Widget HTML Atas

Puasa Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme



Bagi umat Islam, Bulan Ramadan selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Di mana-mana ada semacam kegiatan tarhib (ترحيب) untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan ini. Tarhib (pakai ترحيب ya, "ha" tipis, jangan keliru "ha" tebal ترهيب karena artinya sangat berbeda, yaitu intimidasi). ترحيب artinya selamat datang, sedang ترهيب artinya intimidasi. Wah, salah omong bisa kacau kan maknanya.

Anak saya yang duduk di bangku PAUD dan SD, sudah beberapa kali mengikuti pawai dalam rangka tarhib Ramadan ini. Mereka bikin poster, naik kereta kelinci keliling kota, atau sekadar jalan-jalan di sekitar rumah dan juga di sekitar sekolah.

Saat bulan Ramadan, selama sebulan penuh, kita diwajibkan untuk berpuasa. Nah, ternyata membahas puasa dalam perspektif Psikologi, menarik juga lho. Pada kesempatan pertama ini, saya akan membahas dalam perspektif psikologi "mazhab" behaviorisme, semoga nanti bisa juga membuat dalam perspektif yang lain. Lho, memangnya di Psikologi ada mazhab, kok kayak fiqih aja? 

Ada dong ... sebagaimana fiqih yang terdapat beberapa mazhab, seperti mazhab Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal, psikologi memiliki 3 mazhab klasik. Mazhab ini kemudian berkembang lagi, sehingga kita mengenal ada psikologi kognitif, psikologi positif, psikologi transpersonal, dan sebagainya. Tapi, bolehlah, kita sedikit bahas 3 aliran yang paling klasik dulu ya...

Pertama mazhab psikodinamika, tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, Alfred Adler dan sebagainya. Aliran psikologi ini banyak membahas struktur-struktur kepribadian, juga tentang proses-proses yang terjadi di mental baik disadari maupun alam bawah sadar.  Dari aliran ini kita mengenal konsep the id, the ego, and the superego

Mazhab kedua, behaviorisme, yakni psikologi perilaku. Tokoh-tokohnya di antaranya Pavlov, JB Watson, BF Skinner, juga Albert Bandura. Tokoh terakhir ini, Bandura, dianggap sudah banyak melakukan "bid'ah" pada aliran behaviorisme karena sudah memasukkan unsur-unsur kognitif (aktivitas mental) dalam teorinya. Jangankan alam bawa sadar, kesadaran pun ditolak oleh mazhab ini. Aktivitas mental benar-benar 'mental' (e-nya dibaca seperti kita ngomong enak) dari aliran ini. Behaviorisme radikal beranggapan bahwa semua perilaku manusia itu adalah hasil dari proses belajar dan pembiasaan. Baca si sini ya:  Anak Cerdas Menurut 'Einstein' vs JB Watson: Talenta Atau Pengondisian? 

Tapi, karena dasar-dasar pemikiran Bandura banyak mengadopsi pemikiran behaviorisme, sebagian pakar tetap memasukkan Bandura sebagai tokoh behaviorisme. Toh, definisi psikologi modern, juga akhirnya mengakui adanya aktivitas mental. Menurut American Psychological Association (APA), Psychology is the scientific study of mind and behavior. Nah, selain kata behavior, kata MIND disebutkan juga, kan?

Adapun mazhab ketiga adalah humanistik, yang mendeklarasikan sebagai aliran ketiga (third force). Aliran ini berpendapat bahwa sebagai individu, manusia itu unik. Keunikan ini jika dikelola dengan sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebagai sebuah optimalisasi potensi yang luar biasa. Manusia harus mengekspresikan dirinya secara kreatif dan merealisasikan potensinya secara utuh, dan tugas psikologi adalah membantu proses ini. Tokoh-tokohnya di antaranya Abraham Maslow dan Carl Rogers.

Psikologi Behaviorisme dan Puasa

Kembali ke puasa. Perspektif behaviorisme saya pilih untuk saya tulis pertama kali, karena memang dalam puasa, konsep pembiasaan sangat dominan. 

Apa sih tujuan berpuasa? Di Al-Quran, Al-Baqarah: 183, secara gamblang disebutkan: “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kutiba 'alaikumus shiyaamu kamaa kutiba 'alal lazdiina min qablikum la'allakum tattaquun”. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Di ayat tersebut, ada input yaitu orang-orang yang beriman (mukmin), output yakni orang-orang yang bertakwa, dan proses, yaitu puasa. Selama 1 bulan, para Mukmin diminta berpuasa, dan jika puasanya dilakukan dengan sebenar-benarnya, maka akan terjadi perubahan mendasar, yaitu naiknya derajat kebaikan seseorang, dari Mukmin menjadi Muttaqin. Secara khusus, saya pernah menuliskan tema ini di artikel ini: Karakteristik Al-Muttaqin, Karakter Indah yang Dibentuk Melalui Puasa.

