Lima Cara Agar Rumah Penuh Pulsa Bahagia



Seorang sahabat pernah berkata kepada saya, “Apalah arti kerja keras kita, pengorbanan kita, mati-matian membanting tulang dalam mengejar target, gaji tinggi, karir melejit, jika sepulang dari itu semua, kita hanya bertemu dengan bangunan yang kosong dan sunyi?” 

Perkataan sahabat saya itu membuat saya merenung panjang, dan sejenak menghela napas panjang. Napas kesyukuran. Ya, meski tak memiliki rumah megah bak istana, tetapi saya masih memiliki sosok-sosok yang menjadikan rumah tersebut penuh pulsa bahagia. Jeritan dan tawa innocent si kecil, pandangan penuh kasih dari suami, bahkan keusilan  sang kakak saat menggoda adik-adiknya, selalu membuat semua letih mendadak luruh. Betul sekali sebutan ‘baiti jannati, rumahku surgaku’, sebab, rumah yang mampu menjadi tempat mencurahkan segala gundah dan menyemai bahagia, memang terasa bak surga dunia.

Tetapi, tak semua rumah berfungsi sebagai rumah. Tak semua house bisa menjadi home. Menurut learnersdictionary.com: The word house is used to talk about a building made for people or a family to live in. The word home is used to talk about the family living in a house, or the familiar space inside a person's house, or the place someone was born or lived as a child.  Ya, house hanyalah sebuah bangunan di mana seseorang atau keluarga tinggal. Sedang home meliputi bangunan dan seluruh pernak-pernik kehidupan yang berada di dalam bangunan tersebut. 

Baiti jannati, adalah ketika rumah kita telah menjadi sebuah home atau menjadi al maskanah, alias tempat pelepas duka dan pemberi ketenangan dan juga al marham, tempat terjalinnya kasih sayang dan silaturahim antaranggota keluarga, kerabat dan tetangga. Sebuah home, al-maskanah, atau al-marham, tak harus sebuah bangunan megah dengan pernak-pernik mewah. Namun yang penting mampu menjadikan jiwa kita merasa tenteram, damai dan penuh pulsa bahagia. 

Tentu tak mudah mewujudkan itu semua. Namun, lima cara ini, mungkin bisa kita coba.

Pertama, bangunlah sebuah home dengan sepenuh perencanaan. Apa yang akan terjadi jika sesuatu dilakukan tanpa rencana? Tak akan ada antisipasi untuk problematika yang mungkin muncul. Tak ada program yang dijalankan, dan semua akan mengalir begitu saja tanpa arah dan tujuan. Tak ada alokasi anggaran yang difokuskan untuk hal-hal tertentu. Tak ada tujuan dan target. Tak ada gairah. Dan akhirnya, kita tak akan mampu menggapai sesuatu yang kita dambakan.

Kedua, fokuslah pada hal-hal yang besar, dengan tidak meremehkan hal-hal kecil. Manusia bukan makhluk dengan energi tanpa batas. Maka, energi harus dikelola dengan baik, salah satunya dengan cara berfokus pada hal-hal yang besar. Dalam rumah tangga, ruang maaf harus dibuka lebar, menjadi semacam vacuum cleaner, sehingga seandainya kesalahan-kesalahan kecil itu akan tersedot masuk ke dalamnya.

Ketiga, bekerjasamalah dengan partner. Ketika beban berat dipikul sendirian, tentu tubuh akan sempoyongan. Maka, lakukan pembagian tugas. Ketika suami berat mencari nafkah di luar, jangan ragu untuk meminta tolong istri membantu mencari tambahan, dan istri pun sebaiknya peka dengan kondisi ini, meski dalam agama, lelakilah yang sebenarnya mendapatkan kewajiban untuk mencari nafkah. Di sisi lain, suami juga jangan egois dengan membiarkan semua urusan rumah tangga dikerjakan oleh istri, tanpa berinisiatif sedikit pun untuk meringankannya. Bahkan, anak-anak pun sudah bisa diajak bekerjasama sesuai kemampuannya. Misal, meletakkan buku di raknya, memasukkan baju kotor ke mesin cuci, membuang sampah pada tempatnya, sudah bisa dilakukan anak usia PAUD. Meski ringan, hal tersebut akan sangat membantu terciptanya kerapihan.

Keempat, jika ada perbedaan cara pandang, belajarlah untuk menyamakan persepsi. Meskipun sama-sama melihat sebuah objek yang tidak berbeda, dua orang bisa memiliki pandangan yang berbeda. Misal, sebuah pohon kerdil. Yang satu akan bilang, ini pohon unik banget, bentuknya cantik, sangat layak dikoleksi. Sementara yang satu pun berkata, kasihan sekali pohon ini, hidupnya dibatasi, harusnya bisa tumbuh menjadi raksasa, ini malah dibonsai. Itulah persepsi. Dalam berkeluarga, memiliki perbedaan persepsi itu biasa. Maka, saat ada pandangan yang berbeda, yang perlu kita "copot" mungkin kacamata kita. Lalu kita amati, jernihkah lensanya? Atau jangan-jangan, warnanya berbeda, satu lensa biru, satu lensa hijau. 

Kelima, belajar menerima apa adanya kondisi anggota keluarga. Kita, pasangan kita, anak-anak, semua memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada karakter positif, ada karakter negatif. Betapa lelahnya kita jika selalu menuntut orang untuk begini dan begitu, sementara kita sendiri juga kesulitan untuk melakukan hal yang ini dan itu. Mari belajar menerima kondisi anggota keluarga apa adanya, berawal dari bagaimana kita menerima diri kita apa adanya (self acceptance). Tentu penerimaan diri dan orang lain itu tidak lantas tidak dibarengi dengan bagaimana kita berusaha untuk menjadi lebih baik. Sebab, kunci dari kebahagiaan adalah bagaimana kita berusaha untuk seminimal mungkin melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perilaku yang diinginkan oleh kita maupun orang lain dan lingkungan, bukan?

Itulah 5 cara agar rumah kita dipenuhi pulsa bahagia. Semoga terinspirasi.

Posting Komentar untuk "Lima Cara Agar Rumah Penuh Pulsa Bahagia"