“Jangan Lupa Bahagia!” Bisakah Kalimat Itu Dilakukan?


Akhir-akhir ini, saya sering sekali membaca kalimat: “jangan lupa bahagia!” Kalimat ini juga beberapa kali dikirimkan kepada sahabat-sahabat saya. Mungkin, melihat saya begitu sibuk, akhirnya mereka mengirimkan kalimat tersebut sebagai sebentuk perhatian. Ya, saya senang-senang saja. Siapa sih, yang tak mau mendapatkan perhatian, apalagi dari orang-orang dekat kita?

Di era pandemi, kalimat tersebut juga sering diucapkan. Mungkin karena melihat banyak orang terlalu 'parno' alias paranoid, terlalu ekstracemas dan resah, maka orang pun sontak mengatakan, "Jangan lupa bahagia", sebab bahagia merupakan "bahan baku" terbentuknya imunitas yang kuat. Sepertinya sih begitu.

Tetapi, meskipun senang mendengarkan pesan "jangan lupa bahagia", diam-diam saya terusik dengan kalimat tersebut. Apakah kalimat tersebut sudah tepat? Yuk, kita bahas! Sebagai disclaimer, pembahasan saya ini untuk 'seru-seruan' saja ya, jadi bukan bahasan ilmiah karena saya juga bukan pakar, hehe.

Ada beberapa unsur penting dari kalimat tersebut. Yang pertama: LUPA, kedua: BAHAGIA. Juga ada kata JANGAN. Yang berarti kita dilarang untuk lupa, lupa bahagia. JANGAN LUPA BAHAGIA. 

LUPA

LUPA memiliki kaitan dengan memori di otak. Lupa (forgetting), adalah kondisi ketika kita kehilangan kemampuan untuk mengingat, menyebut, atau memproduksi kembali sesuatu yang telah kita dipelajari. Gampangnya, lupa adalah kehilangan daya ingat, kadang hanya untuk sementara, kadang untuk waktu yang lebih lama. 

Daya ingat atau proses pembentukan memori, khususnya memori jangka panjang, diatur dalam bagian otak yang disebut dengan hipoccampus. Ketika orang mendapatkan informasi dari luar, info tersebut akan masuk di lobus frontal dari korteks serebral. Tapi itu masih memori jangka pendek. Akan menjadi memori jangka panjang jika diteruskan dan menetap di hippocampus

Menurut teori, ada 3 sebab mengapa seseorang mengalami lupa yaitu pemudaran (decay), interferensi (interference) dan ketergantungan pada tanda-tanda (cue dependent). Pemudaran berarti bahwa informasi yang kita miliki lama-lama akan pudar jika tidak digunakan. Interferensi berarti bahwa informasi kita hilang karena tercampuri atau terganggu informasi lain. Sedangkan ketergantungan pada tanda adalah kita gagal mendapatkan akses informasi yang tersimpan di memori, karena tanda-tanda yang kurang tepat.

Daya ingat, memori dan kelupaan, merupakan bagian dari proses kognisi seseorang. Dalam KBBI, kognisi dimaknai sebagai kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Dalam sosiologi, proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang; juga bisa dimaknai sebagai hasil pemerolehan pengetahuan.

Jadi, lupa adalah sebuah peristiwa yang berkaitan dengan soal kognisi, sehingga bersifat kognitif. Kata lupa harusnya dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang terkait dengan daya ingat. Atau suatu kegiatan yang melibatkan proses berpikir dan alam sadar. 

Jangan lupa makan. 
Jangan lupa shalat. 
Jangan lupa baca buku. 
Jangan lupa hafalan. 
Jangan lupakan aku ... haha.

BAHAGIA

Bagaimana dengan bahagia? Menurut teori, kebahagiaan merupakan kondisi perasaan di dalam diri seseorang sebagai respon afeksi terhadap berbagai pengalaman kehidupan dan adanya kepuasan hidup. Proses bahagia dipicu oleh sistem hormon.  

