Dilamar CEO, Cerpen Afifah Afra



Hei, jangan-jangan kakek tua berbaju lusuh itu bukan orang biasa. Ren memperlambat langkahnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang kakek duduk lemas di pinggir trotoar. Bajunya kusam, celana kainnya kebesaran, sandal jepitnya tinggal sebelah, dan wajahnya tampak pucat. Sesekali tangannya mengusap perut. Hm, pasti dia kelaparan.

Ren memandang kakek itu beberapa detik. Hm, momen itu telah tiba! Cucunya adalah CEO yang kerajaan bisnisnya terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kakek ini hanya sedang menyamar untuk mencari gadis baik yang pantas menjadi istri cucunya.
Ren mengangguk-angguk. Tersenyum. Ya. Pasti. 

Ren bahkan sudah bisa membayangkan kelanjutannya. Setelah ditolong, kakek itu akan dibawa ke rumah sakit. Kemudian beberapa mobil mewah datang beriringan. Lelaki-lelaki berjas turun tergesa-gesa sambil memanggil, “Kakek! Kakek di sini ternyata!” Setelah itu, seorang pemuda tampan muncul, Wajahnya dingin dan acuh, namun dengan enteng dia berkata, “Terima kasih sudah menolong kakek saya. Sejak melihat kebaikan Anda, saya tahu Anda perempuan yang selama ini saya cari.”

Ren hampir tersenyum. Tentu saja semua itu hanya khayalannya belaka. Tetapi hidup barangkali memang hanya sebuah khayalan yang menjelma jadi realita, bukan? Ren akhirnya menghampiri kakek itu. “Kakek kenapa?”

Kakek tersebut mengangkat wajah. “Belum makan, Nak.”

Ren memasukkan tangan ke dalam tas, mengambil dompet, lalu membukanya. Uang di dalamnya tinggal sedikit. Hanya dua lembar lima puluh ribuan.  Uang itu sebenarnya sudah diperhitungkan untuk membeli beras, lauk, dan obat ibunya. Tetapi Ren kembali menatap kakek di hadapannya. Kalau benar kakek ini sedang menyamar, kesempatan seperti ini tidak boleh dilewatkan.

“Kalau begitu, kita makan dulu, ya, Kek.”
Ren membawa si kakek ke warung mie ayam di kaki lima. Si kakek mengucapkan terima kasih.
“Hai, Kek, ini nomor HP saya,” Ren menyodorkan selembar kertas bertuliskan nomor HP-nya. “Kalau butuh apa-apa, nanti kontak ya?”
“Te… terima kasih, saya tidak punya HP, tapi nomornya saya simpan ya….”
Ren tersenyum. Angannya melambung. Keajaiban itu, apakah segera tiba?

* * *

Sehari, dua hari, peristiwa itu berlalu. Tak ada yang menghubunginya. Tidak ada kejadian aneh. Semua berjalan seperti biasa. 

Sebenarnya, Ren ingin memiliki pikiran aneh seperti itu. Setidaknya hingga beberapa bulan yang lalu, saat ia masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Hidupnya memang tidak bisa disebut berlebih, apalagi mewah, tetapi setidaknya cukup teratur. Setiap bulan ada gaji yang masuk ke rekening, ada uang untuk membeli kebutuhan rumah, ada sedikit tabungan, dan ada keyakinan sederhana bahwa selama ia mau bekerja, hidup akan terus berjalan.

Sampai suatu hari, perusahaan melakukan PHK massal. Kondisi ekonomi yang sulit konon menjadi biang keroknya. Mereka merugi miliaran, sehingga tidak ada jalan selain melakukan rasionalisasi.
Tidak ada musik sedih seperti dalam film-film. Tidak ada adegan hujan turun ketika Ren berjalan meninggalkan kantor. Ia hanya menerima surat, diminta membereskan barang-barangnya, berpamitan kepada teman-teman, lalu pulang membawa sebuah kardus berisi barang pribadi. Di dalam perjalanan, ia masih mencoba menghibur diri. Paling lama dua bulan juga dapat kerja lagi.

Ternyata dua bulan berubah menjadi tiga. Tiga menjadi empat. Lamaran pekerjaan dikirim ke mana-mana, tetapi sebagian besar berakhir tanpa jawaban. Ada yang membalas dengan email otomatis, ada yang memanggil untuk wawancara, lalu menghilang. Lama-lama Ren hafal berbagai variasi kalimat penolakan, termasuk kalimat yang terdengar sopan tetapi intinya sama. Anda belum beruntung.
Sementara itu, kebutuhan rumah tidak berhenti hanya karena Ren kehilangan pekerjaan. Ibunya sakit-sakitan dan harus rutin membeli obat. Tagihan listrik tetap datang tepat waktu. Beras tetap habis. Gas tetap ludes. Bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil yang dulu tidak pernah dipikirkan sekarang terasa seperti keputusan ekonomi tingkat tinggi.

