Saya Tak Percaya Omongan Motivator



Akhir-akhir ini, banyak orang bersikap nyinyir terhadap kata motivasi. Saya paham. Saat ini memang bertebaran agenda-agenda training motivasi, tak jarang harganya sangat mahal, karena diselenggarakan di hotel berbintang. Trainernya juga sosok terkenal. Sayangnya, banyak kesaksian negatif justru bermunculan. Sampai-sampai muncul pernyataan, “saya tak percaya lagi omongan motivator.”

Saya paham jika perasaan itu muncul. Nyatanya, banyak motivator seperti menjual mimpi dan berusaha meyakinkan bahwa kesuksesan itu bisa ditempuh dalam waktu ‘semalam’, bak Bandung Bondowoso membangun seribu candi. Ada juga fakta bahwa indahnya pesan-pesan bombastis itu ternyata berlawanan dengan kehidupan para motivator tersebut sehari-harinya. Orang yang paham kondisi keseharian para penjual mimpi tersebut akhirnya memberikan komentar negatif. Bicara memang mudah, realisasinya sulit!

Meski begitu, saya tetap percaya bahwa motivasi itu sangat penting untuk kita. Lebih dari 30 tahun saya bergelut di dunia kepenulisan, dan faktor motivasilah yang mendorong yang terus berkecimpung di dunia ini. Saya yakin, dan keyakinan itu dibuktikan dengan banyaknya riset yang membuktikan korelasi motivasi dengan kinerja. Kesuksesan hidup seseorang memang sangat dipengaruhi oleh kekuatan motivasi. 

Hanya saja, sepertinya banyak kekeliruan yang diungkapkan para motivator di ajang-ajang pelatihan motivasi. Alih-alih menjelaskan teori motivasi dengan baik, sebagian motivator terkesan hanya menggampangnya motivasi dan melokalisasi hanya pada satu komponen saja, yaitu activation. Padahal, ad dua komponen motivasi lain yang jauuuuuh lebih penting.

Jadi, apa saja komponen motivasi? Ada 3: activation, intensity dan persistence. Ketiganya harus kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Men-delete satu saja dari komponen ini, jelas langkah keliru. Formulasi kesuksesan akan rusak jika ketiganya tidak dijalankan dengan serius.

Pertama, activation, kadang juga disebut direction, adalah keputusan untuk memulai, bagaimana kita mulai mem-planning serta menetapkan tujuan. Misal, aku ingin menjadi penulis produktif. Niat untuk menjadi seorang penulis harus benar-benar bulat. Mari kita sedikit membahas Theory of Planned Behavior (TPB) dari Ajzen. Menurut teori ini, perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh niat (intention) seseorang, sedagkan niat dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu:

Attitude toward the Behavior (Sikap terhadap Perilaku), ini adalah penilaian individu apakah suatu perilaku dianggap baik/buruk, bermanfaat/merugikan, positif/negatif. Misalnya nih, kita tahu bahwa menulis itu banyak sekali manfaatnya, baik manfaat materi maupun non materi. Fakta ini meningkatkan sikap positif kita terhadap dunia kepenulisan, sehingga niat kita meningkat. 

Subjective Norms (Norma Subjektif), Ini adalah tekanan sosial yang dirasakan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Misal, karena ingin menjadi penulis, saya bergabung di komunitas kepenulisan. Nah, di komunitas saya, ada aturan bahwa seminggu saya harus setor naskah. Karena ingin patuh terhadap aturan, maka saya pun terdorong untuk menulis.

Perceived Behavioral Control (PBC) – alias persepsi pada diri kita apakah kita bisa mengontrol diri agar bisa mendapatkan perilaku yang kita niatkan atau tidak. Ini menggambarkan seberapa besar seseorang merasa mampu untuk melakukan suatu perilaku. Kontrol ini sangat dipengaruhi dengan faktor pendukung seperti resources, pengetahuan, waktu; serta faktor penghambat, seperti biaya, keterampilan rendah, dan lingkungan tidak mendukung. Contoh, saya ingin menjadi penulis. Saya harus bisa mengoptimalkan faktor-faktor pendukung dan mengatasi hambatan-hambatan yang muncul.

Kedua, intensity, adalah seberapa besar usaha yang kita tempuh atau kita alokasikan untuk mencapai tujuan atau merealisasikan rencana-rencana yang kita buat di tahap pertama. Ini titik kritis pertama. Betapa banyak orang berencana, namun tidak mencoba mengeksekusi rencana dengan upaya yang kuat. Kalau kita serius untuk menjadi seorang penulis, semestinya kita akan bersungguh-sungguh berkorban untuk mencapai tujuan. Berkorban waktu, tenaga, biaya, dan sebagainya. Kita akan mengontrol diri agar bisa memanfaatkan faktor-faktor pendukung yang kita miliki. Kita juga akan mencoba menepis hambatan-hambatan yang merintangi kita, sebagaimana kita bahas di poin teori TPB dan Ajsen di atas.

Ketiga, ini titik kritis paling perlu diwaspadai, yaitu persistence atau perseverance. Maknanya adalah kegigihan, ketekunan, atau ketangguhan. Tak ada upaya yang bisa berjalan mulus lancar tanpa hambatan. Nah, ketika kita jatuh, lalu bangun lagi, melalukan evaluasi, lalu jatuh lagi, bangun lagi, evaluasi lagi, lama-lama kita akan menemukan cara yang efektif. Kita akan terus mencoba hingga tujuan tercapai. Jika kita memang tangguh, kita tidak akan mundur sebelum rencana kita terealisir. 

Persistence ini hal yang sangat berat. Pada tahun 2023, saat usia saya 45 tahun, saya mendaki Gunung Lawu. Meskipun saat muda saya juga senang mendaki gunung, namun karena sudah 20 tahun lebih tidak mendaki, bagi saya itu tantangan berat. Di setiap pos pendakian, saya tergoda untuk berhenti. Godaan paling berat ketiga kami ngecamp di Pos 4 di Cokrosuryo. Lokasi camp sangat indah. Bagi saya, bisa sampai ke pos yang ketinggiannya sudah 3000 plus itu sudah cukup. Saya ingin tetap berada di tenda, tidak sampai ke puncak. Namun, suami saya membujuk saya dengan sangat persuasif. “Apa tujuan kamu mendaki Lawu? Bukan pos 4, tapi puncak!”

Saya menghela napas panjang, menyusun kekuatan. Akhirnya saya menyanggupi. Dengan susah payah saya mendaki lagi … dan ternyata berhasil sampai puncak. Saya merasa tak percaya, bahwa saya bisa sampai ke puncak! Subhanallah.

Jadi, memang tidak ada rumus praktis atau shortcut menuju kesuksesan. Butuh motivasi yang sangat kuat. Bukan hanya activation, tapi juga intensitas dan persistensi. Jika Anda seorang motivator, tekankan tiga hal ini dengan mendalam, supaya orang tak lagi berkata: “saya tak percaya omongan motivator.”

Posting Komentar untuk "Saya Tak Percaya Omongan Motivator"

banner