Perempuan dan Palestina: Antara Duka, Pengorbanan dan Ketegaran

Foto: addameer.org 

Berbicara tentang Palestina, tentu tak bisa melepaskan diri dari kaum perempuan. Dan sebelum membahasa peran perempuan Palestina di era saat ini, saya akan terlebih dahulu membahas satu sosok wanita luar biasa! Satu-satunya perempuan yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam Al-Quran, merupakan perempuan yang tinggal di Palestina. Maryam binti Imron, yang tak lain adalah ibunda Nabi Isa a.s. Menurut Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya, “Allah tidak menyebutkan nama seorang pun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan.” 

Subhanallah, jadi tak hanya sekali Allah menyebut nama Maryam dalam kitabnya yang mulia, tetapi 30 kali! Ini menunjukkan bahwa Maryam memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Rasulullah bersabda, “Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah.” (HR. Bukhari, no. 3432 dan Muslim, no. 2430).

Sementara, di hadist lain disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim, 4853).

Sayyidati Maryam binti Imran adalah anak dari Sayyidina Imran bin Matsan dan Sayyidati Hannah binti Faquda. Sanad keturunan beliau bersambung sampai kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Daud a.s. Maryam memiliki dua saudara, yaitu Asy-ya' yang menikah dengan Nabi Zakariya a.s. dan melahirkan Nabi Yahya a.s. Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa Asy-ya' ini bukan kakak Maryam, tetapi bibinya, alias saudara Imran. Saudara Maryam yang lain adalah Harun. 

Namun, kemuliaan Maryam bukan sekadar karena beliau bagian dari keluarga Imran, berkerabat dengan nabi dan memiliki putra seorang nabi, beliau sendiri juga memiliki keluhuran akhlak dan khidmat yang luar biasa terhadap Baitul Maqdis (nama lain dari Masjidil Aqsa). Ketika sedang mengandung Maryam, Hannah, ibunda Maryam telah bernazar bahwa anak dalam kandungannya akan disedekahkan sebagai khadimat atau penjaga Baitul Maqdis. Betapa kecewanya ketika anak tersebut lahir, ternyata justru seorang perempuan. Kecewa, karena biasanya, yang menjadi khadimat Baitul Maqdis adalah lelaki.

Tetapi, setelah Maryam diasuh oleh pamannya, Nabi Zakariya, Maryam tetap menetap dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Beliau baru keluar dari masjid suci itu ketika atas izin Allah, ditiupkan ruh suci ke dalam rahim yang membuatnya mengandung bayi Nabi Isa. Kehamilan tersebut membuat Maryam dituduh sebagai wanita pezina, dan diusir dan Baitul Maqdis, serta melahirkan di sebuah kampung dekat Baitul Maqdis bernama Bait Laham (Bethlehem).

* * *

Berbicara tentang perempuan dan Palestina, setidaknya saya akan mencoba membagi dalam tiga topik pembicaraan. 

Pertama, tentang sebuah gerakan yang disebut sebagai Kulluna Maryam.

Maryam telah menjadi salah satu spirit perjuangan para perempuan Palestina. Karena itu, sekitar 3 tahun yang lalu, muncul satu gerakan yang dimotori para perempuan pejuang Palestina, yaitu gerakan Kulluna Maryam (We are all Maryam, Kita Semua Maryam). Gerakan itu bertujuan menggugah kesadaran kepada seluruh umat Islam, khususnya kaum perempuan, untuk lebih banyak berperan dalam upaya-upaya pencegahan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh penjajah Zionis Israel di bumi Palestina. Semua muslimah di seluruh dunia adalah “Maryam” yang punya tanggung jawab terhadap Palestina. Sebab, apa yang terjadi di negeri para Anbiya tersebut, bukan sekadar urusan internal rakyat Palestina, tetapi tanggung jawab umat Islam sedunia.

Kedua, keteguhan para murabithah dalam menjaga Masjidil Aqsha. Perempuan-perempuan Palestina, dikenal memiliki ketangguhan luar biasa dalam menghadapi penjajahan dan sikap represif zionis yang telah berlangsung selama lebih dari 7 dekade. Mereka sering disebut sebagai para murabithah (penjaga), yakni penjaga tanah suci Al-Aqsha. Spirit murabithah ini mengagumkan. Mereka bersikeras untuk tetap tinggal di tanah suci, karena jika mereka pergi, maka siapa lagi yang akan menjaga tanah tersebut? 

Spirit para murabithah untuk terus menjaga Palestina ini sangat kuat dan mengagumkan. Saya mengenal seorang perempuan Gaza yang pernah menetap selama sekitar 7 tahun di Indonesia, untuk mengikuti pendidikan suaminya yang mendapatkan beasiswa dokter spesialis di sebuah universitas negeri ini. Kehidupan di Indonesia, baginya sangat damai dan nyaman. Namun, begitu pendidikan suaminya selesai, beliau sekeluarga memilih kembali ke Gaza. Sebuah kota padat penduduk yang hanya bisa menikmati aliran listrik sekitar 6 jam saja atau bahkan kurang dalam sehari. Kota yang diblokade dari 4 penjuru sejak 2007, dan menyerupai sebuah penjara raksasa.

Ketika saya mencoba bertanya, “Kenapa tidak tinggal di Indonesia saja?” Beliau menjawab, “Jika semua orang Palestina keluar dari negerinya, siapa yang akan menjaga Masjidil Aqsa?”

