Widget HTML #1

Berkata yang Baik, Atau Diam


عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47] 

Tatkala membaca hadist tersebut, ada semacam hentakan yang membuat saya harus terpekur. Lama. Betapa Rasulullah ternyata sangat menekankan arti 'perkataan yang baik.' Bahkan beliau meminta, kalau memang kita tidak bisa mengeluarkan sesuatu yang bernapaskan kebaikan, sebaiknya diam sajalah! 

Lalu, mengapa sebagai sosok yang mengaku umatnya, meneladaninya, hingga detik ini saya masih suka ceplas-ceplos, mengeluarkan perkataan yang tidak ada gunanya? Sesungguhnya, Allah menciptakan dua mata, dua telinga dan hanya satu mulut. Artinya, melihat dan mendengar itu semestinya memiliki proporsi lebih besar daripada berbicara. Sementara, begitu banyak orang-orang yang 'hanya bisa bicara' mengkritik sana, mengkritik sini; memaki sana memaki sini; menggunjing sana menggunjing sini. Dan, alangkah malangnya, karena mungkin saya pun termasuk orang yang 'lebih banyak bicara' yang tanpa guna.

Padahal, Rasulullah bersabda, "Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, lalu beliau menjawab, 'Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.' Beliau juga ditanya tentang perkara yang paling banyak mengantarkan orang masuk ke neraka, beliau menjawab, 'Mulut dan kemaluan.'" (HR Tirmidzi).

Dalam kebudayaan Jawa sendiripun berlaku sebuah ajaran "Ajining diri gumantung ana ing obahing lathi, ajining sarira gumantung ana busana." Harga diri seseorang bergantung dari bergeraknya mulut (bicara), dan harga seseorang bergantung pada cara dia berpakaian. Ketika kita berkata santun dan lembut, itulah pancaran nilai kita. Ketika kita berbusana rapi, indah, sesuai kondisi, meski tak mahal, maka itulah karakter kita.

Tak ada yang kontradiktif antara ajaran Islam dengan falsafah hidup orang Jawa. Semua menuju satu kata, "Berhati-hatilah dengan mulutmu!" Bahkan dalam pepatah, "Mulutmu adalah harimaumu."

Allah, ampunilah kelancangan mulut saya selama ini. Ampunilah ketidakberdayaan hamba melawan keinginan untuk selalu banyak bicara yang tanpa guna...