Selamat Milad ke-29, Forum Lingkar Pena

Bersama para pegiat FLP Ranting Banyuanyar, Pamekasan, Madura

Pada 22 Februari 2026, Forum Lingkar Pena genap berusia 29 tahun. Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, karena jarang sekali organisasi kepenulisan di Indonesia yang bisa bertahan selama ini. Uniknya pula, FLP juga merupakan salah satu organisasi terlama yang saya ikuti, karena saya juga telah bergabung dengan FLP sekitar 27 tahun! Lebih lama dari usia pernikahan saya. Ya, saya bergabung dengan FLP sejak mahasiswa.

Oleh karena itu, bagi saya, Februari selalu terasa istimewa. Bukan hanya karena ini merupakan bulan kelahiran saya dan senior saya Sinta Yudisia—kami sama-sama lahir pada 18 Februari—tetapi juga karena bulan ini menandai lahirnya sebuah gerakan literasi yang telah memberi warna besar dalam perjalanan kepenulisan sekian banyak pegiat literasi: FLP.

Pada 22 Februari 1997, FLP didirikan oleh Mbak Helvy Tiana Rosa bersama para pegiat literasi lainnya seperti Mbak Asma Nadia dan Uni Maimon Herawati. Dari sebuah lingkaran kecil para penulis muda yang memiliki semangat 'berbakti, berkarya, berarti' (ingat-ingat tagline ini ya), FLP kemudian tumbuh menjadi komunitas literasi berskala nasional bahkan internasional. 

FLP telah menjadi organisasi sekaligus ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus rumah bagi banyak penulis yang ingin menajamkan pena dan memperluas makna karya. Dari gerakan ini telah muncul banyak nama yang memberi kontribusi besar terhadap dunia literasi Indonesia, seperti Helvy Tiana Rosa sendiri, lalu Asma Nadia, Maimon Herawati, Habiburrahman el Sirazy, Izzatul Jannah (Setiawati Intan Savitri), Sinta Yudisia, Muhammad Irfan Hidayatullah, Gegge Mappangewa Azzura Dayana, dan sebagainya.

Perjalanan panjang hampir tiga dekade tentunya tidak ditempuh sendirian. Banyak tokoh yang telah ikut menyalakan obor semangat di jalan literasi ini. Ada banyak nama yang perlu saya sebut sebagai tanda hormat. Misal Mbak Rahmadiyanti Rusdi, yang dijuluki "sekjen lintas zaman", karena memang beliau menjadi sekrataris jenderal dari berbagai periode. Uda Halfino Berry yang totalitas membantu penerbitan buku-buku FLP dengan mendirikan penerbita Asy-Syaamil, disusul dengan Mas Ali Muakhir dari DAR Mizan yang juga memiliki peran besar untuk membuat buku-buku karya anggota FLP tersebar di seluruh Indonesia. Ada juga Mbak Intan Savitri atau Izzatul Jannah, yang saat itu menggawangi divisi penerbitan Era Intermedia. Perjalanan FLP semakin mantap setelah disokong oleh penerbit-penerbit lain, seperti Gema Insani, Republika, Indiva Media Kreasi, dan sebagainya.

Ada juga Teh Ifa Avianty, Mbak Nurul F Huda dan Teh Pipiet Senja, ketiganya telah almarhum (mari doakan mereka semua). Tentu banyak nama lain yang jika kiprahnya saya tulis di sini, maka tulisan ini akan sepanjang buku sejarah. Saya sebut saya ya: Galang Lufityanto, Ganjar Widhiyoga, Cut Januarita, Koko Nata, Azzura Dayana, Naqiyyah Syam, Muthi Masfuah, Azimah Rahayu, Gegge Mappangewa, Rafif Amir, Nafi'ah Al Ma'rab, Yanuardi Syukur, Ragdi F Daye, Benny Arnas, Wiwiek Sulistyowati, Anugerah Roby S, Irfan Azizi, Khairani, Adam Muhammad, Sakti Wibowo, Riannawati, Hendra Purnama, dan sebagainya.

Subhanallah, panjang sekali ya. Apakah masih ada nama terlewat? Tentu banyak sekali. Maafkan ya, jika tak saya sebutkan di sini.

Para pengurus wilayah, para mentor pelatihan menulis, hingga anggota yang setia berkarya di daerah masing-masing—semuanya adalah bagian penting dari mozaik sejarah FLP. Setiap generasi membawa energi baru, ide baru, dan cara baru untuk menjaga nyala gerakan literasi tetap hidup.

