Benarkah Hidup di Era Disrupsi Lebih Sulit?



Seorang kenalan pernah bertutur, bahwa hidup kian lama kian tak mudah. Hidup semakin keras. Nilai-nilai kemanusiaan kian tercerabut dan terburai. Manusia menjadi serigala bagi manusia lain, homo homini lupus, kata Thomas Hobbes. Benarkah?

Menurut saya, sebenarnya hidup itu telah sulit sejak dahulu kala. Terbayang kan, bagaimana nenek moyang kita harus bertahan hidup di masa saat fasilitas hidup begitu minimalis. Tak ada listrik, tak ada alat elektronik, dan tak ada kendaraan. Zaman saya bocah, sulit sekali membeli makanan seperti daging, ayam dan telur. Sebutir telur didadar, dibagi 4. Makan ayam hanya saat lebaran atau hari-hari besar.
Terbayang juga tidak, bagaimana saat itu sering sekali terjadi peperangan antar negara, antar golongan, antar gank, yang membuat nyawa seperti tidak ada harganya. Zaman sekarang juga masih ada peperangan, tetapi semakin meningkatkan peradaban, peperangan masa kini “tidak sekejam” zaman-zaman dahulu kala. Sebagai contoh, Perang Dunia II yang berlangsung sekitar 6 tahun, dari 1939 hingga 1945, telah membunuh sekitar 60 juta jiwa!

Mudah atau sulit, sebenarnya soal persepsi. Dan tentu soal bagaimana kita menghadapi. Saya tak menampik, bahwa hidup memang keras. Di satu sisi, resiliensi atau ketangguhan manusia “zaman now” dalam menghadapi atau mengatasi berbagai masalah, menurut banyak riset juga ada indikasi mengalami penurunan.

Hanya saja, tantangan antar zaman satu dengan zaman lainnya memang berbeda. Tahun 90-an, para orang tua tak terlalu khawatir melepas anak-anak bermain di lingkungan sekitar. Saat ini, justru banyak kejahatan dilakukan oleh orang-orang terdekat kita. Zaman dahulu, para anak lelaki diizinkan melanglang buana karena alasan gangguan yang mungkin didapatkan tidak sebanyak para anak perempuan, akan tetapi sekarang, melepas anak laki-laki pun tetap mengundang rasa was-was karena banyaknya kasus pedofilia. Para predator bergentayangan mencari “mangsa” anak-anak lelaki yang polos untuk memenuhi syahwatnya.

Selain itu, kita mengalami sebuah problematika lain yang sangat khas “zaman now”. Saat ini, kita dihadapkan pada disruption era,  yakni suatu zaman di mana terdapat perubahan yang sangat fundamental. Disrupsi dalam KBBI dimaknai sebagai ‘hal tercabut dari akarnya’. Tercerabut, karena kita seolah-olah dicabut dari segala aturan konvensional, dan dimasukkan ke dalam suatu masa yang benar-benar baru. 

Disrupsi telah memakan banyak korban. Beberapa perusahaan raksasa yang tidak mau beradaptasi, mengalami hembasan badai yang sanagt kuat. Ada yang sudah mati, ada juga yang sedang mengalami goncangan serius. Sebut saja beberapa brand seperti Kodak, Nokia, toko-toko konvensional, jaringan mall, produsen fotokopi, taksi konvensional dan sebagainya. 

Jasa pos yang pernah sangat legendaris dengan perangko dan tradisi surat menyurat pun hampir kolaps, jika saja tak segera menyesuikan dengan zaman. Mesin foto kopi yang dulu sangat berjaya, kini tergerus dengan printer-printer kecil yang tak hanya menyajikan dunia ‘hitam putih’, tetapi full color di rumah kita. Industri rekaman kaset sudah lama wassalam, diganti dengan maraknya band-band baru yang menjual lagunya via Youtube.

Disrupsi terjadi karena revolusi teknologi informasi yang sangat pesat dua dekade terakhir ini. Era ini memang mengkhawatirka, karena menurut laporan dari komisi On Financing Global Opportunity – The Learning Generation yang dibentuk PBB, pada tahun 2030, sekitar 2 miliar orang terancam kehilangan pekerjaan karena efek dari teknologi.

Ini tentu sangat mengerikan, apalagi, tahun 2030, Indonesia sebenarnya sedang menikmati ‘bonus demografi’, di mana jumlah penduduk usia produktif sedang dalam puncaknya. Jika jumlah penduduk usia produktif tinggi, sementara lowongan pekerjaan menjadi semakin sedikit, tentu bonus demografi itu justru akan menjadi bencana demografi.

Era Industri 4.0
Era disrupsi memunculkan satu tren baru yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Ini adalah era terkini, setelah era 1.0 (penemuan mesin uap), era 2.0 (penemuan listrik), era 3.0 (ditemukannya sistem otomatisasi). 

Pada era industri 4.0, teknologi otomatisasi dikombinasikan dengan teknologi cyber, dengan memanfaatkan internet. Teknologi cerdas sudah digunakan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Semua berbasis IT. Karena itu, hanya orang-orang cerdas, terampil, paham IT dan bisa saling berkolaborasi satu sama lainlah yang bisa eksis di era industri 4.0.

Dalam kondisi semacam ini, mau tak mau generasi milenial harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Kita tak perlu takut  dengan perubahan zaman, justru tantangan yang ada harus kita atasi dengan ‘fun’ namun tetap serius.

Jika kamu adalah generasi milenial, jadilah spesialis atau ahli di bidang yang kamu tekuni. Tapi, kamu harus bisa mengkoneksikan keahlian kamu dengan teknologi. Ikuti perkembangan teknologi, kuasai teknologi, maka kamu akan sukses!

Posting Komentar untuk "Benarkah Hidup di Era Disrupsi Lebih Sulit?"