Mengkritisi Dongeng "Si Kancil Mencuri Ketimun"
Salah satu dongeng yang saya pastikan tidak akan saya sampaikan kepada anak-anak saya begitu saja, alias harus diberikan catatan kritis, adalah "Si Kancil Mencuri Ketimun." Mengapa sampai se-ekstrem itu? Ada alasannya. Mari kita bahas!
Jika Anda tinggal di Jawa, khususnya Jawa Tengah, tentu kisah ini sudah sangat akrab di telinga. Ini adalah dongeng yang sangat terkenal dan banyak diceritakan secara turun-temurun. Ringkasnya begini.
Pada suatu hari, si Kancil mencuri ketimun milik seorang petani. Ia tertangkap basah dan dimasukkan ke dalam kurungan. Ketika sedang dikurung, seekor anjing penjaga datang menghampirinya.
"Kenapa kau dikurung?" tanya si Anjing.
Dengan tenang si Kancil menjawab, "Aku bukan sedang dihukum. Aku sedang bertapa untuk membersihkan jiwa karena akan dijadikan menantu oleh Pak Tani."
Anjing penjaga pun iri. Ia merasa telah lama setia kepada Pak Tani, tetapi justru tidak dipilih menjadi menantu. Melihat umpannya berhasil, si Kancil terus melakukan manipulasi psikologis. Ia membangkitkan rasa iri, memperkuat perasaan pada anjing bahwa dia diperlakukan tidak adil, lalu menawarkan solusi.
"Kalau begitu, gantilah posisiku di dalam kurungan. Nanti kau yang akan menjadi menantu."
Anjing itu percaya. Ia membuka kurungan dan masuk menggantikan si Kancil. Si Kancil pun melenggang pergi, sementara si Anjing justru menggantikan posisinya di kurungan.
* * *
Apa yang terlintas di benak Anda setelah membaca kisah tersebut?
Bagi saya, pada kisah tersebut si Kancil justru digambarkan sebagai tokoh yang berhasil memperoleh keuntungan melalui pencurian, kebohongan, manipulasi, dan tipu daya. Bahkan, ia lolos tanpa menerima konsekuensi atas perbuatannya. Sementara, Anjing yang lugu berhasil dipermainkan sehingga justru mendapatkan nasib buruk.
Dalam psikologi, khususnya Social Learning Theory dari Albert Bandura, anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari mengamati model. Tokoh yang cerdas, menarik, dan berhasil mencapai tujuannya berpotensi menjadi model perilaku. Apalagi jika perilaku tersebut tampak "dihadiahi" dengan keberhasilan. Dalam hal ini, si model adalah Kancil. Dengan tipu dayanya, dia berhasil keluar dari bahaya yang sebenarnya atas ulahnya sendiri: yakni mencuri ketimun.
Menurut Bandura, anak-anak lebih mudah meniru perilaku yang mereka lihat membawa hasil positif atau reinforcement daripada sekadar mendengarkan larangan orang dewasa. Dalam konteks ini, persoalannya bukan hanya bahwa si Kancil mencuri, melainkan bahwa ia berhasil lolos dan bahkan tampil sebagai "pemenang".
Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa setiap anak yang mendengar dongeng ini akan tumbuh menjadi pribadi yang licik. Pembentukan karakter jauh lebih kompleks daripada hanya dipengaruhi oleh satu cerita. Orang tua, lingkungan, pendidikan, teman sebaya, serta pengalaman hidup memiliki pengaruh yang jauh lebih besar.
Psikolog Jerome Bruner menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui narasi. Cerita membantu anak membangun skema berpikir mengenai apa yang dianggap benar, salah, terpuji, ataupun efektif. Karena itu, cerita bukan sekadar hiburan, tetapi juga media internalisasi nilai.
Hal ini juga berkaitan dengan perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg. Anak-anak usia dini umumnya masih berada pada tahap moralitas prakonvensional. Mereka cenderung menilai suatu tindakan dari konsekuensinya, bukan dari prinsip moralnya. Jika tokoh yang berbuat curang justru berhasil lolos tanpa hukuman, ada kemungkinan anak menangkap pesan bahwa kelicikan merupakan strategi yang efektif.
Yang menarik, David McClelland pernah meneliti hubungan antara karya sastra, cerita rakyat, dan motivasi berprestasi (Need for Achievement atau n-Ach). Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa masyarakat yang banyak menghasilkan cerita dengan nilai n-Ach tinggi cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada dekade-dekade berikutnya.
Perlu dicatat, penelitian McClelland menunjukkan adanya hubungan (korelasi), bukan bukti bahwa dongeng sendirilah yang menyebabkan kemajuan suatu bangsa. Banyak faktor lain yang tentu ikut berperan. Namun, temuannya mengingatkan bahwa cerita yang beredar dalam suatu masyarakat bukanlah sesuatu yang sepenuhnya netral; ia dapat ikut membentuk cara berpikir, cita-cita, dan orientasi nilai.
