Memahami Teori Hirarki Kebutuhan Maslow Untuk Peningkatan Kinerja Karyawan


 
Mengapa seorang karyawan bisa bersemangat hanya karena kenaikan gaji yang secara nilai sebenarnya kurang signifikan? Di sisi lain, ada pula yang ngotot untuk resign, meskipun dapat iming-iming bahwa gajinya bakal dinaikkan dua kali lipat jika tetap bertahan di kantornya? Tingkat kebutuhan masing-masing manusia tentu berbeda-beda, sesuai dengan kondisinya masing-masing. Ketika Sobat menjadi staf HRD atau SDM di sebuah perusahaan, hal ini perlu kita renungkan dengan lebih mendalam. 

Salah satu teori yang bisa menjelaskan fenomena tersebut adalah Teori  Hirarki Kebutuhan dari Maslow (Maslow's hierarchy of needs theory). Meskipun teori klasik ini banyak dikritisi, karena disebut-sebut terlalu “Amerika”, secara praktikal, teori ini masih sangat relevan untuk dipraktikkan, termasuk dalam manajemen SDM di sebuah organisasi.

Menurut teori ini secara psikologis, kebutuhan manusia bersifat hierarkis, yakni bahwa kebutuhan manusia berkembang secara bertahap, mulai dari kebutuhan paling mendasar hingga paling tinggi.  Awalnya, ketika dicetuskan oleh Abraham Maslow, seorang psikolog dari Amerika pada tahun 1943, ada lima hirarki kebutuhan yang membentu bentuk piramida dengan lima tingkat kebutuhan yang berbeda, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan social, kebutuhan atas penghargaan (esteem), dan kebutuhan aktualisasi diri. Saat ini, hirarki kebutuhan bukan lagi lima jenjang, tetapi 8. Di atas kebutuhan esteem, ada 4 jenjang kebutuhan yaitu, cognitive, aesthetic, self actualization, dan transcendence. Yuk, kita bahas!

Kebutuhan Fisiologis (Phsyological Needs)
Jangan pernah mengabaikan kebutuhan ini, jika ingin kinerja karyawan membaik. Apa yang bisa diharapkan dari karyawan yang untuk makan sehari-hari saja gajinya tidak cukup? Kebutuhan ini mencakup semua kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia untuk bertahan hidup. Makanan, pakaian, tempat tinggal, bisa tidur nyaman, air yang bersih, udara yang bersih, transportasi, termasuk juga kebutuhan biologis.

Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety Needs) 
Orang akan menyadari bahwa dia butuh akan jaminan keamaan saat kebutuhan pertama terlunasi. Keamanan bisa berupa hal-hal fisik, tetapi tak kalah penting adalah kenyamanan secara psikologis. Gaji besar mungkin menyenangkan, tetapi apa gunanya jika pekerjaannnya sangat berisiko mengalami kecelakaan? Karena itu, pastikan suasana kerja di kantor atau di lapangan terhindar dari bahasa serta ancaman serta tekanan-tekanan yang membuat karyawan merasa tidak aman serta tidak nyaman.

Kebutuhan Sosial (Love and Belongingness Needs)
Saya sering merasa terharu dengan kekompakan tim saya di Penerbit Indiva Media Kreasi. Rasa kepemilikan mereka terhadap perusahaan sungguh sangat kuat. Apakah karena gajinya sangat besar? Apakah karena kantornya megah dan fasilitas mewah? Tidak! Gaji di Indiva memang tidak pernah di bawah UMR, tetapi tentu belum mampu menggaji besar, yah cukuplah untuk hidup dengan standard normal, hehe. Kantor kami yang mungil juga bukan tempat mewah, meski memang teduh dan membikin betah. Lebih dari itu, yang membuat kompak, ternyata karena rasa persaudaraan yang sangat kuat.

Ya, setelah kebutuhan pertama dan kedua terpenuhi, setiap personal memang akan mencari hubungan sosial dan rasa kepemilikan dalam kelompok atau komunitas. Rasa cinta, persahabatan, perasaan terikat dengan sejawat, attachment dan berbagai interaksi sosial yang bermakna, merupakan hal yang sangat penting dalam peningkatan kinerja karyawan. 