Ren mulai menghemat segala sesuatu. Pesangonnya sudah mulai menipis, dan sekarang benar-benar hampir mendekati ketebalan kulit ari.

Dulu ia bisa membeli ayam tanpa berpikir panjang. Sekarang ia menghitung harga telur satu per satu. Dulu ia sesekali membeli kopi di luar. Sekarang melihat harga kopi saja sudah membuatnya teringat harga beras. Bahkan ketika teman mengajaknya makan, Ren sering menjawab, “Nanti saja,” padahal sebenarnya ia sedang menghitung sisa uang di dompet.

Yang membuat semuanya lebih berat adalah ayahnya.

Ayah Ren mempunyai satu kebiasaan yang sudah bertahun-tahun menjadi sumber masalah bagi keluarga. Ayah kecanduan berjudi. Setiap kali kalah, ia berjanji akan berhenti. Setiap kali menang, ia justru merasa sedang mendapatkan keberuntungan dan ingin bermain lagi. Akhirnya, entah kalah atau menang, uang selalu mempunyai cara untuk menghilang.

Puncaknya terjadi suatu malam ketika ibunya demam dan obatnya habis.
“Ren, obat Ibu masih ada?” tanya ibunya dari tempat tidur.
Ren membuka lemari obat. Kosong. Tepatnya habis. Ren mengambil dompet. Juga nyaris habis. Kemudian ia teringat uang yang beberapa hari sebelumnya ia simpan di laci untuk membeli obat. Ketika laci dibuka, kakinya lemas. Uang itu raib!

Ren keluar kamar dan mendapati ayahnya baru pulang. 
“Bapak ambil uangku yang di laci, kan?” tuduhnya, tanpa tedeng aling-aling.
Ayahnya diam.
“Itu uang obat Ibu.”
“Cuma pinjam.”
“Buat judi?”
Ayahnya tidak menjawab.

Ren menatapnya dengan dada sesak. “Bapak ini tahu nggak sih, Ibu tuh lagi sakit.”
“Besok Ayah ganti.”
“Kalau besok kalah lagi?”
Ayahnya malah marah. “Jangan menggurui Bapak!”

Ren terdiam. Ia ingin membalas, ingin berteriak, bahkan ingin melempar sesuatu. Namun, batuk-batuk ibu di kamar mengalihkannya.  Ren meraih gelas, dituangkanlah air panas dari termos, dia tambah beberapa potong jahe dan gula batu. Dia bergegas ke kamar ibu. Seketika semua kemarahan itu runtuh menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, yaitu ketidakberdayaan.

Malam itu Ren masuk ke kamarnya. Ketika melihat wajahnya sendiri di cermin yang retak, Ren sempat tertawa getir. Hidupnya rasanya seperti paket lengkap yang salah kirim. Pengangguran, perawan tua, ibu sakit, ayah penjudi, tabungan habis.

“Kurang apa lagi?” gumamnya sambil tertawa perlahan. Tangis tak ada gunanya. Air matanya sudah kering diperas kehidupan.

Ren meraih HP yang selalu dia simpan dengan hati-hati. HP bagus yang dia beli dari tabungannya saat ini menjadi satu-satunya aset yang dia jaga. Jika ayah tahu, HP itu pasti akan disita untuk dijual dan dipertaruhkan di bandar judi.

Malam itulah Ren menemukan pelarian baru, hiburan murah-meriah. Sebuah film pendek yang dramatis, tentang CEO yang menyamar menjadi lelaki miskin. Dalam film itu, sang CEO sengaja hidup sederhana untuk mencari perempuan yang mencintainya tanpa melihat harta. Ia kemudian bertemu seorang gadis baik hati yang menolongnya ketika tidak punya uang.

Ren menonton sampai selesai. Dulu dia benci film-film semacam itu. Sekarang, dia bisa tertawa, marah, benci, dan aneka emosi lainnya yang mengaduk-aduk jiwanya. Parahnya, dia ikut terobsesi untuk menjadi gadis miskin yang beruntung itu.

Lelaki miskin itu, mungkin ia CEO.
Perempuan tua yang terguling kesakitan di jalan,  mungkin ia ibu CEO.
Kakek tua yang kelaparan itu, mungkin ia kakek CEO.

Ren tahu kemungkinan itu hampir mustahil. Tetapi bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah, harapan kecil kadang bisa terasa seperti pegangan. Dan sejak itu, Ren mulai memperhatikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dengan cara yang sedikit berbeda.

