Widget HTML #1

Benarkah Janin Adalah Parasit?



Hai Shaliha, aku anggap kamu adalah teman imanjinerku. Seorang perempuan muda, usia jelang kepala tiga, yang saat ini sedang mulai merancang masa depan. Karirmu sudah oke, pekerjaanmu menghasilkan gaji lumayan, kamu lulusan sebuah kampus terpandang, dan ini saatnya kamu berpikir untuk memasuki kehidupan rumah tangga.

Kemarin, aku melihatmu bimbang. Sebagai orang yang sangat well informed, melek literasi, kamu selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan sesuatu, apalagi untuk hal yang sangat penting: berumah tangga. Saat berselancar di dunia maya itulah, kamu menemukan satu topik diskusi yang membuat terbelalak: bahwa hamil itu sebenarnya hanya menyediakan tubuhmu untuk digerogoti parasit. Siapa parasit itu? Janin kita.

Lalu, kamu datang padaku, mengajakku diskusi. Sebagai orang yang belasan tahun lebih tua darimu, aku harus memberimu masukan. Maaf, aku tak menganggap diriku paling benar, karena apa yang aku sampaikan ini bisa jadi masih bisa diperdebatkan. Tetapi, semoga pertimbangkan tulisanku ini dengan lebih jernih, ya?

Janin adalah parasit? Ini pernyataan yang menurutku agak “kurang ajar.” Kita semua pernah menjadi janin, apakah kita rela menyebut diri kita sebagai parasit bagi ibu kita? Apakah ibu kita pernah memaki kita sebagai parasit? Tidak, tidak! Kecintaan yang mendalam, ikatan yang begitu agung, serta perasaan tanggung jawab atas misi suci yang diberikan kepada seorang ibu, tak akan sekadar membuatnya merelakan diri sebagai penyedia atas “parasit” itu, bahkan beliau rela menukar kebahagiaannya, fasilitasnya, bahkan jika perlu nyawanya, untuk kebahagiaan parasit itu.

Tapi, itu ada di jurnal ilmiah, kata parasit itu. Kamu bersikeras. Oke, kalau rujukanmu jurnal ilmiah, coba juga searching dengan keyword: Benefit of pregnancy. Ada banyak jurnal yang bisa kamu pelajari, yang menegaskan bahwa kehamilan itu ternyata menyumbang andil untuk kesehatan kita. 
Website https://www.femmproobgyn.com/ menyebutkan bahwa ada 5 keuntungan menakjubkan dari kehamilan.

1. Menstrual cramp relief (mengurangi atau meredakan kram perut karena menstruasi)
2. Reduced risk of some cancers (mengurangi beberapa risiko terkena kanker)
3. Improved heart health (meningkatkan kesehatan jantung)
4. Developed multitasking skills (membentuk ketrampilan multitasking
5. Protection from MS (Multiple sclerosis) (memproteksi dari multiple sclerosis)

Silakan baca lebih detil di sini, ya.

Itu pembahasan dalam perspektif kesehatan. Bagaimana dalam perspektif agama?
Jihad seorang wanita di antaranya adalah hamil, melahirkan dan menjadi pendidik pertama untuk anaknya. Sumber pahala yang terbesar untuk wanita, salah satunya dari itu. Seorang ibu disebut 3 kali sebagai orang yang dimuliakan karena 3 faktor itu: mengandung, menyusui, mendidik.

Lantas, hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak itu pilihan atau keharusan? Jika perspektif kita agama, agama adalah soal kerelaan menerima dan tidak ada paksaan di dalamnya. Tapi kalau sudah memilih, kita harus komitmen. Kalau kamu tidak menjadikan agama sebagai referensi dalam hidup, silakan saja... Kalau percaya dan yakin bahwa agama adalah sesuatu yang harus diikuti dengan ketakwaan, yakni kesiapan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang, maka hamil adalah sesuatu yang sangat mulia dalam pandangan Islam.

Dalam sebuah hadist disebutkan, “Bahwa dua rakaat shalat ibu hamil menjadi lebih baik dibandingkan dengan 80 rakaat shalat yang dilakukan perempuan tidak hamil.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa saat hamil, banyak sekali peluang mendapatkan pahala. 

