-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Karena Kita Semua Adalah “Maryam”, Sang Penjaga Masjidil Aqsha Bagian 1

19 Jun 2020 | Jumat, Juni 19, 2020 WIB Last Updated 2020-06-19T07:00:05Z


Salah satu wanita yang sangat saya cemburui adalah Maryam binti Imron. Ya, saya cemburu, sebab Allah SWT begitu memuliakannya. Memuliakan sebab begitu banyak keutamaan yang beliau miliki, yang tak seujung kuku pun saya miliki. Nama Maryam bahkan diabadikan menjadi salah satu surat dalam Al-Quran. Dan setiap bacaan tilawah saya sampai di surat ini, dada saya selalu merasa sesak oleh rasa haru, hormat dan cinta yang mendalam pada perempuan agung ini. Dalam gambaran saya, sosok ini begitu agung, anggun, indah dan penuh kepasrahan. Mudah sekali untuk “jatuh hati” alias simpati sekaligus hormat tiada tara kepada sosok beliau ini.

Gambaran saya sepertinya tidak salah. Memang, Sayyidati Maryam binti Imron ini sosok yang relatif sempurna. Menurut Ustadz Hanan At-Taqi, dalam sebuah kajian online di channel Youtube beliau (belakangan ini saya sering mendengarkan kajian-kajian beliau, bikin adeeem soalnya) sebagian ulama bahkan menganggap bahwa keutamaan beliau setara dengan nabi.

Menurut Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya, “Allah tidak menyebutkan nama seorang pun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan.” 

Hal itu terjadi karena begitu banyak hikmah dan kebaikan yang ada padanya.
Dalam sebuah hadist shahih, Rasulullah SAW juga bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim, 4853).

Sementara, dalam hadist lain dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah bersabda, “Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah.” (HR. Bukhari, no. 3432 dan Muslim, no. 2430).

Nama Maryam disebut dalam dua hadist tersebut sebagai sebaik-baik wanita yang pernah terlahir di muka bumi ini. Bagaimana kita tidak merasa tunduk hormat kepada beliau?

Izinkan saya menyematkan panggilan Sayyidati di belakang nama beliau. Sebab, sebagai orang Jawa, rasanya kok agak ‘njangkar’ alis kurang sopan, menyebut seseorang tanpa embel-embel. Saya biasanya memanggil orang dengan Mas, Mbak, Dik, Kak, Om, Tante dst, masak kepada beliau nggak pakai embel-embel? Sayyidati, dalam tradisi muslim Melayu, sering disingkat jadi Siti. Maka, kita mengenal ada Siti Maryam, Siti Aisyah, Siti Khadijah dan sebagainya. Tapi, karena Siti sekarang terkesan agak “udik”, saya kembalikan saja menjadi Sayyidati.

Sayyidati Maryam binti Imran adalah anak dari Sayyidina Imran bin Matsan dan Sayyidati Hannah binti Faquda. Sanad keturunan beliau bersambung sampai kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Daud a.s. Maryam memiliki dua saudara, yaitu Asy-ya' yang menikah dengan Nabi Zakariya a.s. dan melahirkan Nabi Yahya a.s. Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa Asy-ya' ini bukan kakak Maryam, tetapi bibinya, alias saudara Imran. Saudara Maryam yang lain adalah Harun. 

Keluarga Imran dimuliakan menjadi nama surat dalam Al Quran, yaitu Ali Imran (Keluarga Imran).
Kedua orang tua beliau sudah berusia sangat lanjut ketika Sayyidati Maryam lahir. Namun, mereka punya harapan besar dengan kehamilan anak mereka. Sejak masih dalam kandungan, Hannah sudah bernazar, akan menjadikan anaknya sebagai khadimat (pelayan) Baitul Maqdis.

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35)

Disebutkan dalam Al-Quran, ketika terlahir seorang bayi perempuan, Hannah merasa agak sedih, karena menurut kebiasaan, khadimat Baitul Maqdis adalah laki-laki. Namun, meski begitu, di bawah pengasuhan Nabi Zakaria, a.s. yang tak lain adalah pamannya sendiri, Maryam tetap dipersembahkan untuk menjadi khadimat Baitul Maqdis sejak berusia 3 tahun.

Maryam menetap di salah satu tempat di bagian timur Baitul Maqdis, yang dibatasi tabir. Di sanalah perempuan suci itu beribadah dan mendapat rezeki berupa makanan yang turun langsung dari Allah SWT. Nabi Zakariya yang melihat makanan tersebut terheran-heran, darimana asalnya, sebab Maryam tidak pernah keluar dari mihrabnya di Baitul Maqdis. Sayyidati Maryam pun menjawab, bahwa itu semua berasal dari Allah SWT.

* * *

Sayyidati Maryam telah menjadi sosok yang melegenda, apalagi setelah ditakdirkan menjadi ibu dari Nabi Isa a.s. dengan proses kehamilan yang berbeda dengan kehamilan lazimnya. Kita semua pasti pernah membaca kisah perempuan suci ini, dan ikut terkagum-kagum seperti saya.

Tetapi, percayakah Anda, bahwa saya dan Anda sekalian, ternyata bisa juga lho, menjadi “Maryam masa kini” (awas, pakai tanda petik, ya, sebab tentu tak bisa disamakan, ada banyaaak sekali perbedaan yang tak mungkin bisa dihilangkan). 

Ada satu benang yang menghubungkan antara Maryam masa itu dengan “Maryam-Maryam masa kini” yaitu: penjagaan terhadap Baitul Maqdis. Sayyidati Maryam dinazarkan oleh orangtuanya untuk menjadi penjaga Masjidil Aqsha. Sedangkan Maryam masa kini bisa mewakafkan diri untuk melakukan hal yang sama. Itu benang merahnya. Meskipun kita jauh sekali dari kemuliaan Sayyidati Maryam, setidaknya, kita bisa menempuh jejak yang sama. 

Ya, selain kesucian dan keshalihan, ada salah satu hal yang lekat dengan nama Maryam, yakni Baitul Maqdis alias Masjidil Aqsha yang terletak di kota Al-Quds atau Yerusalem, Palestina. Masjidil Aqsha yang merupakan salah satu masjid yang sangat diberkahi.

Dalam sebuah hadist, disebutkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari bertanya kepada Rasulullah. “Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah. Masjid manakah yang pertama kali dibangun?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian (masjid) mana?’ Beliau menjawab, ‘Lalu Masjidil Aqsha.’  Aku bertanya lagi : “Berapa jarak antara keduanya (membangunnya)?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun. Kemudian di mana pun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah, karena keutamaan ada padanya’”. Dan dalam riwayat lainnya : “Di manapun (waktu) shalat menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah masjid” (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar).

Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam, sebelum dipindahkan ke Masjidil Haram. Masjid ini pula yang menjadi transit Nabi Muhammad SAW saat hendak ber-mi’raj ke sidratul muntaha.
Yerusalem merupakan kota yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota jika Palestina merdeka. Sebelum Israel menduduki Palestina, namun kemudian diklaim menjadi ibu kota Israel. Inilah satu hal penting yang harus menjadi perhatian kita semua.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update