Membedah Gaya Kepemimpinan Mourinho, Conte, Wenger dan Guardiola



Sebagai disclaimer, tulisan ini saya susun beberapa tahun silam.  Saat itu, ada empat manajer sepakbola melatih empat tim papan atas di Inggris, yaitu Jose Mourinho, Josep “Pep” Guardiola, Antonio Conte dan juga Arsene Wenger. Meskipun tak semua dari mereka saat ini melatih klub Inggris, mengingat kepemimpinan adalah sebuah ilmu yang sifatnya tidak tergantung pada waktu, saya kira tulisan ini masih relevan dibaca hingga saat ini.

Dalam sebuah kompetisi, ada beberapa variabel yang memberi sumbangan pada sebuah kemenangan. Selain faktor skill pemain, kondisi psikologis tim, motivasi bertanding, faktor chance yang berbeda-beda,  kompetensi dan gaya kepemimpinan para manajer juga menyumbang peran penting.

Kepemimpinan adalah proses bagaimana seorang pemimpin mencoba menggunakan pengaruh (yang bukan pemaksaan) untuk memotivasi individu guna meraih tujuan organisasi.  Jadi, bagaimana model dan gaya kepemimpinan para manajer klub-klub sepakbola dalam mengelola anak buahnya, tentu sangat berpengaruh terhadap prestasi klub. 

Semua klub di Inggris ataupun di negara lain, tentu memiliki berbagai gaya kepemimpinan, namun menurut Lindsay Levin, sebagaimana dikutip oleh Kousnes dan Posner (2002), visi, keyakinan dan keberanianlah yang membuat perbedaan di antara para pemimpin tersebut . Faktor kecerdasan dan strategi juga menjadi pembeda. Siapa di antara para manajer yang mampu memanfaatkan otak setara dengan kerja otot, itulah yang manajer yang sangat berpeluang mendapatkan piala pemenang di akhir musim kompetisi.

Kita mengenal beberapa manajer-manajer terbaik kelas dunia, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Sebutlah, Jose Mourinho, Josep “Pep” Guardiola, Antonio Conte dan juga Arsene Wenger. Mari kita coba bedah tipe kepemimpinan mereka dalam meracik ramuan strategi yang diterapkan skuat masing-masing.

Jose Mourinho (MU)
Jose Mourinho adalah sosok yang sangat percaya diri, selalu optimis. Kepercayaan diri yang kuat dibutuhkan untuk mengenyahkan segala pikiran buruk yang akan menjadi beban psikologis para pemain. Sebagai seorang manajer, efektif dan efesien benar-benar diterapkan oleh Mou. 

Bagi Mou, tujuan bersepakbola adalah untuk menang. Jadi, segala cara yang tidak mendukung kemenangan, akan dia singkirkan. Hal ini terlihat bagaimana racikan strategi yang dia mainkan. Defensif, membangun pertahanan kuat, dan mengandalkan serangan balik yang tajam dan membuahkan goal. Tak terlalu mengeluarkan banyak tenaga, tetapi efektif menghasilkan goal. Dari strategi semacam itu, Mou berhasil mengantongi banyak tropi, dan merupakan salah satu manajer terbaik di dunia.

Bagi sebagian orang, strategi defensif dan mengandalkan serangan balik, yang menurut Mou adalah keunggulan, ternyata justru jadi bahan kritikan. Salah satu yang mengkritiknya adalah AndrĂ©s Iniesta, menurutnya Mou telah merusak sepak bola Spanyol yang indah, “he damaged Spanish football, in general more harm than good,” tutur Iniesta sebagaimana dikutip dari telegraph.co.uk .

Mou juga terkenal suka narsis, sinis dan arogan, rewel dan temperamental. Kegemarannya melakukan psywar. Barangkali, ucapan-ucapan kontroversialnya merupakan bagian dari strategi menjatuhkan mental lawan. Di tengah iklim kompetisi  yang cenderung keras, dan serbacepat, mungkin karakter seperti Mou sangat dibutuhkan.  

Guardiola (Manchester City)
Bicara karakter Pep, bisa dikatakan identik dengan aneka strategi, inovasi dan kreativitas yang seakan tak pernah mati. Bagi Pep, sepakbola adalah bagaimana merancang strategi yang menarik untuk bisa mencapai tujuan. Jadi, meski menghargai seni dan keindahan sebuah permainan, Pep tetap menekankan pentingnya mencapai tujuan dalam bertanding, yakni menghasilkan goal dan menang. Pep adalah seorang yang memiliki antusiasme tinggi dan bisa menularkannya ke tim.

Namun, Pep juga memiliki kelemahan, yakni kekurangmampuan berkomunikasi dengan baik. Dia juga terlibat cukup banyak konflik dengan pemain. Menurut Zlatan Ibrahimovic, yaitu suka pilih kasih. Menurut Zlatan Ibrahimovis, dalam buku I am Zlatan Ibrahimovic, Pep terlalu menganakemaskan Lionel Messi ketimbang pemain lainnya . 

