-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Awas, Engkau Belum Mengenalnya! Sisakan Ruang Tak Percaya

29 Jun 2020 | Senin, Juni 29, 2020 WIB Last Updated 2020-06-29T06:00:57Z

foto: pixabay.com

“Dia mengajak saya berbisnis. Orangnya baik sekali, pintar dan terpelajar. Saya terkesima dengan kepribadiannya. Saya still yakin, dia bisa membawa kebaikan untuk saya.”

Suatu hari, Anda mungkin berhadapan dengan kerabat, keluarga atau orang terdekat yang mengatakan hal itu kepada Anda. Atau mungkin, Anda sendiri yang mengalami hal tersebut. Merasa sangat percaya dengan seseorang, merasa sudah mengenalnya dengan dekat, padahal sebenarnya, kita sama sekali belum tahu siapa dia sebenarnya.

Hanya karena sudah akrab di media sosial, saling sapa, saling komen, sering chatting dan sekilas berhaha-hihi saat kopi darat, lalu, tanpa pertimbangan yang terlalu mendalam, kita pun menyerahkan beberapa hal penting, dengan membuang waspada. Toh, dia orang baik.

Tunggu, dari mana Anda tahu bahwa dia orang baik? Karena statusnya selalu terlihat begitu indah, mempesona dan bijaksana? Karena komentar-komentarnya di media sosial sangat menginspirasi? Karena penampilannya sangat mempesona, dan memancarkan profesionalisme yang memupus keraguan?

Tuh, kan, di bio-nya, dia menampilkan sederet status yang membuat profilnya begitu meyakinkan. Ditambah posting foto-foto kegiatannya yang begitu mantap! Rekam jejaknya pasti baik.

Baiklah, kita semua seperti pernah mengalami hal-hal semacam itu. Begitu merasa dekat dengan seseorang, yang sebenarnya belum terlalu kita pahami detil-detil kepribadiannya. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Merasa takjub dengan sosok yang begitu trendi di dunia maya. Ya, tapi kalau sampai terlibat intens begitu jauh, seperti kerjasama bisnis, sepertinya belum sampai, sih.

Tetapi, jangan terlalu polos, ya Gaess... sebab penampilan bisa dipoles. Kebaikan bisa dicitrakan, status menawan bisa diupayakan. Kadang copas sana-sini tanpa menyebutkan sumber atau referensi. Sementara, audiens mainnya kurang jauh, sehingga tak tahu bahwa status itu dia comot dari tempat lain. Yang kita tahu, dia begitu inspiratif!

Apakah Anda benar-benar mengenal seseorang, sehingga kemudian memberikan kepercayaan bulat-bulat kepadanya? Oke, memang ada istilah bashiroh, atau mata batin. Konon, orang-orang shalih yang dekat dengan Allah SWT, memiliki mata batin yang tajam, sehingga dia seakan-akan bisa menelisik kepribadian seseorang, dan pencitraan tak mempan bagi orang-orang dengan bashiroh yang kuat.

Tapi... shalat malam aja bolong-bolong. Amalan wajib, dijalankan sih, tapi kurang semangat. Amalan sunnah, kalau sempat saja. Jika kita masih semacam itu, sebaiknya jangan pakai ‘bashiroh’, karena rawan tertipu! Pakailah tools yang logis!

Apakah kita mengenal seseorang dengan baik? Setidaknya ada 3 kriteria, sebagaimana yang disebutkan oleh Umar bin Khattab.

Pertama, apakah Anda pernah melakukan safar (perjalanan) dengannya? Tentunya safar dalam jangka waktu cukup lama, misal beberapa hari. Saat safar, dalam kelelahan dan segala crowded yang ada, akan merontokkan topeng-topeng pencitraan, sehingga akan terlihat sifat aslinya. Jika dalam safar ternyata dia masih bisa menampakkan kesabaran, kelembutan hati, sifat amanah dan sebagainya, maka mungkin itu memang sifat aslinya.

Kedua, pernahkah Anda melakukan mualamah dengannya, khususnya muamalah uang semisal berbisnis? Apakah dia bisa dipercaya dan memberikan hak dan kewajibannya dengan baik? Apakah dia jujur alias transparan dalam pengelolaannya? Jika iya, satu poin positif sudah Anda kantongi.

Ketiga, apakah Anda pernah memberikannya amanah tentu suatu hal? Apakah dia cukup amanah dengan melakukan apa yang Anda titipkan kepadanya? Atau, dia justru menyia-nyiakan dan menganggap sepele amanah dari Anda?

Jika ketiga hal tersebut belum pernah Anda lakukan, jangan pernah menyebut bahwa Anda mengenalnya. Terlebih, memberikan kepercayaan yang begitu besar kepadanya. Tetapi, jika memang dia teruji dari 3 hal tersebut, bolehlah kita mulai menaruh kepercayaan, tetapi juga jangan bulat-bulat.
Sisakan sekitar sepertiga rasa tidak percaya, meski pada orang yang begitu Anda puja. Bukan apa-apa. Sebab, sehebat-hebat dia, tetaplah manusia yang punya sisi lemah. Jika 100% perasaan percaya kita berikan, kita akan begitu down jika ternyata dia tak sekeren yang kita kira. Sepakat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update