Widget HTML Atas

Jangan Takut Tentukan Prioritas, Tak Semua Harus Dikerjakan!


Kadang, atau malah sering, kita merasakan bahwa waktu berjalan begitu cepat. Banyak sekali pekerjaan yang harus kita selesaikan, namun nasibnya masih terkatung-katung. Kita mungkin memiliki banyak sekali keinginan dalam hidup. Rasa-rasanya, kita ingin mengerjakan apa saja yang menurut kita sebuah kebaikan: karir, aktivitas kemasyarakatan, pendidikan, sampai menata dekorasi rumah kita mau seperti apa. Nyatanya, semua butuh waktu, kan? 

Menata dan membersihkan buku-buku koleksi saya di rumah saja, yang jumlahnya hanya sekitar tiga atau empat ribu judul, saya butuh waktu hampir seharian. Saat merapikan buku-buku tersebut, saya berpikir, apakah dari sekian ribu judul itu, saya masih membutuhkan? Banyak sekali novel-novel remaja, buku anak-anak, majalah dan sebagainya yang masih saya koleksi. Apakah saya sempat untuk membaca ulang? Jangan-jangan, di luar sana ada yang lebih butuh. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengurangi lebih dari separuh koleksi buku saya. Bukan dijual loakan, karena harga juga paling nggak seberapa, tetapi disumbangkan ke taman-taman baca. Saya yakin, di sana lebih bermanfaat. Dan saya tidak lagi butuh waktu lebih lama untuk merawat koleksi buku-buku saya.

Merawat tanaman hias, bercocok tanam, berolahraga, bahkan sekadar membaca pesan di ponsel butuh waktu. Semua butuh waktu. Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak penting. Bagi orang lain penting, bagi yang lain mungkin kurang penting. 

Berasyik-masyuk di taman bunga, merawat anggrek-anggrek dan koleksi bunga mawar misalnya, mungkin terlihat seperti membuang-buang waktu. Tetapi, bagi orang yang sedang dilanda depresi, atau stres berat karena tekanan di pekerjaanya, menekuni hobi bisa jadi merupakan prioritas dalam hidupnya. Semacam autohealing. Berenang, me time di dapur mencoba resep-resep baru, atau jalan-jalan di pagi hari, juga bisa jadi merupakan prioritas pada waktu tertentu, karena bisa membuat seseorang menjadi lebih bugar dan siap menjalani aktivitas yang lebih membutuhkan keseriusan. Namun  di waktu lain, aktivitas semacam itu mungkin perlu ditinggalkan sejenak, karena kita memiliki prioritas lain. Prioritas masing-masing orang tentu berbeda. Itu sifatnya subyektif, ya Sobat. Tetapi yang jelas, kita semua harus memilih, mana yang prioritas bagi kita dan mana yang tidak. 

Tidak semua harus jadi prioritas! Di mana-mana multitasking dianjurkan. Tetapi, realistis saja. Multitasking itu merupakan ketrampilan tingkat tinggi. Mungkin itu keahlian level "separuh dewa"--meminjam istilah Iwan Fals. Ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan menjadi seorang multitasking, dan memang sukses besar. Tetapi, banyak lho, si multitasking yang justru hidupnya keteteran. 

Dalam dunia nyata, sepengamatan saya, dari tiga orang multitasking, ternyata hanya satu orang yang sukses, yang dua orang memiliki hidup yang kurang bahagia. Pengamatan saya perlu dibuktikan dengan data, silakan coba bikin penelitian. Namun, secara logika, mengerjakan banyak hal dalam satu waktu itu berarti kita memecah konsentrasi dan energi. Kita tidak fokus dalam satu hal. Kalau berhasil, kita bisa sukses dalam beberapa hal sekaligus, kalau gagal, kita akan kehilangan semuanya. 

Saya, barangkali, merupakan orang dengan tipikal multitasking. Ketika energi saya masih berlimpah, di usia belasan, 20-an, atau 30-an, saya merasa bisa mengerjakan semuanya (meski ya, kalau dipikir-pikir, sebenarnya cuma "B" saja nilainya, mungkin kalau lebih fokus, bisa A kali ya, haha). Memasuki usia 40 tahun lebih, saya merasa lebih capek. Dan, akhirnya saya paham, mengapa orang-orang multitasking itu justru banyak terjebak pada ketidaksuksesan. Mereka harus memecah energi yang dimiliki untuk sekian banyak perhatian. Akhirnya, saya memutuskan harus lebih fokus. Saya sudah mulai berani menolak amanah-amanah, mulai memenej keinginan-keinginan, dan mengatur prioritas. Bukan karena malas atau tak antusias, tetapi saya harus melihat realitas.

So, yuk, tentukan mana could do, mana sould do, mana must do! Pas sedang membuka Twitter, terlintas di timeline ilustrasi yang sangat pas untuk menggambarkan bagaimana kita harus memilih prioritas berikut ini. (Sayangnya saya lupa, apa akun Twitter yang membagikan ilustrasi ini. Mohon kalau pembaca ada yang tahu, bisa menginformasikan kepada saya, ya).


