Bunda Hajar, Izinkan Aku Cemburu Padamu!


Kondisi Mas'a saat ini (koleksi pribadi)

Solo, 10 Zulhijah 1443
Hingga khutbah berakhir, suasana di lokasi shalat Idul Adha pagi itu masih terasa hening. Bukan karena sepinya jamaah. Hampir 1000 jamaah berderet dalam shaf-shaf rapi di Jalan Pamugaran Utama yang pagi itu sengaja ditutup untuk shalat berjamaah. “Khotibnya bagus sekali,” bisik seorang ibu yang duduk di samping saya. Saya mengangguk, sambil mengelap air mata yang masih membasahi kelopak mata. Untung saya memakai masker dan kacamata, sehingga tidak terlalu tampak, bahwa hampir sepanjang khutbah, saya terus meneteskan airmata.

Seperti saya yang seakan-akan ingin terus duduk di atas sajadah, saya lihat para jamaah lain pun bangkitnya pelan-pelan. Tak tampak ketergesaan. Sangat tenang ketika mengemasi peralatannya, seakan enggan untuk beranjak pulang. Saya sendiri kembali ke rumah paling akhir. Berjalan dengan wajah tunduk. Batin saya berkecamuk. Haru biru masih terus merasuk. Baru sedikit buyar tatkala saya meraih telepon seluler dan mengetik perlahan.

[Saksi Mata]

Aku pernah menjadi saksi mata
Seorang perempuan India
Terisak di puncak Marwa
Tangan gemetar penuh makna
Membelai bebatuan yang tersisa
Oh, bukan... bukan ritual khayal
Dia hanya ingin berbincang sayang
Kepada sosok di zaman terkenang
Hajar si empunya sejarah gemilang

Aku pernah menjadi saksi mata
Seorang perempuan sebaya
Menangis berderai air mata
Di majlis resmi ujian akhirnya
Terbata dia berkata merdu
Maafkan aku wahai Tuan Guru
Selalu tercipta berbongkah haru
Tak bisa tak menderas air mataku
Saat mengenang kisah mulia itu

Kini aku bukan saksi mata
Aku menjadi perempuan ketiga
Atau mungkin yang kesekian juta
Yang tak mampu menahan haru
Saat keagungan kisahmu
Dilantunkan begitu biru
Hajar, izinkan aku mencemburuimu
Hajar, izinkan pula aku mencintaimu
Dan berdoa agar kelak bertemu
Di surgaNya
Selamat Hari Raya Idul Adha

~Afifah Afra 
Solo 09072022

Di lokasi bukit Marwa (koleksi pribadi)

Syair berjudul SAKSI MATA itu pun saya kirim ke beberapa grup WA, sebagai ganti ucapan selamat hari raya. Macam-macam reaksi yang membaca. Ada yang terharu, ada yang menanggapi dengan antusias, yang cuek juga banyak, hahaha. Saya sadar, puisi bukan sebuah sarana ekspresi yang cukup familiar. Tetapi, izinkan saya bercerita lebih panjang tentang isi puisi tersebut.

Kesaksian mata itu bukan kisah fiksi. Izinkan saya berkisah tentang kesaksian mata yang pertama. 
Tahun 2018, ketika sedang melakukan sa’i di umroh sunnah yang saya lakukan di sela-sela ibadah Haji tahun itu, saya melihat seorang perempuan tua, sepertinya dari India, menangis terisak-isak di Bukit Marwa. Tangannya gemetar mengelus bebatuan puncak Marwa. Kerudungnya basah. Tampak begitu haru.

Jika Anda pernah berkunjung di area Mas’a (tempat sa’i) di Masjidil Haram, pasti Anda tahu, bahwa antara bukit Shafa dan Marwa memang telah menjadi sebuah bangunan memanjang. Bukit Shofa dan Marwa yang berjarak sekitar 450 meter, kini menjadi bangunan berlantai dua dengan bahan bangunan dari batu pualam, serta ber-AC dingin. Namun, batu-batu asli kedua bukit itu masih ada. Hanya saja, area bukit dipagar, namun jamaah tentu bisa menyentuhnya.

Bangunan Mas'a tampak dari luar (koleksi pribadi)

Jamaah Haji ataupun Umroh pasti sangat paham apa itu ibadah sa’i, yang merupakan salah satu dari rangkaian ibadah Haji/Umroh. Ibadah sa'i adalah berjalan (atau berlari-lari kecil bagi laki-laki berjalan cepat bagi wanita, jika melewati area Bathnul Waadi—diberi tanda lampu hijau) sebanyak tujuh kali, start dari shofa ke marwa, marwa ke Shofa, Shofa ke Marwa dan seterusnya sehingga menempuh jarak sekitar 450 meter itu sebanyak 7 kali. Ibadah ini sebenarnya merupakan napak tilas dari apa yang dilakukan Bunda Hajar ketika sedang mencari air untuk Bayi Ismail yang menangis kehausan.