* * *

Pagi itu, di pasar tempat Ren mencoba peruntungan baru dengan menjual sayur-mayur yang dia tanam di belakang rumah kepada seorang pedagang, sebuah peristiwa tampak jelas di depan matanya. Seorang ibu tampak panik karena dompetnya baru saja dicopet. Ya, Ren melihat sendiri copet itu menyambar dompet ibu yang kini sedang menangis tersedu-sedu.

Ren menghampirinya. “Ada apa, Bu?”
“Tolong, uangku hilang semua. Aku bahkan tidak mempunyai uang untuk membayar angkot untuk pulang. Pinjami aku uang dua puluh ribu!” 
Ren melihat perempuan itu, kemudian melihat dompetnya sendiri. Hanya ada beberapa lembar uang puluhan ribu. Jika diambil dua puluh ribu, dia masih bisa membeli beberapa potong bahan untuk memasak hari ini. Dia bisa berjalan kaki pulang ke rumahnya.

Lain lagi jika ibu itu punya anak CEO. Ren tersenyum. Kemungkinan itu mungkin seratus juta dibanding satu. Tetapi dia perlu mencoba. Ren mengambil dompetnya, mengeluarkan lima lembar uang sepuluh ribu.

“Pakai ini dulu, Bu. Bisa buat beli sedikit kebutuhan rumahmu, sisanya buat bayar ongkos angkot.”
Perempuan itu berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ren tersenyum sambil menahan harapan yang mulai tumbuh. Jangan-jangan ibu ini ibu CEO. 

“Jangan lupa, ini nomor HP saya. Jika ibu butuh, bisa kontak saya kapan saja.”
Malam itu ia menunggu. Tidak ada telepon. Besoknya juga tidak ada. Tidak ada mobil mewah. Tidak ada sekretaris. Tidak ada lelaki tampan yang tiba-tiba datang memperkenalkan diri sebagai CEO. 

Yang ada hanya rumah yang muram, ayah yang kalah berjudi, dan ibunya yang terbaring. Tidak ada obat baru. Tidak ada uang. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada lelaki kaya yang datang menyelesaikan masalah.
Malam itu Ren kembali menyalakan HP-nya, memutar sebuah film yang lagi-lagi berkisah tentang seorang gadis baik hati yang menolong lelaki miskin, lalu mengetahui bahwa lelaki tersebut ternyata adalah CEO.

Dia ingat kisah ketiga sore tadi. Seorang pengemis berbaju kumal lewat di depan rumahnya. Dan masih dengan kenaifannya, Ren mengambil sisa makanan di rumahnya, dia bungkus dan dia kasihkan ke pengemis itu. Padahal, itu adalah jatah makan malamnya. 

Sampai saat ini, ketika dia harus mengurung diri di kamar karena kelaparan, khayalannya belum terbukti. Pengemis itu tidak berubah menjadi CEO tampan yang datang melamarnya, meskipun sekadar untuk kawin kontrak setahun untuk mengelabuhi orang tuanya yang terus memaksanya menikah.
Ren menatap layar cukup lama. Kemudian mematikannya. Air matanya jatuh. Menangis sesaat, tetapi kemudian tertawa. 

Betapa tololnya dia selama ini. Mestinya dia memang harus bersyukur masih, diberi kesempatan untuk membantu. Mengapa dia justru menjadikan kebaikan itu sebagai transaksi? Transaksi konyol pula.
Ia menolong, tetapi berharap ditemukan. Ia memberi, tetapi berharap dipilih. Ia ingin menjadi gadis baik sebagaimana tokoh protagonis dalam film karena berharap hadiah di akhir cerita.

“Ya Allah…” Ren tertawa getir sambil mengusap air mata. “Aku ini menolong orang atau sedang ikut audisi jadi menantu CEO?”
Ia menangis lagi, tetapi kali ini tangisnya terasa berbeda. “Kalau menolong, ya menolong saja,” bisiknya. “Karena Allah.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Ren merasa tidak perlu mengejar sesuatu. Ia masih tidak punya pekerjaan. Ibunya masih sakit. Ayahnya masih berjudi. Uangnya hampir tidak ada. Jodohnya juga belum kelihatan.

Tetapi setidaknya, ia memutuskan untuk tidak lagi sibuk mencari CEO yang menyamar.

* * *

Ren menatap gedung berlantai tiga di depannya dengan nanar. Sebuah toko mainan anak. Bahkan untuk melamar sebagai penjaga toko untuk menggantikan tetangganya selama 3 bulan, Lin, yang mengambil cuti hamil, ternyata kalah cepat. Pemilik toko sudah terlanjur mencarikan pengganti Lin.

Dia masih pengangguran sampai saat ini. Sebulan yang lalu, dia menjual satu-satunya cincin emas tiga gram yang dia miliki. Dua pertiga untuk membayar hutang, sepertiga untuk makan sekeluarga, dan membeli obat ibu. Uang di dompet mulai menipis, dan mungkin film-film CEO yang menyamar akan tak lagi dia saksikan, karena Ren memutuskan akan menjual HP-nya jika tak segera mendapatkan pekerjaan.

