-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Awas, Jangan Pernah Remehkan Siapapun, Agar Tak Ada Sesal Di Kemudian Hari!

24 Jul 2020 | Jumat, Juli 24, 2020 WIB Last Updated 2020-07-24T07:10:46Z

Sumber gambar: Freepik

Diremehkan itu pasti menyakitkan, bukan? Pasti semua sepakat, ya? Sayangnya, meski tahu bahwa diremehkan itu menyebalkan, masih saja ada orang-orang yang menganggap kecil keberadaan orang lain. Menganggap nothing sosok yang hilir mudik di sampingnya. 

Saya pernah tuh, bertemu dengan seseorang di suatu forum. Dia memang menyapa saya, sekedarnya aja sih, mungkin basa-basi belaka, karena kami sudah saling kenal. Parahnya dalam durasi waktu yang sekitar 2 jam, tak sedikit pun dia menyapa kawan yang saya ajak dalam forum tersebut. Padahal, tak banyak orang hadir di sana, tak sampai selusin. Paling tidak, dia kan bisa ditanya, apa kegiatan teman saya itu, dari mana asalnya, dan sebagainya.

Memang sih, tampilan kawan saya itu sangat bersahaja. Tetapi, dia punya banyak kelebihan yang saya sendiri merasa kagum padanya. Beruntung, teman saya itu orangnya penyabar. Dianya sih fine-fine saja. Tetapi, malah saya yang merasa nggak enak hati kepadanya, hehe. Sudah jauh-jauh ngajakin doski, eh malah dicuekin.

Hai, Sobat, ayo kita garis bawahi tebal-tebal! Jangan pernah meremehkan siapapun yang hadir dalam hidupmu. Jangan pernah sekalipun!

Meskipun saat itu dia "bukan siapa-siapa" di mata kebanyakan manusia. Meski dia dipandang hanya orang biasa-biasa saja, bahkan mungkin hanya sekadar bocah kumal dan dekil yang malu-malu mendekatimu, meminta sedekah. Jangan salah, mungkin sebenarnya dia adalah permata yang masih berujud bahan aslinya. Suatu saat, saat terasah, permata itu akan bersinar cemerlang. 

Kurang lebih 20 tahun yang lalu, saya dan kawan-kawan melakukan bakti sosial di sebuah panti asuhan di kota Semarang, dekat kampus saya saat itu, Universitas Diponegoro. Baksos itu dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) kampus saya. Saat itu, seorang anak laki-laki kecil, usianya sekitar 10 tahun, berkulit hitam manis mendekati saya. Berkenalan. Saya pun menyambut dengan akrab. Ternyata berkelanjutan. Bocah panti itu bahkan pernah main ke indekos saya. Meski terlihat lugu, tampak tanda-tanda kecerdasan padanya. Saya katakan padanya, bahwa kamu pasti bisa jadi yang kamu impikan.

Menakjubkan, karena 12 tahun kemudian, saya diundang organisasi mahasiswa fakultas teknik sebuah PTN favorit untuk mengisi pelatihan kepenulisan. Saya kaget ketika bertemu salah seorang pentolan mahasiswa di sana. Ternyata... bocah itu. Si bocah panti asuhan itu. Saat itu dia mahasiswa senior, alias tingkat akhir, yang tampak dihormati junior-juniornya. 

Saya terkesima. Bocah itu sudah tumbuh menjadi sosok yang memiliki jalur kesuksesan yang cukup nyata. Saat ini, saya belum mendengar informasi lagi tentang keberadaannya. Saya kehilangan kontaknya. Tetapi, melihat bagaimana kegigihan dan pola hidup yang terbentuk sejak kecil, saya yakin, saat ini dia sudah berhasil menggapai sebagian impian-impiannya.

Kisah tak kalah menarik terjadi sekitar 8 tahun silam. Pada saat itu, dua orang pria datang kantor Penerbit Indiva Media Kreasi, menawarkan kerjasama buku digital. Ada guratan lelah di wajah mereka. "Penerbit-penerbit menolak kerjasama, mbak. Ya kami memang masih kecil, belum punya nama, tapi kami punya konsep kerjasama buku digital yang sangat prospek di masa depan."

