Widget HTML #1

Recik-recik De Winst


Ketika suatu saat saya membaca ulasan Ahmad Tohari tentang hasil penjurian lomba novel DKJ 2007, ada sebersit ide yang muncul dalam benak saya. Pak Tohari mengatakan, bahwa sastra menjadi poin utama penilaian novel yang menang. Akan tetapi beliau mengatakan, "Bisa jadi dari novel yang tak menang itu, kalau diterbitkan jadi karya best seller."

Saya tidak ge-er bahwa yang disebut Ahmad Tohari itu adalah De Winst. Walaupun karya saya memang termasuk dari naskah yang tak menang, tetapi, siapa sih, saya ini? Namun, benak saya berbisik, "Iya, mengapa De Winst tidak coba saya terbitkan?"

Saya pun mencoba menganalisis, penerbit mana yang kira-kira bersedia menerima naskah saya yang tebal ini? Saat itu, memang sudah ada Afra Publishing—yang selanjutnya bernama Indiva. Namun, saya tak tega membebankan ongkos produksi yang tentunya besar itu kepada penerbit yang masih sangat kecil itu. Saya hitung, untuk menerbitkan 3000 eksemplar De Winst, paling tidak butuh dana sekitar 25 juta rupiah. Afra Publishing bisa bangkrut.

Ada sekurang-kurangnya 2 penerbit yang masuk nomine. Penerbit A, saya mencoba mengirimkan, namun tak ada jawaban. Akhirnya saya pilih penerbit B. Still yakin saya tawarkan naskah tersebut. Ternyata... ”Redaksi mencoba mempertahankan, Mbak, tetapi sama marketing ditolak.” Tahukah Anda apa arti kalimat yang terakhir itu? Ya, naskah saya dianggap tidak marketable.

Akhirnya, saya berdiskusi dengan teman-teman di Indiva. Merekalah orang-orang di belakang layar. Mereka yang mengonsep tata letak dan perwajahan cover, serta mengeditnya. Jika cover itu membuat pembaca terkesan, jempol lebih tepat teracung kepada mereka, bukan kepada saya:-).

Setelah diskas dengan cukup mendalam, tim saya ternyata merasa optimis. ’Ketebelece’ mereka pun membuat rasa optimis itu merambat ke hati saya. Namun, ketar-ketir itu tetap membayang. Akhir Februari, buku tersebut terbit. Sebelum dilempar ke agen, sebagai test pasar, buku kami pajang di stand Indiva di Solo Islamic Book Fair. Ternyata, laris bak kacang goreng. Di Jogya Islamic Book Fair pun disambut meriah. Permintaan dari agen pun cukup tinggi. Sampai ada agen besar yang reorder dalam selang waktu singkat, dalam jumlah lumayan besar. Akhir Maret, kami benar-benar kehabisan stok, padahal De Winst dicetak 3000 eksemplar. Kami pun memutuskan untuk mencetak ulang sebanyak 3000 eksemplar lagi.

KRITIKAN DAN PUJIAN
Saya sendiri menulis De Winst tanpa beban. Jika kemudian ada yang mengulas dari sudut sastra, tentu saya sangat berterimakasih, karena saya benar-benar tak mengerti sastra. Saya orang sains yang 'kesasar' menjadi penulis. Justru masukan-masukan yang ada, menjadi amunisi untuk karya saya berikutnya. Ketika karya saya disukai, saya tentu bersyukur. Namun, saya juga merindukan kritikan-kritikan yang membangun. Jadi, silahkan 'bantai' novel De Winst!! Saya siapkan tameng nich... ciaaat....

Kritikan itu pertama datang dari Annida yang meresensi novel tsb di edisi April 2008. Kata Annida, ada beberapa kebetulan-kebetulan yang tidak logis. Sedangkan menurut Solopos (diresensi oleh Riannawati, dosen sastra Indonesia UNS), dalam novel tersebut sering terjadi inkonsistensi, kadang-kadang disebut Batavia, kadang Jakarta. Ada juga diksi yang menurut Riana tidak sesuai dengan setting yang saya pilih, Indonesia 1930-an. Sedangkan http://www.prakarsa-rakyat.org/ menuliskan tentang kesalahan ejaan dan tanda baca yang cukup mengganggu. Tentu kritikan itu akan sangat kami perhatikan.

Namun, pujian juga datang. Annida menuliskan, alur cerita De Winst sangat memikat—karena Afifah adalah pakar mendongeng, begitu katanya. Annida juga menulis, bahwa dalam novel De Winst, Afifah cukup telaten menggarap perwatakan tokoh-tokohnya. Rianna pun mengakui, bahwa cerita De Winst mengalir lancar, selain setting yang tergarap dengan baik. Sementara, Prakarsa-Rakyat.org lebih menyoroti pada pengemasan novel ini yang tergolong rapi.

DIALEKTIKA DALAM NOVEL DE WINST

Sebenarnya pesan yang ingin saya bangun di dalam novel ini adalah bahwa pertarungan ideologi-ideologi besar di dunia senantiasa menjadi plot utama drama-drama yang berlangsung di panggung dunia. Mulai dari kapitalisme ala Adam Smith atau David Ricardo, komunisme-sosialisme ala Marx dan seperti biasa, saya tawarkan konsep ekonomi Islam sebagai jalan tengah.

Kapitalisme dan komunisme adalah 2 kutub yang saling bertentangan. Jika Hegel mengungkapkan teori dialektika, dimana ada tesa dan antitesa, yang jika keduanya bertarung, maka itulah proses sintesa. Ada air yang panas, batu es yang dingin, keduanya jika disatukan, akan menjadi air hangat yang menyehatkan tubuh. Tetapi, kita tak perlu menunggu 2 ekstrim itu (kapitalisme vs komunisme) bertarung, karena impactnya sungguh luar biasa.

