Dzikir, Bikin Kesejahteraan Psikologis Kita Naik?



Artikel pendek ini saya buka dengan sebuah pertanyaan: apakah benar, aktivitas dzikir bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological wellbeing) seseorang? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, izinkan saya bercerita sejenak.

Saya masih ingat nasihat seorang Ustadzah kepada saya, beberapa waktu yang lalu. "Saat gundah, cemas, resah, berdzikirlah. Berdzikirlah. Sebab berdzikir bisa menenangkan hati," begitu kata beliau. Pesan beliau saya pegang erat-erat hingga saat ini. Berdzikir memang telah terbukti membuat hati saya tenang. Saya berusaha sebisa mungkin untuk mempraktikkan wiridan, baik menggunakan tasbih ataupun jari-jemari sebagai penghitung. 

Meskipun begitu, saya merasa masih seadanya saja dalam wiridan. Begitu sholat selesai, saya sering tergesa-gesa meninggalkan tempat shalat dan berzikir hanya sekedarnya. Baru ketika saya sedang sangat sedih, saya bisa khusyuk. Namun, ketika rasa tenang sudah datang, kesedihan menghilang, saya akan kembali abai ... duh, duh. Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat untuk saya agar menyempatkan waktu untuk sesering mungkin berasyik-masyuk dalam dzikrullah untuk mengingat-Nya.

Jujur, saya sangat ingin mencontoh almarhum Eyang Puteri saya dahulu. Eyang puteri saya wafat sekitar 10 tahun silam. Sebelum wafat, beliau sangat rajin berdzikir. Setiap malam, beliau terbangun sekitar jam 2 malam, lalu shalat malam dilanjutnya berdzikir sampai waktu Subuh. Suara wiridannya sebenarnya tidak terlalu keras, namun karena malam sangat hening, pelan-pelan saya pun terbangun. Saat bocah, saya memang sering tidur di rumah Eyang. Setelah shalat Subuh berjamaah, Eyang tidak tidur lagi, tetapi akan berjalan-jalan, belanja di pasar dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Wajah eyang sangat bersih, cerah dan bersinar. Selama saya mengenal Eyang, beliau tak pernah sekalipun marah atau menggosip. Kalau sedang senggang, beliau akan mengambil tasbih, berzikir. Saat gundah, apalagi. Beliau akan semakin menggencarkan wiridannya. Subhanallah! Jadi kangen sama Eyang... semoga kelak kita bertemu kembali, Eyang ... di Surga-Nya.

Dzikir secara harfiah bermakna mengingat Allah yang dilakukan dengan menyebutkan kalimat-kalimat yang baik. Beberapa kalimat yang sering diwiridkan saat berzikir misalnya: 
1) Subhanallah (maha suci Allah)
2) Alhamdulillah (segala puji hanya untuk Allah)
3) Allahu akbar (Allah Maha besar)
4) Laa ilaha illallah (tiada ilah selain Allah)
5) Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (maha suci Allah, dan segala puji untuk Allah, dan tiada ilah (tuhan/sesembahan) selain Allah dan Allah Maha Besar)
6) Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir (tiada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia akan menghadapi banyak masalah, masalah tersebut seringkali merupakan stressor atau pemicu stres yang bisa berbahaya untuk kesehatan mental kita. Untuk itu, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk berzikir, agar bisa mendapatkan ketenangan. Allah SWT berfirman, “... hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Rad: 28).

Berdzikir, menurut Islam adalah cara agar hati kita tetap hidup, sebagaimana Sabda Rasulullah, Abu Musa Al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Persamaan seseorang yang mengingat Tuhannya dan seseorang yang tidak mengingatnya adalah seperti orang hidup dan mati." (H.R. Al-Bukhari).

Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wellbeing)

Perasaan sejahtera secara psikologis (psychological wellbeing atau PWB) didefinisikan oleh American Psychological Association sebagai kondisi atau keadaan seseorang yang merasa bahagia, memiliki kepuasan hidup, tingkat stres yang rendah, sehat secara fisik dan mental, serta kualitas hidup yang baik.

Teori Psychological well-being (PWB) telah banyak dikaji oleh para psikolog, di antaranya adalah Riff (2005). Menurutnya, PWB atau kesejahteraan psikologis adalah sebuah pencapaian yang utuh dari potensi psikologis seseorang, merupakan suatu kondisi individu yang dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri, memiliki tujuan hidup, mampu mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain, memiliki pribadi mandiri, mampu mengendalikan lingkungan, serta  memiliki pertumbuhan pribadi yang positif (Ryff & Keyes, 2005). 

Menurut mereka pula, ada beberapa aspek dari PWB, yaitu: 
1) penerimaan diri, yakni menerima kondisi diri apa adanya, termasuk yang negatif; 
2) terjalinnya hubungan-hubungan yang positif dengan orang lain;
3) adanya otonomi atau kemampuan untuk memutuskan sendiri; 
4) memiliki pemahaman yang baik terhadap lingkungan;
5) memiliki tujuan hidup;
6) memiliki pertumbuhan pribadi yang positif.

