Safari Madura, Dari Literasi Pesantren Hingga Pulau Oksigen #Bagian 1
"Giliyang, Oksigen terbaik di dunia!" Wajah suami saya, Mas Ahmad, tampak berseri ketika saya menyampaikan rencana untuk mengunjungi Madura. Sahabat literasi saya, yang juga salah seorang Srikandi FLP yang terkenal lincah-trengginas, Inel Iskandar, mengajak saya untuk bersafari literasi ke Madura. "Ayo, Bunda Afra, kunjungi pesantren-pesantren di Madura, ranting-ranting FLP di Pamekasan," begitu kata Inel saat kami bertemu di Munas FLP di Surabaya beberapa waktu yang lalu.
Namun, berkenaan oksigen terbaik ini, jujur saja, tak terlintas sama sekali di pemikiran saya saat itu. Sampai suami saya mengungkapkannya.
"Memangnya di Madura ada oksigen terbaik?" Saya bertanya dengan agak ragu.
"Lho, masak nggak tahu. Di Pulau Giliyang, Gili Iyang, dekat kok dari Sumenep, nyebrang sekitar 30 menit aja," jawab suami saya. Tentu bermodal Google, karena beliau juga pernah ke sana. Saat saya ikut Googling, ternyata memang banyak posting menarik tentang pulau tersebut. Oke, kita akan kesana!
Ketika saya sampaikan bahwa kami tertarik untuk menjelajah ke Giliyang, Inel setuju. Klop deh. Jadi, Safari Madura pun memasukkan Giliyang sebagai salah satu destinasi. Selain itu, tentu agenda utama tidak boleh tertinggal: literasi pesantren. Ini nih, jadwal lengkapnya 😁
Lumayan padat, ya, wkkk. Tapi, saya memang menyukai perjalanan yang padat agenda semacam itu. Terasa lebih banyak manfaatnya. Soal capek, bisalah diatur! Asal tidak begadang, tidak terlambat makan, olahraga, dan 'doping' vitamin dan habbatussauda, okelah insyaa Allah.
Kamis, 12 Oktober 2025, jam 8 pagi saya dan suami meluncur dengan si Rocky, si Putih, mobil kesayangan kami menuju Stasiun Balapan. Kami menjemput Inel di sana. Sejak S2 di UNY hingga lulus beberapa tahun kemudian, Inel yang asli Madura, menetap di Yogya, bekerja di sana. Dari Stasiun Balapan, si Rocky masuk jalan tol Solo-Surabaya dan meluncur....
Perjalanan ke Madura tentu menciptakan kenangan yang menarik, guyonan-guyonan yang seru, termasuk pengalaman "berburu" Bebek Sinjay, hehe. Tapi karena judul postingan ini tentang literasi pesantren dan Pulau Oksigen, jadinya tidak relate, dong 😂
Kamis sore, jelang Isya, kami sampai di Ponpes Darul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan. Ini adalah salah satu pondok pesantren terbesar di Pamekasan, bahkan mungkin di Madura. Tahun 2009, saya juga pernah mengisi seminar kepenulisan di sini. Saat itu, Jembatan Suramadu baru saja diresmikan presiden SBY. Lampu-lampunya masih jarang, jadi gelaaap. Karena saat itu kami jalan malam, jadi rada dag-dig-dug. Sekarang sih Suramadu sudah terang benderang dan bahkan banyak kafe dan tempat nongkrong yang cozy di pantai-pantainya.
