Kenangan Bersama Munas, Dari Yogya hingga Munas Daring #3


Munas Daring dan Momen Penuh Air Mata

Bagian ketiga dari tulisan ini, adalah bagian yang paling mengharukan. Bagian ketiga ini mengisahkan Munas ke-V yang baru seminggu yang lalu terlewatkan. Saat ini, susunan Badan Pengurus Pusat yang baru belum juga diumumkan. Ketua terpilih di Munas V, S. Gegge Mappangewa, saya memanggil beliau Daeng (artinya kakak, atau abang), masih menyusun 'kabinetnya'. Sebagai mantan Ketum, Daeng memang sering diskusi dengan saya seputar kabinet barunya itu. Saya tentu memberikan masukan-masukan. Tetapi, saya tetap menghormati hak Daeng untuk memilih siapa SDM yang akan direkrut.

Di tulisan saya sebelumnya, saya kan sempat menyebutkan, bahwa SDM adalah 'koentji'. Kesuksesanmu menjadi leader, salah satunya disebabkan dari SDM yang kita rekrut. Selain keunggulan, 'chemistry' yang terbangun juga sangat penting. Saya hanya menyarankan, yang akan memimpin FLP hingga 4 tahun ke depan adalah Daeng, maka Daenglah mestinya memilih siapa-siapa saja SDM yang memiliki 'chemistry' dengan beliau, di luar faktor prediksi kinerja.

Munas ke-V memang penuh keharuan. Meski berlangsung secara daring, Munas ini tetap tidak kehilangan esensinya. Bahkan, banyak momen-momen yang mengharukan dan membuat kami menitikkan air mata? 

Apakah drama? Tidak! Mereka yang menangis dan membuat kami menangis, sebagian justru para pria. Kalau perempuan menangis, biasa mungkin ya? Bagaimana dengan pria? Saya tahu, hidup mereka "keras" dan penuh perjuangan. Jika mereka menangis, itu karena di balik kekerasan dan keteguhan sikapnya, ternyata terdapat sebentuk hati yang lembut. Karena itulah, bagian ketiga tulisan ini saya beri sub judul: Munas Daring dan Momen Penuh Air Mata. 

Kalau kalian mengira air mata adalah bagian dari drama, sebaiknya buka-bukalah lembaran sejarah. Khususnya Sirah Nabi. Kamu akan tahu, betapa banyaknya sahabat-sahabat yang perkasa di medan perang, ternyata biasa menangis saat dalam keheningan. Saat merasakan sebuah momen spesial yang membuat mereka merasa lebih dekat kepada Pencipta Alam Semesta.

Air mata pertama, saya melihat menetes di sepasang mata sosok yang saya kagumi: Mas Gol A Gong, alias Mas Heri Hendrayana Haris. Beliau adalah Duta Baca Indonesia Periode 2021-2026. Di FLP, khususnya di era kepengurusan saya, beliau kami lamar menjadi penasihat FLP, dan alhamdulillah bersedia. Di Pembukaan Munas V yang berlangsung secara Daring ini (tetapi kepanitiaan berkumpul di King Sulaiman, Malang), beliau memberikan sambutan yang begitu menyentuh. 



"Setiap saya menghadiri acara FLP, saya selalu bingung untuk memulai. Nah, sekarang saya juga bingung mau bicara apa. Saya bisa saya katakan hanya ... terimakasih (terdiam lama, mata beliau berkaca-kaca). Jadi ... bingung saya (mengusap air mata, dan lagi-lagi beliau terdiam). Jadi, mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Forum Lingkar Pena ini ... menyelamatkan karir kepenulisan saya. Saya sering menghindar dari acara-acara FLP ... karena memang nggak kuat. Pada dasarnya, saya ini manusia lemah jika berkumpul dengan FLP," ujar Mas Gol A Gong.

Mas Gol A Gong selanjutnya mengatakan, bahwa meskipun FLP memiliki batasan-batasan yang cukup ketat dalam berkreasi, tetapi justru itu membuat anggota FLP lebih kreatif. Dan beliau merasa senang, berada di dalam FLP dan ingin agar FLP lebih aktif lagi dalam membangun ekosistem perbukuan di negeri ini.

Selain Mas Gol A Gong, Dr. Asrif dari Kantor Balai Bahasa Jawa Timur, dan Gubernur Jatim yang diwakili dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur juga ikut memberikan sambutan. Pembukaan acara bisa lebih detil disimak di Youtube Forum Lingkar Pena ya, Sobat...

