Rohingya: Tragedi, Demonisasi, dan Solusi

Etnis Rohingya, bertahan untuk hidup (Foto: Patrick Brown @Unicef)


Di tengah maraknya pemberitaan tentang krisis kemanusiaan akibat agresi gila-gilaan yang dilakukan Israel di Gaza sejak dua bulan terakhir ini, di media sosial wara-wiri melintas berbagai video tentang Kasus Rohingya. Kalau tidak salah, sekitar akhir bulan November, topik tentang Rohingya menjadi topik yang trending. Sebagai orang yang cukup lama mengikuti perkembangan kasus Rohingya, saya merasa curious, ada apa nih .... 

Saya pun mencoba menyelusuri informasi tersebut, mulai dari mencermati konten-konten yang viral di media sosial seperti Tiktok, Youtube, Instagram, dan X. Facebook tidak terlalu saya perhatikan, karena sepertinya lonjakan pembicaraan yang menjadi tren di medsos biru ini tidak terlalu menyolok, setidaknya di sirkel saya. Sahabat-sahabat saya di Facebook kebanyakan para gen X dan gen Y, yang sepertinya sudah sibuk dengan urusan publiknya, sehingga Facebook lebih banyak digunakan sebagai ajang silaturahmi, berbagi info sedih atau gembira, atau sekadar guyon-guyon untuk meningkatkan motivasi. Saya juga mencoba melacak berbagai berita, baik di media cetak, seperti Kompas Cetak, atau media online seperti BBC, CNN, DetikCom, Kompas, Republika, Tirto, Kumparan, dan sebagainya. Dari hasil pembacaan saya baik secara tekstual maupun kontekstual, serta diskusi dengan beberapa kalangan yang memiliki concern di Kasus Rohingya, saya membagi tulisan sederhana ini menjadi tiga bagian. Yakni tragedi, demonisasi, dan solusi.

TRAGEDI
Apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan Rohingya? Sebelum kita bicara panjang lebar, kita perlu melakukan refresh tentang siapa itu Rohingya dan dari mana mereka berasal. Rohingya adalah salah satu etnis minoritas di Myamnar (dulu bernama Burma), yang tinggal di sekitar Pegunungan Arakan, provinsi Rakhine, Myamnar yang berbatasan dengan Bangladesh. Gunung Arakan ini menjadi pemisah antara daerah yang dihuni etnis Rohingya dengan penduduk Burma lainnya yang mayoritas beragama Budha.

Ada beberapa teori yang menerangkan darimana asal-usul mereka. Teori pertama, bahwa nenek moyang mereka telah berada di Myanmar sejak Abad 7. Tahun 1055, para pedagang Arab datang ke Arakan dan memperkenalkan Islam kepada mereka. Lalu, berdirilah kerajaan Arakan atau Mrauk-U pada tahun 1429-1785 (sumber klik sini).. Saat itu, Muslim dan Budha bercampur dan hidup secara rukun. Namun, rupanya sejarah ini ditolak oleh pemerintah Myanmar, yang menganggap bahwa etnis Rohingya adalah imigran gelap yang datang dari Bangladesh pada masa penjajahan Inggris. Karena itu, mereka ditekan dan didiskriminasi serta dicoret dari daftar etnis yang diakui di Burma.

Konflik antara etnis Rohingya dengan pemerintah Burma telah berjalan lama, yakni sejak . Rezim Junta Militer Myanmar menuduh bahwa mereka melakukan separatisme. Puncak pembasmian etnis Rohingya terjadi pada tahun 2017. Menurut Medicins Sans Frontieres (MSF), pada operasi tersebut, sekitar 10.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh militer Myanmar (sumber klik sini). Karena inilah, PBB menyebutkan bahwa Junta Militer Myanmar sedang melakukan genosida atau ethnical cleansing (sumber klik sini).

Suasana di Cox's Bazar, Bangladesh (Al-Jazeera)

Persekusi, kekerasan dan pembantaian dari pihak Junta Militer membuat warga Rohingya mengungsi dari Arakan. Junta militer Myanmar membakar kampung-kampung mereka di Arakan. Bangladesh merupakan negara yang paling banyak menampung warga Rohingya. Kamp pengungsian Cox's Bazar merupakan camp pengungsi terbesar, dihuni oleh sekitar 1 juta pengungsi. Namun, mereka tidak bisa pulang jiwa. Laporan The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) per 31 Oktober 2023 menunjukkan 1.296.525 pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan tersebar ke sejumlah negara. Bangladesh menjadi negara paling banyak menampung, yaitu 967.842 orang. Diikuti dengan Malaysia (157.731), Thailand (91.339), India (78.731) dan terakhir Indonesia (882). Saat ini, jumlah pengungsi Rohingya di Indonesia mencapai hampir 2.000 jiwa.

