Menulis Menyehatkan Mental, Benarkah?
Resah, gelisah, gundah, sedih, marah, dan berbagai emosi negatif lainnya adalah hal yang tak mungkin kita hindari. Mau sesukses, sekaya, sehebat, sekeren ataupun seberuntung apapun hidup kita, selagi kita masih manusia, pasti kita akan mengalami kondisi mood yang tidak nyaman. Kita biasa menyebutnya sebagai badmood. Seringkali badmood itu berhubungan dengan stres yang kita alami sehari-hari, yang juga tidak mungkin bisa kita tepis. Stressor atau penyebab stres, akan selalu mendatangi kita dari berbagai penjuru.
Meskipun stressor tidak bisa dihindari, stres bisa kita kelola. Ada berbagai teknik untuk coping (mengelola) stres. Salah satunya adalah menulis. Ini sesungguhnya aktivitas yang sangat mudah kita lakukan, bukan? Mau menulis menggunakan pulpen dan buku, atau mengetik di laptop atau komputer, semuanya bisa menjadi sarana kita untuk meningkatkan kesehatan mental kita.
Ya, menulis memang bagus untuk kesehatan mental. Sudah banyak riset yang mengaitkan antara kebiasaan menulis dengan penguatan emosi positif dalam diri kita. Bahkan, para praktisi kesehatan mental saat ini banyak yang menjadikan proses journaling sebagai salah satu metode terapi terhadap problem mental yang dihadapi para klien. Journaling adalah metode menulis ekspresif, mirip aktivitas menulis diari atau catatan harian yang populer di kalangan remaja baik masa kini maupun masa lalu. Saat melakukan journaling, kita bisa memuntahkan perasaan negatif yang bergejolak di batin kita: rasa kesal, marah, kecewa, sedih, dan sebagainya.
Saya sendiri pernah menjadikan rutinitas menulis buku harian sebagai proses coping saya saat remaja. Saya ingat, pernah menulis dalam diari sambil berderai-derai air mata. Saya tumpahkan semua gejolak emosi negatif saya di sana. Dan setelah itu, saya menjadi lebih lega. Saya ingat, bahwa sepanjang usia muda yang saya jalani, sepertinya saya merasa hidup saya relatif stabil. Saya yakin, bahwa kebiasaan saya menulis menjadi salah satu sebabnya. Jadi, kalau saya menuliskan di sini bahwa menulis bisa menyehatkan mental, memang saya sudah mengalaminya sendiri.
Pada faktanya, banyak orang merasakan hal yang sama. Menulis secara ekspresif membuat kita merasa lega. Tetapi jangan berhenti di situ. Ada dua jenis strategi coping, yaitu avoidance dan approach. Avoidance adalah pendekatan dengan cara menghindari atau menjauhi stressor, sedangkan approach justru strategi untuk mendekati dalam rangka mencoba memahami stressor dan mengatasinya. Kalau kita tipikal orang yang sering 'menghilang' barangkali kita memang dominan dengan pola avoidance coping. Avoidance memang membuat kita lega, tetapi tidak membuat skill sosial kita meningkat.
Sebagai contoh, misal kita memiliki atasan yang galak. Jelas ya, stressor kita adalah atasan tersebut. Kalau kita menerapkan strategi avoidance coping berarti sebisa mungkin kita menghindari atasan tersebut. Tetapi, apakah itu mungkin? Kita mungkin bisa merasakan lega saat weekend tiba. Tetapi, begitu hari Senin, kita akan merasakan suasana yang sangat tegang. Maka, kita perlu menerapkan pula strategi aprroach coping. Kita bisa pelajari sebenarnya apa yang dimaui oleh atasan kita. Apa celah yang membuat kita terhindar dari kemarahannya. Bagaimana strategi berkomunikasi dengannya. Dan sebagainya. Pada prakteknya, kedua pendekatan ini avoidance dan aproach bisa kita lakukan bersama-sama. Karena, sehebat apapun kita, tak mungkinlah bisa survive jika terus menerus berhadapan dengan stressor, kan? Kita bisa merancang strategi menghadapi atasan, tetapi mungkin kita bisa juga menjaga jarak.
Nah bagaimana dengan menulis? Saat emosi negatif tumpah dalam tulisan dan kita merasa lega, bisa jadi ini merupakan bagian dari avoidance coping. Kita sudah menumpahkan toksik dalam jiwa kita. Tetapi, itu belum selesai. Mari kita lanjutkan ke tahap selanjutnya, agar kita pun bisa mengembangkan kemampuan approach coping melalui tulisan kita.