Dalam sebulan mengulang-ulang hal yang sama, sebenarnya itulah intisari dari pembentukan perilaku atau pembiasaan.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel sebelumnya di blog ini, Anak Cerdas Menurut 'Einstein' vs JB Watson: Talenta Atau Pengondisian para behavioristik memang mempercayai, bahwa manusia terbentuk benar-benar karena pola-pola stimulus dan respons. Sampai-sampai salah satu tokoh Behaviorisme, J.B. Watson mengatakan: “Berikan aku selusin bayi yang sehat dan tegap, dan aku akan membesarkan mereka dalam duniaku sendiri yang telah kutentukan. Akan kupilih satu dari mereka secara acak dan melatihnya menjadi berbagai jenis spesialis yang telah kutentukan: dokter, pengacara, artis, kepala dagang, dan ya, bahkan pengemis dan pencuri, tanpa menghiraukan bakat, kegemaran, kecenderungan, kemampuan, panggilan hati, dan ras keturunan mereka.”

Teori Classical Conditioning

Aliran Watson adalah aliran paling klasik dari Behaviorisme, yang biasa dikenal dengan teori classical conditioning (pengondisian klasik). Selain Watson, tentu kita mengenal eksperimen Pavlov bukan?  Awalnya, Pavlov melihat, ketika ada makanan didekatkan, anjing akan menjulurkan lidah meneteskan air liur. Sementara, kalau dibunyikan lonceng, hal tersebut tidak terjadi.

Lalu Pavlov mencoba, sambil menyodorkan makanan, dia membunyikan lonceng. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang. Kemudian, di suatu ketika, Pavlov membunyikan lonceng di jam makan, tetapi tidak disertai makanan, ternyata anjing tetap menjulurkan ludah dan meneteskan air liur. Peristiwa itu menunjukkan, bahwa si anjing telah mendapatkan sebuah pengondisian atau pembiasaan, sehingga mendapatkan perilaku baru yang berbeda dengan sebelumnya.

Apakah hal yang sama bisa terjadi pada manusia? Bisa saja! Suatu hari, seorang remaja cowok, sebut saja Rangga, jatuh cinta dengan adik kelasnya di sekolah, Sekar. Tempat favorit dia adalah sebuah bangku di taman, di mana di taman tersebut dia akan melihat adik kelasnya itu keluar setiap istirahat tiba.  Rangga akan segera berlari ke bangku tersebut, lalu 5 menit begitu bel istirahat berbunyi, Sekar akan keluar. Meski Sekar tidak menyapanya, hanya melihat sekilas, bagi Rangga itu sebuah peristiwa yang sangat indah. Terus berlangsung, sampai 2 bulan kemudian, Rangga memutuskan untuk menembak Sekar. Ternyata apa jawaban Sekar. "Maaf, aku nggak mau pacaran, aku mau fokus belajar."

Rangga patah hati. Tapi, dia bisa mengerti. Namun, hingga selanjutnya, Rangga merasa tetap ingin duduk di bangku itu begitu bel istirahat berbunyi. Sebab, ada sebuah perasaan romantis yang membuat dia tak mampu beranjak pergi... jiaaah...

Saya juga pernah merasakan hal yang konsepnya mirip. Saat saya hamil muda anak pertama, saya teler berat. Bersamaan saya sedang merasa sangat mual dan muntah-muntah, suami menyetel sebuah lagu religi yang sedang ngehits saat itu. Hampir tiga bulan, lagu tersebut menemani saya teler berat. Dan hingga saat ini, 17 tahun kemudian, ketika mendengar lagu tersebut, masih ada sensasi rasa mual laksana saat masih nyidam saat itu. WOW banget, kan?

Nah, bagaimana dengan puasa? Harusnya belajar menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, berbuat kebaikan, shalat tarawih tiap malam dan serangkaian kegiatan kebaikan di bulan Ramadan, bisa membuat kita terkondisi.

