Widget HTML #1

Rama si Anak Laptop (2)

Aaah, akhirnya punya kesempatan blogging juga. Beberapa hari kemarin lumayan padat agenda, begitu sampai di depan laptop, bawaannya ngantuk melulu. Baiklah, karena ada beberapa teman cyber yang menagih kelanjutan cerita "Rama si Anak Laptop" saya mengawali blogging hari ini dengan melanjutkan tulisan tersebut.
Yap, si Rama, dalam perkembangannya, memang rada berbeda dengan kakaknya. Dia ekspresif, namun terkadang mellow dan sangat sensitif. Misalnya, ketika ia melakukan sesuatu yang lucu dan ada orang yang tertawa, dengan segera ia melotot dan marah, bahkan menangis, "Ndak boleh tertawa!" teriaknya.
Jika saya melerai, "Nak, kamu sudah bisa membikin orang tertawa, itu bagus." Maka dia menjawab, masih dengan tangisnya, "Aku ndak mau diketawain. Aku malu!"
Nah, jadi jika Anda bertemu dengan anak saya, si Rama, dan melihat aksinya yang konyol serta kreatif, siap2lah untuk tidak tertawa, kalau mau senyum boleh, tetapi tutup muka Anda biar dia tidak melihatnya, okay? 
Rama memiliki watak yang tak bisa ditebak. Misalnya, suatu hari, Mbak Anis merayu abinya, "Bi, ayo beli steak, aku lapar!" Ketika si Abi meluluskan keinginan si sulung dan mengajak seluruh keluarga untuk makan di warung steak XYZ (nggak disebutkan namanya, nanti dikira promo, hehe), Rama tak terlihat antusias. 
"Aku nggak mau makan!" ujarnya.
"Steak itu enak, lho Dik!" rayu Mbak Anis.
"Nggak!" tegasnya.
"Baiklah," ujarku, "Nanti Mas Rama tidak makan apapun, hanya duduk. Oke, Mas?"
Rama mengangguk tak semangat. Kamipun beranjak ke warung steak. Anis memesan ayam crispi kesukaannya. Lalu melahapnya. Melihat Anis makan, Rama melihatnya. Semula ia pura2 tak berminat, jaim deh... tapi lama2 pertahanannya bobol. Ia mendekatiku, berbisik.
"Mi, aku mau yang seperti mbak Anis, tapi dikit saja!"
Aku tersenyum dan meminta sedikit steak Anis. Beruntung, Anis yang baik hati mau berbagi. Rama memakannya. Lalu masih pura2 jaim. Namun kemudian ia mendekatiku lagi.
"Mi, aku mau yang seperti mbak Anis, separuh saja!"
"Rama, kalau pesan separuh tidak bisa, bisanya satu. Mau pesan satu?"
Rama masih belum hilang jaimnya. "Hm... tapi nanti kalau ndak habis, Umi yang menghabiskan, ya"
Aku mengangguk. Dan Anda bisa menebak endingnya, Saudara? ternyata satu porsi steak di depan Rama licin tandas.
Jaim! Ini jawaban dari keherananku. Mengapa Rama yang jika di rumah sering nangis berguling2, kadang membanting pintu, atau melempar barang2 saat marah, ternyata waktu di sekolah (dia sekarang sekolah di Play Group Nurhidayah) mendapat catatan yang baik dari ustadzahnya. "Rama tidak pernah nangis, tidak pernah nakal, tidak pernah mukul, bahkan pernah dipukul temannya dan dia diam saja, tidak melawan."
Hmmm... tak tahu tuh, Rama ketularan jaim dari siapa ya? Aku, atau abinya? Hehe.
 
Oya, mungkin Anda bertanya, mengapa kami akhirnya menyebut Rama si Anak Laptop? Begini kisahnnya. Suatu hari, Mbak Anis yang 'bijak bestari' membuat semacam perumpamaan. "Di hati Umi dan Abi, aku adalah anak mutiara, dik Rama anak berlian, Dik Ifan anak emas. Ya kan Mi?"
Mendadak Rama menyeletuk, seperti biasa dengan cuek. "Bukan! Aku bukan anak berlian!"
"Trus, anak apa?" tanyaku, penasaran. Mau bikin kejutan apa lagi ini anak?
"Anak laptop!" jawabnya, masih dengan gaya cuek.
Aku tersentak. Laptop? Mendadak aku tercenung. Rama, mungkin tidak pernah melihat aku tampak menyenangi emas, berlian atau mutiara. Namun aku selalu semangat jika berhadapan dengan laptop. Rama ingin selalu dekat dengan Uminya, maka ia menyebut dirinya, si Anak Laptop...

Posting Komentar untuk "Rama si Anak Laptop (2)"