Menyibak Rahasia ASI Sebagai Pertolongan Pertama Anak Sakit


ASI memang memiliki keutamaan luar biasa. Salah satunya, merupakan sarana pertolongan pertama saat si kecil sakit. Pernahkah bayi Anda mengalami sakit? Tentu kita benar-benar tak tega saat menatap tubuh kecilnya terbaring lemas, dengan mulut mengerang-ngerang kesakitan. Saat pikiran para ibu langsung tertuju pada dokter dan rumah sakit, sebenarnya kita, kaum ibu, masih memiliki penyembuh ajaib yang disediakan Allah SWT dengan proses yang begitu mudah dan murah. 

Penyembuh itu adalah ASI!

Setelah mengetahui dahsyatnya keutamaan ASI, Dini Rosa (36 th), konselor laktasi dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui) tak mau berpikir panjang. Dia memutuskan untuk memberi ASI Eksklusif pada anak-anaknya selama 6 bulan penuh, dan dilanjutkan sembari mendapatkan MPASI (Makanan Pendamping ASI) hingga usia 2 tahun. 

“Tidak semua memang. Anak pertama masih saya beri sufor, karena saat itu saya masih bekerja full timer di sebuah instansi. Berangkat pagi, pulang sore,” papar mantan Ketua AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui) Cabang Surakarta tersebut. Menurut Dini, anak-anaknya menjadi lebih sehat karena ASI. “Namun setelah anak kedua, ketiga dan keempat, saya bertekad untuk memberikan pemberian terbaik seorang ibu kepada anak-anaknya. ASI.”

“Memang sih, sehat itu relatif. ASI esklusif bukan menjadikan anak kita seratus persen tidak  sakit-sakitan. Tapi dengan ASI eksklusif, risiko-risiko penyakit bisa dihindari. Anak juga akan memililiki pertahanan tubuh lebih baik ketika menghadapi penyakit.  Apalagi jika ASInya kemudian diteruskan sampai 2 tahun, sesuai dengan standar emas pemberian makan bayi yang direkomendasikan oleh WHO,” lanjutnya. 

Keistimewaan ASI memang tak diragukan lagi, termasuk ketika anak menderita sakit. Menurut dr. Sulistyani, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah Surakarta, beberapa penyakit, seperti demam, batuk, pilek dan diare, sangat dipengaruhi oleh faktor daya tahan tubuh. “Jadi, pemberian ASI pada anak usia di bawah 2 tahun, khususnya yang masih di bawah 6 bulan dan dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif itu sangat penting. Kita tahu, bahwa proses pembentukan imun pada anak belum sempurna. Sedangkan dalam ASI, selain antibodi, ada juga makrofag dan limfosit yang berfungsi untuk eliminasi atau membunuh kuman,” ujarnya.

Adapun menurut  dr. Ahmad Supriyanto dari RSU PKU Muhamadiyah Surakarta, ASI diproduksi secara alamiah karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin pada ibu setelah kelahiran bayi. ASI pertama yang keluar dari payudara ibu disebut kolostrum. 

“Cairan kolostrum ini sesungguhnya cairan emas, karena mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Sayang sekali jika kolostrum tidak sampai diberikan kepada si bayi dan terbuang percuma. Terlebih, setelah bayi lahir, sistem kekebalan pada si bayi belum terbentuk. Saat dalam kandungan, bayi terlindung dari agen-agen pathogen, tetapi saat lahir, dia mulai terpapar aneka jenis mikroba penyebab sakit. Tanpa adanya antibodi yang berasal dari ASI, bayi akan sangat rentan mengalami sakit. Jadi, bila ibu memang tidak dapat menyusui anaknya karena berbagai sebab, sebaiknya digantikan oleh air susu dari ibu lain. Kalaupun sulit mendapatkan ibu susu, barulah menggunakan susu formula yang khusus untuk bayi. Kan, di dalam ajaran agama Islam, kita mengenal konsep ibu persusuan. Jadi, sebenarnya ini bisa dimanfaatkan, karena susu sapi tidak cocok untuk bayi sebelum berusia satu tahun.” 

Kadang muncul pertanyaan, apakah makanan yang dikonsumsi ibu bisa berpengaruh terhadap ASI dan bayinya. Menurut dr. Ahmad Supriyanto, sebenarnya tidak ada korelasi antara jenis makanan yang ibu makan dengan rasa di ASI ataupun kesehatan bayinya. Misalnya, karena ibunya makan pedas maka bayinya bisa mencret. Yang dikhawatirkan adalah gangguan kesehatan ibu karena mengonsumsi makanan-makanan ekstrim yang bisa menyebabkan produksi ASI jadi menurun. 
Meski begitu, memang ada beberapa obat yang dikonsumsi ibu menyusui berpengaruh pada ASI. Oleh karena itu, saat ibu menyusui dan mendapatkan obat dari dokter sebaiknya perlu dikomunikasikan ke dokter bahwa ibu sedang menyusui, sehingga dokter akan meresepkan obat-obat yang aman untuk ibu dan bayinya.

Bagaimana Jika Ibu Bekerja?

Hal yang cukup menganggu pemikiran para ibu adalah, bagaimana jika mereka bekerja? Apakah harus cuti demi menemani si buah hati yang sedang sakit? Jika cuti memang bisa mudah diurus, tentu tidak masalah. Tetapi, acapkali kenyataan tak seindah harapan.

Jangan khawatir, Anda bisa menggunakan ASI Perah (ASIP) untuk anak Anda. Menurut Dini Rosa, ASIP bisa tahan disimpan di kulkas hingga 3-8 hari, pada suhu 0-4 derajat Celcius, dengan catatan menyimpannya tidak di dekat pintu, tetapi di bagian dalam, bagian yang paling dingin dan tidak terpengaruh pada perubahan suhu dari luar saat kulkas dibuka. Adapun jika disimpan menggunakan freezer, ASIP bisa bertahan hingga 2 minggu pada freezer yang terdapat pada kulkas (kulkas 1 pintu),  3-4 bulan pada freezer yang terpisah dari kulkas (kulkas 2 pintu) dan 6-12 bulan pada freezer khusus yang sangat dingin dengan suhu -18 derajat celcius.

Sebaiknya, para ibu pekerja, khususnya yang harus menempuh perjalanan jauh, memiliki cooler bag untuk menyimpan ASIP yang Anda perah saat masih di kantor. ASIP yang ada di kulkas sebelum 48 jam bisa ke Freezer.  Jangan lupa, pada setiap botol ASI, berilah label kapan ASIP tersebut diperah, supaya kita bisa memakai yang lama terlebih dahulu.

Setelah ASI, Perlukah Obat?

Apakah ASI saja cukup untuk mengobati sakit si kecil? Menurut dr. Sulistyani, obat bisa diberikan pada bayi yang sakit. Akan tetapi, harus berhati-hati. Misalnya pada kasus demam, orang tua sebaiknya memulai dengan pemberian ASI yang cukup, sebab bisa jadi, penyebab demamnya adalah karena si bayi kurang cairan. Jika setelah pemberian ASI ternyata demam masih berlanjut, perlu dipertimbangkan untuk memberi obat penurun panas sesuai dengan dosisnya. “Jika panas tidak turun selama tiga hari, sebaiknya periksa dokter untuk penanganan lebih lanjut,” tutur dr. Sulistyani.

Keterangan: artikel ini merupakan salah satu liputan saya untuk majalah UMMI.


Posting Komentar untuk "Menyibak Rahasia ASI Sebagai Pertolongan Pertama Anak Sakit"