Puasa, Takwa, dan Manusia Termulia



Bagaimana perasaan Sobat sekalian saat menyambut bulan Ramadan? Kebanyakan dari kita pasti merasa gembira, senang, bahagia, dan sederet emosi positif lainnya, bukan? Kadang kita merasa heran juga, ya. Kok bisa sih, merasa berbahagia, padahal kan sebulan penuh akan menjalani puasa. Saat puasa, kita dilarang makan minum dari waktu fajar hingga terbenam matahari. Sekitar 12 jam kita akan merasa lapar dan haus. Bahkan, di negara-negara empat musim, saat musim panas, puasa bisa lebih dari 12 jam lamanya. Bukankah itu justru mengurangi kenikmatan hidup seseorang? 

Puasa dan Orang Beriman

Sekilas, perintah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan memang berat, terutama bagi orang-orang yang masih belum menerima ajaran agama ini dengan sepenuh keyakinan. Bagi yang keislamannya belum kuat, jelas puasa merupakan hal yang hampir-hampir impossible untuk dijalani. Oleh karena itu, perintah puasa ini memang ditujukan kepada orang-orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap agama kita, yakni orang-orang beriman, atau Mukmin. 

Coba deh, cek surat Al-Baqarah ayat 183, yang menjadi dalil dari perintah puasa di bulan Ramadan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumus-siyamu kama kutiba 'alallazina ming qablikum la'allakum tattaqun.

Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Perhatikan frasa yang ditebalkan, yaitu "hai orang-orang yang beriman". Jelas sekali bahwa yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang-orang yang beriman, yakni orang yang sudah memeluk agama Islam dan yakin atau mengimani ajaran agamanya. Karena adanya keyakinan bahwa puasa merupakan sebuah ibadah sangat mulia serta pahala dan manfaatnya berlimpah, ketika menjalaninya akan terdapat sederet panjang kebaikan baik di dunia dan di akhirat, ditambah pengalaman spiritual yang dialami pada puasa-puasa sebelumnya, maka kaum Mukmin memiliki pandangan sangat positif terhadap puasa. Maka, alih-alih cemberut memasuki bulan Ramadan, Kaum Mukmin justru menyambut kehadiran bulan ini dengan suka cita.

Tak hanya orang dewasa. Bahkan, anak-anak pun bergembira menyambut Ramadan. Bisa kita saksikan, menjelang puasa, anak-anak melakukan pawai Tarhib Ramadan. Mereka riang gembira. Tak ada paksaan. Tentu Sobat memiliki kenangan indah tentang era puasa saat masih anak-anak bukan? Saya juga punya kenangan itu. Alhamdulillah, saya mulai berpuasa full dari Subuh sampai Maghrib saat kelas 1 SD. Usai shalat subuh, biasanya kami akan berjalan-jalan, menikmati udara yang sejuk dan segar. Usai shalat Dhuhur biasanya kami mengaji di masjid. 

Kemudian, untuk menunggu beduk Maghrib, setelah shalat Asyar, Bapak mengajak saya dan anak-anak yang lain memancing di sungai. Kami sungguh merasa diberikan kemewahan dengan banyaknya sungai-sungai di kampung kami. Ada 4 sungai mengalir di kampung kami. Ini belum parit-parit atau sungai kecil yang bermuara di sungai lebih besar. Saat itu sungai-sungai tersebut masih sangat alami, dan kaya dengan ikan-ikan air tawar, seperti lele, gabus, lunjar atau wader. Pulangnya, ibu telah mempersiapkan hidangan, sederhana tapi terasa sangat enak. Salah satu hidangan yang masih saya ingat di puasa-puasa pertama adalah: sayur kangkung, tempe goreng, nasi hangat, dan kolak pisang. Sampai sekarang, saya masih mengenang hidangan ala kadarnya itu sebagai hidangan berbuka puasa terlezat yang pernah saya rasakan.