Ketangguhan para murabithah ini tercermin dari bagaimana perjuangan dan ketegaran mereka dalam menghadapi sikap keras dan bengis penjajah Zionis. Hanady Halawani, seorang murabithah Al-Aqsha, pernah ditampar serta kekerasan fisik lainnya, diusir, bahkan ditangkap dan diinterogasi lebih dari 30 kali, dan dilarang pergi ke luar negeri. Khadijah Khuwais (40), salah seorang Murabithah Masjidil Aqsha, juga sempat merasakan ditangkap dan ditahan oleh zionis. Dalam tahanan, dia dipaksa membuka jilbab dengan alasan aturan penjara tak membolehkan berjilbab. Khadijah bahkan mengaku bahwa dia terpaksa shalat dengan keadaan tak memakai hijab. Kata Khadijah, sebagaimana dilansir dari website sahabatalaqsha.com, itu jauh lebih menyakitkan dari sakitnya ketika kulit terkelupas dari tulang.

Ketiga, kesiapan berkorban para wanita Palestina. Jika wanita diidentikkan dengan sikap lemah, cengeng dan baper, maka hal tersebut tidak berlaku untuk Palestina. Mereka memang menangis dengan kehancuran negerinya. Tetapi, mereka tidak mengutuk, tidak lari dari kenyataan, dan tidak kehilangan harapan. Mereka terus melawan, dan juga berkorban. Di Gaza misalnya, sejak tahun 2007 hingga kini masih diblokade. Aliran listrik hanya 4-6 jam sehari. Angka kemiskinan mencapai 58%. Namun, para perempuan dan anak-anak Palestina tetap bertahan.

Satu per satu korban dari kaum perempuan berjatuhan. Kita ingat perawat muda bernama Razan, bukan? Razan Al-Najjar (21), ditembak tentara Israel saat tengah merawat para demonstran yang terluka saat aksi Great March Return, tahun 2018 kemarin. Selain Razan, ada juga Lubra Hanash (21 tahun), mahasiswa yang ditembak saat sedang berjalan bersama teman-temannya di Kampus Al-Aroub, Tepi Barat pada 23 Januari 2013. 

Pada pada 11 Oktober 2015 itu, Noor Hasan tewas bersama seorang anaknya yang masih balita, Rahaf Yahya Hasan (3), terkena bom Israel yang menjatuhi kota Gaza.
Sedangkan di perang 11 hari Mei 2021, 254 orang meninggal, termasuk di dalamnya 39 perempuan dan 66 anak-anak. Menurut website npc.or.id, sejak Targedi Nakbah 1948, sekitar 100.000 warga Palestina telah wafat di tangan Zionis Israel. Wanita dan anak-anak tak luput dari pembunuhan. Banyaknya korban yang jatuh di kalangan warga sipil Palestina membuat berbagai kalangan menyebutkan bahwa memang ada semacam upaya ethnic cleansing.

Satu hal yang mengagumkan, karena khawatir bahwa zionis benar-benar ingin melakukan ethnic cleansing atau pembersihan etnis Palestina dengan berbagai agresinya, para kaum ibu Palestina rela untuk menjadikan rahimnya sebagai persemaian benih-benih pejuang palestina. Kehamilan, yang bagi sebagian kaum perempuan merupakan hal yang ditakutkan, bagi mereka adalah suatu proses penting untuk mendukung keberlangsungan bangsa Palestina. Menurut republika.co.id (6/4/2013), penduduk Palestina baik di Gaza maupun Tepi Barat pada tahun 2013 sebanyak 4,29 juta jiwa, dan 47,6% di antaranya adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Penyebabnya antara lain, tingkat kesuburan wanita Palestina dan rendahnya tingkat kematian bayi.

Tuduhan ethnic cleansing ini tidak mengada-ada. Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan, Qatar, secara resmi, sebagaimana dilansir dari www.aa.com.tr (18/5/2021), menyebutkan bahwa Israel benar-benar sedang melakukan 'ethnic cleansing' of Palestinians. Tak hanya itu, menurut dr. Mueen al-Shurafa Sp.An, dokter di Beit Lahiya, Jalur Gaza, sebagaimana dilansir dari republika.co.id (22/5/2021), banyak ibu hamil yang menjadi korban keganasan bom-bom Israel. 

Gas yang dikeluarkan dari bom tersebut berdampak pada janin di dalam kandungan para pasien. Mereka mengalami pendarahan hingga keguguran. Tim dokter pun harus melakukan aborsi untuk menyelamatkan nyawa sang ibu. Rupanya, penjajah Zionis Israel merasa khawatir dengan fenomena tersebut, dan berusaha melakukan aborsi paksa dengan cara sangat biadab.

* * *

Majunya anak-anak dan kaum ibu untuk ikut bahu-membahu melawan penjajahan Zionisme, membuat Zionis frustasi. Mereka pun menebarkan sebuah fitnah, bahwa pejuang Palestina menjadikan kaum perempuan dan anak-anak sebagai tameng hidup. Namun, berbagai fakta membuktikan, bahwa Zionis memang ingin membinasakan siapapun dari kalangan Bangsa Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, bahkan janin yang masih ada dalam perut ibunya.
Sungguh biadab!

Posting Komentar untuk "Perempuan dan Palestina: Antara Duka, Pengorbanan dan Ketegaran"