Ekspedisi Pendakian Lawu 3265 mdpl, Perjalanan Penuh Kenangan #4


Meski sudah ngecamp semalam, saya sebenarnya masih sangat lelah. Saya tidak bisa tidur dengan berkualitas semalam, saking dinginnya suhu di Pos 4 Cokrosuryo. Saat terbangun pagi-pagi, tubuh terasa kaku dan badan terasa kurang nyaman. Bahkan, sempat terasa mual, ingin muntah, mungkin masuk angin.

Summit, Lawu 3265 mdpl

Saya sempat tergoda untuk tidak ikut summit atau mendaki puncak. Saya sempat merasa agak trauma dengan tanjakan. Sementara, untuk summit, kita jelas akan melewati tanjakan, tanjakan dan tanjakan. Tak ada lagi jalan landai. Lagipula, lokasi di Cokrosuryo menurut saya sudah sangat bagus, seperti negeri di atas awan. Saya pikir, sekadar eksplorasi mencari foto-foto bagus di sekitar Pos 4 saja sudah cukup menyenangkan. Saya tak bisa membayangkan untuk berjalan menuju ke puncak yang tanjakannya sangat terjal. Terbayang lututnya terasa linu, napas kembali ngos-ngosan, dan detak jantung yang kembali meninggi.

“Mas, aku di sini aja ya, jagain tenda aja ya. Aku udah capek banget,” ujar saya kepada suami saya.
“Wah jangan gitu dong, puncak sudah sangat dekat, lho. Lagipula, namanya rombongan, satu orang tertinggal, yang lain tak boleh meninggalkan. Kita bersama, muncak, muncak bareng, enggak muncak, ya enggak bareng.”

Wah, kok gitu. Saya termenung. Kalau mereka tidak naik ke puncak gara-gara saya, kan kasihan. Namanya mendaki gunung, yang dituju kan puncaknya, bukan sekadar pos empat.

Shelter Pos Cokrosuryo (Pos 4)

Terus terang, ada sebuah proses mental yang cukup rumit saat itu, yang membuat saya semakin mantap membuat kesimpulan, bahwa dalam mendaki gunung, kekuatan fisik saja tidak cukup. Tetapi kondisi psikologis juga sangat berperan penting. Satu hal yang cukup utama adalah bagaimana keberanian kita untuk memutuskan. Decision making sebenarnya bukan suatu hal baru bagi saya. Hampir 20 tahun saya menjadi manajer di tempat kerja, sebelum itu, saya juga sering menjadi pengambil keputusan di organisasi-organisasi yang saya ikuti. Bahkan sejak SMP, Bapak dan Ibu saya sudah memberi saya kebebasan untuk memutuskan sendiri jalan hidupnya. Saya mau sekolah di mana, bebas, bahkan saya pun mendaftar sendiri. SMP, SMA, kuliah, semua saya urus sendiri. Saya tahu, Bapak dan Ibu percaya dengan saya, mereka percaya bahwa saya tidak akan pernah punya niat sedikit pun untuk sengaja mengecewakan orang lain.

Saya juga aslinya bukan orang yang lembek. Saya sangat jarang menangis. Saya suka tantangan, dan berani menempuh risiko atas jalan yang saya pilih. Selama 44 tahun hidup di dunia, jalan saya tak selalu lempang, bahkan cukup banyak kesulitan hidup yang telah saya tempuh.

Dan sekarang, setelah saya menempuh 80 persen perjalanan menuju puncak, haruskah saya menyerah? Dan tak hanya menyerah, saya bahkan mengecewakan tim, karena tidak bersama-sama menuju tujuan? Betapa egoisnya saya?

“Bagaimana?” tanya suami.
“Baik mas, aku ikut! Tapi, alon-alon ya, slowly!”
“Kalau selow, itu kan sudah sejak kemarin,” olok suami saya, membuat saya hanya bisa nyengir kecut.

Bismillah, setelah mengemas peralatan camping, merapikan sisa-sisa kami menginap, termasuk sampah-sampah yang tercipta, kami pun berangkat menuju puncak. Sekitar jam 06.00 WIB, kami meninggalkan pos Cokro Suryo untuk menuju puncak.

