Ngecamp di Pantai Srau, Seru!

Lokasi ngecamp di Pantai Srau (Dokumen Pribadi)

Senja di hari Minggu, 30 April 2023, menjadi senja kesekian yang saya habiskan di pesisir Pantai Pacitan. Tak sebanyak senja yang dikumpulkan Rinanti, tokoh fiksi dalam novel yang saya tulis, Akik dan Penghimpun Senja, hehe. Sekadar informasi, novel tersebut memang mengambil setting Pacitan, khususnya di Pantai Klayar. Dikisahkan pada novel tersebut, sosok Rinanti, perempuan jelita yang patah hati karena suaminya, Gunadi Hantayudha, mentelantarkannya. Sang suami lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menambah kekuatannya sebagai sosok dukun sakti mandraguna. Untuk meredam kesedihannya, Rinanti membuka warung kecil di pantai, dan selalu menunggu hingga senja tiba, baru dia menutup warungnya dan pulang ke rumahnya.

Setiap berhasil melewati satu senja, Rinanti akan membuat satu garis di dinding kamarnya. Dia pun berhasil melewati ribuan senja... Termasuk senja saat dia bertemu seorang pemuda yang membacakan puisi untuknya. Namun, pertemuan itu ternyata menjadi awalan sebuah kisah, yang pada akhirnya membuatnya tak lagi ingin melihat senja. Karena apa? Kok bisa? Baca sendiri ya, novel tersebut, hehe.

Tentunya, senja yang kami habiskan di pantai tak sampai ribuan, bahkan ratusan pun belum. Tetapi, memang kami pernah berkali-kali menikmati keindahan pantai-pantai karst daerah tersebut di waktu senja. Pantai-pantai sepanjang karst Gunung Sewu, yang membentang dari Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan hingga trenggalek memang memiliki keindahan tiada tara, bahkan dimasukkan sebagai salah satu international geopark. Baca: Wow, Karst Gunung Sewu Jadi Geopark Kelas Dunia!

Kali ini, di sebuah senja yang hangat, masih suasana lebaran, kami merapat di Pantai Srau, sebuah pantai yang memanjang di tepi Samudera Hindia, tepatnya di desa Candi, kecamatan Pringkuku, Pacitan. Kami akan nge-camp semalam di sini hingga hari Senin, 1 Mei 2023, memanfaatkan liburan Hari Buruh Nasional.

Gulung gemulung ombak menebarkan suara berdebur yang cukup keras. Ombak kadang tampak begitu tinggi, sehingga membuat saya agak khawatir. Namun selalu saja ombak itu pecah di area berbatu yang membatasi lautan dengan dengan hamparan pasir putih yang membentang indah. Srau memiliki keistimewaan, yakni areanya memanjang sekitar dua setengah kilometer, membentuk 3 lokal, yang diberi nama Srau 1, Srau 2 dan Srau 3. Masing-masing area dibatasi dengan bukit-bukit karang yang membentuk dekorasi alami yang sangat indah. 



Tak seperti ketika kali pertama menjejak kaki di pantai tersebut tahun 2006, yang mana saat itu jalan masih rusak dan fasilitas umum masih sangat minim. Lalu, tahun 2010-an, beberapa kali saya dan teman-teman kembali mengunjungi Pantai Srau, kondisi tak jauh berbeda. 

Sekarang, Pantai Srau sudah terlihat lebih siap menerima wisatawan. Jalan sudah mulus, warung-warung buka 24 jam, sepanjang jalur pantai diberi benteng yang membuat lebih aman sekaligus rapi, banyak gasebo-gasebo didirikan, dan yang paling penting ... sinyal memadai, khususnya untuk provider pelat merah. Sinyal ini sangat penting, khususnya bagi suami yang harus memantau kondisi pasien. FYI, selain bekerja di sebuah rumah sakit di kota Solo, suami membuka Solo Khitan Center, yang memberikan layanan khitan modern. Masa-masa lebaran adalah masa yang cukup ramai, karena itu, setiap pergi keluar kota, beliau selalu memantau kondisi pasien, apakah oke-oke saja, apakah ada perdarahan, dan sebagainya.

Kami berangkat menuju pantai tersebut sekitar jam setengah tiga dari kota Solo. Tepat seperti asumsi, kami sampai di saat maghrib. Saya datang bersama keluarga: suami dan 4 anak, Anis, Rama, Hanifan dan Fatihan, menunggangi si badak merah, mobil Captiva kami yang sudah bertahun-tahun setia menemani ekspedisi-ekspedisi kami. Sampai di lokasi, kami sempat menyelusuri jalan aspal di samping pantai hingga ujung, untuk mencari lokasi yang paling nyaman untu ngecamp. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami memiliki sebuah tempat di area Srau 2, tepat di tepi pantai. Di lokasi yang kami pilih, suami dan anak-anak cowok membongkar peralatan, memasang 2 buat tenda dome, dan satu tendang awning yang menyatu dengan mobil. Saya dan si anak cewek, Anis, mencari warung terdekat, memesan hidangan makanan malam.