Doa terbaik semoga Allah SWT membalas jasa para pendiri, pengurus, dan seluruh pecinta gerakan FLP, baik di masa lalu maupun masa kini—dengan balasan kebaikan sebesar-besarnya. Semoga setiap huruf yang pernah ditulis, setiap kelas menulis yang pernah digelar, dan setiap semangat yang pernah ditularkan menjadi investasi akhirat yang bernilai dan menjadi jalan menuju ridha serta surga-Nya.

Secara pribadi, saya bergabung di FLP pada tahun 1999. Itu adalah salah satu keputusan penting dalam hidup saya, karena selain FLP sebenarnya ada beberapa organisasi yang saya minati. Namun, saya memilih FLP sebagai prioritas. Karena di sanalah saya belajar disiplin menulis, belajar menyunting, belajar membaca karya orang lain dengan empati, dan belajar memahami bahwa menulis bukan hanya soal kata, melainkan soal tanggung jawab makna. Pada tahun 2000, saya mendapat amanah dari Mbak Helvy untuk membentuk FLP Semarang dan terpilih menjadi Ketua FLP Semarang. Amanah itu menjadi titik awal perjalanan panjang pengabdian saya di organisasi ini. Bahkan, karena FLP-lah yang memilih profesi sebagai penulis, padahal saya sempat berkeinginan menjadi dosen dan peneliti, karena kuliah S1 saya di jurusan Biolog.

Tahun 2008, saya terpilih menjadi ketua FLP Wilayah Jawa Tengah. Saat itu saya juga sedang merintis pendirian Penerbit Indiva Media Kreasi yang mulai beroperasi sejak 1 Agustus 2007. Saya ingat, peristiwa Muswil FLP Jateng tersebut berbarengan dengan peluncuran Kumcer FLP Jateng: "Aku Ingin Seperti Nabi Yusuf", yang diterbitkan oleh Indiva Media Kreasi. Sejak itu, saya mendapatkan irisan peran yang sangat kuat: passion, profesi, organisasi dan pekerjaan saya ternyata di dunia kepenulisan. Itulah mungkin yang membuat saya bertahan selama ini di FLP.

Agenda Milad ke-17 FLP Di Surabaya tahun 2014.

Saat Mbak Sinta Yudisia terpilih menjadi ketua umum FLP periode 2013-2017 di Munas Bali, saya diminta mendampingi beliau sebagai Sekjen. Lalu, di Munas selanjutnya di Bandung, saya terpilih menjadi sebagai ketua umum Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena untuk periode 2017–2021. Ini adalah pengalaman pertama saya memegang tanggung jawab tertinggi untuk mengelola organisasi level nasional. Tentu rasanya panas-dingin dag-did-dug tak menentu. Namun pengalaman tersebut mengajarkan bahwa memimpin komunitas literasi sebenarnya tidak hanya berkutat pada program, yang terpenting justru bagaimana menjaga ruh gerakan: keikhlasan, kolaborasi, dan kebermanfaatan. 

Setelah menyelesaikan amanah sebagai ketua umum pada tahun 2021, saya bergiat sebagai anggota dewan pertimbangan hingga saat ini. Dewan Pertimbangan adalah sebuah peran yang secara otomatis diemban oleh para pendiri dan mantan ketua umum kecuali jika mengundurkan diri. Posisi ini memberi kesempatan untuk tetap berkontribusi melalui gagasan, refleksi, dan dukungan moral bagi generasi pengurus berikutnya.

Kini, dengan lebih dari 4.000 anggota terverifikasi, FLP jelas bukan komunitas kecil. FLP adalah kekuatan literasi yang nyata. FLP adalah jaringan pena yang tersebar di berbagai kota, bahkan lintas negara. Kita membawa tujuan yang sama: menebar cinta dan cahaya melalui tulisan. 

Selamat milad ke-29, Forum Lingkar Pena!

Semoga di usia ke-29 ini, FLP terus konsisten menjadi pelita peradaban. FLP terus konsisten menguatkan budaya baca, melahirkan penulis baru, dan menghadirkan karya yang tidak hanya indah dibaca, tetapi juga bermakna bagi bangsa dan kemanusiaan.


Posting Komentar untuk "Selamat Milad ke-29, Forum Lingkar Pena"

banner