Kemana dan Bagaimana Menerbitkan Buku?



Sebagai seorang penulis yang alhamdulillah saat ini masih aktif menulis dan menerbitkan buku, saya sering ditanya begini: "bagaimana sih, cara menerbitkan buku?" Biasanya, pertanyaan itu nanti akan berlanjut, "kemana kalau saya ingin menerbitkan buku?" Malah tak jarang juga ditanya begini, "Berapa biayanya?"

Pertanyaan itu biasanya dilontarkan oleh teman-teman yang bergiat di dunia literasi, tertarik di dunia kepenulisan, namun masih belum terlalu banyak memahami "rimba raya" dunia perbukuan. Sering juga dari para pendidik, baik guru maupun dosen. Saat ini, menerbitkan buku ber-ISBN telah diakui sebagai salah satu cara meningkatkan kum, yang merupakan syarat kenaikan pangkat.

Tentu wajar-wajar saja bertanya seperti itu. Dahulu, saya juga sangat awam dalam masalah itu. Jangankan menerbitkan buku, untuk bisa dimuat di media cetak seperti koran atau majalah saja, saya bingung bagaimana caranya. Saat masih bocah, ketika membaca Cerpen di majalah anak-anak seperti Bobo, Ceria, Belia, Kuncung, dan sebagainya--pada masa itu, saya sering berimajinasi, bahwa suatu saat cerpen saya pun akan muncul di sana, dibaca banyak orang. 

Polos saya saya bertanya kepada Bapak, jawabnya ringkas saja, "kamu nulis, lalu kirim ke alamat yang ada di sana!"

"Masak ditulis tangan, Pak?" tanya saya. 

"Iya, tulis yang rapi di kertas folio bergaris, habis itu masukkin amplop, dan kirim ke kantor pos."

Meski saya sudah mencoba menulis serapi mungkin, saya tetap tidak percaya diri untuk mengirimkannya.

Saat itu, awal tahun 1990-an. Saya lulus SD tahun 1991, dan keinginan untuk mengirimkan tulisan sudah dimulai saat saat di kelas atas Sekolah Dasar. Komputer adalah benda yang sangat asing pada saat itu. Adanya mesin ketik, saya sering melihat Bapak menggunakan mesin ketik untuk menulis dokumen-dokumen resmi.

Suatu hari, Bapak membawa mesin ketik milik kantor ke rumah. Mata saya langsung terpana dan berbinar-binar. Ini jawabannya, begitu batin saya. Saya pun meminta izin untuk belajar mengetik. 
Melihat antusisme saya, Bapak pun membeli sebuah mesin ketik bekas, sehingga saya semakin bersemangat mengetik. Ketikan saya lama-lama makin baik. Saat kelas 3 SMP, saya sudah bisa mengetik rapi, dan bahkan menerima jasa pengetikan karya tulis teman-teman saya saat itu. Lumayan, bisa menambah uang jajan. 

Setelah cukup terampil mengetik, akhirnya saya mulai mencoba cara yang disampaikan Bapak, mengirim tulisan yang terketik rapi ke media. Kelas 3 SMP, Cerpen saya dimuat di "majalah udara" RRI Purwokerto, alias dibacakan di hari minggu. Senangnya luar biasa. Kelas 1 SMA, yakni tahun 1994, saya pecah telur di majalah. Cerpen saya dimuat di Anita Cemerlang, sebuah majalah nasional bertiras ratusan ribu eksemplar. Honornya cukup wah untuk ukuran saat itu, yakni Rp 70.000! Tahun 1994 lho. Sejak itu, saya rajin menulis di majalah-majalah atau koran-koran.

Lalu, bagaimana dengan menerbitkan buku?

Saya merasa sangat beruntung tidak pernah bersusah payah menembus penerbit, karena justru ditawari untuk menerbitkan buku. Saat itu, ada sebuah penerbit baru di Bandung yang membutuhkan banyak naskah. Nama penerbit itu adalah Pustaka Asy-Syaamil. Uda Halfino Berry, salah satu pengelola dna owner penerbit itu mengontak Mbak Helvy Tiana Rosa, pendiri Forum Lingkar Pena, meminta bantuan agar dilink-kan dengan para penulis. Nah, Mbak Helvy kemudian menelepon saya, meminta saya menyiapkan sebuah naskah untuk dibukukan. Karena yang saya miliki saat itu adalah cerpen-cerpen, akhirnya saya menyanggupi untuk mengirimkan kumpulan cerpen. 10 cerpen yang sudah ada, ditambah dengan 5 cerpen baru saya kirimkan. Dan terbit! Ya, semudah itu!

