Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Malas Baca, Lebih Suka Nonton Video, Ini Ruginya, Sis, Bro!

9 Jun 2020 | Selasa, Juni 09, 2020 WIB Last Updated 2020-07-01T04:36:50Z

kredit foto: pxhere.com
Dalam sebuah diskusi, seorang pakar mengatakan, bahwa minat membaca di negara kita rendah. Ya, ini sih, bukan rahasia lagi, kan ya? Hobi membaca, sepertinya merupakan sesuatu yang sangat spesial, atau malah aneh. Coba, di antara 100 orang, berapa yang senang berselancar di samudera kata-kata? Berapa yang senang mempelototi buku, alih-alih mainan gadget? 

Mungkin yang perlu dibahas adalah sebab musababnya. Mengapa orang Indonesia rata-rata malas membaca? Tentu multifaktor alias kompleks, ya. Tetapi, salah satunya, bisa jadi, disebabkan karena maraknya platform yang menyediakan konten audiovisual. Orang-orang, khususnya generasi muda, lebih senang menonton video di Youtube, Netflix, atau channel lain; lebih mengenal para Youtuber ketimbang penulis. 

Tidak sepenuhnya salah, Gaess...

Cara orang mendapatkan pengetahuan memang berbeda-beda. Kita mengenal beberapa jenis tipe belajar. Ada tipe pembelajar auditorial, yakni belajar dengan mendengar. Orang-orang tipe ini bisa optimal belajar meski hanya dengan mendengar suara guru sedang menerangkan pelajaran. Ini tipe anak-anak yang ‘manis’. Duduk, diam, tangan dilipat di meja, menyimak seksama apa yang disampaikan di depan kelas.

Zaman saya bocah dulu, ada lagu begini: "Siji loro telu, astane sedeku, mirangake bu guru, menawa didangu." Satu dua tiga, tangannya ditekuk (biasanya ditekuk di atas meja), mendengarkan bu guru, jika beliau berbicara. Lagu ini sangat-sangat populer, dan berhasil membentuk satu style tersendiri, prototipe murid yang baik ya yang kayak gitu! Tetapi, tentu saja tak semua murid cocok dengan gaya semacam itu. Hanya tipe-tipe auditorial yang optimal dengan model pembelajaran seperti itu.

Ada juga tipe visual. Manusia tipe ini harus melihat sesuatu disajikan dengan metode-metode visualisasi, baru dia bisa menyerap maksudnya dan menjadi paham. Dia suka nonton film, melihat gambar, grafis dan sebagainya. Jika gurunya monoton, kadang dia agak “nakal” dengan lebih senang melihat gerak-gerik bibir atau mimik sang guru, atau memperhatikan bros yang dikenakan ibu guru, ketimbang mendengarkan apa yang dibicarakan.

Metode yang lain adalah kinestetik atau taktual. Yakni harus menyentuh, memegang, atau bergerak, baru informasi/pengetahuan bisa terserap. Orang-orang model ini tak bisa duduk dan diam saja saat belajar. 

Jadi, audio visual memang bisa menjadi sarana belajar. Jangan khawatir, kalian tentu tetap bisa mendapatkan informasi dari menonton video. 

Tetapi, saya harus menggaris bawahi, bahwa membaca buku tetap punya keunggulan. Apa saja keunggulannya?

Pertama, saat membaca, imajinasi kita mengembara, membentuk visualisasi yang "bebas hambatan". Kita bisa mendapatkan gambaran sempurna dari bacaan kita, dan ini akan memicu kreativitas dan ketajaman nalar. Sementara, media audiovisual justru membatasi imajinasi. Misal begini, saat kita membaca novel Laskar Pelangi, kita membayangkan betapa dahsyatnya petualangan Ikal c.s. saat menuju pulau bajak laut. Tapi betapa kecewanya kita, saat di film, ternyata adegan tersebut tak bisa sefrekuensi dengan bayangan kita. Bahkan, sekelas sineas Hollywood pun kadang masih gagap dalam melakukan visualialisasi sebuah cerita.

Kedua, membaca sebenarnya mengaktifkan berbagai alat belajar yang Allah berikan kepada kita. Tulisan, grafis, gambar dan layout buku, akan mengoptimalkan alat visual kita, yaitu mata. Gesekan kertas saat kita membuka lembar-lembar buku, akan menjadi suara merdu yang menstimulasi auditori kita. Tekstur buku, cara kita memegang buku, bakal menstimulasi sistem kinestetik kita. Tambahan lagi, aroma buku, kertasnya yang harum, bisa merangsang olfaktori (penciuman) kita. Lengkap bukan? Jadi, pengetahuan yang ada dalam buku, bisa masuk ke otak kita melalui tiga metode sekaligus, yakni auditori, visual dan kinestetik.

Ketiga, membaca juga bisa memperluas kosa kata, memperbanyak diksi yang kita miliki. Kemampuan berkomunikasi sangat tergantung dengan banyaknya diksi yang kita miliki. Karena, dengan diksi, kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan lebih baik. Komunikasi merupakan salah satu ketrampilan penting yang wajib dimiliki, khususnya di abad digital ini.

Keempat, membaca juga melatih kita untuk fokus. Agar bacaan terserap dengan baik, kita wajib berkonsentrasi penuh. Jika terbiasa dengan hal-hal semacam itu, maka kita akan mudah untuk fokus dalam melakukan berbagai hal.

Kelima, banyak membaca juga biasanya akan melahirkan keinginan untuk menulis. Sering saya sebutkan, bahwa membaca dan menulis ini seperti sepasang sahabat yang tak ingin berpisah. Jika kita menekuni salah satu, maka yang lain akan mendekat dengan sendirinya. Jadi, dengan banyak membaca, maka kita akan mulai termotivasi untuk menulis.

Silakan nonton video, silakan mendengarkan musik, tapi membaca tetap perlu sekali, lho!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update