"Ada apa saja, mbak?" tanya saya kepada seorang perempuan setengah baya yang menjaga sebuah warung makan, berlokasi tak jauh dari area tenda kami. Si mbak, dengan ramah menyodorkan menu. Tak ada hidangan khas laut, selain ikan laut. Lainnya ada ayam, telur, mie-miean dan sebagainya. Agak sedikit kecewa, karena kami mengira tersedia berlimpah sea food: kerang, lobster, kepiting, dan sebagainya. Tetapi, tak apalah. Keberadaan warung-warung kecil yang cukup bersih itu sudah sebuah kemajuan pesat. Dahulu, paling banter hanya warung yang berjualan kelapa muda, minuman, gorengan dan pop mie. Karena karena rasa lapar sudah mulai berdemonstrasi di perut-perut kami, akhirnya kami memesan beberapa porsi ikan laut, lengkap dengan nasi, sambal, lalap dan sebagainya.

Usai tenda berdiri dan makanan terpesan, kami memutuskan untuk shalat terlebih. Shalat maghrib dan isya kami jamak.  MCK berlimpah air, sayang rasanya agak asin dan agak lengket, hehe. Tapi, setelah saya mencoba MCK lainnya, yakni MCK resmi yang disediakan pihak pengelola pantai, airnya segar banget kok. MCK pertama yang kami pakai adalah milik warga. Dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya, terutama di Gunung Kidul, fasilitas MCK di Srau jauh lebih sedikit, barangkali karena warga kesulitan mengakses air tawar mungkin, ya. Tetapi, meskipun jumlahnya tak sebanyak di pantai-pantai Gunung Kidul, kami tak perlu antre, bahkan saat itu cenderung sepi. Wajar, suasana sudah malam. Yang memakai fasilitas kan hanya para camper saja. 

Hari itu, yang ngecamp tidak terlalu ramai. Saya lagi-lagi bersyukur dengan kondisi tersebut. Pas banget. Kalau terlalu ramai, nggak asyik juga. Kami sudah pernah ngecamp di pantai berkali-kali, seringnya sih di daerah Gunung Kidul. Pernah sepanjang malam kami tak bisa memejamkan mata karena "tetangga" kami, beberapa tenda dengan belasan anak muda, semalam suntuk genjrang-genjreng main gitar nyaris tanpa henti. Tetapi, kalau sepi, juga takut sih ... pernah juga kami ngecamp di Pantai Siung beberapa tahun yang lalu, dan kondisi sangat sepi, gelap pula, karena listrik tenaga surya di sana lampu-lampunya saat itu, entah mengapa, banyak yang tidak menyala.

Srau malam itu sangat nyaman. Penerangan listrik memadai, yang ngecamp tidak terlalu banyak, ditambah langit sangat cerah. 

"Semalam, penuh sekali yang ngecamp, mbak," cerita mbak pemilik warung. Saya langsung mafhum. Oya, itu kan hari minggu. Meski seninnya libur, tetapi malam minggu tentu lebih banyak dipilih untuk ngecamp. 

Makan malam dengan ikan tongkol goreng, lalapan dan sambal bawang, terasa begitu enaaaak. Anak-anak sampai nambah nasi berkali-kali. Mbak pemilik warung sangat baik dengan memberikan kesempatan makan nasi sepuasnya, tanpa menambah harga. Insya Allah bisa dijadikan langganan.

Usai makan malam, kami duduk-duduk di depan tenda dom, menggelar tikar di bawah tenda awning. Anis dan adik-adiknya membongkar perbekalan, memasak mie menggunakan kompor parafin, membuat minuman ... ah, namanya juga anak muda, masih saja perutnya muat makanan meski sudah makan malam, hehe. Saya asyik menikmati gulungan ombak pantai yang terlihat samar-samar. Tampak semua menjadi abu-abu. Sayangnya, kamera HP tidak bisa merekamnya karena suasana gelap. Ada kamera Sony, tetapi karena tidak membawa tripod, tangkapannya pun kurang baik, alias goyang-goyang gambarnya. Mungkin karena saya aja yang tidak ahli memotret, hehe.

Jam sepuluh malam, mata sudah mengantuk. Saya mengajak si bungsu tidur di tenda dom yang berada paling dekat dengan pantai. Di tenda tersebut, rencananya saya tidur bersama si bungsu dan anak cewek. Tenda satunya dipakai ayahnya dan anak-anak cowok yang besar. Tak lama, saya pun terlelap. 