Tetapi itu awal tahun 2000-an. Sekarang, kondisi perbukuan tidak sesemarak saat itu. Saat ini, bisnis perbukuan dihantam tsunami disrupsi. Banyak penerbit membatasi produksi buku. Kami sendiri, di penerbit Indiva Media Kreasi, merasa sedih, karena belum mampu kembali memproduksi buku sebanyak tahun-tahun saat sebelum krisis perbukuan. Dahulu, pada tahun 2010-an, dalam sebulan Indiva bisa menerbitkan 10 buku. Sekarang, mulai tahun 2020-an, apalagi setelah pandemi menggerus, untuk bisa konsisten 3-5 judul buku sebulan saja kami sangat kesulitan. Tak hanya Indiva, rata-rata penerbit memang kolaps saat ini. Apalagi, jejaring toko buku yang merupakan sarana distribusi buku, saat ini juga banyak yang lumpuh dan tutup. Sedih, ya....

Namun, bukan berarti jalan untuk menerbitkan buku menjadi tertutup. Masih ada beberapa cara menerbitkan buku. Sependek pengamatan saya, untuk menerbitkan buku, penulis bisa menempuh setidaknya dua cara.

Pertama, cara reguler

Yakni, penulis mengirimkan naskah ke penerbit, lalu penerbit akan menerbitkan dengan modal dari penerbit. Cara ini sangat praktis bagi penulis. Penulis tinggal mengirim naskah, lalu jika penerbit meng-ACC, penerbit akan mengirimkan Surat Perjanjian Penerbitan (SPP), lalu teken kontrak, dan penulis tinggal menunggu laporan penjualan buku dan pembayaran royalti. 

Meski saya sebutkan di atas, banyak penerbit kolaps, masih banyak pula penerbit yang membutuhkan naskah dengan model reguler. Indiva Media Kreasi juga masih butuh, kok, meski memang seleksinya tentu lebih ketat. Untuk lebih jelasnya, Sobat bisa berkunjung ke website penerbit dan melihat ketentuan bagaimana menerbitkan buku di sana. Beberapa penerbit yang saya rekomendasikan di antaranya:

1. Indiva Media Kreasi, saya sebut pertama bukan karena paling gede, tetapi karena saya sendiri yang mengelolanya, hehe...
2. Gramedia Group (Gramedia, Penerbit Kompas, Grasindo, Gramedia Pustaka Utama (GPU), KPG, M&C, BIP, Elex Media dan lain-lain), ada salah satu buku saya terbit di sini, so far, baguslah...
3. Pro U Media, saya belum pernah menerbitkan di sini, tetapi sepengamatan saya, sangat bagus dan amanah.
4. Penerbit Andi, saya juga belum pernah menerbitkan di sini, tetapi kata teman-teman, bagus juga
5. Tiga Serangkai, penerbit ini berada di kota Solo, salah satu penerbit legendaris di Solo, semoga kapan-kapan saya bisa mencoba mengirim naskah ke sini.
6. Gema Insani Pers, ada beberapa buku saya terbit di sana.
7. Penerbit Republika, baru satu buku terbit di sana, Nun. Republika banyak menerbitkan buku-buku best seller.
8. Penerbit Mizan. Awal-awal kepenulisan, ada sekitar 7 buku saya terbit di Mizan.
9. Era Intermedia. Cukup banyak buku saya terbit di sana.
10. Gagas Media. Penerbit ini sempat jadi incaran para penulis di era kejayaannya. Sampai saat ini, sepertinya masih produktif juga.

Tentu masih banyak penerbit yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menerbitkan bukunya. Silakan cari info sendiri di Google ya... hehe.

Kedua, dengan pendanaan mandiri 

Mungkin inilah yang sering dikenal, khususnya untuk para guru dan dosen, sehingga seringkali bertanya, "Berapa biaya menerbitkan buku?"

Cara ini tentu lebih mudah. Penulis bisa bermitra dengan penerbit terpercaya yang bisa menggarapkan bukunya, sehingga bisa terbit dengan kualitas tak kalah jauh dari produk regulernya. Sepengamatan saya, beberapa penerbit yang saya sebutkan di atas pun menyediakan jasa ini. Indiva juga membuka lini Indiva Mitra Pustaka, khusus untuk memberikan kesempatan pada penulis untuk menerbitkan dengan dana mandiri. Info detilnya bisa cek di sini: Terbitin Bukumu, Cuma dengan Biaya Sejutaan.

Hati-hati dengan banyaknya tawaran menggiurkan untuk menerbitkan buku, yang kadang nyaris tanpa seleksi dan tanpa editing sama sekali. Apa gunanya punya buku tetapi isinya hancur? Mandiri atau reguler, jangan sampai membanting kualitas, ya?

Posting Komentar untuk "Kemana dan Bagaimana Menerbitkan Buku?"