Segala kesakitan akan diganti dengan kasih sayang Allah, bahkan puncaknya, jika meninggal saat hamil, pahalanya adalah setara mati syahid.

Mati syahid itu ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang fisabilillah, yaitu: mati karena penyakit tha’un (wabah penyakit), mati karena tenggelam, mati karena penyakit lambung, mati karena sakit perut, mati karena terbakar, mati karena tertimpa reruntuhan, dan wanita yang mati karena hamil atau melahirkan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan Malik).

Jika kita meyakini bahwa kita perlu beribadah untuk mendapatkan kecintaan dan keridhaanNya, maka hamil, melahirkan, menyusui bisa diniatkan sebagai ibadah. Percayalah, Cinta Allah jauh lebih berharga dan indah dari sekadar rasa lelah, sakit, dan kecewa saat hidup di dunia. Itu bagi yang PERCAYA dengan keberadan dan segala kemahabesaranNya. Aku yakin, kamu pasti percaya kan dengan hal itu?

Tapi, hamil itu berat. Apalagi jika tidak ada dukungan dari suami. Ya, kamu benar. Punya suami yang support, sayang, selalu ada di sisi, siap mendampingi dan membantu di proses-proses yang berat itu tentu sangat meringankan. Tapi tak semua beruntung mendapatkan pasangan ideal seperti itu. Apapun kondisinya, semoga tak mematikan keinginan para perempuan untuk berjuang menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya.

Bukankah dalam Surat At-Tahrim, Allah memberikan perumpamaan para perempuan di zaman dahulu kala. Ada perempuan yang punya suami orang shalih, bahkan tak tanggung-tanggung, suaminya adalah Nabi, yakni istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh. Kurang apa kebaikan para suami ini? Ternyata istrinya ngelunjak dan durhaka.

Sebaliknya, ada Asiyah binti Muzahim istri Firaun, atau ibu angkat yang membesarkan Nabi Musa, yang awalnya sangat dicintai namun keudian mendapatkan siksaan luar biasa dari suaminya yang memaksa dia untuk menanggalkan keimanannya. Namun Asiyah tetap bersikeras dengan keimanannya meski akhirnya dibunuh Firaun. Atau juga Maryam binti Imran, seorang wanita yang bahkan tidak memiliki suami namun ditakdirkan Allah untuk hamil meski tanpa peran laki-laki. Mereka berdua tidak memiliki suami yang penuh dukungan kepada istri, namun ternyata mereka berani untuk terus berjuang demi cinta-Nya kepada Allah SWT.

Siti Hajar pun begitu. Baru saja dia melahirkan bayi Ismail, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya di tengah padang pasir yang gersang.

Iya, iya … kita tidak setangguh mereka. Tetapi, suami-suami kita juga pasti tidak sejahat Firaun, bukan?

Menjadi seorang ibu, adalah sarana mendapatkan privilege di mata Allah. Seorang Sahabat bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu.'" (HR Al Bukhari dan Muslim).

Saya menuliskan artikel pendek ini dalam perspektif agama, wahai Shaliha. Sebab kalau perspektif kita hanya soal ekonomi, hukum, kesetaraan gender dan sebagainya, kita pasti akan frustasi dengan sendirinya. Gaji cuma segini punya anak segini, emang cukup? Istri sibuk ngurusin anak, di kantor, suami asyik piknik bareng atasan ... kapan gantian piknik? 

Pikiran-pikiran seperti itu hanya membuat sakit hati.

Tapi jika kita berusaha meniatkan semua karena Allah, bahkan sekadar melihat senyum bayi, kita akan bahagia. Kita juga akan takjub dengan segala kecukupan yang kita dapatkan, yang seringkali tidak bisa dilogikakan alias nggak ngotak. Percayalah, bahwa rezeki itu urusan Allah. Semua orang memiliki rezekinya masing-masing sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya... (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643).

Jadi, jangan takut hamil, Shaliha. Jangan pula menurunkan kemulian janin yang kamu kandung kelak, sebagai parasit yang akan menggegerogoti tubuhmu.

Posting Komentar untuk "Benarkah Janin Adalah Parasit?"