Meski ada sekitar 7000 santri, pondok terasa tenang, hening dan damai. Kami masuk ke pondok putri, disambut Aisyah dan kawan-kawan dari FLP Ranting Banyuanyar yang memang berfokus di pondok tersebut. FLP Ranting adalah salah satu struktur terkecil di FLP, di bawah pembinaan FLP cabang yang menaungi satu kabupaten atau kota. FLP Ranting Banyuanyar berada di bawah FLP Pamekasan, FLP yang di Munas FLP kemarin mendapat penghargaan sebagai FLP Cabang Terpuji Anugerah Pena. FLP Ranting Banyuanyar yang berpusat di Ponpes Darul Ulum ini termasuk paling tua di Madura. Puteri Kyai Haji Syamsul Arifin Allahuyarham, Ning Taqiya Syam, adalah pegiat FLP yang sangat aktif, sempat menjadi Ketua FLP Arab Saudi, dan kini menjadi koordinator Divisi Kepalestinaan Badan Pengurus Pusat FLP. Sayangnya pas kami berkunjung, beliau sedang ada acara di Pasuruan.
Usai shalat Isya, saya dan Inel bertemu dengan Nyai Hajjah Fathimah Hasbullah, istri dari Kyai Haji Hasbullah Arifin, pimpinan Ponpes ini. Kyai Haji Hasbullah adalah kakak dari Ning Taqiya. Nyai Fathimah ternyata sebaya dengan saya, sama-sama kelahiran 1979. Meski seumuran, tetap jauhlah kualitasnya hehe, beliau sosok panutan dan memang auranya terasa penuh kharisma. Beliau sangat ramah dan hangat, membuat perbincangan kami terasa mengalir dan semoga penuh berkah.
Usai berbincang, Nyai Fathimah membawa saya ke lokasi pondok puteri. Sepanjang jalan, para santri yang melihat kedatangan Bu Nyai sontak berbaris sepanjang gang, mereka menunduk takzim dan hormat. Subhanallah. Adab yang luar biasa. Jarang-jarang lho, melihat Gen Z bersikap setakzim itu kepada orang yang lebih "sepuh", baik dari segi usia maupun keilmuannya. Jadi, penilaian-penilaian miring tentang pondok yang sempat viral di medsos, saya kira berlebihan saja.
Jam 21.00 malam, para santri yang bergabung di FLP ranting Banyuanyar sudah siap di Perpustakaan pondok. Acara malam ini memang khusus internal FLP ranting. Ada 30-an santri sudah menunggu di sana. Esoknya, seminar literasi tentang kepenulisan untuk kesehatan mental di pondok ini, dibuka untuk umum, baik santri maupun peserta undangan dari luar. Berdasarkan jadwal, sebenarnya malam ini sharing dengan santri putra. Tapi karena ada satu kendala, acara malam itu dialihkan untuk santri putri. Sebagai ganti, santri putra diizinkan untuk hadir di acara sharing session di FLP Pamekasan Jumat sore di Kota Pamekasan.
Agenda internal berisi sharing session tentang tips-tips menulis fiksi dan non fiksi. Mereka bertanya, saya menjawab. Tidak merujuk tema tertentu. Ya, bincang-bincang santai, begitu. Ternyata santri-santri ini aktif sekali bertanya. Jadi meskipun hanya sekitar 1,5 jam, acara terasa sangat cepat. Mau lebih lama lagi tapi kan baik saya maupun mereka juga perlu istirahat. Menariknya, ada seorang santri yang masih kelas 6 MI (setara SD) yang ikut hadir dan menyimak dengan bersemangat, tampak dari matanya yang berbinar-binar. Namanya Kiki. Melihatnya, saya jadi ingat anak bungsu saja, Ihan, yang juga sering ngajak saya ngobrol dengan antusias, bertanya dan bercerita macam-macam seputar sejarah, peradaban dan cerita imajinasinya.
Jam 22.30 kami kembali ke tempat istirahat masing-masing. Alhamdulillah kami diberi kehormatan menginap di Dalem, atau komplek rumah pimpinan pondok. Besok, kami akan bertemu kembali dalam acara yang melibatkan lebih banyak peserta.
Hari pertama Safari Literasi ditutup dengan tidur yang indah dan tenang.
Bersambung dulu yaa.... 😁🙏


Posting Komentar untuk "Safari Madura, Dari Literasi Pesantren Hingga Pulau Oksigen #Bagian 1"
Posting Komentar
Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!