Benarkah Memilih Itu Mudah?



Hidup adalah pilihan. Banyak orang menyebutkan kalimat itu saat dipaksa untuk sesuatu yang tak disuka. Kalimat itu menjadi tameng penolakan tersendiri. Kadang menjadi semacam hak yang membuat kita merasa istimewa. Tentu tidak salah. Memilih memang sebuah privilege yang dimiliki seseorang. Banyak orang merasa tidak nyaman jika hak istimewa itu diintervensi, bahkan oleh orang terdekat pun, misalnya orang tua.

Pada faktanya, memilih bukan sebuah pekerjaan mudah. Bahkan, dalam beberapa hal, memilih itu sulit, rumit, dan memberikan aroma tantangan tertentu. Sebab, proses memilih selalu dikaitkan dengan risiko. Memilih bukan sekadar untuk mendapatkan kemanfaatan terbaik, kebahagiaan tertinggi, sesuatu yang terindah, tetapi juga risiko terkecil. Faktor inilah sebenarnya, yang membuat pilihan tak selalu mudah. Sayangnya, tak semua orang menyadari, bahwa pilihan itu berisiko.

Terkait dengan kesadaran bahwa memilih itu tak mudah, izinkan saya membagi manusia menjadi beberapa tipe. Pertama, orang yang tak sadar risiko memilih, dan dengan serampangan menggunakan privilege itu tanpa perhitungan. Banyak di antara mereka mengalami kesulitan hidup, yang bermula dari “salah pilih.” 

Biasanya, orang-orang model ini, sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang impresif, alias kesan-kesan kuat emosional. Ketika melihat suatu hal memesona, dia langsung tersedot dan mudah larut dalam pesona tersebut. Begitu pesona pudar dan dia terjebak pada risiko yang berat, baru dia tersadar, bahwa dia telah salah pilih.
Kedua, orang yang terlalu sadar bahwa memilih itu sulit dan mencoba menghindari pilihan. Beberapa kali, saya memberikan beberapa opsi kepada seseorang, dan dia justru berkata, "Tolong saya jangan dikasih pilihan, saya bingung kalau ada opsi lain." 

Kedua hal itu tentu ekstrim. Meski tidak mudah, memilih adalah salah satu skill penting dalam kehidupan. Sekali lagi, tentu tak sembarang memilih, tetapi memilih dengan sadar, paham risiko, bisa menimbang mana mudharat (kerusakan), mana manfaat. Memilih sesuatu dengan tepat, setidaknya mendekati akurat. 

Apa yang perlu kita lakukan agar bisa memilih dengan tepat? Ada beberapa strategi yang bisa kita terapkan. 

Pertama, tentu kita harus memiliki informasi yang memadai. Memilih tanpa tahu hal ikhwal pilihan, ibarat membeli kucing dalam karung. Informasi tersebut harus valid dan akurat. Maka, galilah informasi secukupnya. Saya sebut secukupnya, karena terlalu banyak informasi juga kurang baik. Membuat kita jadi semakin bimbang dalam memutuskan.

Kedua, kita harus mampu memenej informasi dengan baik. Mana informasi yang benar, mana hoax; mana inti, mana bumbu; mana prinsip, mana tambahan; mana utama, mana yang cuma ‘noise’. 

Berbahan informasi yang berkualitas, kita bisa membuat beberapa pertimbangan. Jika memilih A, bagaimana efeknya, jika memilih B, bagaimana risikonya. 

Ketiga, buatlah alternatif-alternatif pilihan, dari yang paling ideal, hingga yang paling realistis. Jika perlu, seperti kita hendak masuk ujian perguruan tinggi, buatlah pilihan pertama, kedua, atau ketiga. Alternatif-alternatif ini berguna sebagai salah satu cara menghindari frustasi jika pilihan pertama, yang kita anggap paling ideal, ternyata gagal membuahkan hasil.

Keempat, sebelum pada keputusan memilih, cobalah untuk mencari "legitimasi dari langit" berupa perasaan sakinah pada satu pilihan. Ini bisa dilakukan dengan shalat istikharah dan doa yang terus menerus. Setelah mantap dengan satu pilihan, jangan ragu memutuskan. Jika di kemudian hari ada kesalahan, toh tugas manusia hanya berikhtiar.

Kelima, segera putuskan jika kita sudah mantap. Jangan menggantung. Apalagi jika pilihan kita terkait pula dengan kehidupan orang lain. Jangan sekadar memberi harapan, apalagi harapan palsu. Nanti kita dituduh PHP, Pemberi Harapan Palsu.

Memilih bukan pekerjaan mudah, tetapi juga tidak perlu dihindarkan. Hidup kita, adalah otoritas kita. Maka, belajarlah memutuskan!

Posting Komentar untuk "Benarkah Memilih Itu Mudah?"