Beberapa tahun terakhir ini, kondisi Cox's Bazar sangat buruk. Sanitasi jelek, banyak kriminalitas dan kejahatan, serta kondisi lainnya. Pengungsi tidak boleh bekerja, dan hidup dengan bergantung pada jatah hidup dari UNHCR, International Organization for Migration (IOM), dan dibantu pemerintah Bangladesh. Kondisi mencekam, tidak punya harapan dan masa depan, membuat sebagian pengungsi Rohingya nekad keluar dari pengungsian untuk mencari suaka di negara-negara lain. 

Para pencari suaka, kebanyakan perempuan dan anak-anak (foto: AFP)


DEMONISASI
Demonisasi berasal dari kata demonization yang dalam Oxford Dictionary dimaknai sebagai "the portrayal of something as wicked and threatening" atau penggambaran sesuatu sebagai jahat dan mengancam. Saat ini, tampaknya sedang ada upaya demonisasi terhadap Pengungsi Rohingya. 

Ketika puncak persekusi terjadi pada tahun 2017, ada beberapa kapal mendarat di Aceh. Pada saat itu, masyarakat Aceh menampung mereka. Sebelum itu, juga sudah ada ratusan pengungsi yang diterima. Namun, karena Indonesia bukan negara tujuan pengungsi, mereka pun diarahkan ke negara-negara yang bisa memberi suaka, seperti Australia. Sejauh ini kondisi terkendali.
 
Namun, sekitar bulan November, beberapa kapal pengungsi Rohingya mendarat di Aceh. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana masyarakat Aceh menyambut mereka dengan baik, pada pendaratan tahun ini, masyarakat Aceh tidak menerima mereka. Ada beberapa alasan mengapa masyarakat Aceh menolak mereka.

Pertama, kelakuan sebagian pengungsi Rohingya membuat masyarakat Aceh kurang simpati. Misal, mereka membuang makanan ke laut, karena rasanya menurut mereka kurang pedas. Ada juga pengungsi yang berak di empang milik warga, dan berbagai tindakan lainnya. Video-video tentang kasus ini pun viral di berbagai media sosial. Ironisnya, bersamaan dengan viralnya video-video ini, muncul banyak sekali video lain yang memframing negatif pengungsi Rohingya. Para influencer di Tiktok dan Instagram, ramai-ramai membuat konten yang isinya menceritakan sederet panjang perilaku etnis Rohingya yang dicitrakan bodoh, udik, menjijikkan, menyebalkan, dan sampah yang harus dimusnahkan. Di Twitter (X), konten-konten semacam ini banyak diunggah di akun-akun base yang bersifat anonim. Isi konten tersebut kebanyakan mengambil video dari sumber yang sebenarnya valid, tetapi diedit dan diframing negatif. Misalnya, video demonstrasi pengungsi Rohingya di Malaysia terhadap kedubes Myanmar memprotes kekerasan yang terjadi di Myanmar pada tahun 2017 yang ditayangkan AFB, dicomot dan di-framing negatif sebagai demo minta tanah di Malaysia. 

Peristiwa pemecahan kaca di Rusun Sidoarjo karena matinya listrik, juga diframing negatif sebagai ulah pengungsi Rohingya. Padahal, pelakunya bukan etnis Rohingya. Di Rusun tersebut terdapat 297 pengungsi, dan hanya 5 orang Rohingya, lainnya dari Afghanistan, Somalia, Nigeria, Iran, Irak, India, Pantai Gading, Siera Leone, hingga Kamerun (sumber: klik sini).

Kedua, adanya indikasi bahwa terdapat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam kasus pendaratan pengungsi Rohingya di Aceh. Ternyata ada beberapa pihak yang memanfaatkan kondisi psikologis pengungsi Rohingya di Bangladesh yang penuh tekanan dengan menjanjikan mereka untuk pergi ke tempat-tempat di mana mereka bisa hidup layak, bekerja, dan punya harapan akan masa depan.

Amplifikasi keburukan etnis Rohingya ini pun menjadi semacam hukuman kolektif yang diterapkan untuk seluruh etnis Rohingya tanpa pandang bulu. Gelombang kebencian terjadi, dan didominasi oleh gen Z. Kalimat-kalimat yang sangat sadis, ganas, dan bahkan cenderung rasis, ultranasionalis dan xenofobik, bagaikan arus yang sangat deras menimpa siapa saja yang berusaha membela etnis Rohingya. Saya sendiri merasakan serangan yang sangat tajam dari arus Rohingya-hate ini.

Terdapat demonisasi atau upaya mempersepsikan sesuatu dengan framing negatif yang berlebih-lebihan sehingga memicu siap bias. Awas, ini adalah akar dari diskriminasi dan genosida, lho! Perhatikan piramida kebencian di bawah ini!

Piramadia kebencian (gambar: etu.nz)


SOLUSI
Gelombang Rohingya-hate tidak boleh dibiarkan. Menurut Pakar hukum UI, Heru Susetyo, S.H., LL.M., M.Si., M.Ag., Ph.D., Menulis tentang Rohingya adalah suatu kewajiban sejarah. Karena, etnis ini adalah, “one of the ten world populations in danger of existence and survival,” satu dari populasi masyarakat dunia yang terancam eksistensinya. 