Seorang ibu mendekatinya. Wajahnya tampak lelah, tubuhnya berkeringat. 
“Nak, boleh bantu ibu?”
Ren menoleh. “Ibu kenapa?”
“Saya dari kampung, mau berkunjung ke rumah anak saya. Sudah sampai di kota, tapi tersesat. HP saya juga mati.”

Ren meraih kertas yang disodorkan ibu itu, membaca alamat yang dibawa perempuan itu. “Rumah anak Ibu lumayan jauh dari sini. Jalan Rawa Buaya itu ada di ujung kelurahan ini.”
“Oh, pantesan. Ibu sudah muter-muter dari tadi di sini tapi nggak ketemu. Orang-orang yang di sini juga cuek-cuek, tak ada yang mau nolongin ibu.”

Apakah dia ibu seorang CE … ah, jangan berfantasi lagi! Cukup sudah kebodohanmu, Ren! Luruskan niat. Menolonglah karena Allah.

Ren tersenyum. “Ya sudah, saya bantu cari, ya.” Dengan ringan, Ren meraih botol minum yang masih tersegel di tasnya. “Ibu tampaknya kehausan, minum dulu saja, soalnya kita akan berjalan agak jauh. Jalur di sini searah. Kalau naik angkot nanti malah muter-muter, jadi kita jalan kaki saja, ya? Cuma sekitar satu setengah kilometer.”
“Terima Kasih, Nak!”

Mereka berjalan bersama, ngobrol ke sana ke mari, sampai akhirnya menemukan sebuah warung bakso yang sangat ramai. Ren tahu warung itu dan pernah beberapa kali makan di sana. Begitu melihat warung tersebut, wajah sang ibu langsung cerah.
“Nah! Ini! Anakku bilang dia punya warung bakso.”
Seorang lelaki sekitar empat puluhan yang sedang sibuk melayani pelanggan tampak kaget dan tergesa keluar. “Ibu!”

Ia memeluk ibunya dan mengambil tas yang dibawa perempuan tua itu. Setelah mengetahui bahwa Ren yang mengantar, lelaki itu berkali-kali mengucapkan terima kasih.
“Ini buat Mbak!” Dia memberikan plastik besar berisi beberapa bungkus bakso. “Sebagai ucapan terima kasih saya, Mbak.”
Lagi-lagi bukan CEO yang menyamar, tetapi Ren bisa tersenyum lega. Dia sudah terbebas dari fantasi itu.


* * *

Ren sudah membulatkan tekad untuk menjual HP-nya. Namun, baru dia hendak keluar, seorang ibu berdiri di depan rumahnya.

“Akhirnya, bisa bertemu di rumah Mbak Ren. Saya paksa Agus mengantar saya ke sini.”
Agus, pemilik warung bakso Mang Agus, menatap Ren perlahan, lalu tertunduk.
“Sst, Mbak Ren, langsung saja ya, kalau Mbak Ren berkenan, saya mau mengenalkan Mbak Ren dengan anak saya, Agus. Kan kemarin Mbak Ren cerita kalau ingin dicarikan jodoh. Nah, Agus ini juga sedang cari jodoh.”

Wajah Ren memerah. “Ibu, saya kemarin cuma bercanda.”
“Ibu!”Agus, lelaki itu langsung memprotes.
“Agus ini anak baik. Umurnya sudah 35 tahun, tapi sibuk cari uang untuk membiayai ibu dan adik-adiknya. Sekarang semua sudah mentas. Agus ingin cari istri, tapi takut ketemu orang yang jahat. Jadi ibu punya ide untuk mempertemukannya denganmu.”

Bukan hanya memerah, wajah Ren kini benar-benar memanas.
“Mmm… Ibu, jangan bercanda.”
“Lho, ibu ini serius, lho.”
“Silakan masuk, Bu. Kita ngobrol di dalam ya. Soal pernikahan itu, nanti kita melakukan proses taaruf dulu, ya, Bu.”

“Saya setuju, kita kenalan dan saling melakukan penjajagan dulu, ya.” Agus tertawa. “Saya serius ingin menikah dan tak ingin pacaran. Tetapi sebaiknya jangan terburu-buru.”
“Pokoknya kamu jangan khawatir, Agus ini jaminan sekali, lho, Mbak Ren. Apalagi, dia juga CEO.”
“CEO?” Ren terpana.
“CEO warung bakso, bakso Mas Agus.”

Mereka tertawa lepas. Agus tertawa malu, tetapi ibunya tampak puas. Ren sendiri mendadak merasa dadanya dipenuhi debar.

Posting Komentar untuk "Dilamar CEO, Cerpen Afifah Afra"

banner