Penulis Harus Dekat dengan Alam, Mengapa?

Di sungai dekat rumah orang tua, di Purbalingga (koleksi pribadi)


Pernahkah melihat penulis yang setiap hari hanya berkutat antara kursi, laptop, dan ruang terbatas--entah itu rumah, kafe, kantor, dan sejenisnya. Ruang dengan batas dinding yang jelas, seringnya cukup nyaman, dengan AC dingin, dekorasi menarik, serta secangkir kopi dengan uapnya yang menebarkan aroma khas dan wangi. 

Ah, itu sih penulis papan atas. Mungkin ada yang bilang begitu. Realitanya, banyak penulis memiliki ruang kerja yang seadanya. Kadang hanya tempat sumpek di rumahnya yang masih kreditan alias cicilan. Ada juga penulis yang harus menyediakan waktu di sela-sela kesibukannya sebagai emak rempong dengan para bocil yang sangat aktif dan pekerjaan rumah yang tak henti-hentinya. 

Oke deh, mau penulis model pertama maupun kedua, papan atas, papan tengah ataupun di luar papan sekalipun, sebenarnya ada cara lain yang bisa membuat kita kebanjiran ide tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Ya, pergi mendekat ke alam. 

Sebagian alam memang berbayar, dan untuk menuju ke sana tentu memerlukan biaya, minimal biaya transport. Atau konsumsi. Tetapi biaya-biaya tersebut relatif tidak mahal. Untuk pergi ke pantai misalnya, kita cukup membayar tiket sepuluh ribu atau dua puluh ribu, dan bisa berada di sana seharian. Kawasan Pantai Wediombo misalnya, salah satu pantai favorit saya di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk masuk ke kawasan itu hanya dipatok tiket Rp 8.000. Kawasan pantai Wediombo memiliki beberapa pantai yang istimewa, seperti Pantai Poktunggal, Pantai Seruni, Pantai Jungwok, dan sebagainya. 

Bahkan, tiket menuju kawasan Pantai Siung, juga di Gunung Kidul, hanya Rp 5.000. Pantai Siung pun tak kalah indah dibandingkan pantai-pantai lainnya di Gunung Kidul. Pergi ke gunung juga paling sekadar membayar tiket yang relatif terjangkau. Banyak juga tempat-tempat seperti itu yang bisa diakses gratis, tanpa bayar sepeser pun, Misalnya, sawah di dekat rumah, sungai di kampung, hutan di pedesaan, dan sebagainya.

Sebenarnya, berlibur atau hang out di alam itu jauh lebih murah, ketimbang misalnya jalan-jalan ke mall. Atau staycation di hotel, vila dan sebagainya, yang pasti membutuhkan biaya dan biayanya tidak murah. Menginap di tenda saat camping, jelas tanpa biaya, kecuali mungkin saat membeli atau menyewa tenda. Meski murah, tetapi bisa melahirkan kesan luar biasa. Pengalaman yang didapatkan pun tak terhitung jumlahnya.

Penulis seharusnya memang tidak berjarak dengan lingkungannya, termasuk alam semesta yang membentang di sekitarnya. Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan ketika kita dekat dengan alam.

Pertama, inspirasi yang berlimpah. Alam semesta dengan segenap keindahannya, sebenarnya menyimpan kompleksitas yang tinggi. Saat kita bersatu dengan alam, entah mencebur ke sungai atau pantai, berbaring di rumput menghijau, atau sekadar duduk di batu pegunungan sembari menghirup udara segar, seringkali kita mendapati inspirasi mengalir dengan begitu deras. Inspirasi ini adalah cikal bakal dari ide. Sedangkan ide merupakan modal utama bagi seorang penulis. 

Kedua, alam yang indah, hijau, hening, dan natural, akan membuat kita merasa rileks. Ketika oksigen masuk ke dalam aliran darah kita, tubuh menjadi lebih segar. Pikiran menjadi lebih tertata dan fresh. Rasa gundah, gulana, tertekan, frustasi, dan berbagai rasa negatif lainnya, bisa ambyar dan berganti dengan perasaan gembira, bahagia, optimis, dan berbagai rasa positif lainnya. Inilah yang kadang membuat sebagian orang menyebut piknik sebagai 'healing', meskipun aslinya terma healing ini tak bisa sembarangan dipakai dalam konteks ini. Kata refreshing tentu lebih tepat dibandingkan dengan healing. Karena saat piknik, apalagi pikniknya di alam semesta, tubuh kita menjadi fresh kembali. Kondisi fresh ini sangat bagus untuk memulai sebuah proses kreatif, termasuk proses kreatif dalam bidang kepenulisan.

Ketiga, saat berada di alam, biasanya karakter dasar manusia sebagai makhluk sosial akan mendapatkan tempat untuk terelaborasi. Orang yang sering berada di alam, biasanya akan lebih peka atau sensitif terhadap kondisi orang lain, sehingga biasanya lebih punya empati dibandingkan orang yang terbiasa hidup di ruang yang terbatas. Kepekaan dan empati ini juga merupakan bekal penting bagi seorang penulis.


Keempat, dalam kondisi hening dan tenang, kita akan mudah melakukan kontemplasi, refleksi dan resolusi. Pikiran dan hati kita akan menep, istilah bahasa Jawa untuk menggambarkan kondisi di mana semua kotoran mengendap dan air menjadi jernih kembali. Pikiran yang menep merupakan awal dari munculnya sikap obyektif yang akan sangat berguna untuk tulisan-tulisan kita. Tulisan yang obyektif, jernih, dan penuh dengan inspirasi, merupakan tulisan berkualitas yang sangat ditunggu untuk mencerahkan para pembaca.

Nah, masih belum membiasakan diri menyatu dengan alam? Ayo segera tinggalkan ruangan kita yang dibatasi empat dinding, pergilan menuju bentang alam yang luas membentang. Bagi penulis, ini wajib dilakukan. Bagi yang bukan penulis, keempat manfaat tersebut di atas pun sangat berguna. Bukankah proses kreatif itu tidak hanya untuk penulis, namun profesi apapun tentu membutuhkannya, bukan?

Posting Komentar untuk "Penulis Harus Dekat dengan Alam, Mengapa?"