Widget HTML #1

Jangan Putus Harapan, Ujian Covid-19 Insya Allah Akan Bisa Kita Lewati!


Kondisi pandemi makin parah, ya Sobat? Sempat dikira mau hilang setelah terjadi penurunan kasus, eh, saat ini lonjakan kasusnya malah semakin tak terkendali. Perasaan kita semua campur aduk. Berita duka hampir setiap hari kita dengar, kita baca bahkan mungkin kita alami sendiri. Begitu banyak nama-nama yang kini benar-benar tinggal nama, alias telah berpulang ke alam baka, dengan segala kenangan yang ditinggalkan.

Hingga saat ini, tercatat lebih dari 60 ribu jiwa penduduk Indonesia telah tiada, menjadi korban keganasan Covid-19. Banyak di antara mereka memang telah menderita penyakit berat, namun banyak pula yang sebelumnya tampak sehat, tahu-tahu masuk rumah sakit, lalu beberapa hari kemudian tersiar wafat. Membuka grup WA selalu dengan perasaan tak menentu. Setiap ada pengumuman dari pengeras suara masjid, selalu terbersit: hari ini siapa yang meninggal?

Anehnya, meskipun kondisi benar-benar sangat genting, banyak di antara masyarakat kita yang belum benar-benar memahami kondisi pandemi. Seolah-olah, semua hanya tontonan belaka. Saat virus Corona mengganas di Wuhan, satu setengah tahun silam, kita seperti sedang melihat sebuah tragedi yang begitu jauh. Tahu-tahu, Februari 2020, virus ini datang juga ke Indonesia. Sempat menurun. Lalu, kita menyaksikan tragedi di India, dan terpana dengan kedahsyatan varian Delta. 

Betapa kagetnya kita, ketika hanya selang beberapa bulan, varian ini menyebar pula di negeri kita. Lonjakan kasusnya pun sangat luar biasa. Indonesia kini termasuk dalam lima besar lonjakan kasus positif tertinggi di dunia. Bahkan, data kemarin, 5 Juli 2021, Indonesia menduduki posisi ketiga, dengan kasus positif baru sebanyak 29.745 kasus, selisih tipis dengan Brazil di posisi kedua dengan 27.783 kasus. Di puncak tertinggi, India dengan 40,387 kasus baru. Beberapa hari terakhir ini, dalam setiap hari, dilaporkan kasus kematian di Indonesia lebih dari 500 kasus. Tanggal 5 Juli, 558 jiwa di negeri kita dicabut oleh Malaikat Maut, Izrail.

Air mata sering mengalir tak terbendung. Saya tinggal di kota Solo, yang saat ini sedang masuk dalam zona merah. Kasus positif dan kematian cukup tinggi. Hampir setiap hari ada berita kematian. Berita kematiannya pun seringkali begitu tragis. Tak ada kematian yang tak menyebabkan air mata tertumpah. Tetapi, kematian karena Covid-19 ini begitu dalam meremas-remas emosi. Beberapa hari yang lalu, kakak beradik wafat dalam jarak waktu berdekatan. Menyusul kemudian ibu dan anak wafat dalam hari yang sama. Ada juga suami dan istri sama-sama wafat, meninggalkan anak-anak yang masih kecil.

Perasaan saya tercabik-cabik! Pasti pembaca juga, bukan?

Saat menuliskan curhatan ini, seorang keponakan saya juga sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dia positif, padahal baru melahirkan dengan bedah cesar, qodarullah, bayinya negatif. Saturasi buruk, hanya 80. Usianya masih di bawah 30 tahun. Setelah berputar-putar mencari rumah sakit, dalam kondisi sesak napas, dan hanya berbekal tabung oksigen kecil (hanya sekitar sejam saja sudah habis), akhirnya berhasil mendapatkan satu rumah sakit, namun harus dirawat di tenda depan rumah sakit. 'Ala kulli haal, alhamdulillah, tetap perlu disyukuri, setelah mendapatkan penanganan, saturasi berangsur-angsur membaik.

Salah seorang Om saya pun sedang mengalami sesak napas dan dirawat di salah satu rumah sakit, sementara bulik saya tiga hari yang lalu juga wafat. Semua karena Covid-19! Kemudian beruntun dikabari, kakak ipar positif, ponakan yang lain positif, keluarga besar banyak yang positif. 

Ya Rabbi...

