana menyerang AS lebih dulu. Jadi, serangan AS-Israel ke Iran itu merupakan  "pre-emptive", karena ketakutan atas ancaman rudal dan proxy Iran. Ya, sekadar khawatir, bukan karena bukti atau evidence imminent attack ke US forces. Sekadar memenuhi ketakutan dan kekhawatiran, alih-alih bukti kongkrit.

Bahkan, Sekretaris Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sempat keceplosan mengatakan bahwa perang ini terjadi karena desakan Israel. Namun kemudian di esok harinya, Rubio mengoreksi pernyataannya, bahwa serangan dilakukan sebagai antisipasi semakin berkembangnya Iran menjadi negara pengembang senjata nuklir. 

Fakta ini bikin Demokrat marah. Mereka menyebut ini "war of choice" ala Trump. Publik juga geram. Demo-demo mulai muncul. Masyarakat protes, mengapa duit pajak digunakan untuk buat perang mahal seperti ini, sementara ekonomi lagi susah. Coba deh Googling, berapa hutang AS saat ini. Parah lho, lebih parah dari Indonesia. Ada analisis menyebutkan bahwa setiap hari, AS harus mengeluarkan dana sebesar 1 milyar dolar untuk melawan Iran. Bayangkan, kalau dikurs dengan mata uang Indonesia, berarti sekitar 16 trilyun sehari!

Trump mengatakan, operasi ini membutuhkan waktu 4-5 minggu (atau lebih lama). Pentagon mencoba membikin publik tenang, bahwa perang ini "bukan endless war." Tapi publik AS dan terutama kubu Demokrat masih meradang, karena sudah 6 tentara AS tewas dalam serangan balasan Iran di Kuwait (data tiga hari pertama ya, sekarang mungkin sudah bertambah banyak). 

Ketiga, Sekutu Amerika Serikat di NATO, Uni Eropa—Inggris, Prancis, Jerman—tegas menolak ikut perang langsung. Mereka keluar joint statement yang intinya: mengecam serangan Iran ke kawasan, tapi ogah mau gabung serang Iran. Mereka tegas mendorong untuk melakukan diplomasi dan negosiasi saja. "Lu yang berbuat, ngapain gue ikut tanggung jawab", mungkin gitu bahasanya, ya.

Meski begitu, Inggris sempat memberi izin AS memakai base di Cyprus dan Diego Garcia buat operasi defensif (intercept rudal), hanya saja UK tidak mengirim jet atau pasukan buat ngebom. Prancis dan Jerman juga main aman, khawatir konflik melebar ke Eropa atau bikin harga energi meledak. 

Mereka bilang dukung sekutu, tapi tidak mau terlibat full-scale war. Ya begitulah...

Terakhir, Iran mengejutkan publik dengan ngegas menyerang menggunakan rudal balistiknya—salvo besar ke Israel, Gulf, dan target AS, seolah stok tak ada habis-habisnya. Hingga kini kita melihat bahwa rudal-rudal mereka setiap hari setiap canggih saja. Iran juga menutup Strait of Hormuz, sebuah jalur minyak super vital yang menghubungkan negara-negara teluk dengan dunia internasional, yang bisa bikin harga minyak dunia naik gila-gilaan. Kabarnya, hanya 3 negara yang diizinkan melewati selat tersebut oleh Iran, yaitu Rusia, China dan Pakistan.

Dugaan kuatnya, China dan Rusia memang membantu mensuplai diam-diam. China sebenarnya sedag proses deal menjual CM-302 supersonic anti-ship missiles (carrier killer), plus komponen dual-use buat rudal. 

Sementara, Rusia kirim tech radar, air defense, mungkin shoulder-fired missiles. Ini bikin Iran tetap kuat meski kena 2000+ bom dari AS-Israel, termasuk serangan-serangan ke Tehran dan ke para pemimpinnya.

Bagaimana Trump tidak dibuat pening?

Posting Komentar untuk "Trump Pening! Perang Iran vs As-Israel Bagian 1"

banner