Sebagai anak kecil, pengalaman bergembira di Bulan Ramadan itu valid. Saat itu saya belum memahami hal-hal yang sifatnya di luar kegembiraan materi, seperti hidangan buka puasa, hadiah-hadiah, ketupat dan opor lebaran atau baju baru saat lebaran. Saya belum merasakan kegembiraan yang sifatnya immaterial atau spiritual seperti merasakan betapa indahnya beribadah saat shalat malam, saat tilawah, dan sebagainya. Tetapi dengan sekadar merasakan kegembiran menikmati berbuka puasa dengan hilangan sederhana saja, sudah menumbuhkan motivasi luar biasa untuk menempuh ibadah puasa Ramadan.

Puasa dan Takwa

Semakin dewasa, kita semakin memahami apa sebenarnya hakikat puasa. Hakikat sangat ditentukan oleh tujuan. Perintah puasa memiliki satu tujuan utama yang sejatinya merupakan visi terpenting dari seorang Mukmin, yaitu la'allakum tattaqun artinya agar kamu bertakwa. Jadi, kegembiraan yang kita dapatkan saat beribadah puasa, itu hanya efek samping saja. Sebuah efek yang secara psikologis sangat bermanfaat untuk kesehatan mental seseorang. Ini belum jika kita berbicara efek secara medis, yang juga seabrek-abrek, yang intinya, puasa membuat kita semakin sehat.

Efek sampingnya saja sebegitu membahagiakan, apalagi tujuan utamanya. TAKWA. Takwa mungkin juga bisa dipahami secara psikologis sebagai sebuah atribut penting yang menyehatkan mental. Namun, takwa lebih dari sebuah atribut psikologis. Takwa adalah esensi dari agama itu sendiri.

Apa sih takwa itu? Dikutip dari Khalwani (2019), takwa berasal dari bahasa Arab waqa-yaqi-wiqayah, artinya memelihara atau menjaga diri. 

Para Salafush Sholeh mengibaratkan bahwa bertakwa itu seperti berjalan di antara duri, sehingga harus sangat berhati-hati agar bisa melewati jalan tersebut tanpa tertusuk duri. 

Jadi, takwa adalah rasa takut dan senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang bisa membuat kita melanggar perintah Allah. Saat kita menjauhi tempat maksiat karena Allah, saat kita datang ke masjid karena ingin taat kepada Allah, saat kita berusaha keras menolak bujukan teman-teman kita yang ingin mengajak kita berbuat dosa, maka kita sedang melakukan apa yang disebut dengan takwa.

Takwa sudah masuk dalam bahasa Indonesia, dalam KBBI dimaknai sebagai:

/tak·wa/ n (1) terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; (2) keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; (3) kesalehan hidup.

Definisi takwa sebagai: melaksanakan dengan taat segala perintah dan menjauhi larangan Allah SWT merupakan definisi yang sangat populer. 

Tuasikal (2012) menyebutkan definisi takwa menurut Ibnu Taimiyah adalah, “Takwa adalah ketika seseorang beramal dengan penuh ketaatan kepada Allah atas petunjuk dari Allah, disebabkan mengharap rahmat-Nya, dan meninggalkan kemaksiatatan karena petunjuk Allah karena takut akan siksa-Nya. Seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Al-Majmu’ Al-Fatawa, 10: 433).

Aspek-Aspek Takwa

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah menjelaskan, bahwa takwa adalah:

التقوى هي الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل والرضا بالقليل و الإستعداد ليوم الرحيل

Attaqwa hiya al khauf min Al-Jalil, wal amalu bi At-Tanzil, war-ridha bi Al-Qalil, wal-Isti'dadu li Yaumi Ar-Rahil.

Jadi, menurut Ali bin Abi Thalib, takwa memiliki 4 aspek, yaitu: 

Al khauf min Al-Jalil 

Artinya adalah takut kepada Allah SWT yang memiliki sifat Al-Jalil yaitu salah satu asmaul husna yang artinya Yang Maha Agung. Rasa takut ini disebabkan karena Allah SWT adalah dzat yang memiliki segala keagungan, segala kebesaran, dan tak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang setara dengan-Nya. Namun, jika ketakutan kita kepada makhluk membuat kita menjauhinya, takut kepada Allah justru membuat kita harus semakin mendekat padaNya.