Cukup kita melirik--kemudian mendalami produk yang moderat, yakni ekonomi Islam.RM Rangga Puruhita adalah produk ekonomi kapitalisme, ketika pulang, ia melihat betapa kapitalisme (di Indonesia awal abad 20 memang bisa diwakili dengan berdirinya pabrik-pabrik gula, maka jika saya memilih pabrik roti, tentu jadi aneh:-)) telah begitu kuat mencengkeram pribumi. Lantas muncul Jatmiko yang membawa ide penentangan lewat ideologi sosialis-komunisnya.

Rangga menjadi berhadap-hadapan dengan Jatmiko, serta kubu Jatmiko--Sekar (tunangan Rangga) dan Kresna, juga Pratiwi. Di tengah-tengah mereka, ternyata ada beberapa saudagar muslim, yakni pada pengusaha batik (ingat, Solo, khususnya Kampung Laweyan adalah sentra pengusaha Batik, hingga kini. H Samanhudi pendiri SDI berasal dari daerah itu). Rangga terpikat kepada konsep usaha yang mereka tempuh, yang ternyata menerapkan pola-pola bisnis Islam.

Jadi, alur utama novel De Winst memang pada pertarungan ideologi itu. Sayang, resensi Mbak Dee di Annida bahkan tidak mengungkit-ungkit masalah itu. Mungkin karena percintaannya pun dominan ya? tetapi, betapa garingnya jika De Winst hanyalah sebuah buku yang membahas teori-teori ekonomi tanpa adanya unsur romantisme?

ALASAN PEMILIHAN JUDUL
Dalam milis forum_lingkarpena@yahoogroups.com, soal pemilihan judul ternyata menyedot perhatian pada miliser. Mereka rata-rata menyayangkan, mengapa saya memilih kata dalam bahasa asing. Padahal, gosipnya, kalau judul dipilih dari bahasa Asing, maka dengan serta merta terdepak secara otomatis dari Ikapi Awward. Begitukah? Saya tak terlampau paham.

Mengapa saya memilih judul buku ini dengan De Winst, sebenarnya perenungan Sekar yang menjadi ending dari novel ini menjadi jawaban: Bahwa kehidupan saat ini hingga pada masa yang akan datang telah disketsa oleh para pemuja de winst... De Winst artinya provit. Kita telah melihat, bahwa provit ternyata telah menjadi motivasi yang sangat luarbiasa, yang mampu melacurkan seorang ideolog pun...

Ada alasan tersendiri mengapa saya pilih judul De Winst. Pertama, jika kata bahasa Indonesia yang dipilih, yakni provit (ini pun sebenarnya kata serapan) tentu akan terasa wagu. Apalagi jika dipilih laba, atau bathi (ini bahasa Jawa) tentu semakin tidak eye cathcing. Jadi, ini bukan masalah inferioritas atau superioritas. Kalau ada bahasa pribumi yang lebih cocok, tentu saya akan pilih itu. Untuk pilih judul yang lain, tentu konteksnya menjadi kurang cocok, karena permasalahan yang saya angkat dalam novel ini adalah permasalahan De Winst, permasalahan duit. Konflik besar dari novel ini adalah pertikaian ideologi kapitalisme melawan komunisme dalam memandang masalah provit.

Kedua, untuk membuat De Winst tidak terkesan just mengambil bahasa asing, akhirnya De Winst saya gunakan sebagai nama pabrik gula. Saya rasa, dalam bahasa Indonesia pun tak ada masalah jika kita mengangkat sebuah nama sebagai judul. Misalnya ada cerpen Seribu Kunang di Manhattan. Manhattan adalah nama yang asing. Tentu tak akan dirubah menjadi Solo atau Surabaya, karena memang settingnya ada di Manhattan.

Simbol kapitalisme di Indonesia pada jaman itu memang pabrik gula. Inilah yang dikritik oleh Sukarno (dalam buku Penyambung Lidah Rakyat). Saat itu, kata Sukarno, infrastruktur didirikan demi menyokong industri gula. Para pelajar sekolah teknik diajari membuat pabrik, mengelola mesin-mesin, dan bukan bagaimana membuat panenan padi lebih melimpah. Jadi, orang pribumi disekolahkan semata untuk kepentingan kapitalisme.

Ketiga, bukankan Bahasa Indonesia sendiri adalah bahasa yang 'ramah' dan sangat mudah menerima bahasa asing sebagai kata serapan? sekarang kata lanskap (landscape), desk, literer, sudah masuk dalam KBBI.

BERMINAT MENDISKUSIKAN BUKU INI?
Jika Anda memiliki komunitas, dan tertarik untuk membedah buku ini, silahkan kontak kami via wa.me/6287835388493


3 komentar untuk "Recik-recik De Winst"

Comment Author Avatar
selamat untuk terbitnya novel de winst, dan saat ini saya sedang baca novel tsb. jika nanti sdh tak sibuk, insyaalah akan saya ulas dalam sebuah tulisan esai sastra atau resensi (di media massa). semoga bermanfaat bagi pembaca....
Comment Author Avatar
Ok, Mas Mursidi, ditunggu kritik dan sarannya di resensi tersebut:-)
Comment Author Avatar
novelnya bagus mbak,,, kemarin pas tak tunjukin ke orang belanda yg langsung di soroti, apa provitnya banyak??? dan ia familier dengan gambar sepeda di cover,,

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!