Jangan Sepelekan Mitsaqan Ghalidza

Beberapa hari ini, saya merasa sangat berbahagia. Kebahagiaan yang tiada tara, melebihi saat gajian atau mendapat royalti jutaan rupiah. Pasalnya, sepasang suami-istri yang saya kenal—yang sudah bersikeras mau cerai—tiba-tiba memutuskan untuk kembali bersatu. Talak memang belum terucap, tapi ketegangan sempat luar biasa. Rumah tangga mereka hampir hancur, perjanjian suci yang diucapkan bertahun-tahun lalu hampir putus di tengah jalan.

Menurut kabar yang saya dengar, mereka akhirnya saling memaafkan dan mengubur kesalahan masing-masing. Setelah introspeksi mendalam, ternyata keduanya punya andil dalam konflik itu. Bukan salah satu pihak saja. Mari kita doakan agar mereka langgeng sampai maut memisahkan, dan kelak bertemu lagi di surga-Nya. Allahumma aamiin.

Mitsaaqon Ghaliidza Dalam Al Quran

Pernikahan memang bukan permainan anak-anak. Pengikatnya adalah perjanjian agung bernama mitsaaqon ghaliidza—perjanjian yang sangat kuat dan teguh. Dalam Al-Qur’an, istilah ini muncul hanya tiga kali, tapi setiap kali membawa bobot yang luar biasa.

Pertama, dalam QS. Al-Ahzab: 7. Allah mengambil perjanjian dari para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa AS: “...dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (mitsaaqon ghaliidza)”. Ini perjanjian kenabian. Mereka diikat untuk menyampaikan risalah tauhid dengan penuh kesabaran, meski harus menghadapi badai yang gila-gilaan.

Kedua, QS. An-Nisa: 154. Allah mengangkat Bukit Thursina di atas kepala Bani Israil agar mereka bersumpah setia. Mereka disuruh masuk gerbang Baitul Maqdis sambil bersujud dan menjaga hari Sabtu. Intinya adalah taat kepada Nabi Musa AS melalui perjanjian yang kokoh, mitsaaqon ghaliidza.

Ketiga, QS. An-Nisa: 21, yang langsung bicara soal pernikahan: “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali (mahar), padahal sebagian kamu telah bergaul sebagai suami-istri, dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaaqon ghaliidza)?” Di sini, akad nikah bukan sekadar ijab kabul biasa. Ini ikatan suci di hadapan Allah yang mewajibkan suami-istri saling setia, menjaga, dan membangun rumah tangga dengan cara yang ma’ruf.

Apakah kadar ketiga perjanjian ini sama? Mungkin bobot tanggung jawabnya berbeda, tapi penyebutan dengan istilah yang sama menunjukkan betapa dahsyat nilainya. Semuanya mengikat jiwa, bukan hanya kertas atau lisan.

Lalu, bagaimana setelah terjadi perjanjian agung berdasarkan tiga kondisi tersebut? Pada kondisi pertama, para Rasul Ulul Azmi tidak ada yang ingkar. Mereka berjuang dengan kesabaran luar biasa, mendakwahkan tauhid meski cobaan melebihi takaran manusia biasa. Mereka menggenggam perjanjian itu erat-erat. Mereka telahh memenuhi janji.

Pada kondisi kedua, bagaimana dengan Bani Israil? Banyak di antara mereka yang ingkar. Keingkaran mereka sampai level mengerikan, sehingga Allah menjuluki mereka Al-Maghdhuubu ‘alaihim (golongan yang dimurkai). Na’udzubillah. Bahkan sampai sekarang, Bani Israil yang membangkang itu masih menimbulkan kerusakan di muka bumi di berbagai tempat, seperti Palestina dan Lebanon.

Nah, pada ketiga—yaitu pernikahan—hal ini masih berlangsung sampai sekarang. Hampir setiap akhir pekan saya menerima undangan pesta pernikahan. Akad nikah yang merupakan mitsaaqon ghaliidza menjadi momen sakral yang mengharukan.

Sayangnya, tidak semua pasangan menjaganya dengan sekuat tenaga. Banyak yang bahkan tidak paham maknanya, apalagi menjiwainya. Akibatnya, perceraian dengan alasan sepele terus bermunculan. Padahal, mengingkari mitsaaqon ghaliidza karena selingkuh, “sudah tidak cinta”, atau putus tanpa alasan syar’i, memiliki kesamaan dengan Bani Israil: sama-sama berkhianat terhadap perjanjian agung.

Mengapa Perjanjian Ini Berat tapi Penting?