Namun begitu, saya harus berhati-hati untuk mendakwa dongeng ini sebagai sebuah pesan kepada anak-anak agar berbuat licik seperti Si Kancil supaya bisa menjadi pemenang. Justru sebaliknya, dongeng ini menjadi sebuah pesan satir, sindiran kepada khalayak ramai, bahwa kebanyakan orang yang berhasil justru orang yang licik. Sementara yang jujur seperti anjing akan tertipu.
Saya memahami bahwa para pencipta cerita rakyat mungkin memiliki maksud yang berbeda. Bisa jadi mereka ingin mengajarkan kita agar waspada terhadap orang licik. Bisa juga mereka menggambarkan bagaimana makhluk kecil harus mengandalkan kecerdikan untuk bertahan hidup menghadapi pihak yang lebih kuat.
Interpretasi terhadap cerita rakyat memang selalu dipengaruhi oleh konteks budaya.
Menarik pula bahwa Ismail Marahimin, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, pernah mengaitkan kepopuleran tokoh Kancil dengan budaya Indonesia. Pertanyaannya tentu bukan apakah dongeng Kancil menyebabkan berbagai persoalan bangsa kita, melainkan apakah cerita yang mengagungkan kecerdikan tanpa integritas layak terus dijadikan bacaan utama anak-anak.
Sekali lagi, saya pribadi memilih berhati-hati. Bukan karena saya yakin dongeng ini pasti akan membentuk anak menjadi licik, melainkan karena saya ingin lebih banyak mengenalkan cerita yang menghadirkan tokoh dengan keberanian, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan empati sebagai jalan menuju keberhasilan.
Kalaupun suatu saat anak saya mendengar kisah Si Kancil dari sekolah atau lingkungan sekitarnya, saya tidak akan melarangnya. Saya justru akan mengajaknya berdiskusi.
"Mengapa Kancil mencuri?"
"Apakah cerdas selalu berarti boleh menipu?"
"Bagaimana seharusnya menggunakan kecerdasan?"
Ketika terjadi diskusi yang intens dan anak kemudian bisa menilai sendiri, menurut saya, justru di situlah pendidikan karakter yang sesungguhnya berlangsung. Bagaimana menurut Anda?
Wallāhu a'lam.



23 komentar untuk "Mengkritisi Dongeng "Si Kancil Mencuri Ketimun""
Betul Mbak, seharusnya tokoh-tokoh dongeng juga harus kita siapkan tokoh-tokoh yang positif...
Tapi alhamdulillah, di masa dewasa saya dan saudara2, tak pernah terbersit keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan kancil. Saya menganalisa sendiri, kenapa ? Ternyata saya menemukan jawabannya pada bapak saya sendiri. Beliau adalah orang yang anti melakukan perbuatan si kancil.
Jadi, kalau boleh saya menarik benang merah. Pendidikan karakter via dongeng tidak akan berdampak nyata pada anak, bila si pendongeng tidak melakukan hal yang sama dengan yang didongengkan.
CMIIW.......
Saya sudah mencoba hal tersebut dan hasilnya bisa dibaca di link di bawah ini. Selamat membaca...
http://dongengibu.com/kancil-mencuri-timun/
-gr-pro-
Kalau dongeng si kancil bisa membuat orang jadi jahat,licik,koruptor dll pastinya tidak akan ada orang baik lagi,nenek moyang kita pasti juga jadi jahat tp kenyataannya kan tidak demikian.
Dalam hal ini saya tidak sependapat,dongeng si kancil hanya salah satu faktor pembentuk karakter anak,ada banyak faktor lainnya salah satunya nilai-nilai agama dlm keluarga.
Permasahan orang jadi koruptur,bandit,dsb itu lebih pada "gaya hidup".
Banyak orang baik tergelincir karena tergoda pingin mobil bagus,rumah mewah.
Dongeng itu merupakan salah satu cara mendidik anak,ada pesan moral yang disampaikan.
Maka dari itu diakhir cerita,orang tua harus pandai menyisipkan pesan2 yg mau disampaikan.
Jadi kesimpulannya kurang tepat kalo menyalahkan dongeng si kancil justru karena cerita si kancil lah anak bisa jadi baik.
Sekarang bagaimana kalo saya balik,justeru anak2 yang tidak pernah mendengar dongeng2 malah cenderung punya karakter yang tidak baik.
Coba anda lihat faktanya,sudah terjadi "degradasi moral" pada remaja saat ini.
Lebih kurangnya itu saja pendapat dari saya,lain kali sambung lagi.
Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!