Widget HTML Atas

Karena Kau Selalu Di Hati (Catatan Milad 24 Forum Lingkar Pena)



Saya memaksa menulis catatan ini, karena bisa jadi, ini adalah milad FLP terakhir di mana saya beramanah sebagai ketua umum Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena. Munas akan berlangsung bulan November 2021 mendatang. InsyaAllah, jika kondisi memungkinkan, akan berlangsung secara Luring di Malang. Panitia jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya, salut deh! Tetapi, tetap ada antisipasi jika ternyata pandemi belum juga mereda. Berarti siap-siap bikin Munas Daring. Ya, sediiih, ya nggak seru.... Hm, memang! Bertemu dengan sekitar 300 delegasi dari seluruh wilayah dan cabang memang selalu menjadi saat-saat yang dirindu. Selalu ada kesan mendalam di setiap perjumpaan. Tapi, kita harus bisa berdamai dengan kondisi, kan?

Mau Daring atau Luring, di Munas 2021, munas ke-5 yang pernah diselenggarakan FLP, masa pengabdian saya berakhir. Semoga LPJ-nya diterima tanpa catatan, dengan hasil cum laude. Mau nyalon lagi? Ah, tidaaaak. 

Pertama, belum ada tradisi ketum menjabat dua kali di FLP. Saya tak mau membuat tradisi baru dengan menjabat dua periode. Kedua, proses kaderisasi harus berjalan. Banyaaak sekali anak-anak muda di FLP yang berpotensi besar menjabat sebagai ketua umum. Kalau saya nyalon lagi, selain belum tentu terpilih (hehe), ini sebuah konfirmasi bahwa sebagai ketum 2017-2021, saya gagal melakukan proses kaderisasi.

Jadi, intinya... saya anggap Milad ke-24 FLP adalah milad terakhir di mana saya berposisi sebagai Ketum BPP FLP. Tahun depan, saya mungkin akan tetap memperingati, tetapi sebagai anggota biasa, hehe... Tetapi, kadar kecintaan saya tentu tak akan luntur, insyaAllah... amiin.

Bagi saya, FLP sudah menjadi bagian penting yang sulit terpisahkan. Dua dekade lebih usia saya dihabiskan bersama dengan organisasi ini. Akhir tahun 1999 saya mendaftarkan diri menjadi anggota FLP melalui rekruitmen yang dilakukan FLP di majalah Annida saat itu. Pada awal tahun 2000, saya ditelepon Mbak Helvy Tiana Rosa. Intinya, tak sekadar diterima sebagai anggota, saya malah diberikan amanah untuk mengelola beberapa biodata calon anggota yang berasal dari Semarang dan sekitarnya.

Saya menyambut tawaran tersebut dengan penuh semangat. Saya mengontak satu persatu nama yang tercantum di biodata tersebut. Seingat saya, ada beberapa nama calon anggota yang nantinya akan menjadi penulis top, seperti Leyla Imtichanah dan Nova Ayu Maulita. Kami melakukan pertemuan perdana di indekos Leyla di daerah Pleburan, Semarang. Lalu di bulan Agustus 2000, Forum Lingkar Pena Semarang resmi berdiri. Mbak Dian Yasmina Fajri diutus oleh Mbak Helvy, meresmikan FLP cabang Semarang. Acaranya bersamaan dengan sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Undip, di mana Mbak Dian yang saat itu menjadi redaktur majalah Annida, diundang oleh panitia.

Uniknya, saat peresmian FLP Semarang, saya justru sedang bertugas di kampus, ada sebuah kegiatan yang tak bisa ditinggalkan, sehingga saya tidak bisa menghadiri acara tersebut. Namun, sore harinya saya sempat mengunjungi Mbak Dian Yasmina Fajri di tempat penginapan beliau. 

Meski kemudian beliau tidak lagi aktif di FLP, interaksi saya dengan Mbak DYF terus berlanjut. Beliau merupakan editor novel serial Marabunta yang saya tulis, dan diterbitkan Gema Insani.

Sejak itu, saya memutuskan untuk TOTALITAS dalam berbakti, berkarya dan berarti. Dan benar, tahun demi tahun terlewati, saya selalu terlibat dalam kepengurusan FLP. Dari cabang Semarang, lalu pindah ke cabang Solo. Kemudian mengelola FLP Jawa Tengah, setelah terpilih menjadi ketua FLP Jateng pada tahun 2009 hingga 2013. Tahun 2014-2017 mendampingi ketua terpilih Munas Bali, mbak Sinta Yudisia, sebagai Sekjen.

Sampai FLP berulang tahun ke-24, saya tetap di organisasi ini. Seorang teman yang sudah sekitar 15 tahun tak bertemu, seperti agak kaget dan melongo ketika tahu saya masih aktif di FLP. "Ya ampun, betahnyaaa...."