Sejumlah pemain juga Samuel Eto'o dan Cesc Fabregas juga merasa tidak cocok dengan Pep. Fabregas menuturkan bahwa dia tidak bisa memahami sistem yang dibangun Pep. "With Guardiola I ended up not understanding the system," begitu tutur Fabregas . 

Manajer Chelsea Antonio Conte
Di tangan Conte, Chelsea meraih capaian yang sangat bagus, dan berada di posisi pertama klasemen sementara dengan selisih nilai yang cukup banyak dengan posisi di bawahnya. Conte dikenal sangat disiplin, tak tak kenal ampun, pekerja keras, perfesionis dan temperamental. Bagi dia, sepak bola adalah hasil kerja keras, totalitas, keseriusan dan zero dari segala kesalahan dan tindakan indisiplin.

Conte dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup, menjaga penuh kerahasiaan, dan sangat rewel dalam hal-hal yang sangat teknis . Wajar saja, dia adalah seorang pribadi sempurna yang memperhatikan segala sesuatu dengan detail.

Arsene Wenger 
Bisa dikatakan, Arsene Wenger adalah figur pelatih ideal. Dia pekerja keras, jelas. Tetapi dia adalah sosok yang santun, lembut, perasa dan mampu memahami perasaan dan psikologis orang lain. Wenger memiliki tingkat kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang sangat tinggi. Profil Wenger ditulis panjang lebar di thesefootballtimes.co, di mana dia disebut-sebut sebagai pelatih terbaik, yang sangat memahami bagaimana membangkitkan potensi anak buahnya.

Banyak kalangan menyebut bahwa Wenger adalah seorang guru. Menurut Danny Welbeck‏ dalam akun Twitternya, @WelBeast, Wenger baginya adalah seorang guru. “Arsene Wenger is a teacher, a role model and a father to his players. Can't say the same about other managers,” cuit Welbeck.

Dalam berbagai kesempatan, Arsene Wenger mengatakan bahwa dia lebih menyukai membangun tim dari awal daripada membeli pemain yang sudah jadi dengan harga mahal. Maka, Arsenal telah menjadi sebuah “akademi sepak bola”, di mana pemain muda dibeli dengan harga murah, lalu dibina dan menjadi bintang di Arsenal untuk kemudian dilepas pada saat permainan mereka mulai menurun.

Wenger adalah seorang yang menganggap sepak bola sebagai seni, dan filosofi. Dia seorang manajer yang memiliki idealisme sangat kuat untuk menjadi sepak bola sebagai sesuatu yang menyenangkan, menghibur, indah dan memiliki banyak nilai-nilai kehidupan. Namun, di tengah iklim sepak bola yang semakin pragmatis, berbasis pada modal, dan sangat industrial, pelatih-pelatih seperti Wenger terlihat “too wise”, sebab, banyak pemilik modal tak lagi peduli pada proses yang cantik, namun bagaimana tropi bisa dikantongi dan gelar juara dikoleksi.

Perbandingan Dari Keempat Manajer
Jika dianalisis lebih lanjut, menurut saya, dari empat manajer tersebut, terdapat dua kubu, yaitu kubu pragmatis dan kubu idealis. Mou dan Conte adalah kubu pragmatis, sedangkan Pep dan Wenger adalah kubu idealis. Bisa jadi, secara prestasi, Mou dan Conte akan melaju, namun jika kemenangan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan, betapa sepak bola lama kelamaan akan menjadi permainan yang membosankan. Pertahanan yang kuat, lalu tiba-tiba serangan balik, goal, dan menang. Baik Mou dan Conte harus mencoba mengkaji gaya mereka, sebab, tujuan seseorang menonton sepak bola bukan sekadar terciptanya goal, tapi bagaimana mata dimanjakan dengan dinamika yang menarik di lapangan.

Pep dan Wenger, sejatinya justru telah mencoba menampilkan sepak bola yang cantik dan indah, namun tetap menjadikan tujuan sebagai fokus utama permainan. Jika Pep mau memperbaiki gaya komunikasinya, dan Wenger mau sedikit pragmatis dengan mau membeli pemain-pemain bintang, mungkin saja mereka akan mampu mengantar timnya, bukan saja mempertunjukan penampilan indah, tetapi juga juara.

Dalam dunia di luar sepakbola, sebenarnya dua kubu ini juga selalu ada. Kubu yang penting menang, dan kubu yang mencintai proses. Kita sekarang bisa memetakan, kira-kira pemimpin di sekitar kita termasuk model yang mana?





Posting Komentar untuk "Membedah Gaya Kepemimpinan Mourinho, Conte, Wenger dan Guardiola"