Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

14 Februari, Hari Kasih Sayang (Valentine's Day) Atau Hari Semangat Kepahlawanan?

14 Feb 2020 | Jumat, Februari 14, 2020 WIB Last Updated 2020-02-14T08:24:31Z

Soeprijadi
Adzan Dhuhur terdengar lantang dari masjid dekat Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Blitar. Hari itu, Senin, 10 Februari 2020. Saya masih berkutat dengan lembaran kertas hasil kerja para peserta workshop menulis naskah pendek yang diselenggarakan oleh instansi tersebut. Peserta terakhir, atau hampir terakhir, menyodorkan naskahnya untuk dikoreksi dan didiskusikan. Naskah itu sebenarnya tak terlalu menyolok dibandingkan naskah lainnya. Tetapi, ada satu yang menarik: naskah itu memuat sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 14 Februari.

Bukan Valentine's Day. Ya, kita semua sepertinya lebih mengenal peringatan Valentine's Day atau yang sering disebut sebagai hari kasih sayang itu. 

Pada saat Valentinan, sebagian masyarakat kita merayakannya dengan mengekspresikan kasih-sayang. Ada yang sekadar bilang I Love You, ada yang kasih hadiah (biasanya cokelat batangan), tapi ada juga yang kebablasan, misal merayakan kasih sayang dengan ekspresi cinta yang sebenarnya belum halal, karena belum sah sebagai suami istri. Inilah pangkal permasalahan, mengapa banyak unsur dari masyarakat kita kontra terhadap perayaan kasih sayang ini.

Lepas dari itu, tanggal 14 Februari, ternyata merupakan sebuah hari yang sangat identik dengan sejarah, bukan sekadar sejarah kota Blitar, tetapi Indonesia secara umum. 

Saya terpekur sejenak melihat lembaran naskah yang terketik rapi di atas kertas kuarto putih itu.

"Bu, betulkah perlawanan tentara PETA di Blitar itu terjadi pada tanggal 14 Februari 1945?" tanya saya, mencoba memastikan. Saya sengaja tidak menyebutkan kata PEMBERONTAKAN. Mereka, satu pasukan tentara PETA pimpinan Soeprijadi, bukan pemberontak, mereka para pahlawan yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan di negeri ini dengan melawan penjajah Jepang.

"Betul, Mbak Afra," katanya. "Kalau tak percaya, cek saja internet."

Akhirnya saya memang membuka-buka internet. Benar, ternyata peristiwa bersejarah yang terjadi di kota Blitar itu memang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945. 

Latar Belakang Perlawanan 

Bagi orang Indonesia, tanggal 14 Februari benar-benar sebuah peristiwa sangat bersejarah. Pada 14 Februari 1945, Shodancho Soeprijadi memimpin perlawanan tentara PETA melawan penjajah Jepang di Blitar. Sebuah sikap kepahlawanan yang perlu kita teladani.

Saat itu, di Blitar memang ada satu batalyon atau Daidan tentara PETA (Pembela Tanah Air), yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1943. Komandannya adalah Soeprijadi, berpangkata Shodanco.

Soeprijadi adalah seorang pemuda terdidik. Soeprijadi atau Supriyadi (ejaan sekarang), lahir pada 13 April 1923. Jadi, saat pecah perlawanan PETA Blitar, 14 Februari 1945, beliau baru berusia 22 tahun! Anak muda pemberani ini lahir di Trenggalek, sempat sekolah di ELS dan MULO, lalu sekolah pamong praja.Ketika Jepang datang, dia bergabung di PETA.

Saat itu, kekejaman tentara Jepang sedang di puncaknya. Romusha atau kerja paksa terjadi di mana-mana. Para peserta romusha bekerja keras sepanjang hari, tanpa bayaran sepeser pun, bahkan juga tak diberi makan. Mereka begitu brutal menyiksa, menganiaya dan merampas harta benda serta hasil panen rakyat Indonesia. Suatu hari, para pemuda PETA itu melihat sendiri jeritan para petani yang dirampas hasil panennya.

Soeprijadi dan teman-temannya merasa prihatin, terusik dan marah. Mereka terpanggil untuk beraksi. Bersama pasukan PETA yang dipimpin, mereka melancarkan "pemberontakan." Perlawanan itu pecah pada tanggal 14 Februari 1945. Para tentara PETA mengibarkan bendera merah putih di lapangan. Perlawanan terus berlangsung hingga beberapa hari kemudian. 

Perlawanan itu ditanggapi dengan sangat kejam. 68 orang anggota PETA ditangkap, delapan di antaranya dihukum mati, 2 orang dibebaskan, sisanya dipenjara. Uniknya, Soeprijadi sendiri tidak ditemukan sampai hari ini. Banyak spekulasi berkembang, namun yang jelas, hilangnya Supriyadi masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

Alih-alih merayakan Valentine's Day yang kontroversial, dan juga bukan budaya asli negeri ini, kenapa 14 Februari tidak diperingati sebagai hari semangat juang dan kepahlawanan para pemuda saja? Terlebih, saat ini banyak indikasi menunjukkan bahwa semangat juang para pemuda kita mengalami penurunan drastis. Untuk memperingati hari perlawanan para pemuda itu, mungkin pemuda masa kini bisa mengikuti semacam pelatihan militer barang sehari dua hari, atau berbagai kegiatan lain yang bisa membangkitkan semangat kepahlawanan mereka.

Siapa yang setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update