Pada otak, emosi dikenali dan diproses oleh prefrontal otak, dan khusus pada rasa takut, dikendalikan oleh amygdala. Ketika ada sinyal berupa emosi yang kuat (stres) dari amygdala dan prefrontal cortex, maka akan dilepaskan hormon epinephrine dan norephinephrine. Kedua hormon tersebut membuat kita dalam kondisi siaga, jantung berdebur keras, pupil mata melebar, dan pencernaan terhambat (sehingga kadang memberi efek seperti rasa mulas, asam lambung naik, dan sebagainya). 

Sedangkan pada emosi positif, ketika kita bahagia, prefrontal cortex akan menyebabkan dopamin dan serotonin dihasilkan tubuh, membuat kita menjadi semangat dan bergairah. Meskipun hormonnya berbeda, tetapi prosesnya hampir mirip antara emosi positif dan negatif. Keduanya merupakan respon afeksi, bukan kognisi.

BISAKAH KITA LUPA BAHAGIA?

Jadi, bisakah proses kognisi dan emosi bercampur menjadi satu? Jawabnya, mungkin bisa, tetapi tidak secara otomatis. 

JANGAN LUPA BAHAGIA bukan sebuah kalimat yang mudah dilakukan, karena membutuhkan sebuah proses pengendalian emosi, dan itu butuh dilatih. 

Jangan Lupa Bahagia bukan sekadar proses kognitif sebagaimana "Jangan Lupakan Aku!" Kalau kamu lupa padaku, cukup dengan membuka-buka memori tentang aku, maka ingatanmu akan melayang padaku. Pada peristiwa-peristiwa indah yang terjadi antara kamu dan aku... jiaaah!

Juga tidak semudah "Jangan Lupa Indonesia!" Kalau kita lupa Indonesia, googling saja problem akan teratasi. 

Tapi, "Jangan Lupa Bahagia", caranya bagaimana? Lantas, lupa bahagia, apakah bisa? Lupa bahagia, maksudnya mungkin kita membiarkan diri kita larut dalam persepsi yang dibangun oleh emosi. Kita tak mencoba mengusir sebab-sebab yang membuat kita tak bahagia itu dari  pikiran kita.

Nah, agar kita tak lupa bahagia, maka kita harus berusaha menghalau sebab-sebab yang membuat kita tak bahagia itu. Ini tak sekadar proses kognisi. Tapi melibatkan regulasi emosi. 

Mengaitkan antara hal-hal kognitif dengan regulasi emosi, merupakan sebuah kecerdasan sendiri. Para pakar, seperti Daniel Goleman menyebutkan sebagai emotional intelligence. Penjelasan ilmiahnya rumit, Gaess! Tapi saya akan coba bahas dalam bahasa sederhana, ya?

Di atas disebutkan bahwa tugas emosional diusung oleh bagian cerebral hemisphere (sisi otak). Kita tahu, ada dua sisi otak, yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan bertugas mengenali ekspresi dan memproses emosi. Sedangkan otak kiri bertugas memproses makna emosional itus sendiri. Nah, kalau otak kanan mengajari kita untuk menarik diri atau melarikan diri saat mengalami emosi, bagian kiri justru memotivasi kita untuk mendekati.

Regulasi emosi bisa dilakukan dengan "memaksa" kita untuk "mengolah" emosi di otak kiri yang bersifat analitis dan matematis. Jadi, jika selama ini kita membiarkan saja emosi sekadar diolah oleh bagian otak emosi, maka kita perlu berlatih memasukkan emosi untuk diolah otak logika. 

Orang yang emosinya dominan, boro-boro mampu mengolah emosi menjadi rasional, bahkan yang rasional pun bisa menjadi emosional. Kuatnya pengaruh emosi bisa mempengaruhi aktivitas kognitifnya, seperti tidak bisa berpikir atau lupa semua yang sudah dipelajarinya karena rasa cemas saat memasuki ruang ujian. Inilah kondisi yang disebut sebagai pembajakan emosi. Rencana yang tersusun rapi pun bisa buyar karena rasa takut, cemas, tak percaya diri dan sebagainya.

