Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Evolusi Dunia Digital Berdasarkan Hirarki Maslow, Akankah Digitalisasi Menjadi Kebutuhan Fisiologis?

1 Jul 2020 | Rabu, Juli 01, 2020 WIB Last Updated 2020-07-01T04:35:06Z

kredit foto: freepik.com

Mendadak saya tersentak, ketika menyadari betapa cengkeraman sesuatu yang bersifat digital ini kian hari kian kuat. Dunia digital sudah merasuk sedemikian dalam, bahkan sampai pada ranah-ranah paling privasi dalam kehidupan kita.

Adakah sesuatu yang memiliki "karir" sedemikian moncer dibanding digitalisasi? Sejak perang dunia kedua, posisi digitalisasi telah berevolusi sedemikian rupa, sehingga lama-lama, semakin mendekat pada kebutuhan dasar hidup manusia. Untuk menggambarkan proses evolusi tersebut, izinkan saya menggunakan konsep Hirarki Kebutuhan menurut Abraham Maslow.

Tentunya kita sudah mengenal, kan, teori Hirarki Maslow itu. Sebagian dari teman-teman saya yang berkunjung di blog ini, barangkali bukan "Maslois" (saya kasih istilah ini untuk menyebut orang yang selalu menggunakan teori Maslow sebagai world view-nya), bahkan ada pula yang begitu resisten. Istilah Maslois ini malah saya dengar dari orang-orang yang resisten dengan teori tersebut, lho. Suatu saat, saya melakukan diskusi dengan orang-orang tersebut, lalu saya menggunakan teori Maslow, mereka mengatakan, "Ah, dasar kamu, Maslois!"

Hehe... saya tentu nggak 100% penganut teori Maslow. Saya bukan orang yang terkejut ketika ada orang yang bisa beraktualisasi diri dengan sedemikian moncer, padahal dia masih berkutat dalam kemiskinan, misalnya.

Meski begitu, percayalah, teori kuno itu masih dipakai di kelas-kelas manajemen, lho :-) dan juga masih bisa menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan manajemen yang cukup efektif.

Nah, dalam Hirarki Maslow, dari atas ke bawah, meruncing ke atas membentuk piramida, kebutuhan terbagi menjadi 5. Lihat gambar ini, ya!

Kredit gambar: verywellmind.com

Kebutuhan aktualisasi diri ada di paling puncak. Lalu berturut-turut ke bawah: kebutuhan akan status alias penghargaan dan reputasi, disusul kebutuhan sosial/kasih sayang/persahabatan, kebutuhan akan rasa aman dan terakhir--paling dasar sekaligus paling lebar: kebutuhan fisiologis. Contoh kebutuhan fisiologis misalnya: makanan, minuman, oksigen, kebutuhan biologis dan sebagainya.

Nah, bagaimana tahapan evolusi digitalisasi berdasarkan hirarki tersebut?

DIGITALISASI SEBAGAI KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI
1960-1980

Pasca perang dunia II, pada tahun 1969, USA meluncurkan ARPANET, sebuah teknologi internet yang saat itu masih sangat eksklusif, karena hanya untuk konsumsi militer. Pada era ARPANET ini, digitalisasi  bisa dikatakan masih sekadar kebutuhan aktualisasi diri. USA dan Rusia yang sedang melakukan perang dingin, berlomba-lomba saling adu akutualisasi dalam teknologi ini. Si ARPANET ini diciptakan, konon karena USA gusar dengan kemajuan Uni Soviet yang berhasil meluncurkan Sputnik pada 1957.

DIGITALISASI SEBAGAI KEBUTUHAN STATUS ALIAS REPUTASI
1980-2000

Tahun 1980-an, internet yang tadinya merupakan benda elit, sudah mulai merambah ke rumah-rumah. Internet sudah mulai dikenal, dan mulai dipakai. Sebagian kalangan terdidik sudah mulai menggunakan email sebagai sarana komunikasi. Tetapi, digitalisasi saat itu masih sekadar untuk pemenuhan kebutuhan akan status/kebanggaan diri alias esteem needs. Ada segelintir golongan yang benar-benar memanfaatkan internet, meski dengan keterbatasan pola web 1.0 yang masih searah. Tetapi, itu belum menjadi sebuah kebiasaan masyarakat.

DIGITALISASI SEBAGAI KEBUTUHAN SOSIAL
2000-2020

Nah, setelah platform internet berubah dari web 1.0 menjadi web 2.0, yang menjadi dasar ditemukannya media sosial, mendadak internet melejit sedemikian pesat. Digitalisasi melebar, berubah menjadi sebagai kebutuhan sosial. Berbagai jenis platform media sosial diluncurkan ke publik, dan disambut gegap gempita oleh masyarakat.

Tahun 2000-an menjadi awal terbentuknya sebuah people's behavior yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Tahun 2002 muncul Friendster, 2003 Linkedln, 2004 Facebook, 2006 Twitter, 2010 Instagram, dsb.

DIGITALISASI SEBAGAI KEBUTUHAN KEAMANAN
2020 s.d. ...?

Euforia digitalisasi sebagai kebutuhan sosial masih ramai dikaji oleh berbagai kalangan. Eh, mendadak merebak pandemi Covid-19. Digitalisasi dengan cepat merangsek, melebar ke bawah piramida sebagai safety needs. Orang ramai-ramai melakukan transaksi digital, karena takut tertular SarsCov-2. Pasar offline menukik jatuh, pasar online melejit cepat. Shopee terus menerus mempromosikan hashtag "Belanja Dari Rumah", grup Gojek menawarkan potongan harga yang menarik untuk jasa-jasa mereka, e-wallet dan fintech semakin mendominasi transaksi.

Digitalisasi menjadi sebuah kebutuhan yang mirip todongan pisau perampok: pilih hidup atau mati? Maka, tak heran, saat ini banyak orang malas transaksi tunai, takut ada Sars Cov-2 nempel di lembaran uang.

DIGITALISASI SEBAGAI KEBUTUHAN FISIOLOGIS?
...??

Melihat betapa progresifnya gerak digitalisasi, sangat mungkin suatu saat digital menjadi selevel dengan makanan, minuman, oksigen... Ketika saya memposting tulisan ini di media sosial, ada teman yang berkomentar: bahwa kebutuhan akan kuota mungkin sudah level ini. Ya, bisa jadi, tetapi kalau belum menjadi fenomena umum, saya kira belum bisa disebutkan bahwa kita sudah masuk fase ini. Tetapi, mungkin tak akan lama lagi.

Pesan dari tulisan ini adalah, kalau memang digitalisasi sudah sebuah keniscayaan, ya ayo berubah segera! Mari berubah menjadi digital persons yang cepat beradaptasi dengan perubahan ini.

Solo, 01072020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!

×
Berita Terbaru Update