Profil Habib Idrus Al-Jufrie (SIS Al-Jufrie ), Tokoh Ulama Pahlawan Dari Palu


Setiap kita memasuki hari kemerdekaan RI, kita akan sering mendengar kisah-kisah para pahlawan bangsa kita disampaikan di berbagai acara, tulisan, film-film dan konten lainnya. Nama-nama semacam Ir. Sukarno, drs. M. Hatta, Sutan Syahrir, Jenderal Sudirman dan sebagainya, begitu populer di masyarakat kita. Yah, bangsa kita memang bangsa yang memiliki banyak sekali pahlawan bangsa. Dan, kata orang bijak, bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya.

Kali ini, saya akan mengangkat sosok yang mungkin belum sepopuler nama-nama di atas, namun sebenarnya memiliki jasa tak terhitung untuk kemerdekaan bangsa kita, khususnya di daerah Indonesia Timur. Kenalkah pembaca sekalian dengan sosok bernama SIS Al-Jufri. Nama SIS Al-Jufrie biasanya melekat pada sebuah Bandara yang terletak di kota Palu. Bagi teman-teman yang sering bepergian dan pernah mengunjungi kota tersebut, pasti mengenal Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, kan?

SIS Al-Jufri adalah salah satu tokoh terkenal di kawasan Indonesia Timur, tepatnya  Sulawesi Tengah. SIS  Al-Jufrie merupakan kependekan dari Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie, seorang ulama yang semasa hidupnya, terus mendakwahkan ajaran Islam tanpa kenal lelah. SIS Al-Jufrie juga sering dikenal sebagai Habib Idrus bin Salim Al-Jufrie.

Habib Idrus Al-Jufrie, atau Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie,  lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada tanggal 15 Maret 1892. Silsilah beliau terhubung hingga Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra. Beliau merupakan putra dan keturunan dari ulama terpandang di negara asalnya. Habib Idrus banyak belajar dari ulama-ulama baik di Hadramaut maupun di Mekah. 

Saking cemerlangnya dalam masalah keilmuan, pada usia 25 tahun, Habib Idrus diangkat menjadi Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut. Namun, karena pertentangannya dengan penjajah Inggris yang menguasai Yaman saat itu, Habib Idrus memutuskan meninggalkan Yaman. Tahun 1922, beliau pergi ke Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Sebelumnya, ibunda beliau, Syarifah Nur AI-Jufrie, lebih dahulu berhijrah ke Indonesia bersama dua saudara kandung Habib Idrus, yaitu Habib Alwi dan Habib Syekh. 

Peran Dalam Dakwah Islam

Di Hindia Belanda, beliau menetap berpindah-pindah, dari Manado ke Pekalongan, lalu pindah ke Solo, Jombang, beberapa tempat di Indonesia Timur, akhirnya menetap di Palu. Di kota tersebut, Habib Idrus, yang juga digelari sebagai "Guru Tua", mendirikan Madrasah Al-Khairaat. Saat ini, Al-Khairaat merupakan salah satu organisasi keislaman terbesar di kawasan Indonesia Timur. Organisasi ini telah memiliki sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, MI, MTs, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi.

Habib Idrus Bin Salim Al-Jufrie merupakan sosok ulama dan pendakwah yang sangat totalitas dan istiqomah. Sejak kecil hingga akhir hayat, beliau selalu menjadikan syiar dan dakwah Islam sebagai kegiatan sehari-harinya. Beliau bepergian hingga ke pelosok-pelosok Indonesia Timur untuk berdakwah dan mengajari umat dari kegelapan menuju cahaya. 

Peran Dalam Kemerdekaan RI

Peran Guru Tua untuk bangsa dan negara Indonesia tak bisa diragukan lagi. Beliau berjuang mendidik masyarakat Indonesia Timur, untuk terlepas dari keterbelakangan, terhindar dari kebodohan. Penjajahan Belanda selama berabad-abad, telah menjadikan bangsa kita begitu terpuruk. Apalagi di kawasan Indonesia Timur, yang tentu sangat berbeda dengan kondisi di Pulau Jawa.

Meski basic beliau adalah seorang ulama, Habib Idrus merupakan sosok yang sangat nasionalis dan patriotik. Meski Indonesia bukan tanah kelahirannya, beliau sangat mencintai Indonesia dan sangat merindukan kemerdekaan Indonesia.

Dilansir dari situs alkhairaat.sch.id (12/7/2018), warna bendera RI, yakni merah putih, diusulkan oleh Habib Idrus. Beliau pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW dan dalam mimpinya, Rasulullah mengatakan bahwa jika Indonesia merdeka, benderanya adalah merah putih. 

Guru Tua kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Syekh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yang juga merupakan sahabatnya. Pada Muktamar NU tahun 1937, Syekh Hasyim pun menyampaikan amanah tersebut. Maka, kita sekarang bisa melihat, bahwa bendera kita, yang berkibar-kibar senantiasa, berwarna merah putih.
Saat Indonesia merdeka, Guru Tua Habib Idrus sangat berbahagia. 

Beliau bahkan menciptakan syair dalam bahasa Arab, yang artinya:

Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan 
Orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Bendera kemuliaan berkibar di angkasa 
Hijau daratan dan gunung-gunungnya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan 
Muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

Wahai Sukarno! Tlah kau jadikan hidup kami bahagia
Dengan obat dirimu hilang sudah penyakit kami
Wahai Presiden yg penuh berkah bagi kami 
Engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul 
Telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak 
Demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
Pasti kau jumpai dari rakyat kepercayaan 

Dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materiil dan spirituil 
Buktikan pada masyarakat bahwa kau mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu 
Dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan RI, berbagai kalangan, seperti Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Longki Djanggola, dan juga MUI, mendukung pengusulan Guru Tua sebagai pahlawan nasional Indonesia. Nama beliau juga kemudian disematkan sebagai nama bandara di Palu, yaitu Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie. 

Kakek Dari Habib Salim Segaf Al-Jufrie

Cucu SIS Al-Jufrie yang menjadi tokoh nasional, Habib Salim Segaf Al-Jufrie (tengah) bersama istri dan anak

Setelah sekian lama tak lelah berdakwah dan berjuang mengisi kemerdekaan RI, beliau wafat pada 22 Desember 1969. Jelang akhir hayat beliau, Habib Idrus berhasil membangun 420 madrasah yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Palu. 

Habib Idrus menikah dengan beberapa istri, salah satunya Syarifah Aminah binti Thalib Al-Jufrie. Dari pasangan ini, lahirlah Syarifah Lulu' yang kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufrie, dan dari pasangan ini, lahirlah Dr. KH. Salim Segaf Al-Jufrie. Dr. H. Salim Segaf Al Jufrie adalah Menteri Sosial RI ke-26, dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Saudia Arabia dan Oman periode 2005-2009.

Seperti kakeknya, Dr. KH. Salim Segaf Al-Jufrie, atau yang akrab dipanggil sebagai Habib Salim, juga seorang pendakwah yang istiqomah. Beliau saat ini adalah Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, sebuah partai berbasis umat Islam di Indonesia.

Posting Komentar untuk "Profil Habib Idrus Al-Jufrie (SIS Al-Jufrie ), Tokoh Ulama Pahlawan Dari Palu"