Taman Surga
Rumpun Edelweis

Keberanian saya memutuskan untuk ikut ke puncak, dihadiahi alam dengan suguhan pemandangan yang benar-benar membuat saya berdecak kagum. Sepanjang perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 (satu-satunya pos yang tidak ada shelter dan tulisan pos 5, sebenarnya hanya sebuah tempat datar sebelum naik puncak, tempat para pendaki beristirahat sejenak atau ngecamp), jalanan masih relatif landai, ada sedikit tanjakan, tapi tidak terjal. Kami melewati jalan setapak berbatu-batu, yang membelah taman raksasa yang dipenuhi aneka perdu dengan bunga-bunga indah bermekaran. Edelweis merupakan tanaman perdu yang mendominasi. Warna edelweis mestinya putih, tetapi saat itu saya melihat edelweis yang ada berwarna keemasan, kuning, atau cokelat muda, bahkan sebagian ada yang mulai mengering. Barangkali, karena efek musim kemarau panjang. Eh, saya juga menemukan edelweis ungu yang sangat jarang, saat berada di puncak. 

Suasana jalur pos 4 menuju puncak

Sebagai pendaki yang baik, kami memegang teguh etika untuk tidak memetik edelweis, meski tangan ini sudah sangat gatal untuk mengoleksi barang beberapa kuntum. Biarlah edelweis itu tetap di batangnya, cukup kita “culik” saya melalui kamera-kamera kita.

Selain edelweis, di puncak lawu juga tumbuh banyak pohon Cantigi (Vaccinium varingifolium (Blume) Miq.), pohon kerdil yang cukup mendominasi dengan daun-daun pucuknya yang berwarna kemerahan, serta akarnya yang kuat dan mampu memperkuat tanah di daerah puncak. Karena memiliki akar, batang, cabang dan ranting yang kuat, meskipun kerdil, pohon Cantigi mencegah longsor, dan sering dipakai sebagai pegangan saat mendaki. Pohon kerdil juga menjadi suplier oksigen yang sangat berguna untuk makhluk hidup di sana.

Edelweis

Kalau dari literatur, daun Cantigi bisa dimakan, rasanya sepat-sepat asam, kaya antioksidan. Di area Gunung Tangkuban Perahu juga banyak didapatkan Pohon Cantigi, atau di sana lebih lazim disebut sebagai Pohon Manarasa. Konon, Dayang Sumbi menjadi awet muda, sehingga membuat anaknya, Sangkuriang jatuh cinta, karena Dayang Sumbi rajin makan daun manarasa, mungkin dilalap dengan sambal, hehe. Tapi, pada pendakian ini, kami tidak mencoba memakan daun Cantigi, khawatir merusak flora khas itu.

Pohon Cantigi

Selain flora yang indah, kami juga disapa oleh fauna khas Lawu, yakni burung jalak Lawu. Burung jalak ini sering menemani para pendaki Lawu, dan bahkan sering kami dapati seekor jalak berjalan meloncat-loncat di depan kami, seolah-olah menjadi penunjuk jalan. Di kanan kiri, pegunungan dengan bentuknya yang indah memanjakan mata. Sedang di atas, langit tampak sangat biru. Belum pernah saya melihat langit sebiru itu.
Suasana jalur menuju puncak

Dari pos 5 menuju puncak, jalan terus menanjak, tetapi ternyata tidak seekstrim yang saya kira. Bahkan, saya tak merasa terlalu kepayahan. Mungkin karena suguhan pemandangan alam yang begitu luar biasa. Saya mengambil napas panjang saat mendaki, lalu melepaskan pelan-pelan. Begitu terus. Sampai saya merasakan sensasi endorfin di kepala saya, yang membuat saya merasa diberikan kekuatan tambahan.
Daaan … jam 08.00, akhirnya sampailah kami di puncak!

Woi, sampai puncak juga! Ya Allah. Dada ini berdegup, aliran darah terasa penuh desiran. Tak ada diksi yang mampu melukiskan kebahagiaan ini. Sensasi endorfin di kepala membuat sepasang mata saya terasa lebih mampu menatap tajam dan dunia tampak lebih terang.

Di puncak Hargo Dumilah

Puncak Lawu, Hargo Dumilah, 3265 dpl! Ya Allah, saya benar-benar terharu. Mata saya berkaca-kaca menyaksikan tugu semen dengan marmer yang menjadi tanda bahwa kami telah sampai puncak. Tugu itu, dari tulisan yang saya baca, dibangun dengan sponsor Kiky, sebuah percetakan di kota Solo. Ada puluhan orang sedang berada di sana. Kami antre untuk bisa berfoto di tugu tersebut.