Orang-orang yang mengalami depresi, biasanya memiliki kondisi di mana prefrontal cortex bagian kanan terlalu aktif dibandingkan bagian kiri. Mereka tak pernah mencoba mengaktifkan otak kiri untuk bisa mengelola dan meregulasi emosi. Membiarkan larut begitu saja dalam gejolak emosi, tanpa berusaha mengendalikannya.

BAGAIMANA AGAR TAK LUPA BAHAGIA?

Bagaimana mengaitkan proses kognisi dengan afeksi, sebagaimana yang termaktub dalam kalimat "Jangan Lupa Bahagia?" 

Salah satu caranya adalah dengan regulasi emosi, caranya menurut Gross (2002), dengan melalukan pendekatan kognitif dan perilaku. Kita perlu melalukan sebuah proses penilaian terhadap situasi yang tengah kita hadapi. Penilaian positif, akan melahirkan respon emosi yang positif, sebaliknya, penilaian negatif akan melahirkan respon emosi negatif. 

Dalam kondisi pandemi misalnya, kita perlu mengkaji secara mendetail, seperti apa sih pandemi tersebut? Bagaimana Covid-19 bekerja menyerang tubuh, apa-apa saja cara untuk menghadapinya? Berapa data kematian, berapa data kesembuhan, dan sebagainya. Bahwa meskipun belum ditemukan obat, sesungguhnya pencegah Covid-19 ada pada tubuh kita sendiri, yakni sistem imun yang kita miliki.

Bahkan, kita juga bisa memandang Covid-19 dari perspektif yang berbeda, misal: Covid-19 membuat langit menjadi lebih cerah, polusi berkurang, pantai-pantai lebih bersih dan sebagainya. Banyak dikabarkan, bahwa saat terjadi lockdown, binatang-binatang yang biasanya bersembunyi karena takut dengan manusia, tiba-tiba dikabarkan bermunculan secara bebas di pantai-pantai. Covid-19 punya dua wajah, menyeramkan bagi manusia, ramah bagi makhluk lain.

Lalu, kita menjadi sadar, bahwa selama ini manusia ternyata begitu serakah dalam mengeksploitasi bumi. Kita tersadar bahwa sebagai khalifatu fil ardhi (pengelola alam semesta), manusia ternyata tidak adil terhadap makhluk lain. Dan sebagainya.

Penilaian yang objektif terhadap Covid-19, akan membuat kita bisa lebih logis, dan emosi pun bisa lebih terkendali. Ketika kecemasan dan ketakutan bisa ditekan, maka secara otomatis, emosi positif akan muncul, yakni rasa bahagia. Bahagia bahwa sejauh ini kita masih diberikan nikmat kesehatan, kesempatan untuk tetap hidup, bahkan juga kesempatan untuk lebih banyak berinteraksi dengan keluarga. Banyak teman-teman yang mengatakan, bahwa selama pandemi, mereka justru merasa lebih religius. Kesempatan mendekat kepada Allah SWT menjadi lebih banyak. Ibadah terasa nikmat, baca Al-Quran bisa lebih asyik dan berlama-lama, sujud terasa khusyuk, dan sebagainya.

KESIMPULANNYA?

"Jangan Lupa Bahagia" itu mungkin saja. Tetapi tidak bisa otomatis, alias tidak semua orang bisa melakukannya. Perlu kecerdasan dalam meregulasi emosi, salah satunya adalah ketrampilan melalukan kegiatan kognitif berupa penilaian positif terhadap hal-hal yang menimpa kita. Karena, penilaian positif akan melahirkan emosi positif.

"Jangan lupa bahagia" sebenarnya merupakan ajakan bagi kita untuk bisa mengelola emosi-emosi negatif dengan melibatkan proses kognitif berupa merasionalkan hal-hal yang sifatnya emosional. 

Anda setuju?



Posting Komentar untuk "“Jangan Lupa Bahagia!” Bisakah Kalimat Itu Dilakukan?"