Jika dahulu Covid-19 terasa jauh, kini sudah sangat dekat. Dekaaat sekali. Teman-teman di kantor saya, separuh positif dan isoman, alhamdulillah hanya bergejala ringan. Teman-teman di organisasi, pengajian, keluarga besar... banyak sekali yang mengalami musibah ini.

Ya Rabbi...

Beberapa hari terakhir ini, saya merasa begitu lemas, lelah, nglokro dan rasanya hilang semangat. Memang, dari cluster kantor, hasil saya tes saya alhamdulillah negatif. Tetapi, melihat betapa horornya atmosfer kehidupan, rasa-rasanya hampir putus asa. Kapan pandemi berakhir... sudah satu setengah tahun! Dan jika melihat lonjakan kasus yang sedemikian tinggi, saya sering merasa hilang harapan: apakah pandemi ini bisa dikendalikan?

Apalagi, penanganan dari pihak-pihak berwenang juga tidak tegas, terkesan diskriminatif juga hobi banget ngeles alias denial. Makin jengkel, sebel, mangkel, saat di masyarakat, saya melihat sendiri betapa sebagian tak sekadar ignorant, tetapi juga ada yang dengan sengaja menantang pandemi ini. 

Covid-19 hanya flu biasa, Covid-19 tidak berbahaya, Covid-19 bohong, Covid-19 hanya konspirasi semata. Rasanya saya ingin mendatangi mereka, satu persatu menjewer telinga mereka. Sudah 60 ribu lebih nyawa di Indonesia dicabut, dan mereka tetap bilang: COVID-19 itu konspirasi.

Perasaan gusar sepertinya tak sekadar saya alami sendiri. Bahkan, Prof. Haedar Nashir, ketua PP Muhammadiyah sempat mengungkapkan kekecewaannya kepada kaum anticovid dan antivaksin: ANDA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB! 

Udah eh, ngedumelnya, stop, stop! Minum kopi dulu....

* * *

Namun, akhirnya saya tersadar. Perasaan mangkel bukan pada tempatnya. Kesedihan, kemarahan, kegusaran, justru akan membuat suasana menjadi semakin tak keruan. Ayo, jadilah waras, Sodara-Sodara! Bukankah doa pandemi, memang salah satunya memohon agar kita tetap waras?

Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal barashi, wal junūni, wal judzāmi, wa sayyi’il asqāmi.

Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit yang buruk. (H.R. Abu Dawud).

Kata junūn diterjemahkan sebagai gila. Tapi tentu tak sekadar gila, melainkan penyakit mental, mulai stres, frustasi, depresi. Memang pandemi bisa bikin kita junuun, karena efeknya bukan sekadar soal sakit, tetapi ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan ideologi.... Kok bisa? Kapan-kapan ya, kita bahas, kaitan antara pandemi dan ideologi. Tentu dalam perspektif saya yang sekadar manusia "ecek-ecek" ini. Bukan perspektif akademisi atau tokoh besar dengan sederet gelar sepanjang gerbong kereta api.

Pandemi tidak semestinya membuat persaudaraan tercabik-cabik. Pandemi tidak semestinya membuat kita lelah, gundah, lemah, resah... pandemi justru semestinya membuat kita makin kuat. Semakin taat kepada Allah SWT, kepada para pemimpin (misal pemimpin dalam organisasi keagamaan), kepada aturan-aturan yang sudah ditetapkan (seperti protokol kesehatan), dan sebagainya. Tanpa taat, semua akan ambyar. Bayangkan jika kita melewati sebuah jalan yang sulit di malam pekat, lalu kita rewel terus dengan sopir yang sedang mencoba mengendarai mobil tersebut. Jika kita percaya dengan kemampuan sopir, berilah dia dukungan, semangat dan jangan terus recoki dengan hal-hal yang bikin semakin runyam. 

Pandemi harusnya juga semakin menguatkan persaudaraan. Ya, seperti saya sebutkan di atas, spektrum pandemi itu luas sekali. Bukankah kita semua, baik penyintas maupun tidak, sebenarnya sama-sama terdampak Covid-19?

Pengusaha kecil seperti saya, harus berpikir keras bagaimana cara tetap survive di saat omzet anjlog hampir 50%. Bagaimana gaji karyawan tetap full, bagaimana roda ekonomi tetap berputar meskipun mayoritas toko buku sempat tutup, yang membuat kami kesulitan menjual produk-produk kami.

Sepertinya, memang hampir tak ada yang tak terdampak Covid-19. Dilarang bepergian, mendekam di rumah, menemani anak-anak yang sekolah daring dengan segala aktivitasnya yang seabrek-abrek. Sebagian orang tua yang gaptek, mendadak harus belajar hal-hal baru yang berhubungan dengan teknologi. 

