Sejarah Kemerdekaan Indonesia dengan Palestina, Apa Persamaan dan Perbedaannya?



Saat terjadi serangan Hamas ke Israel, media sosial, khususnya Twitter, menjadi sangat bergemuruh. Sebagian masyarakat, yang tidak paham sejarah Palestina, ramai-ramai menuduh Hamas sebagai biang kerok penyebab perang di Palestina. Pengeboman yang terjadi di Gaza pun dianggap sebagai "hak bela diri" dari Israel, karena terlebih dahulu diserang. Pertanyaannya, benarkah Hamas penyebab perang, dan benarkah pengeboman Israel adalah hak membela diri yang dibenarkan secara hukum internasional?

Jika penyerangan Hamas pada 7 Oktober 2023 merupakan asal muasal dari perang, tentu hal itu bisa dibenarkan. Akan tetapi, menurut Antonio Guterres, dan juga kita ketahui bersama, sejarah Palestina tidak dimulai dari 7 Oktober 2023. Penyerangan Hamas tidak berdiri "di ruang kosong", tetapi merupakan sebuah respon atas pendudukan yang telah terjadi 7 dekade.

Beberapa akun di media sosial mencoba menganalogikan serangan Hamas dengan peristiwa yang terjadi di Indonesia pada perang kemerdekaan yang pecah pada 1945 hingga 1949. Pada saat itu, seringkali pejuang kita melakukan serangan, misal Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh pasukan TNI yang dikomandani oleh Letkol Soeharto. Banyak juga yang menganalogikan dengan Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Syekh Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut membuat para pejuang bersemangat untuk melawan Belanda, dan pecahlah pertempuran yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945. 

Menurut Ricklefs (2001), pada pertempuran 10 November 1945, sebannyak 6.300 atau ada yang menyebutkan 15.000 rakyat Indonesia gugur, 200.000 warga Surabaya mengungsi, dan kota pun hancur. Sementara, dari pihak Inggris, hanya 295 yang tewas.

Memang ini analogi yang paling mudah dicerna untuk menggambarkan realita yg terjadi di Palestina saat ini. Namun begitu, selain ada persamaan, tentu ada perbedaan yang cukup mendasar antara sejarah kemerdekaan RI dengan Palestina.

Persamaan
Persamaan antara peristiwa di Palestina dengan di Indonesia tahun 1945-an di antaranya:
  • Sama-sama mengusir bangsa asing yang menduduki tanah airnya. Pejuang Indonesia mengusir Belanda yang saat itu mendompleng Sekutu yang baru menang perang melawan blok poros/as (Jerman, Jepang, Italia). Belanda ingin kembali menjajah Indonesia yang sempat jatuh ke tangan Jepang. Sementara, pejuang Palestina saat ini ingin mengusir Zionis yang telah menduduki tanah Palestina sejak 1948.
  • Sama-sama telah mendeklarasikan kemerdekaan dan belum diakui oleh barat. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, dan saat itu baru diakui segelintir negara, termasuk Mesir dan Perwakilan Rakyat Palestina. Sementara, Palestina mendeklarasikan kemerdekaan pada 15 November 1988, dan sampai saat ini juga belum semua negara mengakui, termasuk negara-negara barat.
  • Pejuang kemerdekaannya sama-sama dituduh teroris, hanya saja istilahnya berbeda. Dahulu, tentara sekutu dan Belanda menyebut pejuang Indonesia sebagai ekstrimis, sementara, pemerintah barat sekarang menyebut gerakan perlawanan Palestina, termasuk Hamas, sebagai teroris.
Perbedaannya
Lalu, apa perbedanaannya? Ada 3 hal yang paling penting: yaitu status penjajah Zionis yang tidak memiliki negara dan kemudian menduduki tanah milik orang; panjangnya konflik yang terjadi dari tahun 1948 hingga sekarang; dan campur tangan bangsa asing yang juga masih terjadi dari awal masuknya Zionis ke Palestina hingga saat ini.

