Widget HTML Atas

Berpikir Logis dan Filosofis, Bagaimana Caranya?



Kamu tuh, logis dong kalau berpikir! 

Barangkali, kita sering diberi kritikan semacam itu. Ada beberapa orang terdekat kita yang merasa tidak nyaman melihat pola pikir kita yang meloncat-loncat tak keruan, sehingga membikin orang lain bingung. Atau juga terlalu mudah mengambil kesimpulan, yang ujung-ujungnya men-judge si A sebagai begini, si B sebagai begitu. Dan seterusnya.

Ya, kita sendiri sering juga kan, merasa kesal ketika melihat ada orang-orang yang asal bicara tanpa memahami konteksnya. Baru melihat permukaan, seolah-olah sudah memahami hingga dasar-dasarnya. Jika dia hanya orang biasa-biasa saja, yang tak memiliki pengaruh atas orang lain, mungkin pikiran semacam itu tak terlalu berbahaya. Akan tetapi, jika dia adalah seorang yang memiliki wewenang memutuskan, alias decision maker, bisa barabe, dong!

Sebal, menghadapi orang-orang semacam itu? Tentu dong! Tapi, jangan-jangan kita sendiri juga sering melakukan hal semacam itu tanpa sengaja. Atau tanpa sadar.

Berpikir logis, sepenting apa sih? Dan bagaimana melatih diri untuk bisa berpikir logis? Dalam artikel pendek ini, saya akan mencoba memaparkan, sebisa yang saya mampu, ya.

Para guru kita sering menekankan, bahwa berpikir logis dan filosofis itu sangat penting. Sebab, dengan berpikir semacam itu, kita memahami betul sebuah hakikat, dan bisa bersikap secara tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Dalam KBBI, filosofis artinya berdasarkan filsafat. Adapun filsafat memiliki 3 definisi: 
1/ pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; 
2/ teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 
3/ ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi; 
4/ falsafah.

Ada beberapa tahapan dalam filsafat, yaitu berpikir logis, sistematis, radikal (berpikir sampai ke akar persoalan) dan universal. Ya, filsafat dan logika memang seiring sejalan. Kalau kita bicara filsafat, pasti di dalamnya ada logika. Maka, salah satu tahapan penting dalam berpikir filosofis, adalah berpikir logis.

Kalau menurut sejarah, Filsafat berkembang pesat pertama kali di Yunani. Ini masih ada debatable sih. Menurut beberapa tokoh Muslim, seperti Fahmi Basya, sebelum era Yunani, sudah ada sosok Nabi Ibrahim a.s. seorang filsuf dan pemikir pertama. Dalam Al-Quran, disebutkan bahwa saat masih kecil, Nabi Ibrahim selalu berpikir, siapa pencipta alam semesta. Ibrahim kecil mengamati bintang, bulan, matahari dan alam semesta. Lalu, dari pengamatannya, Nabi Ibrahim berkesimpulan bahwa pencipta alam semesta adalah Allah SWT. 

Ajaran Nabi Ibrahim sendiri, atau yang sering disebut sebagai "Millah Ibrahim", memiliki spektrum sangat luas. Sampai sekarang. Sebagaimana kita ketahui, 3 agama besar, mengakui keberadaan Nabi Ibrahim, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Nabi Ibrahim memiliki 2 putera, yakni Ismail dan Ishaq. Dari Jalur Ismail a.s., sekitar 2500 tahun kemudian lahir Nabi Muhammad SAW. Sementara, dari jalur Nabi Ishaq, lahirlah banyak Nabi, seperti Ya'kub, Yusuf, Musa, dan seterusnya hingga Nabi Isa a.s.

Nabi Ibrahim a.s. hidup pada sekitar tahun 2295 SM-2021 SM, jauh sebelum masa Thales (624-546 SM) yang saat ini dianggap sebagai sosok yang mula-mula mempertanyakan ‘apa dan bagaimana asal-usul alam semesta ini?' Lalu, mengapa Thales yang dianggap sebagai sosok filsuf pertama kali?

Jawabnya panjang, ya kawan. Semoga saya diberikan kesempatan untuk menuliskannya.

Intinya, ilmu pengetahuan yang berlaku saat ini didominasi pemikiran positivisme, yang sangat tidak mengakui berita-berita dari kitab suci. Inti dari aliran positivisme adalah, segala sesuatu harus dibuktikan melalui panca indera. Tokoh aliran ini, Auguste Comte, (hidup pada abad ke-19) berpendapat, bahwa positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara sains, tertolak!

Bagi kaum positivistik, agama adalah derajat paling bawah sebagai "sumber kebenaran ilmiah". Di atas agama ada rasio, di atasnya lagi, penelitian ilmiah.

Well, sekarang, paham ya, mengapa demikian?

Lepas dari pro-kontra tersebut, berpikir fisolofis tentu sangat penting, sebab filsafat memberikan kita pencerahan dalam berpikir, karena melalui filsafat, seseorang akan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh akal fikirnya, sehingga akhirnya dia bisa memecahkan sebuah persoalan dengan hal-hal yang memuaskan.

Sebagaimana disebutkan di atas, ada 4 tahap dalam berpikir filosofis, yaitu:

1/ Berpikir Logis

Berpikir logis dimulai dengan memahami segala sesuatu dengan komprehensif. Berpikir logis menuntut kita untuk melakukan  pendalaman dan pemahaman terhadap fenomena yang sedang kita hadapi. Jika perlu, dengan menggunakan banyak sudut pandang. Bayangkan, angka 9 dan angka 6 saja, ketika dilihat dari dua sisi, bisa memiliki makna berbeda. Saya tergelitik ketika melihat seorang ibu-ibu petugas arisan, selain menuliskan angka tersebut, di bawah juga diberi tulisan: enam dan sembilan. Tahu kan, maksudnya? Ya, agar tidak ada intepretasi yang berbeda. Hal sederhana, tetapi cukup cerdas dan solutif.