Saya membaca-baca proposal kerjasama mereka dan tertarik. Bagi saya, perubahan teknologi pasti akan membuat gaya hidup berubah. Dan digitalisasi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa ditolak siapapun. Kalaupun saat itu belum ada prospek, setidaknya, kita sudah membuat sebuah pijakan untuk mengantisipasi masa depan. Karena sistem yang mereka tawarkan begitu menarik dan mampu menutup "bolong-bolong" yang biasanya ada pada konsep buku digital, saya pun meng-ACC kerjasama tersebut. Surat perjanjian kerjasama ditandatangani. 

Setahun, dua tahun, sama sekali tak ada hasil. Mereka datang lagi, ngajak diskusi. Saya sampaikan beberapa ide-ide perbaikan untuk mereka. Termasuk usul agar mereka tidak menjual buku digital secara retail, tetapi menawarkan konsep perpustakaan digital ke lembaga-lembaga.

Lalu, mereka seperti lenyap begitu saja. Tahu-tahu, 2 tahun yang lalu mereka datang lagi, dan mengajak kami bergabung di sebuah proyek yang lumayan bergengsi. Kami diminta menjadi salah satu penyedia konten untuk proyek perpustakaan digital mereka. Saya percaya, bahwa ide tentang perpustakaan digital itu pasti bukan hanya datang dari saya. Bisa jadi, mereka juga sudah memikirkannya. Juga sangat mungkin ada banyak yang memberikan saran serupa. Tetapi, mengetahui bahwa ide-ide kami terpakai, rasanya sungguh gembira.

Saat ini, perusahaan mereka merupakan salah satu penyedia layanan buku digital terbesar di negeri ini. "Indiva pasti akan selalu kami ajak, karena Indiva yang menerima kami, di saat yang lain menolak," begitu tutur salah seorang pendiri perusahaan tersebut.

Ada juga satu perusahaan layanan buku digital klien Indiva lainnya yang kasusnya mirip. Mereka keluar masuk ke kantor-kantor penerbit, menawarkan kerjasama, tetapi bernasib serupa. Hampir semua penyedia jasa layanan buku digital mengalami penolakan dari penerbit, yang merupakan pemilik konten. Ada sih memang, penerbit-penerbit besar yang bersikap antisipatif, tetapi lebih banyak yang menganggap bahwa digitalisasi perbukuan itu hanyalah topik-topik elit di seminar-seminar dan diskusi bertema literasi.

Sebagai penerbit kecil, atau paling banter ya baru kelas "medioker," Indiva tak mau terjebak dalam pola pikir semacam itu. Harus progresif, membuka diri dengan berbagai perkembangan yang terjadi di luar. Cepat beradaptasi alias menyesuaikan diri.

Ternyata, langkah-langkah yang diambil saat itu, terbukti efektif. Saat ini, di era pandemi, kedua perusahaan itu sangat membantu pemasukan kami sehingga bisa survive. Ya memang belum bisa menggeser pendapatan utama, tetapi lumayan sebagai vitamin penambah stamina.

Alhamdulillah. Sebuah pelajaran yang makin menguatkan keyakinan: jangan pernah meremehkan siapapun. Karena, barangkali, mereka yang datang kepada kita, mereka yang hadir dalam kehidupan kita, adalah galuh-galuh (batu intan mentah), yang akan bersinar di suatu saat nanti.

Saya teringat, bahwa Rasulullah SAW tak pernah sekalipun meremehkan orang. Bahkan kepada anak kecil pun, Rasulullah selalu menunjukkan sikap penghargaan dan penuh kasih sayang. 

Dalam sebuah hadist, dikabar, “Datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, 'Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?' 'kami tidak mencium mereka'. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, 'Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu.'” (HR: Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).

Ada lagi kisah Ummu Mahjan, seorang wanita tua berkulit hitam legam yang sehari-hari menyapu Masjid Nabawi. Beliau bukan seorang shahabiyah yang terkenal. Keilmuannya juga biasa-biasa saja. Tetapi, Nabi SAW menghormatinya. Rasulullah merasa marah dan menegur sahabat-sahabatnya karena tidak dikabari saat Ummu Mahjan meninggal dunia. 

Jangan pernah meremehkan siapapun, karena bisa jadi, dia adalah sosok yang mulia di mata-Nya.

1 komentar:

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update