Tetapi, sekali lagi, jangan menjadi JUNUUN! Mari tetap waras. Allah SWT tak pernah memberikan ujian di luar batas kemapuan hamba-hamba-Nya. Meski kadang ujian itu di luar logika kita. Ingatkan dengan kisah para tentara Thalut yang diuji oleh Allah SWT dengan larangan minum air sungai, kecuali hanya seteguk saja atau seciduk sebanyak tangkupan dua telapak tangan untuk membasahi bibir dan menghilangkan sedikit rasa haus?

Bagi sebagian besar orang yang pergi bersama Thalut, perintah itu tidak logis. Mereka sudah berjalan jauh, kepanasan, kehausan, lalu bertemu sungai. Mengapa tak boleh minum air sepuas-puasnya? Mengapa hanya boleh seciduk saja? Banyak yang nyinyir dan protes. Dan akhirnya, dari ribuan tentara yang hendak berperang, hanya sebagian kecil saja yang taat. Hanya sedikit yang lolos ujian. Mereka yang waras, bahwa ujian harus dihadapi dengan sepenuh kesadaran, ketaatan dan ketakziman. Juga kekusyuan dan sikap tawadhu.

Spektrum pandemi ini sangat luas. Jika kita cermati, pandemi merupakan ujian, bukan saja kepada ketahanan fisik, tetapi juga ketahanan mental, juga kecerdasan sosial. Ladang amal terbuka sangat lebar di era ini. Kesempatan berbuat baik bisa dimulai, bahkan dari sekadar kita tidak keluyuran dan memaksa diri tetap di rumah. Jika tubuh kita kuat, imunitas kita hebat, sehingga virus hanya sekadar mampir namun tak bergejala, minimal kita tidak membiarkan virus itu menular ke orang lain, apalagi manula atau orang dengan risiko tinggi.

Kita dilatih untuk mengikis egoisme. Tidak sekadar memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Kita dilatih untuk peduli, saling memikul beban, saling tolong-menolong, saling membantu satu sama lain. 

Kita juga dipaksa untuk membiasakan diri pada hal-hal yang baik, seperti hidup sehat, membersihkan diri sendiri dan lingkungan, makan dan minum yang sehat, olah raga, dan sebagainya.

Banyak hal yang kita dapatkan dari pandemi ini. Mungkin kita menjadi berkurang secara materi, terhimpit secara ekonomi, namun, sesungguhnya jiwa kita akan semakin kaya.

Jangan putus asa. Allah SWT tak akan membebani kita di luar kemampuan kita. Semua sudah diukur dengan perhitungan yang sangat cermat oleh-Nya, Allah Al-Khabir, yang maha teliti. Tak ada satupun yang melenceng. Jadi, mari kita terima saja takdir Allah dengan sepenuh kelegawaan.

Berserah diri kepada Allah, setelah berikhtiar sebisa mungkin, adalah langkah terbaik. Seorang guru saya menasihati begini, "Kita memakai masker bukan karena takut mati, tetapi karena Allah SWT memerintahkan kita untuk menghindari bahaya. Allah SWT melarang kita menjatuhkan diri kita kepada kebinasaan."

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 195)

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29).

Mari semangat! Covid-19 memang berat. Tetapi, ujian ini insyaAllah bisa kita lewati. Berpikir positif adalah akhlak seorang muslim, sebab, dalam sebuah hadist qudsi, "Ana 'inda dzonni abdi bi. Aku (Allah) sesuai prasangka hamba-Ku)." 

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda,’ Sesungguhnya Allah berkata: "Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku" (HR Muslim).

Jadi, prasangka Allah, ternyata sesuai prasangka hamba-Nya. Kalau kita skeptis, putus asa, merasa bahwa pandemi ini suram, tak ada ujungnya, pesimis dan sebagainya, maka hal itu yang akan kita rasakan.

Jika kita berprasangka bahwa pandemi akan berakhir, dan saat ini kita sedang dipaksa Allah SWT untuk menyempurnakan diri dalam banyak hal (fisik, iman, amalan, karakter, keilmuan), maka, itu pula yang insya Allah akan terjadi pada diri kita.

Yuk, berusaha untuk tetap survive!  

Posting Komentar untuk "Jangan Putus Harapan, Ujian Covid-19 Insya Allah Akan Bisa Kita Lewati!"