Hubungan Antara Dzikir dan PWB

Sangat menarik, karena dzikir ternyata bisa meningkatkan kondisi kesejahteraan psikologi seseorang. Hal tersebut telah terbukti secara ilmiah melalui beberapa riset tersebut di bawah ini.

Penelitian dari Hamzah & Subandi (2016), menunjukkan bahwa intesitas dzikir ternyata punya pengaruh signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan subyektif (subjective wellbeing) pada kelompok Sufi di Indonesia. 

Demikian juga eksperiman Martin dkk (2018) terhadap 2 kelompok eksperimen dan 2 kelompok kontrol, masing-masing terdiri dari 6 siswa usia 12-16, di mana kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan berupa intervensi relaksasi dzikir. Setelah mendapatkan intervensi, terdapat perbedaan sangat signifikan pada tingkat subjective wellbeing antara dua kelompok tersebut. Kesimpulannya, intervensi dzikir tersebut ternyata bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Penelitian Fijianto dkk (2019) pada 48 Napi di lembaga pemasyarakatan juga menunjukkan hasil bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kondisi kesejahteraan psikologis antara 24 anggota kelompok eksperimen yang mendapatkan terapi zikir dengan 24 anggota kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi. Jadi, sekali lagi terbukti bahwa intervensi terapi zikir ternyata bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis pada Napi laki-laki yang menjadi subyek dari eksperimen tersebut.

Mengapa zikir bisa meningkatkan kualitas hidup dan wellbeing seseorang? Ada beberapa analisis. Pertama, zikir membuat rileks dan akhirnya seseorang menjadi tenang. Seperti firman Allah di atas, dzikir membuat hati menjadi tenteram. Secara ilmiah, dzikir akan membuat endorfin dilepaskan, yang membuat tubuh menjadi relaks. Pada kondisi seperti itu, manusia akan lebih menerima dirinya apa adanya, lebih sabar dalam menghadapi perilaku buruk orang lain, serta lebih siap menghadapi tekanan-tekanan dari lingkungan sekitar.

Dzikir memang tidak menghilangkan masalah, namun membuat tubuh menjadi lebih tenang, siap, dan rileks menghadapi masalah. Bukankah cara pandang, sikap, dan ketenangan dalam menghadapi masalah, kadang justru merupakan solusi dari masalah itu sendiri?

Misal, suatu saat kita merasa sangat terhina oleh ejekan seorang kenalan, "Kamu ini sudah miskin, goblok lagi!" Kita akan sangat terhina, marah, dan menangis. Namun, ketika kemudian kita mencoba melakukan relaksasi, lalu kita merasa tenang, endorfin dilepaskan dan kemarahan itu hilang, maka kita justru kemudian akan tertawa, "Ya ampuun, dibilangin gitu aja kok nangis-nangis. Gak papa dibilang miskin dan goblok, yang penting setiap mau butuh sesuatu, ada uang di dompet. Dan yang paling penting, aku bahagia...."

Tak jarang, masalah itu ternyata bersumber dari pikiran kita sendiri, lho. Misalnya, si pengejek kita sudah pindah kota, sehingga kita tidak bertemu lagi dengannya. Tetapi, kita tetap merasa sedih, karena rasa tidak terima bahwa kita miskin dan bodoh. 

Berzikir akan membuat kita tersadar, bahwa sesungguhnya apa yang Allah berikan kepada kita sudah sangat berlimpah. Kita akan ridha terhadap ketentuanNya.

Jadi, yuk, berzikir! InsyaAllah kesejahteraan psikologis kita akan naik.

Referensi:

Fijianto, Dwi and Andriany, Megah and Hartati, Elis (2019) PENGARUH TERAPI DZIKIR ASMAUL HUSNA TERHADAP SPIRITUAL WELL-BEING WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN LAKI-LAKI. Master's thesis, Diponegoro University.

Hamzah, F & Subandi. (2016). Dzikir and Happiness: A Mental Health Study on An Indonesian Muslim Sufi Group. Journal of Spirituality in Mental Health. Volume 19, 2017 - Issue 1. Pages 80-94 | Published online: 21 Jun 2016. https://doi.org/10.1080/19349637.2016.1193404.

Kasturi, Taufik & Mulati, Yeni. (2023). Psikologi Kebahagiaan. Surakarta: Indiva Media Kreasi.

Martin, I., Nuryoto, S., & Urbayatun, S. (2018). RELAKSASI DZIKIR UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF REMAJA SANTRI. Psikis : Jurnal Psikologi Islami, 4(2), 112 -123. https://doi.org/https://doi.org/10.19109/psikis.v4i2.1965

Posting Komentar untuk "Dzikir, Bikin Kesejahteraan Psikologis Kita Naik?"