Kebutuhan Untuk Dihargai (Esteem Needs)
Setelah seseorang merasa terpenuhi kebutuhan sosialnya sebagaimana tersebut di atas, seseorang akan membutuhkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Kebutuhan ini mencakup pencapaian pribadi, pengakuan terhadap skill, kepandaian atau keterampilan, status sosial, harga diri, dan sebagainya. Jadi, perusahaan yang baik tetap membutuhkan jenjang karir yang baik, juga model-model reward yang baik. Saat ini ada system tenaga kerja kontrak. SDM masuk ke sebuah perusahaan dan dikontrak setahun, setelah kontrak habis, ada perpanjangan kontrak, tak ada jenjang karir. Gaji disesuaikan aturan pengupahan. Ini mungkin dianggap efisien, tetapi saya tidak yakin, karyawan akan bekerja dengan baik tanpa adanya reward yang memadai.

Kebutuhan Kognitif (Cognitive Needs)
Kognisi dalam KBBI dimaknai sebagai: 1) kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri; 2) Sos proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang; 3 hasil pemerolehan pengetahuan Sedangkan kognitif adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kognisi. 

Meliputi apa saja kebutuhan kognitif (cognitive needs)? Di antaranya adalah kreativitas (creativity), pandangan jauh ke depan (foresight), rasa ingin tahu (curiosity), dan kebermaknaan atau memaknai sesuatu (meaning). Jangan abaikan sesi brainstorming, sesi diskusi dan berbagai hal yang bisa mengesplorasi pemikiran karyawan. Sebab, setelah seseorang merasa tercukupi kebutuhan esteem-nya, dia akan cenderung membutuhkan hal-hal yang “memanjakan” proses kognisinya.

Kebutuhan Estetis (Aesthetic Needs)
Estetik atau estetis adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan keindahan; menyangkut apresiasi keindahan (alam, seni, dan sastra). Hirarki ini akan tertapaki jika seseorang telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. Bagi karyawan-karyawan yang telah mencapai level ini, sangat mungkin jika kantor dibangun dengan estetik, memasang lukisan-lukisan indah, musik-musik klasik, dan berbagai hal yang bisa memuaskan level kebutuhan ini.

Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self Actualization Needs)
Pada piramida 5 kebutuhan, atau teori kebutuhan Maslow periode awal,  Self Actualization Needs merupakan tingkat tertinggi dalam piramida kebutuhan. Pada prinsipnya, aktualisasi diri adalah bagaimana seseorang bisa mencapai potensi pribadi secara penuh. Misalnya, seorang penulis bisa focus menulis dengan sebaik-baiknya. Seorang peneliti bisa membuat riset yang sedetail-detailnya. Seorang musisi bisa membuat mahakarya yang indah. Manusia pada tahap ini ingin mengembangkan bakat, kreativitas, dan mencari makna dalam hidup, sehingga tercapai masterpiece dari apa yang telah dilakukan selama ini. 

Kebutuhan Transendensi (Transcendence Needs)
Tak cukup sampai aktualisasi diri! Puncak hirarki kebutuhan adalah transendensi diri. Transenden menurut KBBI adalah sesuatu yang di “luar segala kesanggupan manusia; sesuatu yang luar biasa; sesuatu yang utama”. Maslow mengaitkan hal ini dengan kebutuhan spiritual, meski tidak secara eksplisit menyebutkan sebagai Tuhan, tampaknya dengan agak “malu-malu” Maslow mengakui, bahwa memang ada sesuatu yang lebih hebat dari manusia.

Memang secara umum, menurut teori Maslow ini, seseorang akan bergerak melalui tingkat-tingkat ini secara bertahap. Seorang manajer HRD harus bisa membedakan tingkat kebutuhan seseorang, sehingga bisa memberikan kebutuhan tersebut secara tepat. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan, bahwa ada individu yang bisa mencapai secara bersamaan, atau bahkan bisa mencapai level yang lebih tinggi, meskipun yang lebih rendah belum tercapai. Misal, ada karyawan yang telah mencapai kebutuhan self actualization, bahkan transendensi diri, meski dia hanya seorang satpam.

Posting Komentar untuk "Memahami Teori Hirarki Kebutuhan Maslow Untuk Peningkatan Kinerja Karyawan"