Malam hari, si bungsu Fatihan terbangun. Katanya pengin pipis. Jam 00.30 WIB! Berbekal senter, saya mengantarkannya ke MCK yang jaraknya sekitar 200 meter dari tenda. Kami melewati kebun kelapa dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Langit cerah, bertabur bintang. Rupanya, melihat bintang di malam hari, sangat mengesankan Fatihan yang baru berusia 7 tahun dan sangat jarang melihat bintang di alam terbuka itu. Sepulang dari MCK, dia tak mau tidur. Bahkan minta agar lampu penerangan yang mengambil daya dari power bank di tenda dimatikan. Dia berseru girang, menyaksikan bintang tampak terlihat jelas.

Mendengar Fatihan ribut, Rama, Hanifan dan Anis pun ikut bangun. Mereka sibuk saling sharing seputar pengetahuan rasi-rasi bintang. Dalam teori belajar dan memori, menurut para psikolog, belajar langsung dari alam dengan memadukan apa yang didapatkan dari alam semesta dengan panca indera, dan memadukan dengan apa yang sudah ada dalam memori, adalah sebuah proses belajar yang sangat baik. Terjadi proses asosiasi, di mana stimulus yang diterima, akan mendapat respons dari pengetahuan yang lebih dahulu ada di otak mereka.

Saya ingat sekali, dahulu ayah saya sering membawa saya ke alam: gunung, hutan, sungai, sawah dan sebagainya. Di sepanjang jalan, saya menemui banyak hal dan bertanya, lalu ayah memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana yang mudah saya mengerti.

Ah, betapa bahagianya....

Saya mengambil air wudhu dengan air galon berisi air ledeng yang kami bawa dari rumah. Mencoba shalat tahajud ... betapa indahnya ....

"Ummi, aku ngantuk ..." bisik Fatihan. Saya cek jam di HP. Jam 3 malam. Saya mengeloninya sampai tidur kembali dan terbangun lagi saat subuh.

* * *


Acara yang paling dinanti-nanti usai shalat subuh adalah bermain air. Tetapi karena masih gelap, saya belum mengizinkan anak-anak bermain air. Ombak yang tinggi juga membuat kami dilarang mandi di laut. Kalau sekadar bermain-main tentu tak masalah. Sambil menunggu terang, kami memesan minuman hangat di warung langganan. Kopi, susu, dan ... pop mie hehe. Sesekali saya mengizinkan anak-anak makan pop mie, tapi tak selalu. Paling dua bulan sekali.


Sekitar dua jam anak-anak asyik bermain pasir dan bermain air. Jam 8, suasana sudah mulai panas. Kami memutuskan untuk mandi, makan pagi dan berkemas meninggalkan pantai. Ada satu destinasi yang akan kami kunjungi, yakni Gua Selo Arum yang berlokasi tak jauh dari Pantai Srau.

Kesan saya, Pantai Srau sangat nyaman untuk ngecamp. Cara kami menikmati pantai memang biasanya begitu. Berangkat sore atau malam, ngecamp, lalu mengeksplorasi pantai dari pagi hingga matahari beranjak agak tinggi. Pantai yang panas sungguh tidak nyaman. Tetapi, suasana pagi yang sejuk, membuat kami merasa optimal menikmati keindahan pantai.


Hanya saja, untuk ngecamp jelas butuh nyali! Kalau belum siap, jangan khawatir, di sekitar pantai, ada beberapa guest house yang bisa disewa. Tetapi, tentu tak seseru ngecamp hehe.

Satu yang membuat kami agak kurang sreg: sampah masih bertebaran di mana-mana. Tak terlalu ekstrim sih, tetapi cukup mengganggu pemandangan. Tak jarang kami melihat botol minuman, plastik bekas makanan, dan puntung-puntung rokok tergeletak begitu saja, padahal tempat sampah cukup banyak disediakan. Saya sempat mengajak anak-anak "kerja bakti" membersihkan area sekitar tenda. Satu plastik sampah berhasil kami singkirkan. Hm.....

Problematika sampah memang mencukil sedikit keseruan camping. Tetapi, overall, kami puas banget dengan agenda tersebut. Menurut saya, sekali lagi, Srau sangat cocok untuk camping keluarga atau komunitas. Kalau mau ngecamp di sana, boleh deh ajak-aja kami. 

Detil-detil ngecamp di pantai tersebut nanti saya share di artikel terpisah ya. Bye!

Posting Komentar untuk "Ngecamp di Pantai Srau, Seru!"