Caranya, setelah perasaan negatif tertuangkan dalam lembaran kertas, tutup sejenak kertas tersebut. Kita bisa mengambil napas panjang, melakukan aktivitas lain, sehingga merasa lebih baik. Jika kondisi sudah mulai lega, mari beranikan diri kita untuk membaca kembali tulisan kita tersebut, dan melakukan evaluasi. Di sinilah proses kognitif bekerja. Kenapa aku bisa marah, kenapa aku bisa sekecewa itu, kenapa aku ... bla-bla-bla. Dalam kondisi dada lapang, kita bisa melihat diri kita yang sedang marah dan frustasi lewat jejak tulisan kita. Kita bisa melihat kondisi diri kita saat sedang dalam luapan emosi, saat jiwa sedang dikendalikan oleh ‘alam bawah sadar’ kita.
Dengan logika dan pengetahuan yang kita miliki, kita bisa melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Bukan, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Emosi kita bisa jadi valid. Apa yang kita rasakan barangkali memang suatu hal yang wajar terjadi. Akan tetapi, proses evaluasi ini akan membantu kita berkontemplasi untuk melihat dengan lebih jernih, apa sebenarnya yang terjadi pada kita. Akan lebih bagus lagi jika setelah kontemplasi, kita menuliskan beberapa resolusi yang akan kita lakukan pasca kejadian yang membuat kita terbebat emosi negatif tersebut. Resolusi itu harus kita tekankan, kita beri energi, agar bisa terimplementasikan dengan sebaik-baiknya.
Jadi, menulis tidak hanya kita jadikan sebagai pengosongan emosi negatif, tetapi juga membantu kita memahami persoalan dengan lebih baik.
Bagaimana dengan AI?
Saat ini, banyak orang menulis menggunakan AI. Selama kita menggunakan kaidah-kaidah yang etis, tentu tidak masalah menggunakan AI. Misal, AI digunakan untuk proses brainstorming, menguatkan ide-ide kita, dan mencari keyword-keyword yang berhubungan dengan proyek tulisan kita. Namun, dalam proses kepenulisan untuk kesehatan mental, saya tidak menganjurkan teman-teman menggunakan AI. Buat apa?
Kita sedang menyembuhkan diri sendiri. Kita sedang menggali proses mental yang terjadi pada diri sendiri. Menulis untuk kesehatan mental tidak menuntut sebuah tulisan yang cantik dan menarik, cukup tulisan yang otentik dan jujur. Jadi, proses menulis yang menyehatkan itu, hanya bisa terjadi jika kita lakukan sendiri, bukan dengan bantuan AI. Namun, jika hasil tulisan tersebut kemudian kita copas ke AI dan meminta AI untuk menanggapi, menurut saya itu ide yang cukup menarik. Kita bisa minta AI untuk secara logis menganalisis kasus kita, dan mungkin memberikan usulan solusi atas permasalahan kita.
Namun begitu, alih-alih menggunakan mesin, saya lebih menyarankan agar kita berkonsultasi dengan sesama manusia saja, misal sahabat kita, orang tua, atau para profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau konselor yang terlatih. Manusia lebih memahami diri kita, mampu memberikan dukungan sosial yang lebih manusiawi. Misal, sahabat kita bisa memeluk kita, menggenggam tangan atau sekadar menepuk-nepuk bahu kita saat kita menangis. Bukankah itu hal yang sangat membantu kita untuk membangkitkan semangat?
Apakah Hasil Journaling Boleh Dipublikasikan?
Ini pertanyaan menarik. Jawabannya pun mungkin pro dan kontra. Bagi yang pro, mungkin mereka tetap menganggap bahwa banyak pelajaran yang bisa dibagikan dari pengalaman hidup mereka. Nah, bagi yang kontra, mungkin akan berpendapat, 'ih ngapain sih kemarahan harus dibagikan ke banyak orang?'
Kalau saya pribadi ada di titik tengah. Barangkali, pengalaman pribadi kita banyak juga hal otentik yang perlu disebarkan untuk diambil pelajaran. Tetapi, pasti harus banyak sekali yang diedit agar tidak kontraproduktif. Jadi, kita harus sangat berhati-hati, terlebih jika berurusan dengan banyak nama dan kejadian yang nyata. Kita bisa dituduh melakukan pencemaran nama baik dan kena delik hukum. Selain itu, hubungan kita dengan orang lain itu sangat relatif. Kadang kita marah sekali, namun suatu saat, bisa jadi kita akan kembali dekat dengannya.
Jadi, tulisan hasil curhat sebaiknya disimpan dulu saja. Kalau mau dipublikasikan, syarat dan ketentuananya sangat ketat. Bagaimana kalau menurut pendapatmu?



1 komentar untuk "Menulis Menyehatkan Mental, Benarkah?"
Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!