Syahdan, atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s., meninggalkan Hajar di padang pasir yang gersang, kerontang, tanpa kehidupan, tanpa sumber air. Hajar sebenarnya adalah puteri seorang raja. Karena kalah perang dengan raja Mesir, seluruh keluarga raja ditawan, dan anak-anaknya dijadikan budak di Mesir, termasuk Hajar. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Penguasa Mesir saat itu mengalami semacam kelainan seksual, yakni hanya berhasrat kepada perempuan yang telah menjadi istri orang.

Suatu hari, saat Ibrahim dan istrinya, Sarah memasuki Mesir. Kecantikan Sarah tersiar, dan sampai kepada Raja Mesir. Mendengar berita bahwa Raja mesir mengalami kelainan seksual tersebut, Ibrahim sangat khawatir. Sebab, Sarah memang memiliki wajah sangat cantik (apakah ketampanan Yusuf a.s. mewarisi beliau? Sebab Sarah adalah nenek buyut dari Nabi Yusuf?). Maka, Ibrahim a.s. pun meminta agar Sarah mengaku sebagai adik Nabi Ibrahim.

Ketika memasuki Mesir, benar dugaan mereka, Raja Mesir tertarik kepada Sarah. Namun, meskipun Sarah mengaku sebagai adik Nabi Ibrahim, berbeda dengan biasanya, Raja Mesir tetap merasa jatuh cinta. Sang Raja berhasrat kepada Sarah. Sebagai raja yang sangat berkuasa dan memiliki tentara luar biasa kuat, Ibrahim dan Sarah akhirnya hanya bisa pasrah. Namun ternyata atas perlindungan Allah SWT, Raja Mesir selalu gagal menyentuh Sarah. Setelah beberapa kali gagal, Raja Mesir pun akhirnya tersadar, bahwa Sarah dan Ibrahim bukanlah orang biasa. Khawatir pengaruh Ibrahim dan Sarah di Mesir semakin membesar, Raja Mesir pun mengusir Ibrahim dan Sarah dari Mesir, namun sekaligus menghadiahkan Hajar sebagai budak untuk mereka. Nabi Ibrahim, Sarah dan Hajar pun kembali dan menetap di Palestina.

Ketika Nabi Ibrahim dan Sarah semakin tua dan tak punya keturunan, Sarah mencemaskan kondisi Nabi Ibrahim. Meski berat hati, saking cintanya Sarah kepada Ibrahim (mereka saling mencintai, dan Ibrahim pun sebenarnya setia kepada Sarah dan tak mempermasalahkan soal keturunan) Sarah pun meminta Ibrahim menikahi Hajar, agar mereka mendapatkan keturunan. Sarah cemas, jika sebagai seorang Nabi tak memiliki keturunan, maka dakwah akan terhenti.

Hajar pun akhirnya dinikahi Nabi Ibrahim. Tak berapa lama, Hajar hamil. Dari rahim Hajar, lahirlah seorang bayi mungil dan diberi nama Ismail. Sayangnya, setelah melihat Hajar menimang bayi, dan melihat betapa Nabi Ibrahim sangat berbahagia menyambut kelahiran Ismail, Sarah merasa cemburu.

Sarah pun berdoa kepada Allah SWT, agar dijauhkan dari Hajar. Sarah ingin menjaga dirinya, menjaga imannya, agar bisa meredam api kecemburuan. Ternyata doa Sarah dikabulkan oleh Allah SWT. Maka, Allah pun memerintahkan agar Ibrahim memindahkan Hajar dan Ismail di Mekah.

Mekah!

Apa yang bisa diharapkan dari Mekah? Mekah saat itu masih sebuah padang pasir kerontang, tanpa kehidupan. Tanpa sumber air. Hajar tertegun ketika Ibrahim hendak meninggalkannya seorang diri, hanya bersama sang bayi.

"Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu agar aku ditempatkan di daerah sunyi lagi tandus ini?" 
Ibrahim menjawab, "Benar." Ibrahim kehabisan kata-kata.
Hajar menjawab dengan mantap, meski batinnya penuh dengan gejolak, "Jika demikian, Dia (Allah) tidak menyia-nyiakan kita."

Ibrahim pun kembali pulang ke Palestina, membawa hati yang remuk-redam. Ketika hendak meninggalkan Mekah, dari sebuah gunung di dekat Mekah, dia melihat hamparan padang pasir yang tandus kerontang itu terbentang di bawahnya. Batinnya bergolak. Benarkah dia akan tega meninggalkan anak dan istri yang sangat dia cintai di tempat seperti itu? 

Tapi, itu semua terjadi atas perintah Allah SWT.

Maka, terlantunlah doa yang sangat terkenal, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).

Sepeninggal sang suami, Hajar terus meneguhkan diri. Jika itu semua adalah kehendak Allah, dia sangat yakin, Allah SWT tidak akan membiarkan dia sengsara.