* * *

Usai seremonial, seperti munas-munas sebelumnya, ada LPJ. Oya, di pagi hari, sebelum pembukaan acara, sebenarnya sempat ada kejadian yang cukup heboh di rumah saya. Ketika saya membuka laptop bakda subuh, ternyata LAPTOP SAYA MATI! Haha, lebay nggak sih. Bagi yang tidak terlalu menekuni dunia kreativitas "berbasis laptop", mungkin terlihat berlebihan ya, kepanikan saya. Wkk...  tapi, coba deh, pahami urutan peristiwanya!

Bersamaan dengan Munas, saya sedang mengerjakan pula beberapa tugas UTS (Ujian Tengah Semester--mulai tengah tahun ini, memang saya memutuskan kembali untuk kuliah di Magister Psikologi UMS), yang semua bersifat take home. Ada 4 mata kuliah yang pekan itu harus setor tugas di akhir pekan, jadwalnya bersamaan dengan Munas. Kami diberi waktu sekitar 2 pekan untuk mengerjakan UTS tersebut. Ada juga yang satu pekan. Sebenarnya, tugas-tugas itu sudah saya cicil, sehingga rata-rata sudah 90%. Sambil mengerjakan tugas kuliah, saya juga merekap, mencermati, mengedit dan memperbaiki LPJ yang dikirim oleh para koordinator divisi di BPP FLP 2017-2021. Seperti yang saya ceritakan di atas, atau di bagian awal tulisan ini, LPJ kami setebal 158 halaman! 

Qodarullah, Jumat pagi, laptop saya mati! Sepertinya, laptop saya kecapekan, karena diajak lembur siang malam. Sebenarnya, selain laptop, di rumah ada 2 PC lain yang juga biasa saya pakai untuk bekerja. Namun karena harus berebut dengan anak-anak, dan juga ketika siang dipakai admin toko online (rumah saya jadi homebase Toko Buku Afra), saya memang memakai laptop pribadi. Sebagai back up, saya selalu menyimpan file-file saya di komputer-komputer tersebut. Bahkan, saya juga berlangganan GDriver premium, meski cuma 100GB. 

Tapi... lagi-lagi tapi, hehe... ada 5 FILE PENTING BELUM SAYA BACK UP!!! Kalau LPJ tak masalah, karena PDF dari LPJ sudah saya setorkan ke panitia Munas Kamis siang. Lalu, bagaimana dengan 4 file UTS yang tebalnya sekitar 40 halaman? Juga jurnal-jurnal referensi yang kudu dilampirkan dalam fil tersebut?

Saya benar-benar merasa lemas. Haruskah menulis dari awal lagi? Oke, kalau sekadar nulis artikel populer, atau cerpen novel, mungkin bisa. Tapi, ini tugas UTS, ada proposal riset, ada ulasan berbagai teori-teori, makalah ilmiah. Saya merasa tak mampu!

Seorang teman menganjurkan saya untuk membongkar laptop dan mengambil hard disknya. Saya nyengir, duh, soal beginian, saya gaptek!

Akhirnya, saya memutuskan untuk skip dulu soal komputer mati. Yang penting, Jumat pagi saya harus siap mengikuti pembukaan Munas. Apalagi, saya juga kan harus mengisi sambutan. Akhirnya, saya meminjam laptop suami. Alhamdulillah, beliau mengizinkan, meski saya tahu, laptop itu tentu beliau pakai untuk kerja dan mengajar. Selain kerja di RSU PKU, suami juga dosen di Universitas Kusuma Husada, Solo. Saat ini, sama dengan yang lain, pembelajaran masih secara daring. 

Tetapi, drama belum berakhir, Sodara-Sodara! Laptop suami ternyata error. Zoomnya tidak bisa mendengar suara. Gemeresek. Headphone juga tidak bisa dipakai. Ya Allah... kali ini saya menangis. Saat shalat dhuha, saya mencucurkan air mata, memohon pertolongan-Nya. 

Ini air mata kedua, haha... 

Akhirnya, setelah tenang, saya memindah Zoom ke HP, dan mengikuti pembukaan dengan HP. Qodarullah, setelah selesai pembukaan, laptop suami saya restart, dan Zoom bisa "cling!" baik video maupun suara. LPJ pun berjalan lancar jayaaa....

Seringkali, saya merasakan Allah SWT memang sengaja ingin "menggoda" kita, mencubit untuk mengingatkan agar kita terus menjaga niat, tidak melupakanNya, dan memiliki orientasi yang lurus. Sabtu pagi, Mas Ibnu, kenalan saya yang biasa saya repoti untuk memperbaiki laptop, datang ke rumah saya. Membawa hard disk laptop saya plus kabel USB yang bisa disambung ke komputer lain. Padahal, saya saat itu tidak meminta beliau datang. Saya khawatir merepotkan beliau, karena di akhir pekan biasanya beliau pulang kampung.

