Ekspedisi Pendakian Lawu 3265 mdpl, Perjalanan Penuh Kenangan #2

Senja di antar pos Bayangan 3 Menuju Pos 3

Menurut teman-teman yang aktif mendaki gunung Lawu, ada beberapa jalur pendakian di Gunung Lawu. Kalau tidak salah, ada 5 jalur, yaitu jalur Candi Cetho, Cemoro Kandang, Tombak, Cemoro Sewu dan Singolangu. Jalur-jalur pendakian ini, tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Meskipun saat uji coba pada 6 Agustus kami memilih jalur Cemoro Sewu, pada pendakian ini kami memilih Cemoro Kandang. Apa alasannya? Salah satunya, jalur ini lebih landai, meski tentu konsekuensinya jadi lebih panjang treknya. Jarak dari basecamp menuju puncak, sekitar 10 km, atau ada yang bilang, lebih tepatnya 9,75 km. Jadi, kalau perjalanan Pulang Pergi, bisa mencapai sekitar 20 kilometer. 

Wah, lumayan juga! Bandingkan dengan jalur Cemoro Sewu yang “hanya” 7 km. Kalau di puncak nanti pendaki akan "berwisata" ke beberapa titik, misal ke Warung Mbok Yem yang legendaris itu, tentu jaraknya akan menjadi lebih jauh.

Jalur Pendakian Cemoro Kandang

di Basecamp Cemoro Kandang

Sebagai perbandingan antara jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang, silakan lihat peta di bawah ini. Tampak bahwa jalur Cemoro Kandang berkelak-kelok, karena memang bertujuan mendapatkan jalur landai. Menurut suami saya, jalur Cemoro Kandang lebih cocok untuk pemula, terutama pemula seperti saya yang sudah berusia 40-an dan mudah ngos-ngosan kalau menempuh jalur menanjak. Tetapi, tentu saja bukan berarti ringan, karena konsekuensinya, jalannya jadi lebih panjang, dan pastinya melelahkan. Landai pun bukan berarti datar. Tetap menanjak, hanya derajatnya tidak terlalu curam.

Peta pendakian Lawu Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu

Berbeda dengan jalur Cemoro Sewu yang jalannya sudah diberi batu-batu, sehingga lebih rapi, jalur Cemoro Kandang masih berupa tanah, dan seringkali harus melewati akar-akar pohon, sulur-sulur pohon, jalan air yang berkelak-kelok, dan bahkan seringkali ada pohon tumbang menutupi jalan. Semak belukar tumbuh rimbun di sana-sini, dan terbayang, kalau musim hujan pasti licin sekali. Secara infrastruktur, tampaknya Cemoro Sewu jauh lebih nyaman. Hanya saja, karena kami—khususnya saya, adalah pemula dalam pendakian, kami memilih untuk memilih jalur yang lebih landai.

Perjalanan Pos 1 hingga Pos Bayangan 3

Kami memulai perjalanan dari basecamp sekitar jam 11 siang. Kami termasuk beruntung, karena masih diizinkan untuk mendaki. Kabarnya, pendaki yang datang sore hari tidak diizinkan masuk, karena sejak tanggal 9 September hingga sekarang, Lawu ditutup untuk pendakian. Tak hanya Lawu, tapi hampir seluruh pendakian saat ini ditutup, karena antisipasi kebakaran hutan yang risikonya akan sangat tinggi saat kemarau panjang seperti ini.

Memang saat saya mendaki Lawu, suasana kekeringan tampak jelas, meski tumbuhan tetap rimbun menghijau. Debu beterbangan dari hamparan tanah yang kering. Kami harus memakai masker untuk menghindari kepulan debu yang sering menerjang rongga hidung kami. Beberapa anak sungai juga kering, padahal biasanya, kata Mas Ujang yang sangat sering mendaki gunung—katanya lebih dari 50 kali mendaki Lawu, biasanya parit itu mengalirkan air yang sejuk dan bening.

Setelah perizinan kelar, membayar biaya administrasi dan sebagainya, kami diizinkan naik, menyusuri jalan setapak yang membelah hutan belantara dan semak belukar. Tanaman pohon cemara mendominasi, layak disebut sebagai Cemoro Kandang.

Jalan antara Pos 1 hingga pos 3, tanjakannya cukup lumayan, ada yang 30 derajat, bahkan 45 derajat, hanya tidak terlalu banyak. Terus terang, saya sangat terengah-engah, sehingga harus sering berhenti untuk mengatur napas dan menormalkan detak jantung. Tas gunung yang ada di pundak saya, awalnya terasa tak terlalu berat, lama-lama menjadi beban yang cukup mengganggu. Saya merasa sangat bersyukur, karena Mas Ujang dan Mas Prie kemudian membantu saya membawakan sebagian barang-barang saya, alhamdulillah.

Pos II Taman Sari Atas

Perjalanan dari basecamp ke pos 1 sekitar 2 jam. Sekitar jam 13.00 kami sampai di Pos 1 yang diberi nama Taman Sari Bawah, ketinggiannya 2.237 mdpl. Di sana ada warung yang menjual minuman, aneka makanan, dan snack. Beberapa pendaki tampak sedang beristirahat, sehingga kami pun ikut pula nongkrong bersama mereka. Di pos ini, kami istirahat sejenak, makan arem-arem, jadah, minum teh manis, dan selonjoran. 

