Hantu Bernama Konformitas
Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo dalam pidatonya menyatakan bahwa APBN kita selalu bocor. Bocornya tak kira-kira, alias sangat besar. Saking besarnya kebocoran, sampai-sampai gaji guru pun menjadi kecil. Kata beliau, kerugian yang menyebabkan minimnya ketersediaan anggaran mencapai ribuan triliun rupiah per tahun.
Korupsi memang momok paling besar bagi negara ini. Ironisnya, hingga saat ini belum ada pemimpin negara kita yang benar-benar mampu memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.
Mengapa korupsi terus berlangsung? Mengapa nepotisme, ketebelece, “orang dalam”, dan berbagai deal-deal tidak etis yang melanggar hukum masih merajalela? Salah satu jawabannya adalah konformitas, alias kecenderungan manusia untuk menyesuaikan sikap, keyakinan, dan perilakunya agar selaras dengan norma, nilai, atau tekanan kelompok di sekitarnya.
Perlu dicatat, norma dan nilai itu adalah yang dibentuk oleh kelompok itu sendiri, dan belum tentu selaras dengan norma dan nilai yang berbasis moralitas atau ajaran agama.
Konformitas tidak selalu buruk, akan tetapi ketika terjadi dalam lingkungan yang toksik, ia menjadi “hantu” yang sangat berbahaya. Kita beradaptasi secara negatif hingga akhirnya kehilangan prinsip diri sendiri.
Contoh Konformitas dalam Kehidupan Sehari-hari
Apa saja contoh konformitas? Berikut beberapa contoh yang sering kita jumpai:
Di kantor
Seorang karyawan baru selalu datang tepat waktu. Lama-kelamaan ia merasa “aneh” dan “tidak nyambung” karena rekan-rekannya datang terlambat. Akhirnya ia ikut terlambat. Atau, ia melihat rekan kerja sering memotong anggaran proyek (menyunat), menerima “uang pelicin”, atau mengerjakan proyek sambil main HP. Karena takut dikucilkan atau dianggap “sok idealis”, ia pun mulai ikut-ikutan.
Gaya hidup dan konsumsi
Gaji bulanan sebenarnya hanya cukup untuk kebutuhan dasar. Tapi karena melihat teman-teman sesama sering ganti HP baru, liburan ke luar negeri, atau belanja branded, ia pun merasa “harus” mengikuti. Akhirnya mencari “cara lain” seperti pinjol, korupsi kecil-kecilan, atau deal haram supaya bisa tampil “sama” dengan lingkungannya.
Di kalangan pelajar/mahasiswa
Banyak siswa yang sebenarnya tidak ingin menyontek, tapi karena “semua orang melakukannya” dan takut nilai jelek atau dianggap “kuper”, mereka ikut menyontek. Ada juga yang sebenarnya kasihan dengan korban perundungan, tapi dia akhirnya ikut membully korban hanya supaya diterima dalam geng.
Di media sosial
Seseorang yang sebenarnya bahagia dengan hidup sederhana, tapi melihat feed Instagram penuh kemewahan, akhirnya memposting hal-hal yang dibuat-buat, berutang, atau bahkan melakukan hal tidak terpuji demi “terlihat sukses” seperti orang lain.
Di lingkungan keluarga atau tetangga
Seorang ibu rumah tangga yang sebenarnya irit, tapi karena melihat ibu-ibu lain sering arisan besar, membeli perabot mahal, atau liburan, ia pun ikut-ikutan meski harus berutang. Atau remaja yang tidak suka rokok, tapi karena teman sekolah merokok dan menganggapnya “gaul”, ia pun mulai mencoba.
Dalam keputusan bisnis/karier
Seorang pegawai melihat atasan atau rekan senior melakukan nepotisme atau memenangkan tender lewat “hubungan spesial” atau lobi-lobi yang sebenarnya tidak etis. Ia tahu itu salah, tapi demi naik jabatan atau mempertahankan posisi, ia diam saja atau bahkan ikut membantu proses tersebut.
Di lalu lintas
Pengendara yang sebenarnya taat aturan, tapi melihat hampir semua orang melanggar (nyalip sembarangan, tidak pakai helm, atau menerobos lampu merah), akhirnya ikut melanggar demi “tidak ketinggalan”. Lah, mereka semua melakukan, kenapa aku nggak?
Semua contoh ini menunjukkan bahwa konformitas sering dimulai dari hal kecil, tapi lama-lama menjadi pembenaran kolektif untuk perilaku yang salah.
Bahaya dan Akibatnya
Ingat, semua kejahatan itu ibarat menyimpan bangkai di dalam rumah. Awalnya mungkin tertutup rapi, tapi lama-kelamaan bau busuknya pasti tercium. Tidak ada perilaku jahat yang lolos dari hukum, meskipun itu sudah menjadi “standar” di lingkungan kita. Perilaku konsumsi yang boros juga akan menjadi sebab runtuhnya perekonomian kita. Meski kita tidak korupsi, demi mengejar validasi, akhirnya kita terlilit pinjol, judol, dan sebagainya.
Kalaupun perilaku jahat itu lolos dari jerat hukum dunia, di akhirat tidak ada ampun kecuali dengan taubat nasuha. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).
Cara Mengatasi Konformitas Negatif
Berkonformitas itu boleh, asalkan untuk hal yang baik. Karena itu, memilih teman dan lingkaran (sirkel) sangat penting. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikan teman.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).
Jika lingkungan kita toksik:
- Carilah dukungan dari orang-orang yang senantiasa mengingatkan kepada kebaikan.
- Bertahanlah semampunya dengan menjaga prinsip dan iman.
- Buatlah perubahan kecil pada diri sendiri (contoh: selalu tepat waktu, menolak suap dengan tegas, hidup sederhana).
- Jika terlalu berat, rencanakan keluar dari zona beracun itu dengan bijak.
Kita tidak bisa mengubah dunia sendirian, tapi kita bisa menolak menjadi bagian dari masalah. Jadilah orang yang menjadi cahaya, bukan yang ikut gelap karena takut sendirian.



Posting Komentar untuk "Hantu Bernama Konformitas"
Posting Komentar
Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!