Aliran Operant Conditioning
Seorang ilmuwan, BF Skinner merasa tidak terlalu puas dengan pendahulunya. Skinner membuat berbagai eksperimen yang menunjukkan bahwa perilaku tidak sekadar terbentuk karena pengondisian dengan stimulus tertentu, tetapi juga adanya penguat (reinforcement) dan juga penghukum (punnishment). Teorit Skinner ini kemudian dikenal dengan nama operant conditioning. Namun, Skinner tetap mengakui adanya classical conditioning, yang dia sebut sebagai respondent conditioning. Jadi, menurut Skinner, pengondisian itu ada dua, yaitu tipe S (respondent conditioning, yang identik dengan classical conditioning) dan tipe R atau operant conditioning.

Apakah puasa Ramadhan memenuhi kaidah-kaidah teori ini? Wow, banget! Dalam puasa, banyak sekali reinforcement yang dilakukan oleh Allah SWT. Pahala berlimpah, pintu surga dibuka, setan-setan dibelenggu, ini adalah sebuah suasana yang sangat kondusif untuk pembentukan perilaku tertentu. Punnisment juga ada. Yaitu ditetapkannya Ramadan sebagai puasa wajib, yang jika tidak dilakukan, tentu akan berdosa. 

Aliran Social Conditioning
Aliran Behaviorisme berkembang lagi seiring perkembangan zaman. Menurut Albert Bandura, perilaku manusia tidak hanya dari classical dan operant conditioning, tetapi juga karena adanya role model. Bandura mencontohkan dalam eksperimen Bobo Doll, di mana anak-anak yang setiap hari diperlihatkan ada orang dewasa memukuli Bobo Doll, lalu anak-anak tersebut menjadi agresif. Sementara kelompok satunya, setiap hari ditunjukkan orang dewasa menyayangi Bobo Doll, dan mereka tumbuh menjadi lebih empati dan welas asih.

Puisi Children Learn What They Live, karya Dorothy Law Nolte, bisa menjelaskan dengan baik teori ini. 

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.

dst...

Lalu di bagian kebaikan:
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.

dst...

Bagaimana dengan puasa jika dipandang dalam perspektif ini. Cek deh ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ada konsep role model dalam kalimat: sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu ... siapa sih orang-orang sebelum kita? Di antaranya para Nabi dan Rasul, para Sahabat, para Salafush Shalih. Kaum terdahulu yang salih.

Puasa Menurut Imam Ghazali

Menariknya, Islam juga memiliki sebuah pengkategorian puasa yang kompatibel dengan Behaviorisme. Menurut Imam Ghazali terdapat tiga tingkatan dalam berpuasa. Apa saja? 

Pertama, shaumul umum (puasa awam). Pada puasa ini, orang sekadar puasa untuk menahan lapar, haus dan berhubungan seksual. Hanya itu! Ini kan mirip-mirip classical conditioning, di mana orang melakukan sesuatu tanpa ada motivasi apapun, kecuali sekadar pengondisian fisik.

Kedua, shaumul khushus (puasa istimewa). Pada jenis ini, orang berpuasa dengan sebaik-baiknya, menjalankan kebaikan, amalan, dan sebagainya. Mengapa begitu? Karena mereka tertarik dengan keutamaan-keutamaan yang dijanjikan Allah SWT. Ya, ada inforcement dan kemudian dihati sebenar-benarnya. Ini puasa ala teori operant conditioning.

Ketiga, shaumul khushusil khushus (puasa sangat istimewa). Ini puasa paling keren. Puasanya para nabi, rasul, shahabat, shiddiqin, dan muqarrabin. Puasa yang benar-benar mendekatkan kepada Allah SWT, meraih keridhaan Allah SWT. Bagaimana cara mendapatkan puasa semacam ini? Lihatlah bagaimana Nabi, Rasul, dan kaum terdahulu berpuasa. Dalam bahasa Behaviorisme: carilah role model! Nah, inikan sebenarnya konsep Social Learning, teori Behaviorisme paling mutakhir.

Menariknya, Imam Ghazali hidup di abad XII, yakni antara tahun kelahiran 1058 hingga wafat pada 19 December 1111. Tujuh atau delapan abad sebelum psikologi modern lahir.  Jika dirunut lebih lanjut, Imam Ghazali juga sebenarnya merujuk pada pemikiran Islami dari Rasulullah SAW dan para Sahabat yang hidup berabad-abad sebelumnya.

Ah, masyaAllah....
Pokoknya, selamat berpuasa, semoga kita bisa meraih berbagai tujuan perbaikan yang kita lakukan.



Tidak ada komentar untuk "Puasa Dalam Perspektif Psikologi Behaviorisme"