Saya sendiri kadang juga berpikir. Kok betah banget saya di sini? Padahal, saya tidak ketemu jodoh dengan orang FLP, lho. Suami memang penulis, tapi yang ditulis resep obat, haha. Entah kenapa, suami saya sama sekali tidak tertarik mengikuti rekruitmen anggota FLP. Padahal katanya, salah satu mengapa beliau mau nikah dengan saya, adalah karena saya penulis yang bergabung di FLP. Mungkin dikiranya, punya istri penulis itu menyenangkan, tiap hari digombalin terus hihi....

Saya juga tidak pernah mendapat kemanfaatan langsung dari FLP. Jadi pengurus, tidak pernah digaji, yang ada malah nombok. Kesana kemari beli tiket pesawat atau kereta api, selalu pakai uang sendiri. Setelah jadi ketum, tiket pesawat untuk kegiatan organisasi, dibayari bendahara. Tetapi biaya lain-lainnya masih keluar dari dompet sendiri.

Bukan berarti saya tidak mendapatkan manfaat finansial sama sekali dari FLP dong, ya. Terlalu naif dan "gak ada akhlak" atau kata netizen "gak ada adab", kalau saya bilang tidak mendapatkan hal tersebut. Saya menjadi seorang penulis salah satunya karena ditopang FLP. Pembaca-pembaca saya, banyak juga merupakan anggota, atau minimal simpatisan FLP. Indiva Media Kreasi, Penerbit yang saya dirikan, juga tentu sangat terbantu dengan jaringan komunitas yang dimiliki FLP. Pastilah ada timbal balik yang saling menguntungkan.

Tapi, tentu bukan sekadar alasan itu. Ada beberapa alasan mengapa saya tetap bertahan di FLP. Apa saja?

Pertama, saya memiliki kesamaan visi dan misi dengan FLP. Bukankah visi adalah suatu hal paling mendasar dalam hidup seseorang? "Orang yang paling menyedihkan di dunia adalah seseorang yang memiliki penglihatan, tetapi tidak ada visi." Begitu kata Helen Keller. 

Bersama FLP, saya merasa lebih kuat dan lebih berdaya. Karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang siap mendukung saya untuk meraih visi pribadi, yang melebur dengan visi organisasi. Terlebih, dengan memimpin FLP, saya merasa mendapat tantangan untuk menjadikan visi ini menjadi fakta. Kata Warren Bennis, "kepemimpinan adalah kemampuan untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan."

Kedua, saya merasa bahwa di FLP, saya benar-benar memiliki kesempatan untuk BERBAKTI, BERKARYA, BERARTI. Ini bukan slogan belaka ya, benar-benar serius. Sebagai makhluk tuhan, saya diberikan potensi yang sangat khas. Jadi, organisasi yang saya tekuni juga sebaiknya khas. Di FLP, saya merasa bahwa gerakan ini cocok banget dengan kekhasan potensi saya. Di FLP, saya punya ruang untuk mengasah potensi yang saya miliki, sehingga saya bisa berbakti dengan karya saya, dan oleh karenanya, saya merasa berarti, merasa bermakna.

Menurut KBBI, salah satu makna ARTI adalah faedah. Orang yang berarti, yakni orang yang berfaedah. Memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya. Menjadi 'manusia wajib' atau minimal sunnah. Menjadi 'manusia wajib' itu, kehadiran kita harus ada, kalau tidak bisa kacau-balau. Menjadi 'manusia sunnah', meski kalau tak hadir tak ada masalah, ketika kita hadir, kondisi akan menjadi semakin baik.

Jangan jadi 'manusia mubah'--hadir atau tak hadir tak ada pengaruh, apalagi makruh (ketidakhadirannya lebih disukai), atau malah haram, kehadirannya menjadi bencana, menjadi musibah atau perusak suasana. Serem, euy!

Ketiga, berada di FLP, selain bisa menjadi manusia bermakna, juga bisa menjadi salah satu ladang pencapaian amalan untuk bekal akhirat. Saya sangat meyakini, bahwa literasi yang berkeadaban merupakan solusi bagi berbagai macam problematika yang terjadi di dunia ini, khususnya Umat Islam. Umat mengalami kemunduran sangat parah, karena menjauh dari literasi. Umat Islam terpecah belah, mudah terbakar sumbunya, mudah dihasut, mudah jadi korban hoax, karena tidak memiliki literasi yang baik, khususnya literasi berkeadaban.

Mengapa harus ada kata "berkeadaban" di belakang literasi? Sebab, literasi saja menurut saya tidak cukup. Berkeadaban adalah kondisi dalam keadaban. Adapun keadaban, dalam KBBI dimaknai sebagai tingkat kecerdasan lahir batin; kebaikan budi pekerti (budi bahasa dan sebagainya).