Beberapa pendaki ternyata masih sangat muda. Ketika saya tanya, mereka masih kelas 11 di sebuah SMK di kota Solo. Mendadak saya teringat dengan anak kedua saya, Rama, yang juga masih kelas 11 di SMAIT Ibnu Abbas Klaten. Apalagi, ada anak muda pendaki yang wajah dan posturnya mirip dengan Rama. Suatu saat, saya akan ajak anak-anak juga mendaki, semoga diberikan kesempatan dan kemudahan, serta tentu saja … kesehatan.

Dari pos 1 menuju pos 2, perjalanan juga cukup panjang, sekitar 2 jam. Jalanannya cukup terjal, dengan jalan tanah yang sepertinya menjadi jalur air saat hujan, sehingga memang cukup sulit dilalui. Untung saya dan beberapa anggota rombongan memakai sepatu trekking yang memang standard pendaki. Jadi kaki terhindar dari cedera yang mungkin terjadi karena harus melewati medan yang cukup ekstrim. Namun Mas Ujang dan Mas Prie malah memakai sandal. Katanya, mereka lebih nyaman pakai sandal. Mereka memang sudah sangat terbiasa mendaki sih.

Untungnya, meski kami mendaki di siang bolong, jalan setapak tertutup pepohonan dan semak yang rimbun. Jadi, badan tidak gosong karena terbakar matahari. Seringkali, dari celah-celah pepohonan, saya melihat puncak Lawu yang menjulang tinggi di depan. Dan itu membuat saya sering merasa tak berdaya serta sebersit perasaan tidak percaya diri muncul. Kami mau naik ke puncak setinggi itu? Ya, sekali saya tegaskan, mendaki gunung ternyata tak hanya membutuhkan kemampuan fisik, tetapi juga kondisi psikologis yang kuat pula.

Pos 2 disebut sebagai Pos Taman Sari Atas. Kami sampai di pos tersebut sekitar jam 3 kurang. Ada warung yang buka, Warung Bu Siti. Makanannya hampir sama. Ada bilik toilet tetapi tak ada air, jadi harus menggunakan air botol mineral untuk pipis, dan ditambah istinja’ dengan tisu. Hehe … dalam kondisi ini, pemahaman kita akan fikih jadi terasa sangat penting.

Dari Pos 2 Taman Sari Atas, kami kembali berjalan menuju Pos 3 atau Pos Penggik. Tetapi, di antara pos 2 dan pos 3, ada pos bayangan, yang ditandai dengan sebuah shelter berukuran kira-kira 3 kali 5 meter. Kami mencapai pos bayangan sekitar jam 4 sore. Di pos bayangan inilah kami shalat dhuhur dan asyar dijamak qoshor. 

Pos 3, Sunset, dan Senja 

Pos Bayangan 3

Setelah asyar di pos bayangan tiga, kami memasuki jalur pendakian yang cukup ekstrim. Kami menyisir tepi jurang yang sangat curam. Namun, sisi terbuka di sebelah kiri kami justru memperlihatkan pemandangan yang sangat indah. Tampak jelas pemandangan di area barat Gunung Lawu, di mana horison memanjang, dan puncak Merapi Merbabu terlihat cukup jelas. Jalur sudah tak terlalu menanjak seperti jalur dari basecam menuju pos 1, pos 2, dan pos bayangan 3, namun sudak mulai lebih landai dan berkelak-kelok.
Perjalanan dari Pos Bayangan 3 Menuju Pos 3

Semakin mendekat pos 3, cahaya matahari semakin berwarna jingga, sebab matahari hendak mulai tenggelam ke ufuk barat. Di jalur perjalanan itulah, kami dimanjakan oleh senja dan sunset yang begitu indah.

Tepat di pos 3 (Pos Penggik), suasana sudah malam. Di pos ini ada warung, tetapi tutup. Ada sebuah tenda tengah didirikan oleh pendaki. Saya dengar mereka mengeluhkan suhu yang berubah sangat dingin. Tak hanya mereka, kami juga merasakan. Di pos ini, terasa perubahan suhu yang sangat ekstrim. Bahkan tangan saya terasa mati rasa saking dinginnya. Saya pun mengambil jaket dan sarung tangan. Lumayan hangat. Tadi saat berpapasan dengan para pendaki yang melakukan perjalanan turun gunung, kami mendapat info bahwa di pos 4 dan puncak, suhu sudah mulai hangat, yakni mencapai … 7 derajat. Wow, 7 derajat dibilang hangat? Tetapi katanya, sebelum ini mencapai 4 derajat.

Di shelter Pos Penggik, kami shalat maghrib dan Isya dengan dijamak. Setelah itu, kami akan menuju Pos 4 dengan perjalanan malam. Kami tak mungkin ngecamp di pos 3, karena terlalu jauh dari puncak, dan lokasinya pun sangat sempit. Rencananya kami akan ngecamp di pos 5 atau pos 4, tergantung kondisi.


Posting Komentar untuk "Ekspedisi Pendakian Lawu 3265 mdpl, Perjalanan Penuh Kenangan #2"