Could do adalah list aktivitas yang kita rasa kita bisa melakukan. Kita memiliki skill di sana, dan ada ketertarikan untuk mengerjakannya. List could do tentu banyak banget, apalagi kalau kita seorang multitasking. Hobinya banyak, ketrampilannya banyak. Tetapi, list ini harus direduksi menjadi list should do, yakni list tentang apa yang semestinya dilakukan. Ada hal-hal tertentu yang menjadi alasan mengapa pekerjaan tersebut semestinya kita lakukan. Dan, untuk menentukan apa yang menjadi prioritas, kita harus mereduksi lagi list should do menjadi must do (HARUS DILAKUKAN). Apa sih, bedanya should dengan must? Wah ini kudu tanya ke pakar bahasa. Tetapi, MUST mungkin memiliki penekanan dalam keharusan yang lebih daripada SHOULD. Gitu ya? #CMIIW!

Jadi intinya, pilih yang paling penting dan mendesak untuk diselesaikan. Tapi, upayakan jangan terus menerus didesak keadaan. Cicil semua pekerjaan penting sebisa mungkin, sehingga kita tidak selalu dikejar deadline. Mencicil pekerjaan penting bikin hidup akan lebih santai, namun terarah. Asyik kan, jika kita mem-planning kegiatan-kegiatan penting jauh-jauh hari. Kita memiliki waktu yang lebih longgar, mengerjakan dengan santai, tidak kemrungsung, hasilnya juga pasti lebih bagus.

Jangan mau dijebak oleh sesuatu yang kelihatan sangat mendesak, namun sebenarnya tak penting. Apa contohnya? Banyak. Misalnya nih, kita memiliki circle pertemanan yang sangat "fanatik". Tidak cuma anak-anak muda lho, emak-emak dan bapak-bapak juga sekarang banyak yang memiliki sirkel-sirkel yang memiliki ikatan sangat kuat, nyaris-nyaris seperti cap jempol darah itu, deh. Haha. Suatu hari, saat kita sedang ingin bersantai dengan keluarga, tiba-tiba ada notifikasi dari grup sirkel kita. Ayo ngumpul sekarang, jagongan di wedangan X. Anda pun tergesa-gesa mengambil kunci kontak, meninggalkan anak istri yang sebenarnya sangat butuh kehadiran Anda. Dan, di sana, bersama sirkel, Anda cuma jagongan, ngobrol ngalor ngidul, sambil ngopi. Hmmm... ini contoh yang mungkin terjadi bapak-bapak ya. Hal serupa namun tak sama, mungkin terjadi juga pada para ibu, para kakak dan sebagainya.

Jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak mendesak dan tidak penting! Misal, belanja di mal saja butuh waktu 3 jam. Belanjanya sih penting. Tapi, memilih barang-barang dengan begitu cermat dan presisi, itu makan waktu. Atau kalau di pasar, asyik menawar barang-barang. Lumayan efisien, satu jam menawar bisa menghemat Rp 100.000! Efisien? Padahal dengan waktu yang sama, mungkin Anda bisa mendapatkan Rp 300.000 dengan mengerjakan hal lain yang lebih produktif. Nonton Youtube berlebihan, main game online (sekarang banyak juga bapak dan emak kecanduan game online), nonton sinetron atau film di televisi maupun berbagai aplikasi ... banyak pokoknya!

Penjelasan tentang bagaimana kita memenej prioritas, bisa lebih gamblang dijelaskan dengan matriks "The Eisenhower Decision Matrix" sebagai berikut:

sumber: medium.com

Matriks tersebut sangat terkenal, dan pasti sudah sering Sobat baca, kan? Yup, sebaiknya dalam hidup, kita fokus pada matriks DO dan DECIDE. DO itu sangat prioritas, makanya perintahnya adalah: do it now! Tapi yakin deh, orang yang selalu berada di matriks hijau itu, pasti tipikal deadliner, alias baru mau gerak kalau waktunya sudah mepet, haha. 

Matriks paling ideal adalah matriks biru. Bukan karena saya suka warna biru, tapi memang itu yang seharusnya. So, schedule a time to do it! Bisa nggak sih, setiap hari kita mengerjakan sesuatu yang tampaknya asyik, santai, penuh dengan passion, dan yang kita lakukan itu ternyata suatu hal yang sangat penting dalam hidup kita? Pasti bisa! Asal kita berusaha untuk lebih mengorganisasikan hidup kita.

Salam produktif!

1 komentar untuk "Jangan Takut Tentukan Prioritas, Tak Semua Harus Dikerjakan!"

  1. Alhamdulillah. Artikel sangat bermanfaat. Terutama untuk memulai memenej keinginan-keinginan dan mengatur prioritas.

    BalasHapus

Posting Komentar

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!