Untuk mengatasi gelombang pengungsian, ada 3 pilihan solusi menurut Heru, yaitu repatriasi atau memulangkan mereka ke negara asal; mencari negara yang mau menampung mereka; dan reintegrasi, atau menerima secara terbuka untuk membaur dengan masyarakat. Ketiga hal ini sama-sama tidak mudah dilakukan. Tetapi membiarkan 2 juta etnis Rohingya terlunta-lunta, tersia-sia, tanpa kewarganegaraan, tanpa harapan, tanpa masa depan--dan seolah-olah tinggal menunggu punah, tentu bukan hal yang dibenarkan dalam perspektif apapun.

Solusi untuk Pengungsi Rohingya menurut saya adalah sebagai berikut:
  1. Repatriasi adalah solusi yang paling adil, dan tentunya sangat diinginkan para pengungsi. Terlebih, saat ini Rohingya ditolak di mana-mana, dan masyarakat di Indonesia serta Malaysia secara terbuka mengumumkan tak hanya penolakan, tetapi juga permusuhan. Untuk bisa melakukan repatriasi, akar masalah harus diatasi segera. Junta Militer Myanmar tidak boleh mempersekusi dan membantai penduduk Rohingya. Kembalikan rakyat Rohingya ke tanah airnya yang telah ditempati sejak abad 7 Masehi. Untuk mempermudah repatriasi, ASEAN, PBB, dan Indonesia harus mendesak Junta Militer Myanmar untuk menghentikan pembersihan terhadap etnis Rohingya.
  2. Selama proses menuju repatriasi, negara-negara di sekitar Myanmar sebaiknya membuka lokasi untuk pengungsi. Meski pemerintah Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi konvensi pengungsi 1951 dan protocol 1967, tetapi konstitusi kita, yakni Pembukaan UUD 1945 secara gamblang menyebutkan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan kita adalah: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Mau Pulau Galang ataupun pulau lainnya, saya harap pemerintah RI bisa membuka lokasi untuk menampung pengungsi.
  3. Lokasi tersebut wajib terpisah dengan warga lokal, agar tidak terjadi problem konflik dengan warga, mengingat selama ini pengungsi Rohingya hidup tanpa pendidikan. Mereka terlunta-lunta bahkan banyak yang tinggal di lautan dengan perahu seadanya karena jarang yang mau menerima mereka di daratan. Jelas kebanyakan dari mereka tidak punya adab atau sopan-santun, karena setiap saat hanya ada pilihan: hidup atau mati. Gesekan-gesekan pasti akan terjadi jika mereka membaur dengan warga lokal. Kasihan warga lokal jika harus bertemu mereka. Meski tentu tidak semua pengungsi begitu. Banyak juga lho, para pengungsi Rohingya yang penghafal Al Quran, berhijab rapi dan rajin shalat. Tapi memang tak semua. 
  4. Jika dalam kamp tersebut ada NGO lokal yang membantu UNHCR dan IOM dan memiliki program-program yang bagus untuk edukasi mereka, ini harus dilanjutkan, tetapi harus dilakukan oleh relawan yang TERLATIH. Salah satu bentuk latihannya adalah bagaimana kemampuan melakukan psikososial. Relawan harus memahami bahwa pengungsi itu mengalami trauma psikologis yang sangat mendalam, bahwa di antara mereka pasti banyak yang mengalami masalah mental dan kejiwaan. 
  5. UNHCR harus mengalokasikan lebih banyak anggaran. Beban Bangladesh yang selama ini paling banyak menampung pengungsi, sudah sangat berat karena ada ratusan ribu pengungsi di sana. Jika Indonesia pun ada kamp resmi, UNHCR harus menjadi motor penggerak.
  6. Perlu ditegaskan, bahwa lokasi pengungsian adalah tempat tinggal sementara. Mereka harus kembali ke tanah airnya.
  7. Terakhir ... untuk netizen dan influencer: cari sumber valid, pahami masalahnya, be wise.
Yuk, lapangkan dada untuk bisa rileks dan berbesar hati menghilangkan kebencian kita kepada mereka. Mereka juga manusia, lho, sama seperti kita. Berhak hidup dengan layak di bumi-Nya.

3 komentar untuk "Rohingya: Tragedi, Demonisasi, dan Solusi"

Comment Author Avatar
masyaallah, tercerahkan. Membaca kilas-kilas berita ataupun konten di medsos, seolah pengungsi Rohingya tak beradab dan tak boleh diberi tempat.
Comment Author Avatar
Memang ada sebagian kecil pengungsi yang "uncivilian", walaupun kalau mau jujur, itu tidak bisa disematkan pada semua pengungsi.
Comment Author Avatar
Semoga Allah SWT membukakan pintu pintu kebahagiaan untuk pengungsi Rohingya.

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!