Sejarah Kesultanan Cirebon: Antara Cinta, Idealisme dan Romantisme

Sunan Gunung Jati


Betapa galau hati Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Ketiga putera-puterinya, yang terlahir dari rahim istrinya, Ratu Subanglarang (seorang muslimah), semua memeluk agama Islam. Pernikahan mereka melahirkan 3 anak. Putera pertama, Pangeran Cakrabuana, rela meninggalkan hak sebagai putera mahkota, lalu pergi ke Cirebon dan mendirikan Kesultanan Cirebon. 

Anak kedua, Nyai Rara Santang, menikah dengan Syarif Abdullah Umdatuddin, seorang raja Campa, dan melahirkan putera seorang pria luar biasa bernama Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah kemudian menikah dengan puteri Pangeran Cakrabuana atau sepupunya, dan diangkat sebagai Sultan Cirebon kedua.

Anak ketiga, Raden Kian Santang (ini pasti kenal kan? Secara ngetop di sinetron). Dikenal juga sebagai penyebar agama Islam.

Meski berbeda agama, putera-puteri dan cucu Raja Siliwangi tetap bersikap lembut dan mencoba berdakwah kepada Prabu Siliwangi. Sayang, hidayah itu memang urusan Allah SWT. Namun, yang perlu dicontoh, adalah interaksi para anak turunan Prabu Siliwangi yang tetap santun itu. 

Selain menikah dengan Ratu Subanglarang, Prabu Siliwangi juga menikah dengan Ratu Mayangsunda, melahirkan Surawisesa yang kemudian menggantikan Pangeran Cakrabuana sebagai putra mahkota kerajaan Pajajaran, dan menjadi penerus ayahnya.

Saat masih di bawah Pangeran Cakrabuana, Cirebon masih di bawah kekuasaan Pajajaran. Tapi begitu Syarif Hidayatullah menjadi Sultan, beliau memutuskan berhenti membayar upeti, dan membina hubungan baik dengan Kerajaan Demak. Bahkan, puteri beliau, Ratu Ayu, menikah dengan Pati Unus, atau Sultan Demak Kedua yang terkenal dengan ekspedisi perlawanan dengan Portugis.

Pati Unus wafat dalam usia muda saat melawan Portugis di Malaka, sehingga dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. Janda Pati Unus, dinikahi oleh seorang pemuda bernama Fadhilah Khan atau Fatahillah, yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa dan mendirikan Jayakarta, atau Jakarta saat ini.

Bukan hanya Ratu Ayu dan Pati Unus, beberapa putera-puteri Sunan Gunungjati atau Syarif Hidayatullah juga menikah dengan putera-puteri Raja Demak. Misalnya, Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunungjati, juga menikah dengan Ratu Ayu Kirana, puteri Raja Demak. Terjalin sebuah interaksi yang dalam dan intens. Bukan hanya semangat persaudaraan, tetapi juga ukhuwah Islamiyah yang indah. 

Persahabatan Cirebon-Demak, membuat Pajajaran khawatir. Apalagi, bersamaan dengan itu, angkatan perang Cirebon-Demak juga berkembang pesat. Meski Patiunus telah wafat, di bawah Fatahillah, angkatan perang mereka tumbuh dengan kuat. 

Sayangnya, Pajajaran membuat langkah keliru. Surawisesa kemudian datang kepada Alfonso d'Albuquerque, panglima Portugis yang berada di Malaka. Mereka membuat perjanjian. Portugis bersedia melindungi Pajajaran, dengan syarat diizinkan mendirikan benteng di Sundakelapa. Benteng inilah yang kemudian diserbu oleh Fatahillah, yang merupakan panglima pasukan koalisi Cirebon-Demak.

Nantikan ekspedisi ke Cirebon ya, teman-teman.... :-) 

Posting Komentar untuk "Sejarah Kesultanan Cirebon: Antara Cinta, Idealisme dan Romantisme"