Ingin Hubungan Harmonis? Ini Kuncinya: Komunikasi


Suamiku nyebelin, mbak ... bawaannya diam melulu. Aku tak tahu apa sebenarnya mau dia. Dia tuh sebenarnya sedang marah atau senang, sedih atau gembira, kok semua terlihat datar-datar saja. Pernahkah Sobat menerima tema curhat semacam itu. Meski tidak sama persis, barangkali hal-hal semacam itu sering sekali kita dengar dalam aktivitas sehari-hari. Atau, barangkali, di antara pembaca ada juga yang mengalami hal tersebut. Bingung membaca pikiran dan perasaan orang terdekat kita, baik suami atau istri. Dalam lingkup yang lebih luas, bisa juga orang-orang yang berada dalam sirkel kita, entah itu keluarga, sahabat, atau rekan-rekan kerja kita.

Padahal, komunikasi, adalah kunci dari eratnya jalinan interaksi antara seseorang dengan partnernya. Dalam komunikasi, kita menyampaikan pesan melalui media tertentu dan kita tentunya berharap pesan kita diterima dengan baik oleh orang lain. Maka komunikasi yang baik, akan menjembatani berbagai keinginan, perasaan, harapan, dan mimpi-mimpi serta imajinasi, bahkan juga 'tuntutan' kita atas orang lain. Misal, bagaimana kita menuntut hak kita kepada orang yang berkewajiban memberikan hal tersebut kepada kita. Atau tuntutan agar orang lain menghentikan perilaku tidak menyenangkan yang dia lakukan kepada kita.

Dalam kehidupan berumah tangga, komunikasi tidak sekadar penting, tetapi menjadi elemen dan kunci utama kehamornisan dalam rumah tangga. Komunikasi memainkan peran bukan hanya dalam level-level penting dan pemecahan masalah yang genting, tetapi juga dalam serakan episode yang kadang terlihat tampak tak penting, tetapi sebenarnya bisa menjadi duri-duri kecil yang melukai perjalanan hidup kita. Kita memang wajib memaafkan hal-hal kecil dalam masalah cinta. Tetapi, bukan berarti kita membiarkan hal kecil itu terus terakumulasi sehingga akhirnya membuncah jadi besar.

Misal, jika Anda adalah seorang suami. Anda mungkin tak suka dengan kebiasaan istri berdandan berlama-lama hingga Anda harus membuang banyak waktu untuk menunggu. Alih-alih ngomel dan memencet-mencet klakson mobil, yang justru membuat hubungan menjadi buruk, mengapa tdidak mencoba menyampaikan isi hati Anda dengan lembut? Komunikasi yang baik, akan membuat istri mengerti bahwa Anda tak suka hal itu. “Istriku, aku memiliki banyak pekerjaan, dan aku harap engkau memahami hal itu. Dandan lima menit, bahkan tak berdandan pun, engkau sudah terlihat seperti bidadari di mataku.”

Saat Anda merasa cemburu dengan istri, mengapa tidak disampaikan dengan cara yang justru membuat istri merasa dicintai? Misal, "Aku tahu di sana banyak lelaki yang lebih ganteng dari suamimu ini, tapi yang benar-benar siap melindungimu adalah aku, tolong, jangan bikin suamimu ini cemburu." Perkataan terbuka seperti itu saya yakin lebih disukai istri daripada ketika Anda mengatakan, "Pokoknya aku nggak suka kamu pergi-pergi terus ke acara itu! Titik!"

Contoh lain, Anda adalah seorang istri yang senang jika suaminya yang rajin mencukur kumis. Alih-alih mencerca, "Ih, kamu jelek kayak Orang Utan," kenapa tidak mengatakan dengan riang. “Mas, kau tampak lebih tampan jika terlihat bersih dan rapi jika kau cukur kumismu.” Percayakah Anda, bahwa rasa bangga yang muncul pada seseorang akan pujian pasangan, membuat seseorang merasa dibela, diperhatikan dan dihargai. Hal semacam itulah yang mungkin mendasari mengapa orang bijak mengatakan, bahwa pernikahan yang sukses membutuhkan perasaan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, yaitu pasangan Anda.

Jangan Abaikan Komunikasi!

Jangan abaikan komunikasi. Beberapa pakar komunikasi pernah membuat perkiraan, bahwa penyebab dijatuhkannya bom atom di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, yang menyebabkan ratusan ribu jiwa meninggal dan sisanya cacat yang bersifat turun-temurun, ternyata diawali dari komunikasi yang gagal antara pihak Amerika Serikat dan Jepang. Ketika itu, Jepang sudah kalah perang, dan sebenarnya sudah mau menyerah. Mereka punya niat untuk itu, sebelum ultimatum itu datang.

Lalu Amerika Serikat mengultimatum Jepang untuk menyerah, atau mereka akan melumatkan negeri matahari terbit itu. Menanggapi ultimatum tersebut, Jepang yang sudah kelelahan berperang membalasnya dengan singkat: “mokusatsu”. Apa arti kata mokusatsu? Arti sebenarnya “untuk sementara tidak ada komentar, kami akan memikirkan tawaran tersebut”. 