Maka, terjadilah peristiwa itu. Ismail menangis keras karena kehabisan air, sementara air susu pun telah mengering. Hajar mencari air. Dia naik ke puncak Shofa karena melihat bayangan air, yang ternyata hanya fatamorgana. Dari Shofa, dia melihat di Marwa ada genangan air, lagi-lagi setelah dilihat, ternyata fatamorgana. Hajar berlari dari Shofa ke Marwa, Marwa ke Shofa… hingga 7 kali.

Hajar gagal mendapatkan air. Akan tetapi, anugerah Allah hadir justru dari entakan kaki Ismail. Air menyembur terus menerus, dengan jumlah yang sangat banyak. "Zam zam, Zam zam," ujar Hajar, dengan takjub. Zamzam  زمزم‎ berarti banyak, melimpah-ruah. Hingga kini, Sumur Zamzam terus mengeluarkan air yang menghapus dahaga para jamaah haji.

Kisah Hajar begitu dramatis. Sekarang, wajar bukan, jika perempuan tua India itu menangis sambil mengelus-elus sisa bebatuan di puncak Bukit Marwa? Beberapa orang sempat berbisik-bisik, menghubungkan aktivitas sang nenek dengan klenik. Saya terpana. Klenik? Saya tidak tahu pasti. Tetapi saya mencoba berprasangka baik. Dia sedang berdialog dengan sisa-sisa peninggalan masa itu yang masih tersisa. Dia sedang menerawang betapa letihnya Hajar saat itu, berlarian di bawah terik matahari, mendaki bukit Shofa Marwa. Betapa secara psikologis Hajar sangat terguncang ketika ditinggal sendirian di tempat yang belum dihuni manusia, di tengah gurun pasir yang tandus, kering kerontang.

Peristiwa tersebut masih bisa diulang dalam ibadah sa’i, namun nuansanya sungguh jelas berbeda. AC dingin, ruangan yang bersih dan indah, jalan yang terbuat dari batu pualam mengilat di ruang Mas’a, telah membuat ibadah sa’i menjadi jauh lebih mudah.

Batu-batu Bukit Safa masih terlihat

Namun, jika kita meresapi betul ibadah sa’i, maka kita akan sama dengan perempuan tua tersebut. Tunduk dalam haru yang dalam. Juga hormat tak terkira. Mengingat bagaimana pengorbanan Bunda Hajar yang sangat sabar dan tegar. Bagaimana kecintaan mereka kepada Allah SWT, mengalahkan apapun kecintaan pada hal-hal yang fana. Luar biasa.

* * *

Lalu, bagaimana dengan saksi mata kedua? Kali ini saya berkisah tentang seorang kakak kelas di Magister Psikologi UMS. Di program ini, jika ada kakak kelas hendak seminar proposal tesis dan seminar hasil, dibuka forum yang bisa diikuti siapapun, termasuk adik kelas. Pada suatu hari, saya mengikuti sebuah seminar proposal tesis. Kakak kelas saya, namanya Mbak Tarmilia, memaparkan proposal penelitiannya. Saya lupa judulnya, tetapi jika tidak salah, tentang pola asuh Nabi Ibrahim a.s. Saat sedang memaparkan proposalnya, mendadak Mbak Tarmilia menangis. 

“Kenapa kamu menangis?” tanya Profesor Taufik Kasturi, salah seorang dosen yang menjadi pereview. 
Sambil mengelap air mata, dan masih sesenggukan, Mbak Tarmilia meminta maaf. Katanya, dia selalu menangis jika memaparkan sejarah keluarga Nabi Ibrahim.

Perempuan yang lembut, batin saya. Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya memang sangat inspiratif. Tetapi hanya orang-orang dengan hati sangat lembut yang bisa menangis di forum resmi. Begitu pikiran saya.

Dr. Zahrodin Fanani usai shalat Idul Adha (beliau tengah, saya paling kanan di samping suami)

Namun, pagi ini … ketika menyimak isi khutbah dari Dr. Zahrodin Fanani, M.PI, pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki yang sengaja diundang panitia shalat Idul Adha gabungan 4 masjid di RW 3 Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, mendadak saya merasakan apa yang dirasakan perempuan tua India itu, juga Mbak Tarmilia. Saya menangis haru mendengarkan khatib memaparkan kisah Hajar, Ibrahim dan Ismail dengan begitu detil. 

Ternyata, bukan hanya saya. Semua menyimak dengan tenang. Durasi khutbah beliau barangkali lebih lama dari khutbah-khutbah biasanya. Ajaibnya, semua bergeming. Semua tekun menyimak. Bahkan, tak terdengar suara tangisan anak-anak, sebagaimana lazimnya jika shalat hari raya yang diikuti banyak jamaah.

Kisah tentangmu memang luar biasa, Hajar.
Izinkan aku mencemburuimu.

1 komentar untuk "Bunda Hajar, Izinkan Aku Cemburu Padamu!"

Comment Author Avatar
Tulisan yg sangat menyentuh hati. Semoga kita semua bisa meneladani kisah Bunda Hajar.

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!