Sayang, karena kemarau panjang, tanah datar dengan luas sekitar seperempat atau setengah lapangan bola itu dipenuhi debu yang mengepul karena injakan sepatu tracking para pendaki. Kepulan debu itu sebenarnya sudah kami rasakan sejak perjalanan panjang kemarin, sedikit berkurang di pos 4, dan kembali terasa di puncak, membuat kami batuk-batuk dan hidung meler.  Tak lama kami berada di puncak. Setelah memuaskan hasrat kami berfoto-foto dan menikmati “kemenangan”, kami pun turun. Tetapi, kami berinisiatif untuk sedikit memutar dari jalur, untuk menuju sebuah warung legendaris yang juga merupakan destinasi favorit para pendaki Lawu. 

Di mana lagi kalau bukan Warung Mbok Yem?!

Warung Mbok Yem

Warung Mbok Yem tampak dari kejauhan

Keberadaan Warung Mbok Yem, yang berada di ketinggian 3.150 mdpl, lokasinya sangat dekat dengan puncak, adalah sebuah keajaiban. Bisa jadi, ini adalah warung paling tinggi se-Indonesia. Mbok Yem adalah panggilan dari perempuan berusia sekitar 65 tahun bermana Wakiyem. Kabarnya, beliau sudah mendirikan warung ini sejak tahun 1980-an. Keberadaan warung ini tentu sangat bermanfaat untuk para pendaki. Bisa dikatakan, naik Lawu tidak akan lengkap tanpa mencicipi kuliner di sini. Meski warungnya sangat sederhana, warung tersebut sangat terkenal dan legendaris. Saya sendiri tak habis pikir, mau-maunya beliau berjualan di tempat yang suhunya mencapai lima derajat celcius, dan berada di tempat yang sangat tinggi seperti ini?

Warung Mbok Yem

Saya mendapat cerita dari sesama pendaki, bahwa Mbok Yem hanya turun gunung saat lebaran. Namun karena sekarang beliau sudah sepuh, saat turun beliau ditandu.

Untuk menuju ke Warung Mbok Yem, kami memutar sedikit dari jalur pendakian Cemoro Kandang, sehingga tentunya menambah rute sekitar 2 km pulang-pergi. Dari kejauhan, Warung Mbok Yem terlihat dari atap-atapnya. Ternyata, tidak hanya satu warung, ada beberapa warung yang lain di sana. Tetapi, yang paling terkenal, tentunya Warung Mbok Yem. Saat kami sampai di sana, Warung Mbok Yem sudah penuh, sehingga kami pun bergeser ke sampingnya, saya lupa apa nama warungnya.

Di warung itu, kami memasuki sebuah ruangan yang dipagar dengan kain terpal berwarna oranye. Hidangan yang disediakan antara lain soto, pecel, aneka gorengan, teh manis, dan sebagainya. Saya memesan nasi pecel dan teh hangat. Rasanya, woooow, mantap sangat! Mungkin juga efek kelaparan juga sih. Kami sadari bahwa sejak kemarin, memang kami belum makan nasi. Terakhir makan nasi adalah saat sarapan, Sabtu Pagi.

Kata Mas Ujang, saat mendaki gunung, memang sebaiknya malah jangan banyak makan makanan besar, karena justru akan membuat tubuh terasa berat.

Kaki Terkilir, Kuku Patah, dan Perjalanan Penuh Emosi
Setelah mendapat energi dari puncak dan warung Mbok Yem, saya merasa lebih kuat dan bugar. Tetapi, barangkali ini adalah sebuah kesalahan terbesar, karena akhirnya saya merasa sok kuat dan kurang hati-hati. Kerendahan hati, tetap tunduk dan tawadhu, seharusnya dimiliki oleh siapapun, termasuk pendaki gunung. Itu yang agak luput dari saya.