Check and recheck, verifikasi, tabayyun, dan sejenisnya, perlu juga dilakukan, sehingga kita benar-benar sebisa mungkin mampu memahami persoalan tersebut dengan utuh. Kadang memang ada keterbatasan pemahaman, tetapi setidaknya, kita perlu melakukan ikhtiar sebisa mungkin. Beberapa senior memberikan nasihat: sisakan sebagian rasa tidak percaya saat kita memikirkan sesuatu. Maksudnya, kalau kita melihat seseorang sangat bagus, sisakan sekitar 20% rasa ragus bahwa dia benar-benar bagus. Atau sebaliknya, ketika kita melihat seseorang begitu buruk, lakukan hal yang sama juga, bahwa ada 20% keraguan bahwa dia benar-benar buruk.

Ini membuat kita tidak akan mutlak percaya kepada kebaikan seseorang, atau sebaliknya, tidak membuat kita benar-benar fanatik membenci seseorang. Sebab, baik dan benar dalam pandangan kita, bisa jadi masih menyisakan kekeliruan.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda, "Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta" (HR Tirmidzi).

Baru setelah kita benar-benar paham akan sebuah fenomena, kita perlu memutuskan untuk bersikap terhadap fenomena tersebut. Jadi, kita punya alasan yang jelas, mengapa kita bersikap demikian. Setelah memutuskan sikap, kita pun harus menyusun argument yang kuat, mengapa kita memutuskan sikap tersebut.

Misal, dalam Pemilu, saya memiliki partai X sebagai salah satu saluran aspirasi politik saya. Alasannya, saya telah mencoba mempelajari platform partai tersebut dengan sebaik-baiknya. Saya merasa sevisi dan semisi, serta memiliki harapan besar bahwa partai tersebut bisa membawa perubahan positif untuk negeri ini.

Jadi, tidak mungkin ya, orang yang berpikir logis mempan politik uang, apalagi sekadar amplop di serangan fajar, hehe.

2/ Berpikir Sistematis
Berpikir sistematis berarti kita senantiasa berpikir dalam alur yang sistemik, runtut atau koheren, sehingga terbentuk pola pikir yang rapi dan mudah dipahami.  Misalnya, kita mau menjelaskan opini kita bahwa rokok itu berbahaya untuk kesehatan. Alurnya bisa begini:
>> Tesis: yakni kita memaparkan bahwa menurut saya, rokok sebaiknya dihindarkan, karena berbahaya bagi kesehatan.
>> Kasus: contohnya, dalam berita disebutkan bahwa data penderita penyakit karena rokok adalah ... sebutkan referensinya. Jangan cuma satu, lebih banyak contoh akan lebih baik. Tetapi, tentunya sesuai kebutuhan.
>> Penjelasan ilmiah: mengapa rokok berbahaya untuk kesehatan?
>> Kesimpulan: berdasarkan bukti-bukti yang ada, sebaiknya rokok kita hindarkan sebisa mungkin.

3/ Berpikir Radikal
Kata radikal terdengar menyeramkan ya, karena biasanya dihubung-hubungkan kepada terorisme. Radikal berasal dari kata radix, yang artinya akar. Jadi, berpikir radikal adalah berpikir sampai ke akar persoalan (radikal), alias mendalam sampai pada inti permasalahan. Kita mencoba memahami sebuah permasalahan sampai pada hulunya. 

Kenapa kasus korupsi tinggi? Karena banyak pejabat publik memiliki moralitas buruk dan self control yang kurang? Bisa jadi. Tapi, tak hanya itu. Moralitas rendah kalau tak ada kesempatan, tentu tak akan bisa korupsi. Jadi, korupsi terjadi karena ada peluang, atau celah untuk korupsi. Lalu, apa motivasi seorang pejabat untuk korupsi, bukankah gaji dan tunjangan sudah sangat besar? Mungkin karena biaya politik yang tinggi. Mungkin karena mereka memerlukan amunisi sangat besar saat hendak mencalonkan diri jadi pejabat? Dan seterusnya... sehingga benar-benar tersibak jelas, apa pangkal sebuah permasalahan.

4/ Berpikir Global
Berpikir filosofis, ibarat kita terbang ke atas dan melihat pemandangan dari puncak kerucut sudut pandang. Kita akan melihat sesuatu dengan menyeluruh. Berpikir parsial, akan membuat kita melakukan kesalahan dalam melakukan persepsi. Ibarat orang yang ditutup matanya, lalu disuruh menyentuh gajah. Maka, dia akan mendefinisikan gajah dengan pemahaman sangat sempit, misal hanya menjelaskan bagian kaki, gading atau ekornya semata.

Nah, itulah tahapan-tahapan dalam berpikir filosofis. Sulit, ya? Ya memang sulit. Tapi tak ada salahnya kita coba.

Belajar filsafat membuat kita memahami dan mengerti secara mendalam hakikat, cara, dan manfaat dari sebuah ilmu. Filsafat memberikan kita pencerahan dalam berpikir, karena melalui filsafat, seseorang akan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh akal fikirnya, sehingga akhirnya dia bisa memecahkan sebuah persoalan dengan hal-hal yang memuaskan.

Catatan: tulisan ini terinspirasi dari mata kuliah Filfsafat Ilmu di Kelas Pasca Sarjana Magister Psikologi UMS, yang diampu oleh Prof. Taufik Kasturi, PhD. Jazakumullah atas pencerahannya, Prof.

Tidak ada komentar untuk "Berpikir Logis dan Filosofis, Bagaimana Caranya?"