Saya merasa lega luar biasa. Meskipun laptop masih di bengkel, setidaknya file-file UTS saya aman, dan bisa saya upload hari itu juga, on time.

Begitu mudah, ya? Saya percaya, pasti ada orang-orang tulus yang mendoakan saya diam-diam. 

* * *
Setelah LPJ diterima dan upload UTS berjalan lancar, saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Saya pun bisa mengikuti agenda demi agenda Munas dengan baik. Hari pertama, Jumat, agendanya sampai pada LPJ saja, yakni LPJ Dewan Pertimbangan FLP dan Badan Pengurus Pusat FLP. Jam 16.00 WIB, kami semua dinyatakan demisioner, dan pimpinan sidang menutup Munas hari pertama.

Hari kedua, bahasannya ada 3: AD/ART (komisi A), Sistem Kaderisasi (Komisi B) dan Rekomendasi Bisnis, Rumah Cahaya, Blogger FLP (Komisi C). Karena munas berlangsung daring, panitia menggunakan breakout room Zoom. Saya berada di Komisi B bersama sekitar 100-an peserta lain. Seperti sudah saya duga, sidang-sidang berlangsung alot. Dari awalnya dijadwal jam 12.00 sidang komisi selesai, ternyata baru sore berakhir. Sidang pleno pun cukup alot. Hingga jam 12 malam, baru satu komisi (Komisi A) yang sudah diketuk palu.

Mau sampai subuh? Oh no! Berada di ruang Zoom sejak jam 07.00 pagi hingga jam 24.00 WIB jauh lebih melelahkan ketimbang sidang offline. Akhirnya, diputuskan sidang pleno dilanjutkan Minggu pagi, hehe.

* * *
Minggu pagi, mungkin karena sudah merasa lebih bugar, sidang lebih terkondisi, dan akhirnya cepat mengambil keputusan. 

Usai sidang pleno, masuklah ke pemilihan DP, Ketua DP dan Ketua Umum BPP FLP. Pemilihan DP dan ketua DP berjalan lancar. Di FLP, ada dua jenis keanggotaan DP. Yakni anggota otomatis atau bersifat tetap, yaitu para pendiri FLP dan mantan Ketum BPP FLP. Dengan demikian, secara otomatis saya masuk di sini. Maka, kalau kemarin ada yang mendorong-dorong saya maju dua periode, sudah gugur di ketentuan ini, haha... Anggota DP otomatis ada 7 orang: Mbak HTR, Mbak Asma Nadia, Teh Maimon Herawati (ketiganya ini sebagai pendiri FLP), ditambah para mantan ketua, yakni Kang Irfan Hidayatullah, Mbak Intan Savitri, Mbak Sinta Yudisia, dan saya sendiri.

DP selanjutnya dipilih oleh munas, sebanyak 4 orang. Dalam AD/ART, anggota DP harus ganjil, dengan jumlah sekurang-kurangnya 3 orang. Pada Munas V ini, diputuskan anggota DP sebanyak 11 orang, sehingga yang 4 harus dipilih. Di Munas VI kelak, karena DP tetap 8 orang (dengan Ketum BPP FLP 2021-2025), maka anggota DP yang dipilih bisa 1, 3, 5, atau kelipatannya, tergantung keputusan Munas.

Nah, dari pemilihan DP, Sidang Munas Memutuskan nama 4 DP terpilih: Kang Habiburahman el-Shirazy (Kang Abik), Mas Ali Muakhir, Mbak Rahmadiyanti Rusdi, dan Mbak Umi Kulsum. Adapun ketua DP adalah Kang Abik.

* * *

Di ujung acara, inilah yang mungkin paling ditunggu-tunggu, yakni pemilihan Ketum BPP FLP 2021-2024. Ini momen yang paling mengharukan.

Dari penjaringan nama-nama calon, terpilih 8 calon: Ganjar Widhiyoga, Rafif Amir, Fitrawan Umar, Hd. Gumilang, Khairani Ukhuwah, Irfan Azizi, Koko Nata Kusuma dan Gegge Mappangewa. Meski sudah memperkirakan, saya cukup terpana melihat komposisi calon ketum tersebut. Biasanya, FLP didominasi kaum perempuan, sehingga muncul anekdot bahwa FLP adalah Forum Lingkar Perempuan. Eh kok ini jadi Forum Lingkar Pria? Haha...

Mau tahu jawabannya? Ah, capek nulis.... bersambung di tulisan selanjutnya aja ya. Lho, nggak jadi 3 tulisan dong, tapi empat? Mungkin juga bukan empat, tapi lima, enam dan seterusnya. Hihi.

Yuk, ngopi dulu!


Posting Komentar untuk "Kenangan Bersama Munas, Dari Yogya hingga Munas Daring #3"