Di Indonesia, setelah Sekutu menang perang dunia melawan Jepang, Sekutu bermaksud memberikan Indonesia kepada Belanda, namun ternyata Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, dan rakyat Indonesia menolak dijajah Belanda, dan memilih melawan, menentang dan angkat senjata. Sebelum itu, kita tahu, Belanda juga telah menjajah Indonesia, tetapi berhasil dikalahkan dari Jepang. 

Di Palestina, sejarahnya agak berbeda. Berikut ini adalah kronologi yang terjadi di Palestina, yang saya ambil sejak Perang Dunia I. Saya sebut begitu, karena jika ditarik sebelum itu, ceritanya menjadi sangat panjang. Apalagi jika Israel kemudian mengklaim ayat dalam bibel: tanah yang dijanjikan, sementara Umat Islam juga membalas dengan mengambil dari ayat dari Al-Quran dan Al-Hadist, bahwa pewaris Al-Aqsha yang sejati adalah mereka, sebab, Al-Quran menyebut bahwa Bani Israil telah menyimpang, sementara dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda,

"Ketika Sulaiman bin Dawud selesai membangun Baitul Maqdis (dalam riwayat lain disebutkan: membangun masjid Baitul Maqdis), maka ia meminta tiga perkara kepada Allah SWT, yaitu; (1) keputusan hukum yang sejalan dengan keputusan Allah, (2) kerajaan yang tidak selayaknya dimiliki seseorang sesudahnya, dan (3) agar masjid ini tidak didatangi seseorang yang tidak menginginkan selain sholat di dalamnya, melainkan ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya. Kedua perkara yang pertama telah diberikan kepada Sulaiman, dan aku berharap ia juga diberikan yang ketiga." (HR Ahmad, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Saling klaim antar kitab suci akan membuat konflik ini kembali pada Perang Salib sebagaimana terjadi di era Sholahuddin Al-Ayyubi. Tentu bukan hal yang salah, justru itu memang soal keyakinan yang harus kita pegang kuat-kuat. Akan tetapi, masalah Palestina saat ini bukan lagi sekadar masalah agama. Lebih dari itu. Palestina adalah masalah kemanusiaan yang telah disadari oleh semua agama: Islam, Kristen, Hindu, Budha, bahkan juga Yahudi itu sendiri, karena saat ini, banyak masyarakat Yahudi yang menolak Israel sebagai representasi agama mereka.

Jadi, mari kita mulai dari Perang Dunia I. Okay, lanjut!

#1. PD I
Pada PD I, Ottoman ikut berperang di kubu Jerman. Jadi, Ottoman berhadapan dengan Sekutu di dua front, yakni front PD I, dan juga berhadapan dengan gerakan nasionalisme Arab yang ingin merdeka dari Ottoman, dan kemudian dibantu Inggris.

#2. Deklarasi Balfour
PD I dimenangkan oleh blok Sekutu. Setelah menang perang melawan Ottoman, Inggris diberi mandat atas Palestina (istilah halus dari penjajahan). Saat itu, Inggris membuka kran lebar-lebar untuk masuknya Yahudi Zionis, melalui sebuah surat dari Sir Arthur Balfour kepada tokoh Zionis Inggris  Deklarasi Balfour adalah sebuah pernyataan penting yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Britania Raya saat itu, yaitu Sir Arthur Balfour, kepada tokoh Zionisme di Inggris, yakni Baron Lionel Walter Rothschild pada tanggal 2 November 1917. Baron de Rothschild adalah seorang bankir, politikus yang berasal dari Dinasti Rothschild yang pada abad ke-18 sangat terkenal sebagai pemilik bank-bank ternama dan banyak memberikan pelayanan keuangan di Eropa. 

Isi utama Deklarasi Balfour adalah sebagai berikut: "His Majesty's government view with favor the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavors to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country."

Berdasarkan deklarasi tersebut, berarti Inggris telah resmi mendukung pendirian sebuah "national home" atau rumah nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.