Dari kacamata psikologi, pernikahan adalah salah satu komitmen paling berat yang bisa diambil manusia. Menurut Teori Segitiga Cinta Robert Sternberg, cinta sejati terdiri dari tiga elemen: intimacy (keakraban emosional), passion (gairah), dan commitment (komitmen). Passion bisa naik-turun seperti roller coaster, intimacy perlu dirawat terus-menerus, tapi commitment-lah yang jadi pondasi. Mitsaaqon ghaliidza ini mirip sekali dengan commitment level tertinggi—bukan perasaan semata, melainkan keputusan sadar untuk tetap bersama meski badai datang.

John Bowlby dengan Attachment Theory-nya menjelaskan bahwa manusia punya kebutuhan dasar untuk merasa aman dan terikat. Pasangan yang baik saling menjadi “secure base”—tempat pulang yang aman. Ketika salah satu merasa dikhianati atau diabaikan, attachment anxiety muncul, lantas konflik pun meledak bagai erupsi gunung berapi. Dalam kasus pasangan yang saya ceritakan tadi, mereka berhasil kembali karena mau introspeksi: mengakui andil masing-masing. Itu sesuai dengan konsep forgiveness dalam psikologi positif. 

Everett Worthington menjelaskan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan, tapi melepaskan hak untuk membalas dendam dan memilih membangun ulang kepercayaan. Proses ini memang butuh usaha, tapi hasilnya luar biasa untuk kesehatan mental kedua belah pihak.

Banyak orang terjebak dalam fixed mindset soal cinta: “Kalau sudah tidak cinta, ya sudah selesai.” Padahal, psikolog Carol Dweck mengajarkan growth mindset di mana dalam konteks ini bermakna "cinta bisa dikembangkan". Cinta bukan hanya perasaan yang datang begitu saja, tapi “sesuatu yang aktif”. Kalau dirawat dengan komunikasi terbuka, apresiasi kecil setiap hari, dan usaha bersama, ia akan tumbuh berseri. Makin lama makin rimbun, menjadi kanopi yang tak hanya menyejukkan diri dan pasangan, tetapi juga lingkungan sekitar atau spektrum yang lebih luas lagi.

Ada penelitian menarik dari John Gottman yang mengamati ribuan pasangan suami istri. Penelitian itu menunjukkan bahwa pasangan sukses bukan yang tidak bertengkar, tapi yang bisa memperbaiki konflik dengan cepat dan penuh hormat. Rasio positif-negatif interaksi mereka sekitar 5:1. Yang positif 5, yang negatif 1. Jadi tidak semua positif, ada yang negatif juga, tapi sedikit.. Artinya, meski ada masalah, kebaikan jauh lebih dominan.

Dalam Islam, mitsaaqon ghaliidza memberi fondasi spiritual yang sangat kuat untuk semua ini. Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua manusia, tapi juga amanah Allah. Ada konsekuensi ukhrawi di dalamnya. Ini bisa menjadi motivasi intrinsik yang lebih kuat daripada sekadar “aku ingin bahagia”.

Jangan Main-Main dengan Perjanjian Agung Ini

Jadi, jangan main-main dengan mitsaaqon ghaliidza. Jagalah sekuat tenaga. Kalau perlu, “gigit kuat dengan geraham”. Alasan “tak cinta lagi” bukan alasan mutlak, karena cinta bisa dibangun kembali. Banyak pasangan yang sempat dingin, lalu bangkit lebih kuat setelah konseling, terapi pernikahan, atau sekadar mau saling mendengar dengan hati terbuka.Tentu saja, ada kasus-kasus di mana perceraian dibolehkan secara syar’i (kekerasan, zina, dll). Tapi kebanyakan masalah rumah tangga sebenarnya bisa diselesaikan kalau kedua pihak mau berusaha. Ingat, pernikahan adalah ladang amal. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar sabar, ikhlas, dan bertumbuh bersama.

Eh, soal janji setia di bawah pohon jambu yang hanya disaksikan rembulan, nyamuk, dan kadal? Itu bukan mitsaaqon ghaliidza, tapi “Sumpah Firaun” yang enteng tanpa makna, hihi... Jadi jangan mau diperdaya rayuan gombal orang yang hanya sekadar ingin menjalin relasi, tapi tak berani melamar ke Abi-Ummi.

Semoga kisah pasangan yang saya ceritakan tadi menginspirasi kita semua. Pernikahan itu perjalanan panjang yang penuh tantangan, tapi juga penuh berkah. Kalau kita pegang teguh perjanjian agung ini—dengan hati, pikiran, dan tindakan—insya Allah bukan hanya dunia yang tenteram, tapi juga akhirat yang indah.Ayo, belajar setia setiap hari. Karena yang sedang kita tempuh ini namanya mitsaaqon ghaliidza. Semoga Allah beri kekuatan bagi kita semua untuk menjaganya. 

Aamiin. 

Posting Komentar untuk "Jangan Sepelekan Mitsaqan Ghalidza"

banner