Jadi, orang yang bertakwa pasti takut kepada Allah SWT. Karena takut, maka dia akan berusaha untuk mendekat sedekat-dekatnya, agar bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta-Nya, serta senantiasa berharap akan ampunan-Nya.

Al Amalu bi At-Tanzil 

Beramal dengan apa yang diturunkan atau diwahyukan Allah SWT, yaitu Al-Quran dan Al-Hadist. Karena takwa sebenarnya merupakan derajat kesalehan seseorang, maka orang yang bertakwa pasti akan taat kepada segala perintah dan larangannya yang tercantum pada apa-apa yang diturunkan oleh Allah SWT, serta apa-apa yang disunnahkan oleh Rasulullah.

Ar-Ridha bi Al-Qalil

Aspek takwa yang lain adalah perasaan menerima atau ridha terhadap segala pemberian atau karunia Allah meski hanya sedikit.  Orang bertakwa selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan, meski kadang hanya pas-pasan. Sebab, bagi orang yang bertakwa, sesungguhnya Allah SWT akan membuka jalan rezeki dan mencukupi kebutuhannya. Bagi orang bertakwa, sesuatu yang bagi orang banyak itu sedikit, sejatinya mampu menghidupi dan mencukupi kebutuhannya. 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At Thalaq: 2-3).

Dalam konsep ekonomi, kita mengenal istilah kebutuhan dan keinginan. Yang membuat kita boros sebenarnya adalah karena terus mengikuti keinginan. Padahal, kebutuhan hidup kita sejatinya hanya sedikit. Misal, untuk bisa makan kenyang dan bergizi, dengan sepiring nasi, sepotong tempe, serta sayur bayam, di Solo mungkin tak sampai Rp 10.000 harganya. Namun, karena kita ingin makan siang yang wah dan memanjakan selera, kita harus mengeluarkan Rp 100.000 yang seharusnya bisa kita pakai untuk sepuluh kali makan.

Orang bertakwa akan merasa cukup dengan sepiring nasi Rp 10.000, jika memang hanya itu kemampuan yang dimilikinya. Maka, dia akan merasa cukup, ridha dengan yang sedikit (al-qalil) tersebut.

Al-Isti'dadu li Yaumi Ar-Rahil 

Senantiasa mempersiapkan bekal untuk Yaumi Ar-Rahil, yakni hari saat semua orang kembali menghadap Allah SWT atau kematian. Orang bertakwa mungkin akan bekerja keras untuk meraih kesuksesan dunia, namun dia tidak melupakan bahwa tujuan utama dalam hidupnya adalah alam akhirat. Jika dia sukses di dunia, semua akan dijadikan sarana untuk bekal menuju akhirat.

Insan Mulia

Sedemikian indah dan berkilau kepribadian orang bertakwa, maka layaklah jika manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu."(QS. Al Hujurat: 13).

Karena yang manusia paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertakwa, mestinya aspek-aspek takwa di atas itulah yang perlu dikejar oleh manusia. Bukan sekadar apa merk tas kita, apa mobil kita, semewah apa rumah kita, sekinclong apa sepatu kita, seberapa jauh liburan kita, setinggi apa sekolah kita, dan sebagainya. Harta, kedudukan, status mentereng, pangkat, jabatan, mungkin akan berguna jika kita gunakan sebagai sarana untuk mendapatkan derajat takwa, tetapi akan sama sekali unfaedah jika hanya untuk sekadar mendapatkan tepuk tangan atau kekaguman manusia.

Referensi:

KBBI. 2023. https://kbbi.web.id/takwa

Khalwani, A. 2019. Meninjau Makna Taqwa Dari Berbagai Aspeknya. https://www.harakatuna.com/meninjau-makna-taqwa-dari-berbagai-aspeknya.html

Tuasikal (2012). Apa Itu takwa. https://rumaysho.com/2851-apa-itu-takwa.html.

Posting Komentar untuk "Puasa, Takwa, dan Manusia Termulia "