Namun, pihak penerjemah Amerika Serikat salah dalam menerjemahkannya. Kata mokusatsu diterjemahkan secara dalam ada adanya tanpa memahami konteksnya, menjadi semacam ungkapan kecuekan seperti dalam bahasa Inggris: no comment. Amerika Serikat pun marah besar dengan sikap 'no comment tersebut'. Mereka pun menjatuhkan Little Boy dan Fat Man, sandi untuk dua bom atom tersebut ke dua kota terpenting di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hingga luluh lantak.

Bom atom sesungguhnya mungkin tidak akan meledak di rumah tangga Anda, namun “bom atom” permasalahan bisa saja mengguncangkan keharmonisan rumah tangga Anda disebabkan karena kegagalan dalam berkomunikasi, atau model komunikasi yang kurang tepat. 

Empat Pola Komunikasi

Menurut McLeon dan Chafee dalam Reardon (1987) terdapat empat pola komunikasi dalam keluarga, yaitu pola laissez-faire, protektif, pluralistik dan konsensual. Laissez-faire adalah pola komunikasi yang cenderung membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya alias cuek. Kalau dalam bahasa Jawa, wis karepmulah! Atau terserah kamulah, nggak mau mikir!

Protektif berarti gaya komunikasi yang instruktif, harus dipatuhi, tidak menerima masukan dan totaliter. "Pokoknya kamu harus menurut apa kataku!" Atau, "nggak usah cerewet, aku suamimu, pemimpinmu, kamu harus taat, titik!" Komunikasi semacam ini menuntut pemahaman searah, cenderung diterapkan oleh para diktaktor.

Pluralistik berarti mengembangkan kebebasan berpendapat, beropini, namun cenderung membiarkan dan liberal. Tampaknya pola ini menarik, tetapi sebenarnya menghilangkan kendali-kendali yang sebenarnya tetap perlu dilakukan oleh masing-masing pihak. Sebab, komunikasi yang tidak ada kontrol juga akan membahayakan keharmonisan.

Komunikasi jenis selanjutnya adalah konsensual, berarti gaya komunikasi yang didasarkan pada membuat kesepakatan-kesepakatan dan saling percaya satu sama lain.  Menurut hemat saya, gaya komunikasi yang paling baik adalah konsensual, di mana sepasang suami istri memilih untuk terbuka, asertif, saling memberi masukan dan nasihat secara baik, tanpa saling menyakiti dan menjatuhkan martabat satu sama lain. Mode komunikasi semacam ini harus dikembangkan dan menjadi tradisi di sebuah keluarga. 

Bagaimana Cara Berkomunikasi?

Secara umum, kita mengenal beberapa jenis komunikasi, yaitu verbal, non verbal dan paraverbal. Komunikasi verbal disampaikan melalui kata-kata. Maka kita bisa berkomunikasi melalui nasihat, obrolan santai atau diskusi. Komunikasi tertulis bisa kita lakukan saat chat menggunakan gadget, menulis memo atau pesan, atau suatu saat bisa juga menulis surat untuk pasangan.

Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan namun tidak menggunakan kata-kata, bisa dengan bahasa tubuh, sentuhan, kontak mata, atau ekskresi. Nah, apakah komunikasi paraverbal itu? Komunikasi ini menekankan pada cara, bukan isinya. Misal nada suara, intonasi, kecepatan bicara, ritme, volume suara, penekanan-penekanan dan sebagainya. Kita bicara dengan nada keras dengan nada lembut, tentu berbeda penerimaannya. Kita nulis dengan huruf kecil atau huruf kapital semua, tentu beda juga rasanya.

Salah satu model komunikasi yang bisa Sobat coba adalah berkomunikasi lewat tulisan. Selain akan mengurai bundel-bundel masalah yang berpotensi meledakkan bom atom di dalam rumah tangga, juga banyak manfaat lain. Menulis, menurut para pakar, akan membebaskan jiwa dari emosi negatif, meredam distress (stres yang buruk), sekaligus membuat seseorang lebih sehat secara ruhani. Seorang istri yang biasanya multitasking dan unggul secara kemampuan verbal, dengan keverbalannya, memiliki lebih banyak “cache” yang harus dibersihkan agar tidak hang dan menjadi lemot.

Menulis surat, bagi seorang istri merupakan sarana apik mengekspresikan kemampuan verbalnya untuk berkomunikasi dengan suaminya. Saat menulis, istri telah melakukan sebuah proses katarsis. Dan dia punya waktu untuk membaca ulang tulisannya, mengeditnya, sehingga kalimat-kalimat yang sampai kepada Anda, telah dia pikirkan secara baik. Itulah kelebihan komunikasi via tulisan dibandingkan dengan komunikasi lisan. 

Nah, jika istri memberi suami sepucuk surat, tolong ya, dibalas dengan baik, jangan cuma dilipat-lipat dan dimasukkan ke saku celana, untuk kemudian ikut masuk mesin cucian dan ditemukan istri Anda dalam kondisi rusak.

Ingin hubungan menjadi lebih harmonis? Jangan abaikan komunikasi. Itu salah satu kuncinya.



Posting Komentar untuk "Ingin Hubungan Harmonis? Ini Kuncinya: Komunikasi"

banner