Literasi berkeadaban adalah literasi yang membawa kita kepada ketinggian budi pekerti dan kecerdasan lahir batin. Bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual. 

Literasi model ini adalah literasi yang berbasis pada ketuhanan. Cocok dengan ayat yang turun pertama kali dalam Al-Quran. IQRO bismirabbika. Bacalah dengan menyebut nama rabbmu. Kita memang disuruh melakukan iqro, tetapi tidak sembarang iqro, tetapi harus menyertakan bismirabbika. Iqro apa yang layak disandingkan dengan bismirabbika? Tentu iqro tentang suatu hal yang baik, yang diridhai Allah SWT, iqro tentang sesuatu yang mengantar pada tujuan Nabi Muhammad SAW diturunkan, yakni untuk memperbaiki aklaq manusia. 

"Innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR Bukhari).

Literasi berkeadaban, sesungguhnya adalah sebaik-baik perkataan, namun diserukan lewat tulisan. Dalam internal FLP, hal tersebut lazim disebut sebagai dakwah bil qalam. Ya, karena prinsip hidup saya, nahnu du'at qobla kulli syaiin. Kami adalah penyeru sebelum apapun. Prinsip itu menjadi sangat cocok ketika bersenyawa dengan hal-hal mulia yang dilakukan oleh FLP.

Tentu ini bukan berarti bahwa FLP adalah sekumpulan malaikat. Tidak, sama sekali. Kami masih sering selenge'an, masih terjebak pada kenakalan-kenakalan. Tak jarang saling berbenturan keinginan yang membuat terjadi konflik yang lumayan pelik.

Tapi kami meyakini, bersama FLP, sesungguhnya kami sedang berada di track kebaikan. 

Selamat milad ke24, FLP!

Lepas dari beberapa alasan tersebut, mengapa saya tetap di FLP... ya karena kau selalu di hati!

13 komentar untuk "Karena Kau Selalu Di Hati (Catatan Milad 24 Forum Lingkar Pena)"

  1. Iya, sedih sekali munas yang dilakukan diganti menjadi daring, padahal waktu itu saya sempat dichat bunda novi untuk berkenan ikut bantu-bantu karena waktu itu posisi saya di sedang di Malang, saat ini saya sudah mudik ke Bali. Semoga bisa melanjutkan diri di FLP. Terima kasih mbak atas sharinnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih, tapi ya bagaimana lagi, harus mampu berdamai dengan kenyataan. Semoga bisa tergantikan di event lain pasca pandemi

      Hapus
  2. salam hormat bu ketu :D

    saya udah berapa lama ya di FLP, seinget saya dari tahun 2005 deh, lupa, temen yang ngajakin, eh dianya nggak aktif malah saya yang aktif :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah aktif kok, di Blogger FLP hehe

      Hapus
  3. Tersentuh banget dengan nahnu du'at qobla kulli syaiin. Saya sering banget menggunakan kalimat ini saat bercerita pada adik-adik di kampus. Barangkali itu juga yang membuat hati saya tetap terikat dengan FLP hingga 11 tahun sampai saat ini, tapi itu tentu jauh lebih sedikit dibanding waktu kebersamaan Mbak Afra dengan FLP

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan Fadli jauh lebih muda, suatu saat pasti akan menyalip dalam masalah waktu dan mungkin kualitas pengabdian

      Hapus
  4. 'Tapi kami meyakini, bersama FLP, sesungguhnya kami sedang berada di track kebaikan.'

    Baca ini rasanya terhibur banget mengingat kelakuan kami yang sering semaunya sendiri 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. WAh, saya juga suka semau sendiri kok

      Hapus
  5. Alhamdulillah bergabung dengann FLP membawa banyak perubahan pada semangat menulisku, senang dengan visi dan misi FLP cocok banget denganku. Insya Allah tahun ini terakhir juga jadi pengurus BPP.

    BalasHapus
  6. Mbak Afra, tulisannya jleb. FLP akan selalu ada di hati. Dan semua nama2 yg disebutkan di atas, saya merasa sudah sangat mengenal beliau2, nama2 'khas' anggota FLP. Dan benar, anggota FLP bukan malaikat, tapi setidaknya visi misi yang diemban sesuai dengan tujuan penciptaan sebagai manusia sebagai makhluk sosial: bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang, kita bersyukur, diciptakan sebagai manusia biasa, karena hanya manusia biasa yang bisa menikmati berbagai hal2 sederhana yang tampak sepele

      Hapus
  7. mudah2an ramadan nanti covid dah kelar, aamiin. btw jadi rindu dg majalah Annida, dulu sempat jd kontributor utk liputan kampung Islam di Jambi. sekarang majalahnya sdh gak ada kan mbak ya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!