#3. Imigrasi Bangsa Yahudi Pro Zionis
Setelah dibukan kran imigrasi, bangsa Yahudi Zionis pun mulai berdatangan ke Palestina. Kedatangan bangsa Yahudi semakin meningkat setelah melalui Perjanjian Haavara yang ditandatangani pada 25 Agustus 1933, Jerman Nazi mengusir bangsa Yahudi untuk keluar dari Jerman. Perjanjian ini menjadi faktor utama yang memungkinkan terjadinya imigrasi sekitar 60.000 Yahudi Jerman ke Palestina pada 1933–1939. Gelombang imigrasi semakin tinggi setelah adanya holocaust di Jerman, yang menyebabkan pada tahun 1947, jumlah penduduk Yahudi di Palestina mencapai 33%.

#4. Perlawanan Rakyat Palestina
Kedatangan bangsa Yahudi di masa penjajahan Inggris, menimbulkan perlawanan di kalangan Masyarakat Palestina yang sebenarnya sudah menginginkan untuk merdeka. Rakyat Palestina melawan. Masyarakat Arab bahkan mendirikan Asosiasi Arab baik Muslim maupun Kristen untuk beroposisi dengan Inggris dan Yahudi. Pada tahun 1919, mereka menyelenggarakan Kongres Arab Palestina pertama di Yerusalem, yang isinya menyatakan perlawanan terhadap Deklarasi Balfour. Beberapa tokoh yang memimpin perlawanan rakyat Palestina baik terhadap Inggris maupun terhadap Zionis di antaranya adalah Amin al-Husseini, yang merupakan tokoh Nasionalisme Arab. 

Zionis sendiri juga membentuk Komisi Zionis pada 1918 yang intinya berusaha mewujudkan negara Zionis di Palestina. Zionis memiliki sayap paramiliter yang disebut dengan Haganah. Lewat Haganah itulah mereka melawan pasukan paramiliter dari masyarakat Palestina. Tahun 1944, Zionis juga sempat memberontak kepada Pemerintah Inggris, sehingga Winston Churchill pun akhirnya menentang tujuan Zionis. 

#5. Rencana PBB 1947
PBB berdiri pada 24 Oktober 1945. Presiden AS, F.D. Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, merupakan tokoh utama di balik pembentukan PBB. Karena itulah maka Inggris kemudian memutuskan untuk memberikan mandat Palestina kepada PBB.

Pada tahun 1947, PBB melakukan tawaran solusi atas Palestina dengan membagi Palestina menjadi dua bagian. Namun lucunya, bagian untuk Zionis adalah 55%, dan sebagian besar merupakan tanah yang subur. Meskipun populasi Yahudi telah membengkak menjadi 33 persen di Palestina saat itu, mereka hanya memiliki 6-7 persen tanah di Palestina yang merupakan pembelian mereka ke warga asli. Keputusan PBB itu ditentang oleh rakyat Palestina, juga ditentang Komisi Zionis. Lihatlah peta kedua, yakni peta UN Plan 1947.



#6. Inggris Mundur Dari Palestina
Tanggal 14 Mei 1948, Inggris resmi mundur dari Palestina dan menyerahkan mandat Palestina kepada PBB. 

#7. Proklamasi Negara Israel dan Nakba
Tahu-tahu, baru sehari setelah Inggris menyerahkan mandat Palestina ke PBB, pada 15 Mei 1948, secepat kilat  Zionis melakukan deklarasi berdirinya negara Israel. Zionis dengan kekuatan militernya mengusir 700.000 orang Arab Palestina dari negerinya sendiri, dan resmi menduduki Palestina sejak 1948. Itulah yang disebut sebagai Nakba. Jadi, 15 Mei 1948 itu ada 2 peringatan: hari jadi Israel, dan hari bencana (Nakba) Palestina. Namun, teror Zionis kepada warga Arab Palestina sendiri sudah terjadi jauh sebelum Nakba. Hanya saja, puncaknya adalah saat itu.