Perjalanan turun menuju pos 4 terasa begitu cepat dan mudah, membuat saya merasa over confident. Tiba-tiba, terjadilah sedikit kecelakaan. Setelah turun beberapa saat dari pos 4 menuju pos 3, kaki kiri saya cedera, sepertinya terkilir. Otot paha kiri hingga lutut bagian luar terasa sangat sakit jika digerakkan, terlebih ketika kaki diayun. Maka, sepanjang perjalanan turun, saya sangat menghindari mengayun kaki kiri. Kaki kanan menjadi tumpuan, sementara untuk memperkuat kaki kiri, saya menggunakan tongkat trekking pole, dan kadang-kadang berpegangan batang pohon yang ada di kiri jalan. Ini tentu sangat menyulitkan, terutama saat jalan menurun. Jika saja kaki terpaksa terayun, saya terpaksa harus menahan sakit yang teramat sangat. Perjalanan dari pos 4 menuju pos 3 didominasi jalur landai, sehingga saya masih bisa berjalan dengan normal, meski tetap bertumpu kaki kanan. Suasana “horor” terjadi di jalur pos 3 menuju base camp yang banyak sekali jalur menurun dan sangat curam. Dalam kondisi semacam ini, saya harus terus menguatkan diri untuk tidak putus asa.

Sepanjang jalan, saya terus berdoa, “Allahumma yassir walaa tuassir.” Kadang-kadang pengin nangis juga, mengingat jalur masih sangat panjang. Tapi, sekali lagi, harus menguatkan diri. Semangat, semangat!

Solidaritas yang Indah
Karena langkah saya tidak bisa cepat, korban kedua adalah jempol kaki saya yang harus menekan ujung sepatu tracking saya. Rasanya luar biasa sakit. Akhirnya, di pos 3 saya tidak tahan. Saya mencopot sepatu, dan meminjam sandal. Lumayan sangat mengurangi rasa sakit, meski membuat kaki saya semakin tak terlindungi, dan beberapa kali harus berbenturan dengan akar pohon. Beberapa kali, karena salah mengambil tumpuan kaki, saya sempat jatuh. Paduan sakit di lutut kiri dan jempol kaki terasa begitu wooow. Rasanya sungguh mantaaap!!! Hahaha. Setelah saya cek, ternyata dua kuku jempol kaki, kanan dan kiri, patah, sampai sekarang kuku masih berwarna hitam akibat memar di bagian sana. 

Sayangnya, sandal yang saya pakai tidak cukup kuat. Di pos 2, tali sandal itu putus. Melihat sandal saya putus, Mas Ujang ternyata merasa kasihan, dan meminjamkan sandalnya. Memang Mas Ujang dan Mas Prie itu menggunakan sandal untuk mendaki, katanya lebih nyaman begitu.
“Trus, Mas Ujang nanti pakai apa?” saya meringis, antara tak tega dan kasihan.
“Nyeker nggak papa,” katanya sambil tertawa. “Sudah biasa. Pakai saja!”

Dengan sangat terpaksa, saya pun menerima pinjaman sandal Mas Ujang. Meski agak kebesaran, sangat membantu perjalanan saya. Tertatih-tatih saya menuruni jalur pendakian Cemoro Kandang. Saat itulah, saya merasakan dukungan sangat besar dari tim saya. Mereka terus mengawal, mencarikan trek yang mudah dilewati, dan memberikan semangat. Bahkan, dari pos 1 hingga basecamp, suami sempat memapah saya, sementara teman yang lain memberikan pencahayaan saat hari beranjak malam, serta yang lain mencarikan trek yang mudah.

Lawu, I Always Love You
Jam 18.30, akhirnya saya menghempas napas lega ketika terlihat cahaya lampu dari arah Basecamp Cemoro Kandang. Kami telah sampai, setelah melakukan perjalanan lebih dari 36 jam! Sebenarnya, kalau normal, sekitar jam 16.00 seharusnya kami mestinya sudah sampai di Basecamp. Cedera itu membuat kami berjalan sangat lambat, sehingga kami terlambat dua jam lebih dari estimasi.
Kami shalat di masjid basecamp. Saat itu kaki saya tak bisa ditekuk. Kaki kiri benar-benar tak bisa digerakkan, dan kaki kanan sudah mulai over kelelahan karena telah menjadi tumpuan perjalanan sekitar 7 kilometer. 

Meski perjalanan ini penuh emosi, saya tetap merasa bersyukur, karena telah berhasil menaklukkan banyak hal pada diri saya, terutama adalah perasaan takut dan tak percaya diri. Namun, saya tak mau jumawa. Saya hanyalah seorang pendaki yang sudah beranjak tua dan hanya bermodal semangat. 

Apakah saya kapok mendaki? Tidak! Lawu, I always love you. Lawu bukan lagi sebuah destinasi wisata, Lawu adalah guru saya dalam kehidupan.

Posting Komentar untuk "Ekspedisi Pendakian Lawu 3265 mdpl, Perjalanan Penuh Kenangan #4"