Sejak Nakba hingga sekarang, pengungsi Palestina tersebar di seluruh dunia, khususnya Timur Tengah. Mereka telah berkembang biak menjadi sekitar enam juta pengungsi. Sebagian kecil dari mereka menyebar ke seluruh dunia, berdiaspora, dan mendapatkan kewarganegaraan di negara tempat tinggalnya. Namun, masih banyak pula yang tidak memiliki kewarganegaraan. Para pengungsi tersebut kini menetap di kamp-kamp pengungsian, baik di luar negeri seperti Yordania, Lebanon, Mesir, maupun di kamp-kamp di Gaza, misal kamp Jabaliya yang barusan kemarin dibom. 

#8. Perang Arab
Setelah secara sepihak Zionis memproklamasikan diri, Inggris hengkang begitu saja dari Palestina. Negara-negara Arab tentu sangat marah dengan sikap Zionis. Mereka pun melancarkan peperangan. Perang Arab Israel terjadi beberapa kali, yakni 1948-1949 dan perang 6 hari pada 1967. Namun, dengan bantuan Amerika Serikat, Israel berhasil mengalahkan negara-negara Arab, dan bahkan setiap perang, wilayah Israel semakin bertambah, hingga saat ini, Israel telah menduduki sekitar 90% wilayah Palestina.

#9. PLO dan Kemerdekaan Palestina
Palestinian Liberation Organization (PLO) resmi berdiri pada 28 Mei 1964, yang menghimpun semua gerakan perlawanan asli rakyat Palestina. PLO ini kemudian dianggap sebagai representasi sah dari Bangsa Palestina, keberadaannya diakui oleh sekitar 100 negara dan mendapatkan status sebagai peninjau oleh PBB. Pada tanggal 15 November 1988, PLO pernah memproklamasikan kemerdekaan Palestina di Aljazair. Namun, kemerdekaan tersebut belum mendapatkan pengakuan dari masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Teks kemerdekaan tersebut ditulis oleh penyair Mahmoud Darwish, dan dibacakan oleh Yasser Arafat yang kemudian menjadi presiden Palestina. Wilayah dari Palestina merujuk pada rencana pembagian wilayah oleh PBB pada tahun 1947 (lihat peta di atas). Hal ini sebenarnya sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 242 yang meminta Israel segera menarik mundur pasukannya dari wilayah yang didudukinya setelah perang Arab 1967. Namun, tentu saja, seperti yang kita tahu, Israel menolak resolusi tersebut.

#10. Hamas
Hamas adalah kependekan dari Ḥarakat al-Muqāwamah al-ʾIslāmiyyah, yang artinya adalah "Gerakan Perlawanan Islam. Hamas didirikan oleh Syekh Ahmad Yassin pada 14 Desember 1987 dengan tujuan membebaskan Palestina dari pendudukan Israel. Hamas merupakan gerakan perlawanan yang memiliki sayap militer, yaitu Brigade Izzudin Al Qassam. Hamas terus melatih sayap militernya dan melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel.

#Perjanjian Oslo dan Otoritas Palestina
Perjanjian Oslo merupakan salah satu hal penting dalam sejarah Palestina. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian antara PLO yang diwakili Mahmud Abbas dengan Israel yang diwakili Shimon Peres, dan difasilitasi oleh Amerika Serikat dan Rusia. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 13 September 1993. Poin penting dari perjanjian tersebut adalah bahwa dibentuk Otoritas Nasional Palestina (as-Sulṭah al-Waṭanīyah al-Filasṭīnīyah) yang melakukan pemerintahan mandiri namun secara terbatas meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza. Meski telah terbentuk otoritas palestina, kontrol Israel termasuk soal keamanan masih dominan. Jadi, sebenarnya sampai sekarang, Palestina belum merdeka, karena segala sesuatu masih dalam kontrol Israel.

Jadi, begitulah kronologi sejarah Palestina. Ada persamaan, tetapi perbedaannya sangat jelas. Yang paling mencolok, saat ini Indonesia sudah merdeka, sementara Palestina masih menjadi negara yang terjajah.

Posting Komentar untuk "Sejarah Kemerdekaan Indonesia dengan Palestina, Apa Persamaan dan Perbedaannya?"